
Ryan terus memperhatikan gerak gerik Artika, Ryan melihat Artika yang begitu perhatian pada Aydan, dari mulai menyuapi Aydan makanan, hingga membersihkan mulut dan wajah Aydan yang belepotan.
"Maaf Arti, bolehkah aku bertanya padamu?" ucap Ryan pada Artika.
"Iya boleh" ucap Artika dengan singkat.
"Apakah dia anakmu, atau keponakanmu" tanya Ryan dengan hati-hati.
"Oh dia bukan anakku dan juga bukan keponakanku, tapi aku sangat menyukainya, karena dia bisa menghiburku, dan membawa keceriaan untukku" jawab Artika dengan wajah yang sendu, seraya memandang ke arah Afkar dan Lara yang duduk di pelaminan.
Ryan melihat perubahan raut wajah Artika yang berubah menjadi sendu, dan Ryan juga mengikuti arah pandang Artika.
"Kenapa wajahmu berubah saat melihat pengantin itu, apakah pengantin itu mantan kekasihmu" ucap Ryan dengan pelan.
"Bisa di bilang seperti itu" ucap Artika dengan tenang.
"Mami, Aydan sudah kenyang. Ayo kita pergi, Aydan ingin duduk di sana sama papi" ucap Aydan seraya menunjuk ke arah Afkar yang duduk di pelaminan bersama Lara.
"Baiklah, ayo kita pergi" ucap Artika menuruti permintaan Aydan.
"Ah, pantasan saja dia bersedih, ternyata yang menikah adalah mantan suaminya. Tapi mengapa dia tidak mengakui bahwa anak itu adalah anaknya. Wanita yang menarik membuatku semakin penasaran" gumam Ryan dalam hatinya.
"Ryan, aku pergi dulu sampai jumpa lagi" ucap Artika sambil tersenyum kearah Ryan.
"Baiklah, semoga kita bertemu lagi" ucap Ryan membalas perkataan Artika.
Artika pergi meninggalkan Ryan sendirian, Ryan hanya menatap punggung Artika sampai hilang dari pandangannya.
Setelah menyerahkan Aydan pada Azreel, Artika langsung mencari Lia dan Xavier. Mereka bilang mereka sedang makan.
Artika mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Xavier dan Lia. Artika tersenyum melihat kedekatan Xavier dan Lia. Artika segera bergabung dengan Xavier dan juga Lia.
"Ternyata kalian berdua sedang asyik pacaran, aku sudah sangat lelah mencari keberadaan kalian" ucap Artika seraya cemberut, karena Lia dan Xavier meninggalkannya sendirian.
Uhuukkk....uhuukkk....uhuukkk...
Xavier tersedak makanan, karena mendengar ucapan dari Artika yang mengatakan dirinya sedang berpacaran.
Lia dengan cepat memberikan air minum pada Xavier dan menepuk belakang punggung Xavier.
"Heiiii... Artika kamu ingin membunuh kakakmu yang paling tampan ini secara perlahan ya" ucap Xavier dengan kesal ke arah Artika dengan wajah yang merah padam karena habis tersedak.
"Oh maafkan aku kak, apa aku salah berbicara pada kalian" ucap Artika dengan tenang dan wajah tanpa dosa.
"SALAH" ucap Xavier dan Lia secara bersamaan.
" Aku rasa kalian berdua berjodoh, lihatlah kalian kompak sekali menyalahkan diriku" ucap Artika seraya tersenyum.
"Kamu habis dari mana, apakah sudah mendapatkan seorang pria sebagai pengganti Afkar" ucap Lia mengalihkan pembicaraan, sebenarnya Lia sudah mulai merasa nyaman saat berada di dekat Xavier.
"Sudahlah kak, aku tidak ingin membahas masalah ini" ucap Artika dengan nada lesu.
"Ayo kita bersalaman dengan mas Afkar dan mbak Lara kak, setelah itu aku ingin pergi dari sini. Aku ingin menenangkan pikiranku" ajak Artika pada Xavier dan Lia.
"Artika apakah kita akan melaksanakan rencana kita tentang kado pernikahan Afkar dan Lara" tanya Lia dengan antusias.
"Iya kak, kita akan melaksanakannya" jawab Artika dengan tenang.
"Heeeiii kalian berdua, apa yang kalian rencanakan, Artika ingat jangan mengacaukan pesta orang lain. Kalau kamu tidak sanggup untuk menghadiri pesta ini, ayo kita pergi dari sini" ucap Afkar dengan kesal karena tidak mengetahui rencana Artika dan Lia.
__ADS_1
"Heeiii Xavier yang sok tampan, kami berdua tidak akan mengacaukan pesta orang lain, kami hanya ingin memberikan kado paling istimewa" ucap Lia dengan penuh percaya diri.
"Sudahlah kalian berdua selalu saja seperti ini, aku harap kalian akan berjodoh nantinya" ucap Artika pada Xavier dan Artika.
Mendengar ucapan Artika membuat Xavier menatap tajam kearah Artika, begitupun dengan Lia yang menatap Artika dengan tatapan horor.
"Ayolah kak Xavier dan kak Lia kita harus segera bersalaman pada kedua pengantin, aku ingin segera pergi dari sini" sambung Artika lagi.
Xavier dan Lia pun menuruti keinginan Artika, Xavier tahu jika Artika tidak akan kuat untuk menyaksikan pesta ini sampai selesai.
Mereka bertiga pun berjalan kearah pelaminan, pertama mereka bersalaman dengan orang tua dari Lara, kemudian dengan kedua pengantin.
"Mas, selamat ya atas pernikahanmu dengan mbak Lara, aku harap mas belajar mencintainya, aku akan bahagia jika melihat mas dan mbak Lara bahagi" ucap Artika dengan tenang seraya menahan sesak di dadanya.
Afkar yang mendengar ucapan Artika, hanya bisa diam, dia tak tahu harus menjelaskan keadaan ini. Namun dalam hatinya dia akan segera mencari bukti-bukti, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Setalah menyalami Afkar dan mengucapkan selamat pada Afkar, Artika beralih menyalami Lara. Artika menyalami dan memeluk Lara.
"Mbak Lara, aku titip mas Afkar padamu mbak, semoga kalian berbahagia hingga akhir hayat dan hanya maut yang memisahkan kalian" ucap Artika dengan tenang.
"Artika, kamu perempuan yang baik, semoga kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri. Maafkan mbak Artika" ucap Lara berakting di depan Artika.
Setelah selesai bersalaman Artika dan Lia segera menaiki panggung yang telah di sediakan oleh pihak WO. Lia akan memainkan piano, sementara Artika akan akan menyanyi.
"Selamat malam semuanya, di sini saya ingin menyumbangkan sebuah lagu sebagai kado pernikahan untuk Mas Afkar dan Mbak Lara, semoga mereka bahagia hingga akhir hayat dan hanya maut yang akan memisahkan mereka" ucap Artika dengan tenang.
Liapun memainkan pianonya dengan indah, mereka berdua telah sepakat akan menyanyikan lagu dari Sheila On7 - Berhenti Berharap.
Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan
Aku pulang
__ADS_1
Tanpa dendam
Kuterima kekalahanku
Aku pulang
Tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganmu
Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita
Aku pulang
Tanpa dendam
Ku terima kekalahanku
Rebahkan kalbumu
Lepaskan perlahan
Kau akan mengerti
Semua
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Artika menyanyikan lagu tersebut dengan penuh perasaan yang mendalam, sehingga para tamu yang hadir ikut meresapi lagu tersebut. Banyak tamu yang juga ikut menangis mendengar nyanyian Artika.
Semua pihak keluarga Afkarpun turut menangis, mereka tahu betapa terluka dan hancurnya hati Artika.
Setelah Artika turun dari panggung tersebut, Xavier dengan cepat memeluk Artika dan membawa Artika pergi dari tempat itu.
Semua yang dilakukan oleh Artika tak luput dari pengamatan Ryan, tapi sayangnya Ryan tidak bisa melihat siapa yang memeluk Artika, saat Artika turun dari panggung tersebut.
Terima kasih telah membaca karya saya
Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan
Mohon kritik dan sarannya
Jangan lupa untuk Vote,like,komen dan share yaa
__ADS_1