HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 10


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Hana langsung menuju kamarnya setelah mengucap salam. Sang ibu yang sedari tadi menghawatirkannya mengetuk pintu.


"Masuk Bu!" Bu Mira masuk setelah mendapat sahutan dari Hana.


Hana ternyata sedang telentang diatas ranjangnya dengan mata menerawang.


"Han!"


"Maaf, Bu!" ucap Hana sembari duduk selonjoran. Ibu duduk memerhatikan anaknya yang masih memakai pakaiannya tadi dengan jaket yang masih melilit di pinggangnya.


"Kamu tahu apa kesalahanmu?"


"Sekali lagi Hana minta maaf, Hana lupa ngasih tahu ibu kalau Hana ikut ngerayain ulang tahun Putri." sang ibu mendengus kesal melihat anaknya cengar-cengir sembari mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


"Tuman kowe kuwi, Han!"


"Terus, itu jaketnya siapa kamu pake?"


Blamm!


Hana terlupa lagi. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal, karena jilbabnya sudah ia buka dan dihempaskan di sofa kamar.


Apa ibu tahu ya kalau ini punya Randy?


"Kok ini kayak jaket yang sering dipake nak Randy ya? Bener, Han? Atau punya siapa?" Tanya ibu menyelidik menatap netra anaknya.


" Mmm! Bener Bu! Begini ceritanya, bla bla bla...!" Hana menceritakan apa yang terjadi, dari ia yang baru tahu Randy kerja di kafe tempat dia dan teman temannya nongkrong tadi sampai celananya yang merah karena terkena darah haid. Ia memperlihatkan pada ibunya dengan membuka jaket itu.


"Ish kamu, kebiasaan. Harusnya kan bawa celana dalaman kalau pas seperti ini, kalau pembalut kan kamu bisa ambil di swalayan!" Bu Mira malah mengomeli anaknya.


"Ih, ibu! Aku tuh udah malu setengah mati, terutama sama Vina dan kak Randy yang tahu masalah ini, ibu malah tambah ngomel sih!" gerutu Hana.


"Ya udah, cepet ganti sana! Jangan lupa tuh dicuci jaketnya Randy." setelah itu sang ibu pun keluar lagi dari kamar Hana.


Sebelum Hana ke kamar mandi, ia teringat hapenya bergetar tadi saat di jalan. Siapa ya?

__ADS_1


Pesan dari Vina.


"Sorry ya, Han, tadi waktu aku keluar toilet ada kak Randy lo. Rupanya dia tahu, aku bersandiwara eh... malah nyanyi."


"Do'i tahu lo ke toilet, jadi dia nungguin lo didepan pintu. Terus dia nanya macem macem kayak diintrogasi gue. Jadi, bukan gue yang ngundang dia didepan toilet ya! Ralat. Sorry kalau gue bilang keadaan Lo sama kak Randy Lo itu!" xi xi xi. diiringi emot tertawa lebar lalu tangan mengatup.


"Sia lan Vina." gerutu Hana dalam hati. Ia tak tahu merahnya muka Hana karena Randy tahu keadaannya dan ternyata itu karena Vina.


"Teman luknut Lo ya, Vin! Awas, suatu hari gue bakalan bales Lo!" ia mengetik balasan dengan rasa kesal bin malu. Lalu membanting ponsel diatas kasur, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi dekat dapur.


Selesai mandi, saat akan ke kamarnya, ia berpapasan dengan sang ayah yang akan ke dapur.


"Baru pulang, Han? Tumben." Hana meringis, ia tahu ia salah tak mengabari orang rumah tadi.


"Iya, Yah. Putri lagi ulang tahun, terus dia ngerayainnya traktir kita makan malam." jawab Hana sembari mengelap muka dengan handuk.


"Tapi lain kali tuh, kalau mau telat pulang kabarin orang rumah, ibu ku tadi sampai cemas banget. Kasian, untung gak punya darah tinggi ibu kamu!" lagi lagi Hana meringis malu.


"Iya, Yah! Hana tadi lupa. Hana janji, lain kali Hana bakalan ingat pesan ibu sama Ayah!" rayu Hana merangkul perut Ayahnya yang agak buncit, lalu mencium pipinya.


"Oiya Han!" seru Ayah setelah Hana hampir sampai ditangga untuk naik ke kamarnya.


"Iya, Yah! Ada apa?"


"Randy kayaknya udah beberapa hari gak kesini, Ayah jadi kangen. Dia anaknya enak diajak ngobrol. Dulu, Ayah kepengen anak laki gak keturutan, makanya Ayah seneng kalau dia sering kesini!" sang Ayah senyum senyum yang hanya ia sendiri yang tahu maknanya.


"Ish, Ayah ini apaan. Dia kan orang lain. Ayah juga punya keponakan, Farid anaknya Bude Sofia kan udah kayak anak sendiri!" Hana ngedumel, ada rasa yang entah apa, mendengar ayahnya merasa klop dengan Randy.


"Iya, sih. Dia ponakan Ayah, sepupu kamu. Tapi dia kalau diajak ngobrol gak seasyik Randy. Bentar bentar liatin hape mulu dia."


"Kalau ibu sih, pinginnya Hana cepet nikah, kan terus Ayah punya teman laki. Apalagi kalau nanti Hana punya anak, bakalan tambah rame rumah ini. Sueneng ibu kalau gitu!" tiba tiba ibu pun menyahut.


"kamu tuh udah 23 tahun loh, Hana. Bentar lagi mau 24." tambah sang ibu membuat Hana tambah gak nyaman.


"Iiih, Ayah sama ibu sama aja. Hana tuh belum kepikiran buat nikah. Boro boro nikah, pacar aja nggak punya!" Hana merengut sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Mau Ayah cariin jodoh gak, Han?" Hana tak menyahut dan segera masuk ke kamarnya lagi.


Apaan sih, Ayah sama ibu akhir akhir ini ngomongin nikah mulu. Ya gak salah juga sih, kan memang umur segitu biasanya cewek udah nikah. Bahkan teman sekolah aku udah ada yang punya anak. Hufft!"


Hana melemparkan tubuhnya keatas kasur, ia mengaduh setelah kepalanya membentur benda keras yang ternyata ponselnya. Ia membuka lagi aplikasi pesan di hapenya, Vina mengirim pesan bahkan terdapat misscall pula darinya.


"Ohh, kak Randy! Your girl is sulking!" tulis Vina. Hana tak menanggapinya. Ia lalu membuka beberapa pesan lagi, dari nomer tak dikenal.


"*Hai Han?"


"Pa kabar?"


"Udah sampe rumah, kan?"


"Maaf, tadi aku minta nomer kamu dari temen kamu!"


Empat pesan beruntun*. Ia mengernyit saat melihat foto profil pengirim pesan.


Kak Randy!


Demi kesopanan ia membalas pesan.


"Hai juga kak!"


"Aku udah sampai rumah. Makasih udah dipinjamin jaket. Besok kalau udah kering aku antar ke tempat kak Randy."


Sehabis mengirim pesan Hana melempar lagi ponselnya, menatap langit langit kamar.


Ia teringat kala kemarin berdebat dengan Randy saat ia ketahuan memesan ojol. Waktu itu tiba tiba Randy memajukan mukanya, dan berkata,


"Kalau kamu gak mau aku antar, aku bakalan bilang ke Ayah kamu dan teman teman kamu kalau kita itu....pacaran!" ucapnya tersenyum menang.


"Lo itu psiko, ya!" sentak Hana kala itu, tapi entah mengapa ia tak bisa lepas dari pesona Randy. Ia menurut juga ikut boncengan Randy dan diantar pulang.


"Ish, kamu tuh ya! ngapain ada di langit langit kamar gue, pergi kau!" Hana melempar bantal ke udara, bermaksud menghapus jejak wajah Randy dilangit kamarnya.

__ADS_1


Aaaaaaa, ibuuu! Apa aku lagi jatuh cinta? Tidaaak! Aku benci dia....!


__ADS_2