HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 49


__ADS_3

"Duuh, gaswat. Sejak kapan dia dimari? Dengar gak ya tadi si Nia ngomongin dia?" Hana menggigit bibir bawahnya, panik, menatap cowok didepannya. Selama beberapa detik, netra mereka saling mengunci. Dimas melengos sebelum ia membuka mulut, Hana juga melakukan hal yang sama. Salah tingkah.


"Mamah menyuruhku mengajakmu gabung. Bukan dikebun sama nyamuk disini tempat pestanya!" tanpa perasaan cowok itu bicara, memberitahu Hana dengan omongan menyakitkan. Nyelekit. Hana yang memerah mukanya melengos, menatap ke sembarang arah.


Tanpa berbasa-basi, Hana pergi dari tempat itu, dan baru saja ia melangkah...


"Aduhhh!"


Kakinya kesandung pinggiran jalan kecil yang dirabat, hampir saja ia terjungkal. Setelah ia bisa menguasai diri, Ia menoleh, menatap tajam cowok yang berdiri dibelakangnya.Karena dia terlihat tertawa ditahan. Mengejek.


"Makanya, kalau jalan tuh hati hati. Pake mata, jangan sambil merem. Jadi kesandung, kan?" ucapnya lagi tanpa perasaan.


"Huh, bukannya jalan tuh pake kaki ya, Situ kali jalan pake mata."


Astaghfirullah, ampuni ucapan kasar ku, Tuhan.


Hana tak menghiraukannya lagi, ia segera pergi dari tempat itu dengan wajah yang bertambah merah, antara malu dan kesal.


Acara ulang tahun berlangsung dengan meriah. Tak ada satupun dari hadirin yang Hana kenal. Hana begitu terharu, saat Tante Namira memberi sambutan. Ia mengenalkan Hana pada para ibu yang mengantar anaknya mengikuti acara dan mempromosikan kue kue hasil usaha dan kreasi Hana.


"Bu ibu, gimana rasa kuenya, enak?" Tante Namira mengajak Hana menghampiri para Ibu yang bergerombol, sambil makan kue dan ngobrol.


Duuh, Tante. Jadi malu aku. Hana.


"Enak! Teksturnya lembut dan legit." jawab ibu yang sedang memakan bolu.


"Yummy, gurih dan garing risolesnya." sahut ibu yang lain.


" Pie buahnya juga lumer dimulut, buahnya seger." Hana tersenyum penuh percaya diri saat mendengar beberapa testimoni dari para Ibu.


"Bener 'kan! Makanya saya aja ketagihan, tau gak Ibu ibu siapa yang buat?"


"Siapa Jeng? Penasaran nih, Nanti kalau ada acara aku mau pesen, dong." Tante Namira tersenyum penuh arti melirik Hana, pancingan nya tepat mengenai sasaran.


"Ini nih, orangnya, ada sama kita. Dia jago loh, bikin segala macem kue. Namanya Hana."


"Waah, anaknya cantik, kue buatannya enak. Menantu idaman."


Dasar ibu ibu, seperti halnya Ibunya, Bu Mira jika ada anak cowok yang terlihat shaleh, dan tampan, ia akan bicara juga seperti Ibu itu.


"Andai aku punya anak lelaki yang udah dewasa, mau tak jadiin mantu, Jeng! " celetuk seorang ibu lagi, Hana hanya menunduk dan tersenyum malu malu.


"Iya, nih. Keliatannya sopan pula. Duh, kalau liat lesung pipinya, jadi gemes, imut. Mau aku comot aja. Iiihh" sambung Ibu yang lain bergurau. Mereka cekikikan membuat Hana malu.


"Eeee, mana bisa! Dia kan calonnya Dimas, Iya kan, Mbak Mira?" celutuk Ini yang lain lagi. Hana menggeleng pelan, tentunya tak ada yang tahu.


"Ah, Ibu bisa aja. Makasih. Syukur Alhamdulillah kalau suka sama kue buatan saya. Jangan lupa nanti kalau Ibu ibu punya hajat, pesen kue sama saya, yah!" terlanjur basah, dengan sopan Hana pun sekalian promosi. Mereka mengangguk antusias dan ada yang meminta nomer Hana.


"Eh, minta nomer ponselnya dong, Dek. Kakakku mau punya hajatan mantu, butuh kue buat kudapan. Terus dia bingung belum dapat toko kue yang pas sama selera. Siapa tahu cocok sama kue kue ini." salah seorang Ibu menimpali.


"Boleh, boleh banget, Bu. " Hana memberikan nomer ponselnya yang langsung di save oleh Ibu muda tadi. Siapa tahu ini adalah salah satu ladang rezekinya. Akan semakin banyak orang yang mengenal kue buatannya.


Percakapan mereka terus berlanjut, Sintya begitu dekat dengan Hana, menempel padanya. Hingga seorang ibu berseloroh bahwa Hana cocok jadi menantunya Tante Namira atau dengan kata lain pantas jadi Tantenya Sintya.


"Diaminin aja deh, Siapa tahu jodoh sama Dimas. Ya, kan Hana!" Hana menelan ludah, lalu menarik nafas berat. Tak tahu harus menentu jawab apa dan hanya tersenyum kecut. Ini yang ia tidak begitu suka berkumpul dengan Ibu ibu, apalagi jika sudah punya anak cowok dewasa. Ia selalu digojloki oleh para Ibu itu. Yang mau dijadikan mantu lah, di jodohin sama si ini atau si itu.

__ADS_1


Pesta telah usai, sembari menenteng sesuatu di goodie bag pemberian Tante Namira, ia menunggu dijalan untuk mencegat taksi. Namun sebelum ia mendapatkannya, sebuah mobil berhenti tepat didekatnya, lalu sang pengemudi menurunkan kaca mobil.


"Mamahku meminta aku mengantar kamu, ayo cepat masuk!" Dimas


membuatnya menoleh, lalu menggeleng setelah cowok itu berbicara. Hana pulang lebih akhir, rumah itu sudah tampak sepi. Hanya penghuni rumah. Ada saja yang Sintya mau hingga Hana pulang paling akhir.


"Nggak perlu, Kak. Aku naik taksi saja. " tolak Hana, lebih baik ia pulang naik taksi, daripada diantar cowok datar dan tak berekspresi itu.


"Jangan membantah, ayo Masuk! Entar aku dimarahin Mamah lagi." eyel Dimas tak sabar, dia yang saat itu memakai kacamata hitam, tampak lebih ganteng sebenarnya. Benar kata Nia tadi, bahwa Dimas kurang bisa membawa diri dalam bergaul. Pemaksa pula. Membuat Hana kurang nyaman bersamanya. Ia juga masih jengkel dengan peristiwa ditaman tadi.


Emang gue pikirin lo dimarahin nyokap lo. Hana membatin.


"Hana! " Hana menoleh, dari kejauhan nampak Tante Namira berjalan tergesa, sepertinya dia tahu Hana menolak diantar Dimas.


"Kamu pulang diantar Dimas ya, jangan nolak. Tadi kan kamu dijemput sama sopirnya Tante, masa pulang sendiri. Tapi sekarang sopirnya Tante izin ada perlu. Jadi, Dimas saja ya, yang anter!"


"Ini hari panas banget, lagian sangat jarang taksi lewat sini." pinta Tante Namira membuat alasan, hingga Hana mau tak mau, dengan berat hati mengangguk, menuruti kata wanita paruh baya itu. Saat Hana mengatakan ingin mengajak Sintya, wanita itu bilang Sintya sudah mengantuk, ingin bobo siang.


Perjalanan menuju rumah hanya terjadi kebisuan didalam mobil yang dikendarai Dimas. Hana malas untuk mengajak cowok itu bicara.


"Apa yang kamu bicarakan sama Nia tadi, waktu di ruang tengah?" tiba tiba Dimas mengajaknya bicara. Terjadi titik kemacetan dan juga lampu merah yang menyala, membuat mobil yang mereka kendarai ikut terjebak didalamnya.


Hana menoleh, "Kok tau kalau aku tadi video call sama Nia."


"Ya tau lah, aku kan tadi diruangan yang sama sama kamu." jawabnya tetap saja dengan nada ketus.


"Kenapa kamu jadi kepo, kita gak bahas kamu."


"Aku belum budeg, Hana. Aku yakin tadi dia bahas aku. "


"Yah, kalau udah tau bahas kamu kenapa nanya ih! Aku juga gak minta dia jelasin siapa kamu. Emang siapa, emangnya gue pikirin? Kalau mau protes, protes aja sama Nia, jangan sama aku!" Hana menimpali dengan sengit. Rasa kesalnya bertambah, cowok satu ini gak bisa jaga perasaan orang.


"Jangan dengerin omongan Nia tentang aku!" katanya kemudian. Tapi Hana tak merespon, konsentrasinya pecah saat menoleh pada mobil yang berhenti disamping mobil Dimas. Tatapannya tiba tiba sendu, melihat siapa lelaki yang mengendarai mobil itu. Ia bisa melihat dengan jelas, karena lelaki itu membuka kaca mobilnya lebar lebar.


"Kak Randy sama istrinya! " Batin Hana. Matanya tiba tiba mengembun, bagaimanapun rapih ia menyimpan luka, jika terpercik air garam, luka itu terasa perih juga.


"Hei, diajak ngobrol gak ngerespon." Hana membuang muka, menyadari perubahan atas sikap Hana, Dimas memperhatikan mobil disebelahnya, mengamati dengan seksama.


*Siapa dia? Kenapa gadis ini terlihat sedih setelah melihat mereka?


Tin Tin*....


Bunyi klakson dari mobil belakang membuat kesadaran Dimas kembali, saking asyik dengan pikiran sendiri, sampai tak sadar lampu lalu lintas sudah berubah hijau.


Dimas memilih diam, tak membahas lagi hal yang tadi ia tanyakan yang berujung perdebatan. Aneh, baru beberapa kali bertemu dan juga gak akrab, tapi ia selalu mendebat ku hari ini. Apa aku yang terlalu, ya, ...


"Aku mau mampir apotik sebentar, kamu tunggu aja dimobil." Dimas menepikan mobil dan memarkir kendaraannya.


Kenapa gak pulangnya aja sih.... Hana.


Dimas keluar dari mobil menuju apotik yang cukup besar dan konon terlengkap di kota itu, Hana menunggu di mobil sembari membuka hapenya.


"Hana...!" sapa seseorang sembari mengetuk kaca mobil.


"Kak Randy...! Se-sedang apa Kak Randy disini?" Hana menurunkan kaca, dan hanya memandang Randy sekilas. Wajah itu terlihat lebih tirus, dan juga tak terurus. Randy tak mencukur jambangnya, hingga terlihat lebih tua. Ya Tuhan, padahal baru beberapa minggu yang lalu, apa memang benar dia terpaksa melakukannya.

__ADS_1


"Aku... mau beli obat. Tadi di apotik dalam rumah sakit, obatnya habis, jadi aku carikan dari apotik luar." begitu dia beralasan.


Suami orang, Hana! Ingat itu.


"Kamu sendiri, ngapain? Sama siapa?" Hana melirik kearah mobil Randy yang ternyata terparkir disamping mobil Dimas.


"Aku... sama teman. Tadi dia beli obat katanya."


"Istri Kak Randy, sehat?" Terlihat Yuri dalam keadaan tidur. Atau pura pura tidur, entahlah. Randy menoleh pada istrinya sebelum menjawab.


"Ya begitulah keadaannya, Han. Harapan sembihnya makin tipis. Hana, aku ka... "


"Ehmmm! " keduanya menoleh ke sumber suara deheman, rupanya Dimas sudah selesai membeli obat. Dan telah masuk di jok pengemudi.


"Aku duluan, Kak. Semoga istrinya lekas sembuh!" Randy mengangguk, menjauhkan tubuhnya dari mobil, menatap Dimas dengan tatapan tajam. Namun Dimas terlihat acuh, menyapanya pun tidak.


Lagi lagi Hana diam hingga tak terasa telah sampai didepan rumah. Dimas memerhatikannya yang turun, sama sekali tak menyapanya atau menawarinya untuk sekedar mampir, lalu langsung masuk kedalam pintu gerbang, tanpa mengucap terimakasih.


Dasar, ya! Dimas.


Dimas turun dari mobil, tak jadi menghidupkan mesin mobilnya, saat ia melihat Pak Hadi yang sepertinya baru pulang dari mushola.


"Assalamu'alaikum, pak Hadi!" sapanya setelah turun, lalu menyalami.


"Waalaikum salam warahmatullah, baru ngantar Hana, ya?"


"Betul, Pak." jawabnya sembari mengangguk sopan.


"Kok gak masuk, Nak Dimas?"


"Makasih, Pak. Lain kali saja, saya buru buru ada acara lain. Permisi, Assalamu'alaikum. "


"Waalaikum salam."


Pak Hadi masuk setelah Dimas melajukan mobilnya, dan berpapasan dengan Hana yang akan naik ke kamarnya sembari membawa sebotol air dari lemari pendingin.


"Baru pulang dari Mushala, Yah?"


"Iya, tadi juga sempat nyapa Nak Dimas diluar. Kenapa, Nduk?" Hana yang kakinya telah naik diundakan paling bawah berhenti, lalu menoleh.


"Kenapa apanya, Yah? Ambigu nih! " Hana menatap Ayahnya tak mengerti.


"Nak Dimas 'kan udah baik, jauh jauh mengantar kamu pulang. Kok gak disuruh masuk, dibikinin teh atau apa. Gak biasanya?" rupanya pak Hadi tadi memperhatikan dari kejauhan, Ia melihat Hana berlalu begitu saja setelah turun dari mobil.


"Tadi udah aku tawarin, kok Yah. Tapi dia-nya gak mau, gimana lagi?" balas Hana menjawab Ayahnya, mengedikkan bahu.


"Ayah liat, kok. Kamu turun dari mobil langsung masuk rumah. Gak nengok ke belakang!"


"Habisnya, dia itu dari tadi omongannya bikin kesel aku, Yah. Eh, masih tambah lagi, ketemu dia di apotek sama istrinya. Tambah nyesek, deh!" adu Hanna sembari menunduk, ketahuan ia telah berbohong.


"Dia, dia siapa maksudnya?"


"Ya...dia. Siapa lagi, Kak Randy Yah, tadi aku ketemu dia... sama istrinya." Pak Hadi baru mengangguk paham.


"Yaudah, gak papa. Lain kali kalau ada orang lain sudah baik nolongin kita, paling enggak tawarin mampir rumah dulu. Jangan dibiarin aja, nanti dikiranya Ayah sama Ibu gak ngajarin sopan santun lagi sama anak cantik satu ini." Hana mengangguk.

__ADS_1


"Buat Randy, ikhlaskan. Memang sulit pada prakteknya, dan jangan menyimpan dendam dan sakit hati. Itu hanya membuat hidup kita gak tentram Nduk!"


"Yaudah sana, kamu pasti capek, istirahat dulu saja. Jangan lupa, dzuhur dulu." Hana mengangguk lagi dan berlalu dari hadapan Ayahnya.


__ADS_2