HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 40


__ADS_3

Apakah kesempatan ini sudah tak ada lagi? Pesimistis.


Randy membuka pintu mobilnya, menoleh lagi kearah pintu rumah Hana yang tertutup rapat. Ia


masuk ke dalam mobil, namun tak jua ia melajukan kuda besi tunggangannya itu. Hanya menunggu dalam diam. Sesekali memalingkan muka sendu ke arah lantai atas rumah itu. Berharap melihat Hana sekedar membuka jendela atau pintu balkon, atau membuang sampah ke tempat pembuangan yang ada tak jauh darinya memarkirkan mobil. Ia tak tahu, bahwa yang sedang ia tunggu pun mengintip dari balik gorden ruang tamu rumahnya.


Hampir setengah jam ia menunggu, netranya menerawang jauh. Hingga kemudian ia mengirim pesan dari aplikasi berwarna hijau di ponselnya.


📱Hana, ku mohon, aku ingin ketemu kamu. Secepatnya. Tentukan tempat dan waktunya, aku manut. Kita harus ngomong, tak bisa seperti ini.


Tok tok tok.


Randy dikejutkan oleh suara ketukan di jendela mobil saat fokus pada ponselnya. Seorang wanita setengah baya tersenyum, terlihat tangannya menenteng kresek hitam besar.


Ibu ini pasti habis belanja ke warung sebelah.


"Ya, Bu!" Randy yang mengenali wanita itu sebagai tetangga Hana membuka penuh kaca mobil.

__ADS_1


"Mas Randy, kan? Calon suami Hana?" Randy mengangguk.


" Kok gak masuk? Hananya ada, kan? Pasti lagi bikin kue." ibu itu nyerocos membuat Randy mengusap tengkuk. Dia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan dari ibu tadi yang ia kenali bernama Bu Daniel, tetangga Hana yang super kepo.


"Iya, bu. Hana lagi libur, gak bikin kue hari ini. Saya sudah dari sana tadi, dan sekarang saya mau pulang kok!" ucap Randy membuat alasan. Tersenyum canggung.


"Ogitu!" ibu itu terlihat tak percaya, biasanya paling tidak Hana akan menunggui sampai mobil atau motor Randy melaju ke jalan raya, baru gadis itu akan masuk ke dalam rumah. Namun ini, bahkan pintu rumah Hana tertutup rapat, tak ada sesiapa diluar.


"Aneh!" gumam Bu Daniel yang masih bisa didengar Randy.


"Apa, Bu!" Wanita dengan rambut di cat cokelat itu tersenyum.


"Oh, itu...mmm, tadi Bu Mira sibuk di dapur. Terus Hana juga lagi gak enak badan lagi istirahat dikamarnya. Jadi, pintunya ditutup. Ibu tahu sendiri, kan? Kalau jaman sekarang ini bahaya kalau pintu dibiarin terbuka. Entar kalau ada orang asing masuk, terus nyuri, gimana dong, Bu!" Randy menjawab dengan kebohongan yang tiba tiba terlintas di kepala. Padahal ia tak tahu keadaan Hana.


Maafkan aku Han. Aku mengatakan kamu sakit. Aku berharap itu tidak terjadi, semoga kamu sehat selalu.


"Ogitu, ya! Tapi... kok Nak Randy gak bawa Hana ke dokter aja kalau dia gak enak badan? Kasian loh, mau jadi pengantin malah sakit." Bu Daniel masih ngotot bertanya, mencari celah agar terbukti kecurigaannya. Wanita ini memang pandai menganalisa sesuatu yang ia lihat dengan mata kepalanya, tentunya dalam versi dia sendiri. Lalu menyebarkannya dalam bentuk gibahan yang kadang menjadi booming di lingkungan mereka.

__ADS_1


"Kata Hana tadi dia cuman kecapekan aja, Bu. Kemarin hari memang kita sering jalan buat ngurus rencana pernikahan. Jadi, menurut Hana tak perlu sampai harus pergi ke dokter. Dan ia tak mau dipaksa. Cukup minum vitamin dan istirahat yang cukup, insha Alloh segera pulih. Begitu, Bu!" dalam hati Randy merasa geram namun ia tahan. Ia merasa terusik dengan pertanyaan yang dilontarkan Bu Daniel, dan ingin segera mengakhirinya.


Wanita itu lalu mengalihkan topik.


"Beruntungnya Hana, ya! Dapat calon suami ganteng, kaya lagi, kayak nak Randy ini." Randy tersenyum lebar. Bukannya merasa tersanjung, ia bahkan merasa Bu Daniel berlebihan.


"Biasa aja, Bu. Kalau ganteng, standarlah saya. Terus soal kekayaan, harta hanya titipan Allah, yang sewaktu waktu bisa diambil lagi oleh Pemiliknya." jawab Randy tak mau menyombongkan diri.


"Duuuh, ternyata baik dan tidak sombong juga. Benar benar cowok milenial yang sempurna. Andai jadi mantu saya!" Bu Daniel dengan tak canggung mengucap hal itu, wanita itu makin ngaco, membuat Randy jengah namun tetap berusaha tersenyum ramah.


"Ibu bisa aja!" keduanya tertawa sebentar.


"Yaudah, ibu mau pulang dulu, mau masak buat makan siang bapaknya anak anak. Nak Randy mau mampir dulu?" Randy mengucap terimakasih dengan sopan dan mengatakan bahwa ia harus berangkat bekerja.


"Weeeh, isik ono maneh gak yo bocah lanang seng bagus tur sugeh koyo Randy ki? Jan, pengen tak pek mantu tenan iki! Sayange ws duwe calon." gumam wanita itu setelah Randy melajukan mobilnya.


Di dalam rumah, Hana merasakan getaran hape. Tanpa membuka aplikasi, ia bisa melihat chat yang dikirimkan Randy.

__ADS_1


Ya, kita harus bertemu. Tapi tidak untuk saat ini. Setelah kemarin kamu berterus terang tentang kebohonganmu, sekarang terungkap lagi fakta lain. Inilah sebabnya kamu kemarin bicara tentang poligami? Kebohongan apalagi yang akan kamu ungkapkan?


__ADS_2