
"Han, apa gak sebaiknya kamu berhenti kerja saja, ibu khawatir sama kamu karena peristiwa kemarin. Kamu adalah anak Ayah sama ibu satu satunya. Kita tak mau hal buruk terjadi sama kamu, sayang." bujuk Bu Mira mengelus rambut anaknya yang merebahkan diri dipangkuan manja. Setelah meminum obat dan istirahat, tubuh Hana terasa lebih enakan. Badannya terasa ringan dan berkeringat.
"Lah, kalau Hana gak kerja terus ngapain dong Hana dirumah? Cuman makan tidur, makan tidur! Gitu?" Bu Mira menyentil hidung anaknya. Hana mengaduh namun tertawa.
"Enaknya aja, itu artinya kamu mau bilang ibu tuh dirumah cuman makan tidur, gitu?" Hana terkekeh. Lalu memeluk erat wanita yang melahirkannya itu.
"Gak gitu maksud aku, Bu! Kalau pekerjaan rumah kan udah ibu handle semua, mulai nyapu, masak, nyuci, bersih bersih. Lah, terus aku ngapain, dong?" mendongak menatap ibunya yang sepertinya ikut berpikir.
"Kamu kan bisa bikin kue, kenapa gak dikembangkan? Sekarang banyak loh, kue kue homemade, terus dititipin ke toko misalnya. Sedikit sedikit aja dulu, lihat gimana pasarnya, kue apa yang banyak diminati masyarakat terutama anak anak." kata ibu dengan optimis.
"Mulai dari nol, dong!"
"Ya iya lah! Semua orang memulai usaha itu dari nol. Gak ada orang atau usaha yang langsung sukses, pinter pinter aja kamu memanfaatkan media sosial, dan memanfaatkan ketrampilan yang kau punya." Hana terdiam. Memulai usaha, tentu membutuhkan banyak modal. Duit darimana coba!
"Gak usah memaksakan diri punya modal yang banyak. Ibu bantu jualin kue ke lingkungan warga sini deh nanti, terus kalau kamu malu, ibu yang nitipin ke warung warung." ibu seperti tahu apa yang dipikirkan Hana, berusaha meyakinkan Hana.
Ting tong.
Suara bel berbunyi. Bu Mira beranjak untuk melihat siapa yang memencet bel siang siang begini.
"Ini benar rumah Hana Pertiwi ya, Bu." tanya seseorang berseragam ojek online setelah Bu Mira membuka pintu.
"Iya, benar!"
"Ini ada kiriman makanan untuk Hana, dari mas Randy." ucap lelaki itu menguapkan keheranan Bu Mira. Ia dan Hana tak pernah memesan makanan via online selama ini.
"Oiya, terimakasih!" Bu Mira menerima goodie bag dan lelaki itu segera pergi.
"Ya Alloh, sepertinya aku gak salah menduga, kalau nak Randy punya perasaan dengan Hana. Anak yang baik dan sopan. Perhatian sama Hana. Semoga aja, kelak mereka semakin dekat dan berjodoh." Bu Mira menyungging senyum lalu masuk menemui Hana.
__ADS_1
"Kenapa sih, kak Randy pake acara kirimin makanan segala?" gerutu Hana sembari membuka kotak nasi, ada menu ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya. Walau dalam hati sebenarnya Hana merasa senang dan berbunga bunga hatinya dengan perhatian Randy padanya.
"Ibu yakin banget dengan dugaan ibu, kalau nak Randy itu suka sama kamu. Dari gesturnya ibu bisa baca! Ibu yakin sebenarnya kamu juga bisa merasakannya. Perhatiannya padamu sangat lebih. Dukungan seratus persen nih, dari Ayah sama ibu. Kalau kamu jodoh sama dia." Hana mendecak menutupi perasaannya.
"Apaan si, ibu ini!"
****
"Alhamdulillah, keadaan kamu sepertinya udah mendingan, Han?" Hana mengangguk, saat keesokan paginya Hana terlihat sudah sehat. Ia sedang menyapu teras saat Randy datang. Hari masih terhitung sangat pagi.
"Iya, aku sudah baikan. Makasih sudah ngantar Hana berobat, dan makasih juga makanannya kemarin. Harusnya kak Randy gak udah repot repot seperti itu." Hana merasa tak enak hati, ingin rasanya berteriak, stop! hentikanlah perhatianmu yang bikin baper itu. Mana pula jika dekat sama orangnya jantung serasa dag dig dug, berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Lah! Emang kenapa? Salah ya, kalau aku ngasih perhatian sama kamu? Salahnya dimana?"
Hana diam tak menjawab.
"Waah, tiap pagi jam segini udah datang aja. Harus cepat cepat di resmiin ini, Han! Daripada keduluan begini!" Bu Daniel tiba tiba muncul lewat depan rumah Hana bersama seorang ibu tetangga lainnya. Ibu yang terlihat menyelidik karena matanya yang memandang tak berkedip pada Randy bergantian Hana. Kata Bu Daniel seperti kemarin, tangannya membentuk sebuah setengah lingkaran di perut. Hana yang mendengar langsung berdiri, dia merasa tersinggung dengan ucapan sang tetangganya itu.
"Bu, maaf! Jika saya turut campur. Hana benar, antara saya dan Hana tidak ada hubungan apapun. Hanya teman, tak lebih untuk sekarang ini. Tolong, ibu dijaga bicaranya ya! In sya Alloh kami masih bisa menjaga aturan dan norma agama antara laki laki dan perempuan yang bukan mahram. Jangan sampai ucapan ibu jadi bumerang buat ibu sendiri. Ibu punya anak perempuan?" tanya Randy balik pada Bu Daniel. Wanita yang disebelah Bu Daniel tersenyum ditahan.
"Iya, Bu Daniel punya anak perempuan. Dua duanya MBA, married by accident." kata wanita itu lirih sembari tersenyum, namun bisa ditangkap oleh Bu Daniel yang langsung melirik tajam kearahnya.
"Ooh, pantesan kalo gitu!" jawab Randy membuat Bu Daniel langsung ngeloyor pergi.
Dia kira semua perempuan kayak anaknya kali. Randy.
"Permisi..!" ibu yang satunya mengikuti Bu Daniel.
Raut wajah Hana berubah sangat masam setelah kejadian tadi. Mereka duduk ditempatnya semula sebelum kedatangan Bu Daniel.
__ADS_1
"Tuh kan, aku bilang apa? Kalau kak Randy terus terusan datang kesini, ya begini ini. Pasti kena gosip!" ucap ketus Hana.
"Ya nggak papa, udah biasa digosipin sekali kali. Mungkin mantunya bu siapa tadi ...?"
"Bu Daniel!"
"Oh, kuda Nil!"
"Issh," Hana menahan senyumnya, mendengar nama Bu Daniel dipelesetkan oleh Randy.
"Mungkin mantunya bu Daniel gak ada yang sekeren aku, jadinya dia kepo, kamu pagi pagi udah ada yang ngapelin. Cowok keren lagi!" ucap Randy dengan gaya sok keren, menyentuh kerah kemejanya. Hana menyebik.
"Lagian, gak ada manusia yang jauh dari gosip, sebaik apapun dia. Omongan orang tentang kita itu pasti ada. Aku kata sih artinya kita itu dianggap ada sama masyarakat. Namanya juga makhluk sosial. Kalau gak gitu, terus emak emak apa dong yang diomongin kalau lagi ngumpul sama teman temannya."
"Yang penting kita pinter pinter jaga diri aja. Gak melenceng dari aturan agama." ucap Randy panjang lebar. Namun Hana masih mode cemberut.
" Udah, gak usah diambil hati, cemberut gitu tambah jelek, ah!" gurau Randy, namun tak mampu membuat Hana tertawa.
"Oiya, rencananya kapan kamu masuk kerja lagi?" Randy bertanya setelah beberapa saat mereka terdiam.
****
"Hana, kenapa tiba tiba resign? apa alasannya?" tanya sang manager swalayan terkejut mendengar permintaan resign Hana.
"Aku, mau berwiraswasta kecil kecilan, Bu! Saya mau memanfaatkan ketrampilan saya bikin kue." ucap Hana memberi alasan, walau ia sendiri belum yakin akan benar benar merintis usaha bikin kue.
"Kamu yakin?" tatapan netra Bu manager membuat Hana mengangguk gelagapan.
"Sangat disayangkan, tapi baiklah itu pilihanmu. Kamu adalah karyawan teladan, suatu saat nanti kalau kamu pengen kembali kerja disini, bilang sama ibu. Pasti ibu bakalan terima kamu lagi!" Hana mengangguk mantap.
__ADS_1
"Semoga sukses dengan usaha yang bakalan kamu rintis, Hana. Have a good fight!" sang manajer yang bernama Bu Lia itu memeluk Hana. Wanita berkacamata itu terharu, sekaligus kehilangan salah satu karyawan andalannya.
Horeeee! Selamat jadi pengangguran.... teriak batin Hana keluar area swalayan.