
"Heran sama Yuri, punya suami kok maunya dibagi bagi. Dikasihkan ke perempuan lain. Meski dia sakit, dan gak bisa ngasih pelayanan, ya gak begitu juga. Si Randy juga, jadi gak bener nih anak. Gemes deh sama mereka berdua, aku jadi gak respek sama sekali sama si Hana itu. Bener bener dia! " sepanjang jalan di koridor rumah sakit, Fitri tak henti ngedumel. Tak peduli beberapa orang yang berpapasan dengan mereka melihat dengan tatapan aneh.
"Aku juga heran sama kamu, Fit. Udah tahu Yuri ikhlas menjalaninya, kamu yang ngedumel. Kamu lupa apa amnesia, Randy dan Hana lebih dulu saling menyukai dan hampir menikah. Gara gara Yuri, pernikahan mereka dibatalkan sepihak sama Hana. Dan sayangnya kamu gak liat dulu, gimana Yuri meyakinkan Hana untuk menjadikan Randy pengantin pengganti. Bukan Randy yang minta, apalagi Hana. Tapi Yuri sendiri yang memintanya." ucap pak Herman menyanggah sang istri dengan menekankan kalimat terakhirnya.
"Dengan sadar, tanpa ada paksaan dari siapapun."
"Padahal kalau pak Hadi mau, ada cowok lain yang bersedia menggantikan calon suami Hana, kalau gak salah namanya Dimas. Cowok itu yang bicara sendiri bersama ibunya."
"Dan mungkin kamu juga belum paham, keputusan yang diambil bukan Hana yang menentukan. Tapi Hana menyerahkan keputusan pada Ayahnya, dan ridho akan siapapun yang ayahnya pilihkan."
Walau sampai sekarang aku tak tahu apa alasan pak Hadi tak memilih Dimas yang masih single, bukan pria beristri seperti Randy.
Keduanya berdiri berhadapan, Bunda Fitri membeliak tak percaya.
" Wis embuhlah, angel ws ngomong karo wong lanang lek masalah ngene iki. Angel wis angel!"
Sepanjang perjalanan pulang malam itu, hanya ada keheningan. Tak seperti malam sebelumnya yang penuh kehangatan, tak ada yang bersuara sampai mereka tiba di penginapan.
Dan lagi lagi, mereka berpapasan di lobi dengan gadis yang tadi bertabrakan dengan Hana. Gadis itu berhenti, lalu menunduk saat Hana dan Randy melewatinya. Berbeda dengan Randy yang menatap lurus ke depan, Hana menoleh, dan tersenyum saat gadis itu meliriknya. Gadis itu membalas senyum Hana sembari mengangguk sopan.
Mereka telah usai sama membersihkan diri bergantian, Hana yang mendapat giliran ke kamar mandi setelah Randy, mendapati suaminya telah berbaring.
"Kak, gak isya dulu? Entar lupa loh. Kita jamaah, yuk!" ajak Hana, namun Randy tak mengindahkan, malah membenamkan kepalanya dibawah bantal. Randy merajuk, karena telinganya awas mendengarkan istrinya membahas Salman, moodnya langsung buruk.
"Yuk, ah kak. Buruan! Keburu ngantuk nih!" Hana masih berusaha membujuk suaminya.
"Duluan aja, aku mau tiduran, shalat nanti. Capek! " tubuhnya beringsut memunggungi. Dengan sedikit memanyunkan bibir Hana menjauhi Randy, mengambil sajadah dan menggelarnya. Masih yakin suaminya berubah pikiran, Hana memanggil lagi Randy untuk diajak ibadah bersama. Menunggu sampai beberapa menit, tak mendapati pergerakan akan beranjak bangun, iapun memulai ritualnya sendirian.
Waktu subuh tiba pun tak jauh beda keadaannya. Masih terjadi perang dingin. Hanya saja Randy tak menolak saat diajak berjamaah. Tak tahan didiamkan, Hana mencegah Randy bangun dari sajadah dengan memegang pergelangan tangan kokoh itu.
"Tunggu Kak. Aku ingin bicara!?" Randy mengurungkan niat untuk bangun.
"Apalagi?"
"Kak Randy kenapa? dari semalam sikapnya jutek banget sama istri sendiri. Salah aku di mana?" cecar Hana menatap manik hitam suaminya.
" Emang menurut kamu aku kenapa? Salah kamu dimana, gak nyadar juga?" entah mengapa Randy terlihat emosi.
"Mana aku tahu, aku bukan cenayang yang bisa tahu kedalaman hati dan pikiran orang." Randy melengos.
"Apa ini tentang karena tadi malam Kakak mendengar Nia membicarakan mas Salman?"
"Udah tahu nanya pula!" jawabnya ketus.
"Emang aku harus apa, gimana? Nia yang tiba tiba nanya, dia yang nyebut nama mas Salman, bukan aku. Cuman nanya doang, belum juga sempat aku jawab.... "
__ADS_1
"Aku gak suka kamu membahas dia, dengan siapapun kamu bicara!" sambar Randy cepat sembari berdiri. Dilemparnya sajadah yang ia pegang keatas tempat tidur. Sikap posesif muncul saat sang istri yang amat sangat dicintai membahas sang mantan.
"Aku tak pernah dengan sengaja bahas dia, dengar gak sih Kakak ini, bukan aku yang mulai, tapi Nia! " nada Hana sedikit meninggi, mendengar pengakuan childish seorang laki laki dewasa bergelar suaminya. Hana bangun lalu mereka berdiri berhadapan. Sembari setengah mendongak karena tubuh suaminya yang lebih tinggi ia melanjutkan.
"Lalu gimana kalau sekarang aku balik? Jangan bahas Yuri didepanku, apa Kakak bisa?" Randy langsung diam membisu, tak bisa menjawab. Ia sebenarnya sadar, level bucinnya memang sudah over. Dan egois.
"Gak bisa jawab kan?" Hanya dijawab oleh kebisuan pagi.
Perjalanan pulang masih dengan suasana canggung, Randy yang merasa bersalah berkali kali menggaruk kepala sambil nyetir. Sekarang keadaan berbalik, Randy yang berusaha mencairkan suasana.
"Dek!" panggilnya karena Hana hanya sibuk dengan ponsel.
"Apa sih?"
"Maaf! " Hana menoleh.
"Kak Randy gak salah, kok!"
"Kalau gitu ngomong dong! Biar gak ngantuk, gak suntuk!" Hana menyebik.
"Helleh, tadi malem tidur sedari sore, masa udah ngantuk?" Randy tersenyum memperlihatkan gigi pepsodennya.
Jalanan yang mereka lalui sangat ramai, karena ditepi jalan tiap pagi menjadi pasar dadakan, ada yang membeli sayuran, daging, ikan dan kebutuhan pokok yang lainnya. Membuat laju mobil sangatlah pelan diantara lalu lalang para pedagang dan pembeli.
"Gimana sih ini, jalan kok dibuat berdagang. kenapa sama aparat sini gak dialokasikan ke tempat yang lebih aman dan strategis. Kalau dagang dipinggir jalan gini kan bahaya?" gerutu Hana saat ada anak kecil yang nyelonong menyeberang. Harus extra hati hati, kalau tak mau terlibat kecelakaan.
"Kamu gak tahu ya ternyata. Itu tuh pasarnya dibelakang deretan ruko itu. Ini pasar kalau pagi rame banget. Tapi beberapa waktu lalu entah apa sebabnya, pasarnya kebakaran waktu malam malam. Jadi, lapak lapak pedagang pada hancur, hangus semua tempat dagang mereka."
"Astaga, benarkah? Aku sama sekali gak tahu. Dan gimana bisa kebakaran?"
"Gak pernah baca berita sih! Penyebabnya belum ketahuan masih diselidiki, ada yang bilang karena korsleting listrik, tapi selentingan ada kabar kalau ada pihak yang menyabotase. Tapi itu hanya dugaan sementara dan kasus ini masih dalam proses uji labfor, belum rampung sampai saat ini,"
"Kasian para pedagang yang dagangannya pada hangus ya, Kak! "
"Tentu saja. Ada ratusan lapak yang rata dengan tanah. Dan mereka yang berdagang disini adalah untuk sementara, sebelum pemerintah setempat membangun kembali area pasar ini. Semoga perekonomian mereka segera pulih, Aamiin."
"Aamiin aamiin." Hana tersenyum.
Menjelang tengah hari dalam cuaca terik, mobil yang dikendarai Randy memasuki halaman rumah pak Hadi. Terdengar suara mesin mixer dari dalam dapur menyapa saat mereka turun dari mobil, para pekerja melakukan tugasnya. Randy membuka bagasi lalu mengeluarkan oleh oleh.
Seperti biasa bu Hadi menyambut anaknya dengan hangat, namun berubah dingin pada menantu. Apalagi saat Randy pamit mau ke rumah sakit. Hilma memberi kabar bahwa Yuri diperbolehkan pulang dan Randy berjanji akan menjemputnya.
"Berulang ulang aku minta maaf, Dek, hatiku harus terbagi tanpa aku mau. Aku sayang sama Yuri. Tapi sama kamu aku sayang sekaligus cinta. Cinta aku sama kamu tak terbagi dengan siapapun. Believe me. I love you so much..." Hana mengangguk, rasanya Randy berat meninggalkan Hana.
"Love you too, my hubby. Pergilah temui Yuri, aku gak apa. Sebenarnya...aku ingin bertemu dengannya, tapi aku rasa akan ada yang marah."
__ADS_1
"Iya, sebaiknya gak usah." Randy faham siapa yang Hana maksud.
Hhh, kenapa kamu baik banget sih? Aku berharap kamu cemburui saat aku menemui perempuan lain. Tapi sepertinya nihil.
"Terimakasih ya atas semua pengertianmu."
"Iya, sama sama! " Randy mengecup pipi sebelum menutup pintu mobil. Ia menatap kepergian Randy dengan sorot yang tak biasa. Dan bu Hadi menatap sang anak dari balik tirai jendela dengan sorot iba.
Sampai kapan akan terus begini?
*
*
*
"Maaf ya, kemarin aku mendadak ninggalin kamu selama dua hari. Kemarin itu aku ke luar kota buat survei kafe cabang baru yang disana." Randy mendorong kursi roda Yuri sembari mengoceh.
" Gak apa Bang, disini aku juga gak pernah sendiri, ada Bunda gantian temenin aku. Adik adik juga. Oiya, Bang Randy kesana sendirian atau sama Panji?"
"Panji aku minta ngurus yang disini selama aku pergi, dan aku kesana ditemenin Hana!"
"Oh, sama mbak Hana, ya!" bibir pucat Yuri senyum, walau terlihat sedikit sedikit terpaksa.
"Tapi lancar kan kafe baru Abang disana?"
" Iya, Alhamdulillah. Prospeknya cukup bagus. Mengusung tema alam, apalagi lokasi dekat area wisata, kemajuannya cukup pesat. Dan lagi disana masih cukup jarang kafe dengan konsep serupa. Abang yakin yang disana bakalan berkembang melebihi target."
"Aamiin. Alhamdulillah kalau begitu. Abang memang pantas sukses. Abang orang baik, gitu juga mbak Hana." puji Yuri tulus.
*
*
*
Oalah thor kok cuman muter muter gak jelas...Bisa bikin cerita gak sih? ðŸ˜ðŸ˜
*Maaf ya gais. Jikalau hampir kebanyakan teman teman author lain pada crazy up. Aku malah lazy up. Dengan alur yang gak jelas lagi.
Sebenernya ingin sekali kayak yang lainnya, tapi apalah daya aku benar benar tak mampu. Banyak hal yang menjadi alasan, salah satu yang utama adalah aku baru kehilangan belahan jiwaku. Yang beberapa hari yang lalu adalah peringatan 100 harinya*.
*Dan sekarang, kucoba mulai bangkit, dari rasa sedih. Mulai merangkak, memulai hari dengan berusaha ikhlas tanpa Dia. Mulai mencoba menguatkan bahu untuk memikul tanggungjawab sebagai orang tua tunggal. Karena buah hati adalah amanah yang kelak akan dipertanyakan di hari Akhir.
Karena kita juga tahu, kita pun hanya sekedar hidup dibumi ini (sebagai reminder for myself.) Bahwa hidup ibarat kata adalah mampir ngombe istilah jawanya. Kita semua akan menyusul leluhur leluhur kita, mbah mbah kita. Buyut buyut kita yang telah tiada. Entah itu kapan hanya Tuhan yang tahu.
__ADS_1
Maafkan, jika othor tak tahu diri ini malah curcol. ðŸ˜ðŸ˜*