HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 64


__ADS_3

"So, mulai nanti malam kamu persiapkan diri buatin bayi cantik kayak anaknya mas Aam tadi."


Hana langsung merasa pening kepala, memikirkan nasibnya nanti malam. Apakah harus mengelak lagi atau pasrah.


"Mm, kak. Rumahnya mbak Diah jauh gak? " Hana ngeles dari membahas tentang bayi. Lebih baik bicara tentang yang lain saja.


"Enggak, kok. Kalau perjalanan lancar, gak sampai setengah jam sampai. Kenapa?"


"Nggak, cuman tanya aja. Yaudah, jalan yuk! "


"Mana tangan kamu?" Randy meminta Hana mengulurkan tangannya.


"Emang ada apa dengan tanganku, Kak?"


"Ada deh. Siniin, coba! " Hana menurut, diulurkannya tangan kanannya.


"Tangan kiri?"


"Ada apa sih?"


"Sudah nurut aja."


Randy mengaitkan kedua tangan Hana didepan perutnya.


"Nah, gini baru mesra." ucapnya tertawa sambil menstarter motor.


"Ih, kirain apa! " ingin rasa hati Hana nemplok di punggung lebar itu, menyandarkan kepala dengan tangan mendekap dada, pasti merasa nyaman. Batin Hana berpikir yang tidak tidak.


Randy melajukan motor dengan kecepatan rendah, perjalanan pulang itu mereka lalui dengan canda tawa, hingga tak terasa mereka telah tiba didepan rumah.


Randy langsung naik ke lantai atas, masuk kamar dan membersihkan diri. Sedang Hana mencuci tangan, lalu menakar beberapa tepung, terigu, tepung kanji dan tepung beras, gula, santan dan bahan bahan lainnya. Dengan gerak cepat dan lincah, dia membuat adonan kue.


Selesai membuat adonan, waktu maghrib pun tiba. Ia melakukan shalat berjamaah dengan Randy. Setelahnya, ia kembali berjibaku dengan adonannya.


"Kamu buat kue, Han?" Hana yang sedang memberi pewarna makanan pada adonannya mengangguk.


"Suamimu mau kue? Hari ini juga? " Ibu masih penasaran bertanya.


"Nggak, Bu. Ceritanya tadi tuh aku ketemu sama temannya kak Randy. Terus istrinya sedang hamil dan pengen banget makan kue bika mawar sama kue pukis bikinan aku. Padahal, tantenya sebenarnya juga jago buat kue, punya tokonya juga. Kasian, Bu. Ngidamnya ibu hamil 'kan harus diturutin. Aku bikin ini khusus buat dia, habis ini aku mau nganter ke rumahnya. " Jelas Hana, Bu Mira manggut manggut, lalu membantu Hana menuang adonan pada cetakan.


"Ya ampun. Segitunya kamu sampai bela belain bikin begini sore sore."


"Ibu tau nggak, yang namanya mbak Diah itu udah punya anak umur 4 tahunan. Anaknya imut banget, lucu. Aku jadi kepingin ketemu lagi sama dia." Hana begitu antusias menceritakan pertemuannya dengan Shireen. Bu Mira memperhatikan wajah anaknya yang terlihat berseri seri.


Ibu juga, Nduk. Pingin segera nimang cucu.


"Emangnya kamu itu nggak capek apa seharian keluar? Ibu aja kalau seharian bepergian suka pusing."


"Sedikit, Bu."


***

__ADS_1


Dua buah paper box size M berisi kue bikang mawar dan pukis tabur coklat kacang telah siap diatas meja, jam menunjukkan pukul tujuh lebih. Belum terlalu malam untuk bertamu.


Randy dan Hana berpamitan pada Ayah dan Ibunya, setelahnya meluncur menuju rumah wanita yang sedang hamil dan ngidam kue buatannya.


"Wah, rumahnya mewah banget, Kak. Orang kaya rupanya teman kak Randy." Sembari menenteng oleh oleh ditangan kanannya, Hana takjub menelisik, mengedar pandangan ke sekitar rumah itu.


"Iya, dia seorang pengusaha, konsultan arsitektur. Kliennya kaum menengah keatas. Tapi dia tetap rendah hati, dermawan dan gak sombong. Dia juga donatur beberapa yayasan panti asuhan. Diantaranya panti punya Bunda."


"Dulu, waktu kecil dia sering diajak sama Papanya ke panti, dan dia suka bermain main dengan anak Panti, diantaranya aku." Hana mendengarkan cerita Randy sambil matanya melihat di carport, ada beberapa mobil disana.


Apa ada tamu?


"Aku pencet belnya ya!" Hana mengangguk, lalu ia merapikan jilbabnya.


"Assalamu'alaikum! " sapa Randy saat pintu terbuka, menampilkan sosok pria berkemeja lengan pendek dan bersarung.


"Waalaikum salam. Nyari siapa ya?" tanya pria itu.


"Apa mas Aam-nya ada? Saya Randy dan ini istri saya."


"Oh ada, silakan masuk! Bang Aam ada didalam." Mereka pun masuk, Hana kagum dengan desain interior rumah yang terlihat estetik dan tentu saja mewah. Mereka duduk di sofa yang empuk, dan ambal lantai yang mereka pijak juga tebal dan empuk.


Orang kaya mah, beda. Hana.


Ia meletakkan box diatas meja, masih mengagumi ruangan itu saat terdengar sapaan.


"Assalamualaikum, Masha Allah, ada tamu spesial rupanya." Aam tersenyum lebar mendatangi tamunya bersama sang istri. Randy dan Hana berdiri, mereka saling bersalaman. Randy bertoss ria dengan Aam lalu berpelukan, sedang Diah dan Hana bercipika cipiki setelah bersalaman.


"Waaah, kue kesukaanku! Makasih ya mbak Hana, udah jauh jauh ngantar kue kesini. Duuuh, jadi terharu! " Diah mengambil satu bika. Masih hangat.


"Aku makan ya mbak Hana, gak sabaran aku! " Hana mengangguk, dan wanita dihadapannya memakan kue dengan ekspresi yang menunjukkan ia menyukai kue yang dimakannya.


" Eh, kita lagi ngumpul, nih. Ada sepupu sama adik aku di belakang lagi bakar bakar. Yuk, kita gabung! " ajak Aam penuh harap. Randy dan Hana saling pandang.


"Tapi, mas! Udah malam. Rencananya kita gak lama kok, cuman nganter ini terus pulang."Randy berusaha menolak dengan halus.


"Gak ada tapi tapian. Kalian harus mau. Seru loh, ayo! " sang tuan rumah yang ternyata mempunyai sifat pemaksa, menarik tangan Randy. Akhirnya merekapun mengikuti Aam dan Diah yang berjalan lebih dulu.


Di belakang rumah itu cukup ramai, Aam mengenalkan adik adiknya, Meera Shera. Juga suami mereka Daren suami Meera dan Rega suami Shera. Serta anak anak mereka juga yang tengah membuat berantakan ruang tengah rumah Aam.


Ada juga sepupu Aam yang bernama Raka beserta adiknya, Rania. Raka masih kuliah di Fakultas Kedokteran, sedang Rania adiknya, masih sekolah di SMA.


"Seru banget ya, mas Aam. Kalau punya banyak sodara terus ngumpul ngumpul gini! " Randy, Aam, dan Daren duduk bersila sambil makan kacang rebus. Sedang para wanita ada yang mengulek sambal, ada yang memanggang ikan, sosis bahkan daging. Ada juga yang tengah mengukus sesuatu. Hana mendekati Shireen yang bermain bersama saudara saudaranya.


"Kami mengagendakan sebulan sekali buat kumpul kumpul seperti ini. Sekarang disini, bulan depan di rumah Meera. Sayangnya Mama dan Papa ada kondangan, jadi tak ikut berkumpul disini malam ini." jelas Aam. Mereka bertiga menoleh, saat Rania menjerit digoda oleh kakaknya, Raka.


"Saus 'tuh dimakan, bukan buat luluran adikku sayang! " Raka dengan isengnya melumuri tangan adiknya dengan saus merah. Tertawa terbahak bahak melihat adiknya mendelik kesal.


"Kakak, jadi kotor tangan sama baju aku. Bersihin! "


"Ogah, week!"

__ADS_1


"Pokoknya aku gak mau tahu. Bersihin, atau aku ngadu sama Bunda! " menyodorkan tangannya agar kakaknya bersedia membersihkan.


"Dasar, anak manja. Dikit dikit Bunda, dikit dikit Bunda. Cape deh! " ujar Raka mengambil air dalam sebuah botol.


"Sini aku bersihin! " Rania menyodorkan tangannya. Bukannya dibersihkan, namun dengan iseng lagi Raka menumpahkan air pada lengan baju hingga sedikit basah baju Rania.


"Kakak, huaaa Bunda! Kakak nakaaaal! "


"Rakaaaa!" Raka berlari mendekati ponakan ponakannya yang sedang bermain. Menghindari serangan balasan dari adiknya, yang mendapat sekutu Meera dan Shera dan Rega.


###


Malam telah semakin larut. Jam 11 malam Randy dan Hana telah sampai dirumah. Sebelumnya mereka mampir ke sebuah pasar malam. Karena sudah kenyang makan dirumah Aam, mereka hanya melihat lihat keramaian di keremangan cahaya lampu. Duduk berdua diatas jok sepeda dan bergandengan.


Randy terlebih dulu masuk ke kamar mandi membersihkan diri, lalu bergantian Hana. Sengaja Hana berlama lama dikamar mandi, walau mata rasanya sudah sepet. Masih merasa grogi harus tidur seranjang dengan suaminya. Ia pandangi hasil perbuatan Randy saat mereka ditoko kosong. Beberapa cap tato merah dileher, dan dada atas lalu merabanya.


Ganas.


Udah, tidur belum ya! Moga aja udah. Harap Hana dalam hati. Namun harapannya tak terkabul. Saat dia keluar, Randy duduk bersila diatas ranjang dengan menyandar di heard board.


Duhhh, mati gue.


Randy tersenyum dikulum saat melihat Hana seperti salah tingkah saat berjalan menuju ranjang.


"Kirain ketiduran di kamar mandi, Dek. Hampir aja aku pikiran mau aku gedor pintunya." Hah...


"Gak usah sungkan tidur dikamar sendiri. Sini, ayolah!" Randy makin menggoda dengan tersenyum lebar, menggerakkan gerakkan alis tebalnya. Tubuhnya condong dimana arah Hana berada.


"Aku mau nagih janji, nih!"


"Hah janji, janji apa?" Hana duduk ditepi ranjang. Tangannya mencengkeram kuat ujung sprei dan satu lagi tangan meraih bantal. .


"Emh, enggak sih bukannya janji. Tapi aku nagih hak aku, sebagai suami!"


Alamak. Masuk ke kandang singa, habis sudah pertahanan Hana. Kemarin ia masih bisa mengelak, kali ini ia tak bisa lagi. Atas alasan apa?


Malam ini malam bersejarah bagi mereka, penyatuan dia insan yang saling mencintai, hingga cicak didinding pun enggan keluar untuk mencari mangsa. Memilih berdiam diri dibalik lemari kamar, atau apapun yang bisa menyembunyikan mereka dari dua insan diatas ranjang itu. Pura pura tidur. Begitupun nyamuk yang biasa beterbangan, memilih keluar bergabung bersama teman teman mereka di sarangnya.


\=\=\=\=\=


Note : Kok tiba tiba ada Aam, Diah, Meera, Shera dan bala tentaranya, Thor.


Siapa sih mereka?


Author: Hehehe, sengaja. Biar pada rindu dengan cerita sebelah.


"Yang mana, Thor?


" Klik profil aku, ya. Kalau belum baca, baca juga yang itu. Judulnya, Jodoh pilihan Ayah Bunda.


Dah gitu aja. Bye...

__ADS_1


__ADS_2