HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 39


__ADS_3

Seakan separuh nyawaku pergi#


Sementara di rumah sakit, wajah lelah dan pucat Yuri tengah tersenyum manis, mengabaikan rasa sakitnya. sebab pria yang didambakan sedang ada untuknya. Di sampingnya, walau raut mukanya rada rada masam dengan senyum dipaksakan.


Wajah Yuri tak sepucat kemarin, sel darah merahnya menurun drastis seiring meningkat tajam sel darah putih membuat dokter dengan cepat melakukan transfusi trombosit sebanyak 2 kantung. Dan yang masih menggantung di tiang infus adalah kantung ketiganya. Kehadiran orang yang dicinta juga menjadi life spirit tersendiri baginya.


“Kamu yang kuat ya, kamu harus berjuang sembuh untuk kita semua, untuk diri kamu sendiri juga.” ucap Randy memberi semangat.


“Love yourself, sebagaimana Bunda, adik adik dan Kakak, serta semua para pengasuh panti semua menyayangimu, dan menginginkan serta mendoakan akan kesembuhan kamu.”


“Abang Randy juga, kan?”


"Abang juga menginginkan kesembuhan aku?"


Setengah meragu Randy mengangguk.


“Tentu saja. Kalau enggak, gak mungkin juga Abang ada disini sekarang. Kita semua patungan, gantian menjagamu disini.”


“Makasih, Bang Randy. Bang Randy juga pasti tahu, aku sangat mencintai Abang.” Randy tersenyum kecut. Lalu mengacak rambut Yuri. Dadanya terasa terhimpit batu besar, dia ada disini. Sedangkan disana, bunda Hilma dan pak Herman pergi ke rumah Hana. Entah bagaimana tanggapan gadis pujaan hatinya itu, akankah dia marah dan membatal...ahhh!


Tak sanggup Randy membayangkannya. Ia yang sedari tadi tak sabar menunggu kabar dari bunda Hilma dan paman Herman.


" Ya Alloh, ampuni Hamba Mu yang serakah ini. Aku mengiyakan menikahi Yuri, tapi aku juga tetap mau menikahi Hana, wanita yang ku cinta dan aku puja." ucapnya dalam hati, sendu.


"Bang Randy tengah memikirkan sesuatu?" pertanyaan Yuri membuyarkan lamunan, Randy menggeleng.


"Nggak kok. Abang cuma mengantuk aja. Kemarin Abang kurang tidur." ucapnya beralasan, ia tak mau merubah mood gadis yang sudah ia anggap adik sendiri. Tapi sebentar lagi akan ia nikahi. Memanglah lucu takdir hidupnya.


“Oiya, tadi bunda Hilma mengirimimu bubur kacang hijau, kayaknya masih hangat. Kamu makan dulu, ya?” tawar Randy menunjuk rantang diatas meja yang dipanggil Yuri.


“Tahu aja aku lapar, Bang. Aku memang lagi pengen makan.”


“Disuapin atau mau makan sendiri?”


Yuri menatap tangan kanannya yang terpasang infus. Tentu ia tak boleh terlalu banyak menggerakkan tangan itu agar tidak bengkak dan cairan berwarna merah lancar menetes.


“Apa boleh makan dengan tangan kiri kak? Kan darurat. Kalau tangan aku banyak gerak nanti bengkak lagi.”

__ADS_1


“Kalau begitu, aku suapin saja.” Tawaran yang bagai angin surga yang bertiup sepoi sepoi buat Yuri. Mimpi apa ia bisa disuapin oleh Randy.


“Bang!”


“Hmm”


“Nggak jadi, deh!”


“Ngomong aja, gak usah sungkan.” Ucapnya menyendokan bubur dan menyuapkannya pada Yuri.


“Bang Randy akan tetap menikah dengan mbak Hana?” tanya Yuri setelah berhasil menelan bubur kacang hijau di mulutnya.


***


Malam itu Randy menginap di rumah sakit, menunggui Yuri. Pagi harinya setelah dokter visit berlalu, Randy pamit pulang pada Yuri mau menengok kafe dan berjanji nanti sore akan kembali. Dokter mengatakan kondisi Yuri sudah stabil dan besok boleh pulang.


“Hati hati, Bang!” Randy hanya mengangguk dan tersenyum.


"Bang!" Randy yang sudah tiga langkah maju kembali menengok.


"Ya!" Yuri memberi kode untuk Randy mendekat lagi. Dan Randy termangu tak percaya, tak tahu harus berbuat apa saat Yuri meraih tangan dan mencium tangannya. Disaksikan oleh bunda Hilma yang tersenyum penuh arti.


"Kita bicara di kantin depan, Ran. Kamu pasti belum sarapan, kan?" Randy mengangguk, walau ia begitu penasaran, tapi ia coba tepis. Ia tak mungkin memaksa Bunda Hilma langsung bicara di tempat itu.


"Randy cuman mau minum kopi hitam, nanti aja sarapannya." Randy menolak saat Hilma menawari makan.


“Maafkan kami, Randy. Kami, belum bisa meyakinkan Hana dan keluarganya. Mbakyu Mira nggak terima, sedang Kang Hadi dia memasrahkan keputusan pada Hana.” Ucap bunda Hilma penuh penyesalan.


"Tapi saya akan berusaha sebisa Bunda buat ngeyakinin Hana untuk tak membatalkan pernikahan kalian." ucap wanita berkerudung lebar hitam itu dengan raut penuh penyesalan. Ia meraih tangan kiri Randy diatas meja.


"Bunda benar benar minta maaf." Randy mengangguk lemah.


"Sudah, cukup Bun! Bunda tak perlu membujuk Hana maupun ibunya lagi. Biarlah itu jadi urusan saya, bunda fokus saja pada Yuri."


Karena semua sudah terlambat.


Pukul delapan tiga puluh lima menit, Randy berharap semoga Hana belum berangkat keliling, ia tiba di depan rumah bercat krem.

__ADS_1


Ia menengok ke dalam, sepeda Hana masih terparkir rapi.


Apa ia libur dari membuat kue?


Dengan langkah penuh keraguan, Randy menuju teras, lalu memencet bel rumah.


“Assalamu’alaikum, Bu. Maaf mengganggu pagi pagi begini. Saya ingin bertemu Hana...!”


“Waalaikum salam. Untuk apa?” belum sempat Randy menuntaskan bicaranya, bu Mira menyahut dengan ketus.


"Hana sedang tak ingin bertemu siapapun. Terutama kamu. Kedatangan kamu hanya akan buat dia sedih, tahu nggak?" Randy terdiam, bingung harus berucap apa.


“Bu... Jangan seperti itu. Biar mereka menyelesaikan persoalan secara baik.” pak Hadi menyahut dari belakang.


“Tidak! Saya tak izinkan dia temui Hana. Persoalannya sudah jelas, dia mau menikahi adik angkatnya. Dan itu artinya pernikahan antara Hana dan dia dibatalkan." Bu Mira menuding Randy yang berdiri di depan pintu, tanpa mau menyuruhnya masuk lebih dulu.


" Dan aku tak akan pernah setuju kalau kau membujuk dan memaksakan diri tetap menikahi Hana.” Pak Hadi menghela nafas, istrinya benar benar tak bisa diajak bicara kalau sudah seperti ini.


“Bu...! Biarkan dia masuk dulu. Gak enak kalau ada tetangga yang melihat. Kita harus menghormati tamu.”


“Tak akan pernah Ibu izinkan, walaupun mungkin Hana merelakan dirinya. Saya akan cegah mereka menikah sampai kapanpun!” Randy terdiam, menunduk dan tak tahu harus berbuat apa. Melihat tuan rumah berdebat di depan pintu.


“Saya... Saya mohon, bu! Akan saya jelaskan. Ini...ini, tak seperti yang ibu dan bapak bayangkan...”


“Cukup! Semua sudah jelas. Saya tak mau lagi mendengar alasan anda. Apa perkataan saya tadi kurang jelas, hmm? SAYA TAK AKAN PERNAH RELA ANAK SAYA DIMADU. TITIK.”


“Silakan kamu pergi dari rumah kami. Tak ada pernikahan diantara kalian.”


Randy memundurkan langkahnya. Bu Mira masih dilingkupi amarah, percuma juga jika ngotot mau bicara dengan Hana. Ia harus menunggu hingga kondisi menjadi lebih stabil, memikirkan cara bertemu dengan Hana, tanpa sepengetahuan bu Mira.


“Baiklah, saya permisi Pak, Bu. Saya mohon maaf sudah mengganggu pagi pagi." ucapnya lesu kemudian berbalik. Pak Hadi menyusul Randy yang sudah turun dari teras.


"Maafkan istri saya, nak Randy. Harap dimaklumi. Kami terluka atas keadaan ini." Randy mengangguk.


"Nanti kalau keadaan sudah kondusif, kalian bisa bicara baik baik." ucap seorang pak Hadi, betapa Ayah dan suami yang bijak, sembari menepuk pundak pemuda itu. Pak Hadi bisa merasakan, melihat dari raut wajah pemuda itu yang terlihat bingung dan murung.


Jika ia di posisi pemuda itu, ia pasti juga sama bingungnya.

__ADS_1


Pak Hadi menatap punggung Randy sampai tak terlihat di balik tembok pagar, lalu ia segera menyusul sang istri masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Ia urung menuju dapur, karena ternyata sang istri sedang memeluk anak semata wayangnya yang terdengar terisak lagi di ruang tengah.


\=\=\=\=\=


__ADS_2