
"Bu Mira, Pak Hadi, kedatangan saya kesini untuk meminang Hana menjadi pendamping hidup saya." keesokan harinya, Salman datang seorang diri untuk menyampaikan niatnya. Ia duduk berhadapan dengan Ayah dan Ibu Hana, sedangkan hana duduk di sofa single disisi kanan.
"A_apa?" Salman tak pernah membicarakan hal ini sebelumnya, tentu saja Hana terkejut. Ia belum memikirkan tentang jawabannya.
"Kenapa Han, bukannya dulu aku udah pernah bilang, waktu di jembatan itu? Ingat, 'kan? Lagian, apa kamu sama sekali gak peka, sama kode kode yang aku berikan?"
"Ta_tapi..! "
"Tapi apa, Han? Aku udah bilang aku serius sama kamu, kamu masih belum percaya?"
"Bukan gitu maksud saya, tapi..." Salman mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru hitam, lalu membuka kotak kecil itu.
"Ini bukti niat serius aku, Han. Terimalah, dan kita akan secepatnya menikah! " Pak Hadi dan bu Mira saling pandang, menjadi penonton sepasang muda mudi didepan mereka.
"Tapi, Mas! "
"Kurang bukti apa lagi aku, Hana? Jika kamu terima cincin ini, secepatnya aku bakalan bawa orang tuaku kesini." Salman terus saja menyerang Hana dengan kata kata manis. Sambil tangannya dengan sabar masih terulur cincin yang belum Hana ambil, Hana menatap kedua orang tuanya bergantian. Lewat isyarat mata ia bertanya pada Ayah Ibunya.
Bu Mira terlihat sumringah, tersenyum lalu mengangguk. Sedang pak Hadi terlihat ekspresinya datar datar saja. Kedua orang itu juga menatap Hana, sama sama menanti jawaban.
"Ayah terserah kamu, Nak. Hanya yang Ayah harapkan kamu bahagia dengan pilihanmu tanpa paksaan, dan orang yang menjadi suamimu kelak menjadi Imam untuk keluarga kecilnya menuju jannah."
Setelah sekian detik diam, mencerna ucapan Ayahnya. Bismillah. semoga kedatangannya mampu menutup kekecewaanku pada dia.
Hana merapalkan doa dalam hati sebelum menerima cincin yang kata Salman adalah untuk orang spesial dihati pria itu. Dan ternyata cincin itu untuk dirinya.
Ya Allah, semoga aku gak salah dalam melangkah.
"Baiklah, saya yakin mas Salman serius. Dan rasa cinta itu bisa hadir belakangan. Saya, menerima cincin ini dan itu artinya, saya menerima pinangan mas Salman." Salman tersenyum lebar penuh kelegaan. Hana membalas senyum Salman dengan malu malu.
" Alhamdulillah. " ketiga orang mengucap Hamdalah bersamaan.
"Kapan Nak Salman membawa orang tuanya kesini?"
"Secepatnya Yah. Nanti saya bicarakan dulu sama Mama dan Papa saya. " jawab Salman mantap.
Pagi harinya Hana merasa tubuhnya 4 L, lunglai, lemah, letih, lesu. Tengah duduk disofa ruang tamu, menyalakan tivi. Di pagi setelah subuh begini biasanya ia senang melihat kartun. Pak Hadi yang baru pulang dari masjid menghampiri dan duduk disebelahnya. Mata Hana mengarah pada layar datar berukuran 29 inch itu, tapi pikirannya melayang.
"Kenapa Nduk, kok ndak ada gairah gitu. Mau dilamar harusnya seneng dong! Yang semangat! " Pak Hadi mengelus rambut anaknya.
Hans segera merebah dipangkuan sang Ayah, ingin meluahkan rasa didada.
__ADS_1
"Entahlah, Yah. Setelah kegagalan kemarin, aku merasa tak percaya diri. Mau menolak, tak yakin setelah ini bakalan ada yang mau melamar Hana."
"Hush, kenapa bilang begitu. Kalau belum mantap milih Nak Salman, harusnya kamu minta waktu untuk kenal dengan baik, kenapa tiba tiba diterima?" protes pak Hadi.
"Ada pepatah Jawa, wong lanang menang milih, wong wadon menang nolak. Tak ada yang salah dengan pepatah itu, kami menyerahkan keputusan sama kamu supaya kamu pilih yang sreg dihati kamu, Nduk. Hhh!" Pak Hadi menghela napas.
"Ayah, kok ngomongnya gitu. Kok malah nyudutin Hana. Hana butuh support Yah, jadi sedih." bertambah muram wajah anak semata wayang itu, bibirnya mengerucut.
"Iya, iya. Maaf Ayah salah. Semoga keputusanmu tepat, Ayah berdoa siang dan malam untuk kebaikan kita sekeluarga. Terutama anak Ayah yang manja dan imut ini. " menoel hidung Hana agar gadis itu tak lagi cemberut. Baginya, Hana tetaplah gadis kecilnya yang perlu dimanja manja.
"Udah, pagi pagi jangan mendung, berabe kalau turun hujan. Ibu mana? Kok belum ada secangkir semangat pagi buat Ayah! Buuuu! " panggil pak Hadi pada istrinya.
"Iya, Yaaah!" sang Istri menyahut dari dapur.
Beberapa menit kemudian...
"Maaf, Yah. Kirain belum pulang dari masjid. Ibu lagi goreng ikan mujair buat menu makan hari ini. Buat pak Tukangnya juga. " cerocos bu Mira yang datang membawa 2 cangkir teh.
"Nduk, ini ibu buatkan teh penyemangat pagi buat kamu. Loh, kenapa ini kok kayaknya lesu anak Ibu?"
"Duh anak Ibu ini udah 24 tahun masih aja manja. Pagi pagi udah merebah aja, gantian sama Ayah terus ibu." cetusnya saat ia duduk Hana langsung beranjak lalu beralih merebah di pangkuannya.
"Biarin lah Bu. Nanti kalau dia udah nikah, dia kan manjanya sama suami, bukan sama kita lagi, kita akan kehilangan dan merindukan momen seperti ini." Pak Hadi yang menjawab ocehan bu Mira. Sorot matanya terlihat ada beban dihatinya.
"Biar Ayah yang goreng. Ibu disini aja temenin anak kita." Pak Hadi beranjak ke dapur, menggantikan istrinya menggoreng ikan, tinggal bu Mira berdua dengan Hana.
"Kenapa Nduk, pagi pagi bermuram durja. Ada yang sedang kamu resahkan?"
"Enggak kok, Bu. Cuma seperti kata Ayah, nanti kalau Hana udah nikah, gak bakalan bisa gini sama Ibu." Hana tak mau perihal kegamangannya tertangkap dan dirasakan sang Ibu yang paling bersuka ria ia dilamar Salman.
Tiga hari kemudian, Salman benar benar datang bersama kedua orang tuanya, seperti kebanyakan lamaran pada umumnya. Membicarakan hal hal yang penting sebelum prosesi pernikahan dilangsungkan. Salman mempunyai adik perempuan yang masih SMA, bernama Rahma. Wajah mereka begitu mirip. Sekilas saja orang memandang, orang sudah menduga mereka adalah kakak beradik.
"Nak Hana, duduk sini, Nak! " panggil Mamanya Salman agar Hana pindah duduk di sampingnya. Hana menurut, Mama Salman yang bernama Bu Susi itu sangat ramah.
"Iya, Tante...!" Bu Susi mencolek Hana, bentuk protes darinya.
"Ish, kok Tante sih. Mama... panggil Mama Susi, dan ini Papa Sandi. Ini, adikmu Rahma juga malu malu kucing pengen kenal. " Hana duduk diapit Bu Susi dan Rahma.
"Hai Rahma, masih sekolah kelas berapa?" tanya Hana pada adiknya Salman.
"Hai juga calon kakak ipar. Kelas 12, Kak. Di SMA Nusantara. "
__ADS_1
"Wah, bentar lagi lulus dong, rencananya mau kuliah dimana?" tanya Hana lagi.
"Aku udah keterima di Universitas Kak. Lewat jalur rapor. Di Fakultas Ekonomi.
" Dan mereka saat itu juga langsung bisa merasa akrab satu sama lain.
"Aku pulang dulu, Han. Sampai jumpa besok ya, kita fitting baju pengantin. Waktunya sangat mepet. Dia minggu. Semua harus gerak serba cepat. Kalau gak pengen ada yang gak beres. " Hana hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Salman yang tersenyum manis padanya. Rahma membuka kaca mobil dan melambaikan tangan tanda perpisahan sebelum mobil melaju.
Hana mematung, suasana rumah sudah sepi, sesepi hatinya saat ini yang terasa hampa.
Waktu dua minggu dipergunakan dengan sebaik-baiknya mempersiapkan acara, Hana tak mau resepsi besar besaran. Ia hanya menginginkan Ayah Ibunya mengundang tetangga dekat, teman Ayah, teman pengajian Ibu dan sebagian teman Hana.
Citra sekali lagi menjadi mengomeli Hana, ia lagi lagi kelangkahan. Walau sebenarnya itu hanya di mulut saja, temannya itu juga merasa bahagia.
🍑🍑🍑
H - 3
"Kenapa Lo? Kayak gelisah gitu Han? Cerita dong sama gue, jan dipendam sendiri. " Putri melihat gelagat tak biasa pada diri Hana.
"Ah, lupa. Calon pengantin kan biasanya nervous ya, Lo pasti deg degan karena bentar lagi melepas masa lajang." Putri menarik kesimpulan sendiri akan apa yang dirasakan Hana.
"Bukannya gitu, Put!"
"Terus?"
"Entahlah, sejak peristiwa beberapa hari lalu, gue merasa akan ada yang terjadi waktu pernikahan gue nanti. "
"Ish, Lo. Jan mikir aneh aneh deh. Pikirin aja kebahagiaan Lo. Itu yang paling penting, jan masukin hati omongan si Randy, dia tuh sirik tau sama Salman. Karena Lo milih nikah sama doi." Putri mendelik, peristiwa beberapa hari lalu begitu membekas dalam ingatan Hana, dan gadis itu merasa dalam kebimbangan.
"Tapi, gue rasa kak Randy gak mungkin mengada ngada, Put! Gue emang belum lama dan gak jadi nikah sama dia. Tapi, gue rasa, omongannya pasti ada dasarnya. " Putri makin tak suka kata kata Hana, ia mendekati Hana yang duduk disisi pembaringan kamarnya. Lalu meraih pundak gadis berlesung pipit itu.
"Ya Ampun ustadzah kita tercinta. Lo jan kemakan omongan si Randy gue bilang. Lo pasti lebih paham 'kan tentang taqdir yang Tuhan gariskan?"
"Coba Lo bayangin ya! Dia yang harusnya nikahin Lo, terus tiba tiba dia disuruh nikahin adik angkatnya yang sakit, dia kepaksa, tentunya dia gak ikhlas Lo nikah sama orang lain, dan berusaha membatalkan nikahan Lo. Mungkin dia pikir Lo gak boleh nikah, dan suatu saat nanti jika istri sakitnya itu mati, dia bakalan ngemis cinta Lo lagi."
"Atau jangan jangan peristiwa dia kena tusuk itu cuman akal akalan dia aja, buat narik simpati Lo, biar Lo gamang dan nikahan lo gagal? "
*Tapi kak Randy gak seperti itu, peA...
****
__ADS_1
Ada peristiwa apa ya sebenarnya, antara Randy dan Hana*...