
Tak seperti biasa yang bangun pagi full spirit melakukan aktifitas rutinnya, kali ini sehabis mandi dan melaksanakan subuh yang hampir kesiangan, mereka bergelung lagi dibawah selimut. Dunia serasa milik berdua, saling berpelukan dengan nyamannya, melupakan segala persoaln yang ada.
Pukul 8 pagi. Mereka yang tengah asyik dibuai mimpi dipagi hari, terusik dengan getaran dan suara nada dering ponsel diatas nakas. Hana melepas dekapan tangan kekar, pria disisinya hanya menggeliat merubah posisi tidur tanpa membuka mata.
"Assalamu'alaikum...! "
"Woi, yang lagi hanimun. Dah gak inget bestie ya?" suara diseberang langsung nyerocos, tak tahu panggilannya mengganggu sang penerima panggilannya.
"Jawab salam hukumnya wajib, Ni! " yang diseberang terkekeh melupakan jawaban salam Hana.
"Iya deh, waalaikum salam ustadzah. Sorry lupa gue, saking semangatnya tadi liat story Lo di kota gue! Lo tahu itu walaupun kafe itu baru, itu tempat favorit gue sama laki gue kalau lagi penat sama kerjaan, tahu! " Hana baru ingat, ini adalah satu jalur kota tempat tinggal Nia, sahabatnya. Tadi malam ia membuat story whatsapp berselfi didepan tugu pintu masuk kafe itu. Tentu Nia tahu dari story itu.
"Oiya!"
"Heeh, sumprit! " Hana berdecak, sahabat satunya ini gak berubah walau udah nikah.
"Jadi, kapan Lo ke tempat gue ajakin laki Lo, bisa dikenalin nih sama laki gue! Mumpung deketan, atau kita janjian ketemu dimana gitu?"
"Iya iya, sorry. Aku juga gak ada planning kesini, kemarin tuh ceritanya tiba tiba diajak aku kesini, gitu. Mm, entar aku tanya suami aku deh, bisanya kapan." Hana menguap sembari menutup mulut.
"Hahaha, jadi mulai kapan Lo sama gue berubah jadi aku sama kamu. Ih, kayak orang asing deh. Kenapa berubah?" suara diseberang terdengar agak kecewa atas ucapan Hana yang ber-aku kamu .
"Maaf ya Nia sayang, my bestfriend, aku sama kamu tuh udah punya pasangan. Jaga sikap aja. Jangan sampai nanti kalau kita udah punya anak, terus ditiru sama anak kita. Cukup kita aja, aku gak berubah kok. Masih Hana bestie kamu yang dulu. Cuman bedanya kita sekarang udah sama sama married, gitu aja kok. " lagi lagi Hana menguap, sambil menyeka air disudut matanya.
"Wah, wah, wah. Rupanya gue ganggu ngantin baru nih. Iya deh iya. Gue ngerti kok! "
"Jadi Lo, eh kamu kapan waktu luangnya buat ketemuan, gimana kalau sore ini kita janjian di kafe kemarin?"
"Aku bilangin suami dulu, baru nanti aku kasih tahu kamu, okey!"
"Oke, Gue, eh aku tunggu. Salam buat suami Lo, eh kamu. Sorry ya, aku belum biasa. Hehehe."
"Tidur lagi, gih. Tadi malam pasti kamu gak tidur semalaman. Kena gempur, Lo. Eh, jangan jangan Lo gempor sekarang, saking semangatnya gempur menggempur!" mata Hana melotot, teman satu itu mulutnya gak pernah di filter omongannya.
"Kamu, awas ya kalau ketemu!"
Kubejek bejek jadi remahan rempeyek tahu rasa. Itu mulut kepingin diolesi sambel kayaknya. Nah kan, Hana ketularan .....ðŸ¤. Mulutnya manyun mendengar kekehan dari seberang telpon.
*
*
Pukul 9 pagi tepat, mereka keluar dari area penginapan. Cacing diperut sudah menari nari, meminta asupan makanan karena tenaga terkuras habis semalam.
__ADS_1
"Huh, dah lama gak makan nasi pecel. Sungguh terasa nikmatnya!" ucap Randy seraya menghapus keringat didahi. Ditempat itu disediakan bumbu pecel dengan sensasi rasa pedas sedikit, atau istilahnya sumer sumer, pedas sedang, dan ada yang super hot. Randy memilih nasi pecel level super hot, sedang Hana memilih yang pedasnya sedang.
"Mau icip yang punya aku, Dek! " Hana menggeleng.
"Gak ah, nanti kalau sakit maag aku kambuh, Kakak mau tanggungjawab?"
"Jangan kambuh dong. Yaudah aku gak akan nawarin yang ini. Hmmm, rempeyeknya juga gurih dan renyah, perpaduan rasa yang sangat nikmat." ucap Randy lalu ia menambahkan ucapan dengan berbisik, " Tapi masih nikmat yang tadi...malam! " goda Randy yang bibirnya terlihat merah karena sensasi rasa membakar lidah.
Hoaah, hooaah, awww! bunyi dari mulut Randy yang kepedasan, pipi Hana memerah karena malu lalu menghadiahi Randy dengan sebuah cubitan di paha.
"Sakit, Dek. Yang atas sama bawah sama panasnya! " keluhnya mengelus paha yang terkena cubitan.
"Rasainnn! Salah siapa pikirannya ngeres mulu."
***
Selesai mengisi perut di warung tenda dengan menu nasi pecel khas kota itu, mereka berjalan menyusuri jalanan dengan pohon rindang di kanan kiri. Jalan berdua dengan saling mengaitkan jari sudah membuat Hana cukup bahagia, senyum terus tersungging dari bibirnya. Tak lupa jika ada spot yang dirasa instagramable, merekapun mengabadikannya dengan selfi berdua atau menvideonya.
Nafas keduanya ngos ngosan setelah menaiki anak tangga yang berjumlah ratusan untuk sampai ke puncak bukit. Dan terbayarkan setelah melihat pemandangan dibawah mereka dengan takjub. Sungguh indah membuat mereka dan wisatawan lain betah berlama-lama disana. Dari yang sekedar ngobrol dan bercengkrama sambil memakan camilan, berselfi ria atau duduk duduk dibawah pohon sambil melihat ke sekeliling mereka.
Tak terasa keadaan semakin sore, petang menjelang. Mereka telah bersiap siap setelah menjalani kewajiban menjelang malam itu. Hana sudah tak sabar menemui bestienya yang sudah berbulan bulan sejak Nia menikah tak jumpa. Saat Hana menikah, Nia berhalangan hadir karena sedang hamil muda, mengalami mual mual dan muntah hebat serta tensi rendah yang membuatnya harus bedrest selama beberapa bulan bahkan sempat opname karena kekurangan cairan dan itu disebabkan oleh seringnya muntah.
Hana memutar mutar tubuh didepan cermin, mengenakan rok panjang bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan atasan yang polos lengan pendek, serta mengenakan outer kardigan lengan panjang.
"Udah cantik kok, gak usah muter muter entar pusing lagi! Yuk berangkat! " tegur Randy yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan bergandengan tangan, mereka akhirnya keluar kamar.
"Aww!" seorang gadis berjalan terburu buru dari belokan kamar, dan tak sengaja bertabrakan bahu dengan Hana. Keduanya sama sama meringis sakit.
"Hei mbak! Kalau jalan hati hati dong! Nabrak istri saya, nih! " tegur Randy menatap gadis itu, lalu Randy memeriksa bahu Hana.
"Sakit ya, Dek?" tanya Randy pada istrinya, tangannya mengelus bahu dan lengan Hana yang tersenggol.
"Maaf kak, maaf. Saya gak sengaja. Saya...saya sedang terburu buru. Sekali lagi, maaf!" gadis itu menunduk. dan mengatupkan kedua telapak tangan. Hana menggeleng sembari menatap gadis didepannya.
"Enggak kok, mbak. Aku cuman terkejut aja." tatapannya tak lepas dari gadis itu sembari tersenyum, lalu mendongak menatap Randy yang melotot tak suka pada si penabrak.
Garis w**ajah mereka kok sepertinya mirip, terus mengingatkanku sama seseorang, tapi siapa? Hana.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya terburu buru tadi! "
"Iya mbak. Lain kali hati hati aja. Kalau begitu kami permisi!" Hana menarik tangan Randy melangkah menjauhi gadis itu.
"Sudah, kak. Dia pasti gak sengaja! " cicit Hana kemudian karena melihat suaminya masih kesal.
__ADS_1
Aku merasa garis wajah mereka sedikit mirip. Cewek itu dan kak Randy. Ah sudahlah, didunia tak ada yang tak mungkin. Tak ada hubungan darahpun banyak wajah wajah yang mirip. Hana menoleh ke belakang, gadis itu masih ditempatnya, menatap kearah mereka sembari mengusap bahu yang mungkin sedikit sakit.
Saat sampai di kafe, mereka melihat Nia dan suaminya telah duduk manis dengan minuman didepannya. Saat melihat Hana, Nia melambai lambaikan tangannya seraya berdiri dan tersenyum lebar.
"Hai bestie, aku disini! " Hana setengah berlari meninggalkan Randy di belakang saking semangatnya. Setelah mengucap salam dan cipika cipiki serta berpelukan, kedua gadis itu sangat heboh saling bercerita sambil tertawa, mengabaikan para suami. Beruntungnya, para pria ternyata satu server, hingga mereka segera akrab.
"Jadi Lo kapan nyusul gue begini, segera ya?" Hana menyentuh dan mengusap usap perut Nia yang sedikit membuncit.
"Insya Alloh, secepatnya. Kita gak menunda punya momongan, kok." imbuhnya lagi.
Nia mencondongkan wajah kearah Hana, lalu berbisik.
"Oiya, gimana ceritanya kok bisa sama si Randy lagi. Aku sih denger dari cerita siPut sama Citcit, kayak gak percaya gitu. Bener gak sih? " bisik Nia sembari melirik kedua pria asyik berbincang, entah apa yang membuat mereka tertawa tawa. Nia menggeser duduknya lebih merapat.
"Sst, ternyata dibelakang aku, kalian suka gibahin aku, ya? Dasar teman luknut ya kalian! " Hana cemberut dan pura pura marah. Bibirnya manyun, dan meraih minumannya.
"Bukannya gitu, tentunya gue kepo lah. Eh, maksudnya aku kepo. Gimanapun juga, setahu aku kamu pernah mau nikah sama dia gak jadi. Terus kabarnya nikah sama si Salman, eh nyatanya gak jadi malah tiba tiba nikahnya ama dia. Padahal di kartu undangan pengantin prianya Salman!" Nia berbisik lagi. Kini dua pria tak terdengar suaranya, hingga mereka menoleh. Raut muka Randy terlihat kesal menatap Nia.
Sementara di tempat lain.
"Keterlaluan si Randy, kamu kayak gini dia malah ngilang. Mentang mentang sama perempuan itu malah dua hari gak ada kabar. Emang ya perempuan itu sama aja. Gak ada rasa iba sedikitpun sama kamu! " Fitri mencak mencak, kemarin malam ia menunggui Yuri sampai pagi hari, Randy yang katanya keluar sebentar tak terlihat batang hidungnya. Ditelpon tak diangkat, di chatpun hanya centang satu. Sore harinya ia datang lagi ke rumah sakit dan tak mendapati Randy sampai saat ini.
"Kemana sebenarnya mereka?" Fitri masih menggerutu. Yuri tersenyum mendengarnya, walaupun hati sebenarnya juga sakit. Sakit lahir dan batin yang ia rasakan.
"Sudahlah, Bun. Mungkin mereka masih ada keperluan yang tidak bisa ditinggal. Lagian selama ini Bang Randy sudah terlalu baik hati, mau menikahiku walau aku tak bisa memberinya kebahagiaan, dan tak bisa melayaninya. Meski aku tahu Bang Randy terpaksa. Yuri hanya menjadi beban, beban bagi semua orang terutama Bang Randy. Aku ikhlas jika mereka bahagia, mereka berhak untuk itu Bun! " ucap panjang lebar Yuri menyadari keadaannya. Bibirnya bergetar.
"Tapi tidak dengan mengabaikanmu begini, Yuri. Kamu juga istrinya! Kamu berhak mendapat perhatian lebih dari Randy karena kamu lagi sakit begini! "
"Bang Randy tidak mengabaikan aku, Bun. Dia menjagaku selama ini, membiayai perawatan ku selama aku sakit, siapa kalau bukan Bang Randy. Mereka pasti juga butuh waktu berdua. Apalagi mereka masih dalam keadaan pengantin baru." Bunda Fitri mendesah.
"Kamu tuh, Ya, sudahlah. Orang kamu yang kubela malah ngomongnya begitu, udah kayak malah ngebelain mereka." Fitri merajuk.
"Ada apa sih ini, kok kedengarannya kalian ribut. Yuri kan butuh istirahat, Fitri." tiba tiba Bu Hilma telah berdiri di depan pintu bersama pak Herman.
"Ini loh mbak, Randy dari kemarin belum kesini, dia pasti enak enakan berdua sama perempuan itu. Gak kasihan apa dia sama Yuri!"
Bunda Hilma meletakkan rantang susun tiga di meja dekat ranjang Yuri. "Hana yang kamu maksud, Fit?"
"Siapa lagi! "
"Orang Yuri gak papa kok, Bunda Fitri terlalu berlebihan. Aku ngerti posisi aku maupun mbak Hana."
Mbak Hana istri yang dicinta, sedang aku.....
__ADS_1
" Tuh kan, Fit. Yuri aja ngerti, masa kamu enggak. Udah kamu sekarang pulang. Gak usah ngedumel gak jelas. Mereka ridha, kamu yang malah gak rela."
"Tuh, suami kamu nunggu didepan tuh! " imbuh Hilma menunjuk dengan dagu pak Herman yang berdiri tak jauh dari mereka. Pak Herman mendekati ranjang dimana Yuri terbaring dengan selang infus di punggung tangan kirinya. Berpamitan mengajak istrinya untuk pulang.