
*****
Hana mengedarkan pandangannya, didepannya duduk seorang wanita setengah baya namun masih terlihat cantik dari garis wajahnya. Saat ia bersirobok mata dengan wanita itu Hana tersenyum dan mengangguk. Begitu juga dengan wanita itu.
Putri mencubit paha Hana yang duduk disampingnya.
"Aaaw, apaan sih Lo Put? Sakit tauk!!" Hana ganti memukul lengan Putri, dan Putri melakukan hal yang sama pada Hana lagi.
Putri mengedip, mengkode Hana dengan lirikannya.
"Apaan sih, Put. Sakit mata Lo?" bisik Hana karena Putri masih mengedipkan matanya. Putri memajukan wajah dan berbisik ditelinga Hana.
"Cowok cakep, Han!! Masa Lo gak ngerti sih?" bisik Putri dengan geram. Hana lalu mengikuti arah lirikan Putri.
Disamping wanita didepannya, duduk seorang cowok, terlihat tanpa ekspresi. Tapi memang lumayan tampan. Mereka mengapit gadis kecil, sepertinya mereka adalah satu keluarga, ibu, anak cowok dan adiknya. Karena wajah mereka yang begitu mirip satu sama lainnya. Hana yang menyukai anak anak tersenyum pada gadis kecil di depannya. Berbeda dengan Putri yang terus memperhatikan Abangnya dengan senyum gaje.
"Hai dek, mau permen?" tawar Hana mengulurkan permen belang belang rasa susu yang disukai anak anak. Kembalian waktu membeli air mineral tadi.
"Mau, kak!" gadis kecil itu tangannya mengulur, bermaksud mengambil permen. Namun tiba tiba cowok itu menurunkan tangan gadis kecil dan menggenggamnya.
"Sintya, ingat! Sintya gak boleh makan permen, entar giginya sakit kayak kemarin. Masih ingatkan sakitnya?" Hana menarik tangannya kembali dengan raut dan senyum yang memudar.
"Ih, Abang! Siapa yang sakit gigi, Sin rajin gosok gigi. Gak pernah sakit" gadis itu merajuk dan menyandar pada wanita paruh baya.
"Iya, Dim. Sin rajin sikat gigi, gak apalah sekali-kali makan permen!" ibu itu ikutan protes dan menyalahkan Cowok itu, atau mungkin tak enak hati pada Hana.
"Iya, Abang jahat! Sin gak boleh makan permen!" Hana mengulum senyum, cowok itu dikeroyok oleh ibu dan adiknya.
"Sintya makan yang ini aja ya!" cowok itu mencoba bernegosiasi agar gadis kecil itu tidak ngambek, mengeluarkan lalu menawarkan biskuit kering yang Hana tahu berasa asin gurih yang langsung mendapat penolakan dari Sintya.
"Gak mau!" gadis kecil itu bersidekap dan mengerucutkan bibirnya lucu. Hana dan Putri saling pandang. Wanita paruh baya yang sepertinya ibu mereka, tersenyum pada Hana.
"Maaf, ya dek! Dimas memang seperti itu sama keponakannya. Sayang banget, saking sayangnya sampe suka ngelarang ini dan itu." ibu itu nampak merasa tak enak hati pada Hana.
"Gak apa kok Bu! Ini tadi saya juga gak mikir kalau adek ini gak boleh makan permen. Harusnya sih begitu. Saya refleks saja, liat permen di tas saya!"
"Oh, keponakan ya, Tante? Pantesan, saya pikir tadi adiknya. Kok beda jauh ya umurnya, ternyata ponakan toh!" Putri menyahut sembari senyum senyum melirik cowok yang sama sekali gak terpengaruh dengan percakapan orang orang disekitarnya.
"Oiya, kenalkan nama Tante Namira, panggil aja Tante Nami. Terus ini Dimas anak bungsu saya dan ini cucu saya, namanya Sintya." wanita itu memperkenalkan diri, yang langsung disambut Hana.
" Nama saya Hana Tante, salam kenal." kata Hana menjabat tangan yang terulur itu.
__ADS_1
"Putri, Tan!"
"Kalian tujuannya mana, kalau Tante boleh tahu?"
"Saya ke Kotalama, Tan. Mau pergi ke nikahan teman." Putri mengangguk mengiyakan.
"Benarkah? Sama dong! Tante juga turun kesana nanti, mau menghadiri pesta nikahan anaknya teman. Dulu sih, gadis yang nikah itu juga temannya Dimas ini." ibu itu menjelaskan perihal perjalanannya.
"Ih, Abang kenalan dong jangan diem aja." colek Tante Nami pada anaknya yang sedang membujuk keponakannya agar mau makan wafer, setelah ditawari kue kraker dan menolak mentah mentah. Namun sang keponakan yang lucu dengan pipi chubby itu masih menggeleng, dan melirik permen yang masih digenggam Hana.
Tante Nami cemberut saat anaknya hanya merespon dengan kata apaan sih, Mah!
"Hhh, pantesan kamu itu gak laku laku, gak punya gebetan kayak teman teman kamu. Wong didepannya ada cewek cewek cantik gini, dieem aja, gak respek gitu." omel sang Mamah sebal yang hanya direspon dengan lirikan oleh anaknya. Tak ada keinginan untuk menyahuti ucapan sang Mamah yang memojokkannya didepan dua cewek yang gak mereka kenal sebelumnya.
"Pernah patah hati kali, Tante. Karena ditolak cewek, setahu aku sih gitu. Cowok kalau ditolak cewek yang disuka terus sikapnya jadi acuh, dan dingin kayak es di kulkas. Macam anak Tante ini!" Putri tanpa tedeng aling aling nyelutuk, nyerocos bak petasan yang langsung dapat sikutan dari Hana. Putri langsung mengaduh, kemudian cekikikan.
"Maafin temen saya, Tante, kak Dimas! Temen saya memang seperti ini, ngomongnya gak pake kontrol. Nyerocos kayak rem blong. Nyembur kayak air di kran bocor. Sekali lagi maaf!" Hana yang merasa tak enak hati menunduk pada Tante Nami, kemudian pada Dimas yang menatap mereka berdua tajam. Melihat tatapan tak suka dari Dimas pada Putri, Hana mencubit paha Putri gemas.
"Ehehe, mungkin temanmu memang benar, dek Hana. Gak masalah kok."
"Dimas ini memang begitu, semenjak SMA entah mengapa jadi anak introvert....!"
Hening, tak ada yang bersuara. Hanya suara bising dari roda roda besi kereta yang beradu dengan rel, terdengar seperti jeritan di sepanjang perjalanan pagi menjelang siang itu.
"Kak Hana! Kakak sering ya naik kereta seperti ini?" Tanya Sintya memecah keheningan diantara mereka dengan mulut penuh wafer yang dimakannya, membuat Hana geli.
"Nggak kok dek, ini pengalaman pertama naik kereta. Kalau kak Putri ini yang sudah sering, malang melintang di dunia perkeretaan, hehehe.!" Hana tertawa dengan jawabannya sendiri, Sintya ikut tertawa begitu juga Tante Nami. Putri memang sekali dua mengunjungi pacarnya di kota T dengan menaiki kereta api, kota yang sekarang mereka tuju.
Sintya, gadis yang perkiraan Hana berusia tujuh sampai delapan tahun itu terus mengajak Hana bicara dengan akrab. Ia selalu berkomentar dengan riangnya setiap apa yang dilihatnya diluar kereta.
"Waah, itu liat kak! Rumahnya warna warni, bagus ya!" komentar Sintya saat melihat rumah rumah dengan di cat berbagai warna, nampak begitu indah dilihat dari kejauhan.
Tak terasa, kereta telah sampai di stasiun yang Hana dan Putri tuju. Mereka berkemas, dan bersiap untuk turun dengan mengambil kembali tasnya dan mengaitkan di kedua bahunya dan mengantri untuk turun bersama penumpang yang lainnya.
"Kak Hana, kita berpisah disini ya? Bye... " gadis kecil itu melakukan kissbye.
" Bye bye Sintya! Selamat jalan Tante, saya kesana dulu!" Hana membalasnya dengan melambaikan tangan.
"Iya Hana, Putri. Tante senang bertemu kalian. Semoga kita bisa ketemu lagi!"
Mereka pun berpisah. Hana menggerutu dalam hati.
__ADS_1
"Ih, cowok itu cool banget ya! Ish, jadi penasaran deh aku!" ucap Putri seperti merasa gemez sendiri.
"Heeh, si Bima mo lo kemanain?" Putri tertawa dan Hana mendorong bahunya.
"Put...!" Seseorang memanggil Putri, Keduanya menoleh, ternyata Bima pacar Putri berada di kejauhan dan melambaikan tangannya. Putri memang janjian dengan Bima untuk mengantarnya ke rumah Nia, sang calon pengantin.
"Tuh, cowok lo. Jangan macem macem, ntar Lo di putusin doi, nangis tujuh hari tujuh malem Lo!"
" Bisa lebih dari itu malah" keduanya tertawa.
"Iya iya, eh Lo naik ojek apa gimana Han? Tuh, disana banyak tukang ojek!" mereka bicara sembari mendekati si Bima yang berdiri menyambut mereka.
"Bentar!"
Hana lalu membuka ponselnya sembari berjalan. Dan membuka aplikasi whatsapp, ingin menghubungi seseorang. Tapi belum sempat ia mengirim pesan ada seseorang yang meneriakkan namanya.
"Hanaaa, Putri, miss kalian!" Teriak seseorang itu mengagetkannya. Dari tempatnya berdiri ia melihat seseorang berjalan cepat kearah mereka dengan tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum." Sindir Hana dengan tersenyum meledek.
"Waalaikum salam. Gue nunggu kalian udah hampir sejam tahu, gue pikir kalian gak jadi dateng, mana gak bisa ditelpon lagi dua duanya." Nia merepet, yang hanya disambut tawa oleh kedua sahabatnya. Mereka bergantian berpelukan dan cipika cipiki.
"Hei, tak mungkinlah kita gak datang, ini kan hari spesial sahabat kita, iya kan Put?" Puput mengiyakan.
" Sekali seumur hidup lagi, mana mungkin kita gak datang." Ucap Hana setelah terurai pelukan mereka.
"Makasih!" ketiganya tertawa, Bima yang menyaksikan interaksi ketiganya tersenyum dan menggelengkan kepala dengan tingkah absurd dua sahabat pacarnya.
"Lagian, kenapa nih calon pengantin malah keluyuran gak jelas, gue sama Putri kan udah tahu rumah Lo. Gak mungkin lah nyasar." Mereka berjalan menyusuri peron stasiun menuju jalan keluar.
"Ya, kepingin aja." jawab Nia pendek.
Setelah mengambil motor yang diparkirkan, Nia segera menghampiri Hana. Menyuruhnya meletakkan tas di bagian depan motor maticnya. Dan Hana duduk di bagian penumpang.
Nia menaiki motornya dengan kecepatan sedang di siang hari itu. Sedang motor Bima membuntutinya di belakang. Mereka melaju menuju rumah Nia dengan menempuh jarak kita kira 15 menit, sampailah mereka ke rumah Nia, yang depan rumahnya telah tampak ada tenda yang terpasang rapi.
*****
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Bersambung.......
__ADS_1