Guru Cantik Pujaan Hati

Guru Cantik Pujaan Hati
Bab 49


__ADS_3

Xavier membawa Artika ke tepi pantai dan di ikuti oleh Lia, Xavier terus mendekap Artika di dalam pelukannya.


"Tenanglah Artika, air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria brengsek seperti itu" ucap Xavier menenangkan Artika.


"Benar Artika, kamu harus membuka lembaran baru di hidupmu" ucap Lia pula.


"Bisakah kalian berdua meninggalkan aku sendiri, aku ingin menenangkan diri di sini" ucap Artika seraya melepaskan diri dari pelukan Xavier.


"Kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja. Tolong beri aku waktu untuk sendiri" ucap Artika tersenyum seraya menghapus air matanya.


"Tapi Artika kakak khawatir padamu, kakak takut kamu akan melakukan tindakan bodoh" ucap Xavier dengan nada khawatir.


"Kakak, aku mohon padamu, biarkan aku sendirian, aku janji tidak akan melakukan tindakan bodoh kak. Aku masih bisa berpikir dengan jernih kak" ucap Artika meyakinkan Xavier.


"Sudahlah Xavier, biarkan Artika sendiri, biarkan dia menenangkan dirinya. Ayo kita pergi saja" ajak Lia pada Xavier.


Xavier masih berdiri dengan tegak, dan tak menghiraukan ajakan Lia, untuk mengajak dirinya pergi. Karena Xavier tak mau pergi, Lia dengan sengaja menarik tangan Xavier dan menyeret Xavier pergi.


"Heeeiii... kau ini laki-laki atau perempuan kenapa tenagamu kuat sekali" ucap Xavier pada Lia karena Lia menarik tangannya dengan kuat.


"Ckk... bilang saja tenagamu loyo, baru aku tarik begini saja kau sudah mengeluh" decak Lia pada Xavier.


"Heeii... asal kau tahu tenagaku tidak loyo, apa kau mau membuktikannya" ucap Xavier menggoda Lia.


"Haiiss dasar mesum...." umpat Lia pada Xavier.


"Sudahlah aku malas kalau harus berdebat denganmu, kau membiarkan Artika sendirian. Kau mengaku jika kau sudah menganggap Artika sebagai adikmu, apa kau tidak mengkhawatirkannya" tanya Xavier pada Lia.


"Aku juga mengkhawatirkannya, aku tahu apa yang sedang di rasakan olehnya sekarang, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama dengannya" ucap Lia dengan lesu.


"Jadi sekarang biarkan dia sendiri, biarkan dia menata hatinya, kita akan mengawasinya saja dari kejauhan" sambung Lia lagi.


"Ckk.. ternyata sangat sulit untuk mengerti hati para wanita. Dan kau, apa maksudmu pernah mengalami hal yang sama dengan Artika?" tanya Xavier yang penasaran akan ucapan Lia tadi.


Xavier dan Lia bercerita tentang masa lalu mereka sambil menikmati pemandangan pantai di malam hari.


Sementara Artika berjalan menyusuri bibir pantai tanpa menggunakan alas kaki, Artika melepaskan heels yang di pakai olehnya dan meletakkan di sembarang tempat.

__ADS_1


Artika berdiri di bibir pantai sambil memandangi lautan dengan tatapan kosong, tiba-tiba saja ada sebuah jas yang membalut tubuhnya yang mulai kedinginan.


Artika bingung siapa yang membalutkan jas ke tubuhnya, dengan cepat Artika menoleh kearah belakang tubuhnya.


Ternyata Ryan yang berada di belakang Artika, awalnya Ryan hanya ingin berjalan-jalan di tepi pantai, tapi tanpa sengaja dia melihat Artika berjalan seorang diri tanpa alas kaki, dan masih mengenakan gaun pesta yang sedikit terbuka.


Maka dari itu Ryan mengikuti langkah Artika, setelah Artika berhenti dan menatap ke arah laut dengan tatapan kosong, Ryan langsung membalut tubuh Artika dengan jas miliknya.


"Ryan" ucap Artika tak menyangka jika dirinya bertemu Ryan kembali.


"Iya, ini aku Ryan. Kenapa kamu berjalan seorang diri di tepi pantai?" tanya Ryan pada Artika.


"Aku ingin menenangkan diri, kamu juga kenapa berada di pantai ini?" tanya Artika membalikkan pertanyaan Ryan.


"Aku hanya ingin menikmati pantai saat malam hari saja" ucap Ryan seraya mengangkat bahunya.


"Terima kasih" ucap Artika dengan pelan.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Ryan bingung dengan ucapan Artika.


"Jasmu" ucap Artika seraya tersenyum namun dengan sorot mata yang begitu sendu.


"Kenapa kamu begitu baik kepadaku, tadi sore kamu menolongku saat aku terseret ombak. Sekarang kamu memberikan jasmu untukku supaya aku tidak kedinginan" tanya Artika pada Ryan.


"Anggap saja itu takdir Tuhan" ucap Ryan ambigu.


"Bolehkah aku bercerita kepadamu, maukah kamu mendengarkan ceritaku" tanya Artika pada Ryan.


"Bercerita lah aku akan mendengarkan" ucap Ryan dengan santai.


"Seharusnya ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku, karena hari ini adalah hari ulang tahunku" ucap Artika memulai ceritany, sambil menatap ke arah laut.


"Seharusnya hari ini aku merayakan hari ulang tahunku dan juga hari pernikahanku" sambung Artika lagi.


Artika menceritakan semuanya pada Ryan mulai dari masalah keluarganya dan juga masalah dirinya dan Afkar. Hingga penyebab batalnya pernikahan merekapun Artika ceritakan pada Ryan.


Ryan hanya menjadi pendengar dari setiap cerita Artika. Ryan kagum atas ketegaran Artika dalam menjalani hidupnya.

__ADS_1


"Ternyata dia adalah wanita yang tangguh, sangat menarik" ucap Ryan dalam hatinya.


"Maafkan aku Ryan, jika aku bercerita banyak hal tentang kehidupanku padamu" ucap Artika dengan tulus pada Ryan.


"Tidak masalah, aku sangat senang bisa mendengar ceritamu. Kenapa kamu bercerita padaku, padahal aku orang asing di hidupmu, dan kita berdua juga baru saja saling mengenal" tanya Ryan seraya tersenyum pada Artika.


"Aku lebih nyaman bercerita pada orang asing, aku tidak ingin di kasihani oleh orang-orang terdekatku. Jika aku bercerita padamu yang hanya orang asing, kamu tidak akan mengasihani aku, karena kita tidak akan bertemu lagi" jawab Artika dengan tenang.


"Baiklah, benar juga apa yang kamu katakan. Aku hanya berharap kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih baik ke depannya" ucap Ryan pada Artika.


"Kamu harusnya bersyukur karena orang yang kamu cintai masih bisa kamu lihat, walaupun kamu tidak dapat memilikinya" sambung Ryan lagi.


"Iya kamu benar Ryan, setidaknya aku masih bisa melihatnya, aku tahu cinta tak harus saling memiliki" ucap Artika membenarkan perkataan Ryan.


"Saat aku mengenal cinta seharusnya aku sudah bersiap, siap untuk terluka, siap untuk bahagia, siap kecewa dan terluka, dan siap untuk berjuang untuk menghadapi perpisahan" sambung Artika.


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap ada kebahagian pasti ada juga kesedihan, itu sudah menjadi takdir . Kita sebagai manusia hanya mengikuti saja" ucap Ryan pula.


"Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, ini sudah malam aku akan kembali hotel, kakakku pasti sudah menunggu" ucap Artika pada Ryan.


"Segeralah kembali ke hotel ini sudah malam. Semoga harimu kedepannya menyenangkan" ucap Ryan pada Artika.


"Terima kasih, sampai jumpa lagi, semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Artika seraya tersenyum kearah Ryan.


"Jika kita bertemu lagi, aku yakin jika kita berdua berjodoh" ucap Ryan pada Artika.


Artika hanya tersenyum menanggapi ucapan Ryan, saat Artika hendak melepas jas Ryan dari tubuhnya, dengan cepat Ryan menahan tangan Artika agar tidak melepas jas tersebut.


"Jangan di lepas, pakai lah jasku, dan kamu simpan saja, anggaplah itu kenang-kenangan dariku" ucap Ryan pada Artika.


"Terima kasih, aku akan menyimpannya , aku pergi dulu"ucap Artika seraya berjalan menjauhi Ryan dan menuju ke hotel.


Terima kasih telah membaca karya saya


Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan


Mohon kritik dan sarannya

__ADS_1


Jangan lupa Vote, like, komen dan share yaa


__ADS_2