
"Kenapa sih Kak, kok tiba tiba bicara tentang poligami? Ada yang kak Randy sembunyikan dari aku?"
"Kita sebentar lagi menikah loh. Jujur sama Hana, ini ada apa tiba tiba ngomongin masalah poligami. Kita harus saling terbuka jika ada masalah, tak ada yang ditutupi!" tiba tiba Randy menginjak pedal rem, membuat Hana menoleh ke sekitarnya. Tadi ia berbicara panjang lebar dan tak fokus kemana arah mobil yang dikemudikan Randy melaju.
"Loh, kok kita kesini, bukannya kita maunya ke kafe?" raut heran Hana terlihat jelas, Randy tersenyum melihat Hana yang kebingungan.
"Kamu tadi bilang kan, kita harusnya saling jujur dan terbuka, tak ada yang ditutupi. Dan ini, aku lagi berusaha buat terbuka sama kamu. Memperlihatkan sesuatu yang belum kamu tahu tentang aku. Ayo, kita turun!" walau masih dengan raut heran Hana menuruti ajakan Randy.
"Maaf ya, dulu aku bilang mobil yang kita pake barusan punya teman. Ini mobil punyaku sendiri!" Randy membuka gerbang rumah yang tak di gembok.
"Dan ini, rumah yang bakalan kita tempati setelah kita sah menikah." Randy menoleh pada lawan bicaranya yang terlihat masih terheran heran campur tak percaya.
"Ini, rumah kak Randy?"
"Sebentar lagi, rumah kita sayang. Kita bakalan menghabiskan hari setelah menikah disini, susah senang di rumah ini. Mengasuh dan membesarkan anak anak kita disini!" Randy membuka pintu. Dan mempersilakan Hana untuk masuk.
"Sengaja aku belum banyak membeli perabotan di rumah ini, karena aku memang sedang menunggu sang calon nyonya yang akan mengisinya dengan furniture yang dipilihnya sendiri. Biar sang calon nyonya betah dirumah nantinya."
"Nanti, kalau ada waktu senggang kita belanja. Pilih sesuai selera kamu dan yang sesuai di rumah ini." Randy mengajaknya berkeliling, melihat semua isi rumah itu, bahkan memasuki kamar kamar yang masih kosong namun bersih terawat. Juga mengenalkannya dengan asisten rumah tangganya.
"Keren desainnya, Kak Randy mendesain sendiri interior rumah ini?" Hana mengemukakan rasa penasarannya akan rumah itu, tak terlalu luas, tapi memiliki nilai estetis yang tak mungkin di desain oleh orang biasa.
"Ada teman, dia seorang arsitek yang membantuku mewujudkan rumah impianku. Aku hanya memberi arahan seperti apa gambaran imajinasi rumah yang impikan, dan dia menuangkan lewat desain gambarnya.”
“ Pantesan, bagus, dan berkelas. Saya suka!”
“ Siapa dulu dong, yang punya ide!” kata Randy jumawa. Ia menyentuh kerah kemejanya. Lalu Hana berkata dan membuatnya seakan ia jatuh dari ketinggian.
“Yee, yang kubilang keren, bagus dan berkelas itu arsiteknya. Pede amat Bang!”
“Jelas, pede lah. Bagaimanapun juga aku yang punya gambaran ide. Dan arsiteknya yang menerjemahkan lewat gambar dan sketsa. Dan kontraktor yang menjadi pelaksana pembangunannya. ” Randy tersenyum, melirik calon istri cantiknya. Apalagi saat gadis itu tersenyum, lesing pipit di kedua pipinya membuat Randy sayang walau hanya ingin menolehkan kepala. Takut lesung pipi itu hilang.
“Diiyain aja deh.” Hana mengalah. Ia mengedikkan bahu. Beberapa saat mereka terdiam.
“Apa?” gertak Hana saat tahu Randy terus memerhatikannya dalam diam.
“Apanya yang apa?” tanya Randy sok ngeles.
“Yee, dasar. Dari tadi kak Randy merhatiin terus. Dikira nggak tahu apa aku?” cebik Hana memalingkan muka, sok melihat lihat tempat yang lain, untuk menguasai rasa grogi.
__ADS_1
Randy hanya mengulum senyum dengan masih terus memperhatikan Hana.
“Ayo, ah! Katanya mau ke kafe. Jangan kelamaan ngobrol berduaan disini, ada setan yang ketiga.”
“Lah, kan ada si bibi!”
Namun tak urung Randy mengikuti kemauan Hana.
Mereka meninggalkan rumah setelah merasa puas melihat lihat isi rumah. Seharian penuh Hana menemani Randy di kafe yang di klaim adalah miliknya. Setelah beberapa saat yang lalu ia mengatakan ia hanya orang kepercayaan yang ditugasi bos atau pemilik kafe.
Semula Hana cemberut dan mengatakan kalau Randy banyak berdusta padanya.
Namun akhirnya ia bisa menerima alasan dibalik kebohongan Randy, bahwa ia sengaja melakukan itu karena ingin mendapatkan gadis yang benar benar tulus mencintainya. Bukan memandang harta sebagai acuan utama menikah dengannya. Dan Hana yang Randy pandang seorang pekerja keras, adalah gadis yang memenuhi kriterianya sebagai calon pendamping hidup kelak. Apalagi jika melihat background Hana yang mempunyai keluarga harmonis, dan taat menjalankan agama.
Sore menjelang maghrib Randy mengantar Hana pulang. Terlebih dulu mereka mampir ke masjid saat mendengar suara merdu adzan saat dalam perjalanan pulang.
Hana dan Randy saling pandang saat di halaman rumah Hana terparkir rapi sebuah mobil berwarna putih yang Hana kenali sebagai mobil Salman, teman sekolah Hana dulu.
Randy yang bermaksud langsung balik ke kafe mengurungkan niat, ia ikut masuk ke rumah pak Hadi.
“Assalamu’alaikum, Ayah!” sengaja ia menyebut pak Hadi ayah, biar lelaki di hadapan yang sedang duduk disofa dan menatapnya tajam itu tahu, kedekatan dirinya dan calon mertua.
“Waalaikum salam. Dari mana kalian pergi seharian?”
Salman mengulas senyum tipis, saat Randy duduk di seberang meja dengannya. Sedang pak Hadi dan Hana sudah pergi dari ruangan itu.
“Hai, udah lama di sini? Kalau gak salah, kamu yang pernah datang ke kafe De Amor kan?"
"Ada perlu sama pak Hadi ya? Teman kerjanya Pak Hadi?” Randy menyapa Salman, setengah mencibirnya.
“Bukan, aku lagi nyari anaknya.” Jawab Salman tak kalah ketus. Randy tersenyum miring.
“Anaknya pak Hadi cuman satu, yaitu Hana. Dan dia sebentar lagi akan menikah dengan aku. So, buat apa kamu nyariin dia?”
“Jangan mengada ada, ya!” sewot Salman berang.
“Aku sebagai calon suaminya berhak tahu. Kami telah bertunangan beberapa waktu lalu dan sebulan lagi kami akan menikah.” Pernyataan panjang lebar Randy membuat Salman agak terkejut. Ia memperhatikan Hana yang baru keluar membawa nampan berisi dua gelas teh manis dan sepiring lumpia goreng.
“Silakan diminum tehnya Kak Randy, mas Salman! Mumpung hangat. Lumpianya ini juga masih anget.”tawar Hana lalu duduk di kursi tunggal.
__ADS_1
“Betul begitu, Hana?” Hana bingung dengan pertanyaan Salman.
“Apa, mas? Apanya yang betul?” Randy tersenyum samar, ucapan Hana seperti sebuah lagu.
“Kamu dan dia, akan menikah?” Salman menunjuk Randy dengan dagunya.
“Oh, itu. Iya, sebulan lagi kami menikah. Kuharap mas Salman bisa datang. Undangan menyusul.” jawaban Hana membuat Salman menghembuskan nafas kecewa.
Salman mengambil minumannya, lalu meneguknya hingga habis separuh gelas.
“Baiklah, sepertinya aku memang kalah start. Ku harap kalian bahagia. Aku pamit dulu!” tanpa menunggu jawaban dari Hana ataupun Randy, Salman berdiri. Lalu melangkah keluar. Senyum kemenangan terbit dihati Randy.
Randy melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang cukup ramai. Ia akan kembali ke kafe. Hingga sebuah dering telpon memecah konsentrasi menyetir nya.
Perlahan ia menepi di bahu jalan yang agak luas, lalu mengambil ponselnya di jok samping.
“Bunda, ada apa nih!” gumamnya dalam hati. Segera ia mengangkat telpon, tapi ternyata sambungan telah terputus. Ia berinisiatif menelpon balik bunda Hilma.
“Assalamu’alaikum, Bunda. Ada apa?”
“Waalaikum salam, Randy. Bunda mau ngasih tahu kamu, kalau Yuri sudah sadar.”
“Alhamdulillah.” Ucap syukur Randy tersenyum dan mengusap muka dengan tangan kanan.
“Randy, cepatlah kesini, Yuri terus menyebut nama kamu. Kemarilah, nak!” Randy mengangguk.
"Baiklah bunda, aku akan kesana sekarang juga!"
Randy memutar haluan kemudi mobilnya, menuju rumah sakit tempat Yuri dirawat. Tak butuh waktu lama, Randy sampai di tempat yang ia tuju.
"Pak Ilham, Pak Herman?" sapa Randy melihat kedua orang pengasuh panti.
"Nah, ini dia orangnya. Udah ditunggu Bundamu di dalam, Ran. Masuklah!" pak Ilham menepuk pundak Randy sebelum masuk.
"Nak Randy!" Hilma memeluk erat pemuda itu sembari sesenggukan saat Randy mendekatinya.
"Yuri sadar, tapi ia sangat lemah. Saat ini ia sedang tidur." Randy mengangguk, lalu mendekat pada Yuri. Ia pandangi wajah pucat itu. Ia mengingat saat terakhir sebelum Yuri masuk rumah sakit, penyebabnya adalah ia mengatakan bahwa ia menganggap Yuri adik dan tak akan berubah sampai kapanpun. Karena ia telah menemukan wanita yang ia cinta dan sayangi.
"Bang Randy!" rupanya Yuri terjaga mendengar gerakan kecil disampingnya.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar Dek. Alhamdulillah."
Yuri mengangguk lemah.