HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 48


__ADS_3

" Cak Fikri...!" Sudah beberapa hari Hana merencanakan akan memberikan baju baru yang sempat dibelinya saat pergi ke pantai pada anaknya Cak Fikri, dan baru hari ini Hana teringat. Karena kesibukannya ia melupakan hal itu. Di tambah satu stel lagi ia membelikan di toko baju langganannya.


"Iya, Neng Hana. Ada apakah gerangan, mau pesen sesuatu? " Hana menggeleng, tersenyum. Cak Fikri memperhatikan gadis itu sembari mengelap peluh di dahinya.


"Nggak, Cak. Saya cuman mau ngasih ini sama anaknya Cak Fikri, semoga bermanfaat." Hana mengangsurkan goodie bag yang dibawanya, dan diterima Cak Fikri dengan raut heran lalu mengintip isi tas itu.


"Ya Alloh, Neng Hana. Ini betulan buat anak saya?" Hana tersenyum geli.


"Bukan, itu buat Cak Fikri. Memangnya Cak Fikri mau pakai gamis itu, ya!" Hana cekikikan membayangkan Cak Fikri pakai gamis. Tawa Hana membuat Cak Fikri cemberut.


"Loh, kok cemberut. Tak ambil lagi deh, kalau Cak Fikri gak suka. Siniin tasnya! " pinta Hana becanda. Ia tak sungguh sungguh sebenarnya. Tapi Cak Fikri mengangsurkan juga tas itu.


"Yah, bakalan ada cewek cantik timbilan, dong. Udah dikasih diminta lagi." Cak Fikri tahu Hana mencandainya.


"Hehehe. Becanda Cak. Masa sih barang yang udah dikasih Hana pinta lagi."


Calon suami diminta sama orang aja aku kasih, upps!


Senyum Hana hilang seketika mengingat hal itu.


Istighfar, Hana, istighfar. Satu sisi hati mengingatkan.


"Alhamdulillah. Makasih banyak ya, Neng Hana. Semoga usaha Neng makin lancar, rezeki makin melimpah, dan dapat jodoh segera. Yang ganteng, yang pengertian, yang kaya hati dan gak pelit. Urip gemah ripah loh jinawi." Doa doa tulus keluar dari lisan Cak Fikri.


"Aamiin, aamiin, aamiin. Makasih, Cak doanya. Aku yakin doa Cak Fikri didengar malaikat dan Allah mengabulkan doa kita bersama."


Dengan wajah berbinar bahagia Cak Fikri pamit meneruskan perjalanannya berdagang sayur, setelah berkali kali mengucap terimakasih.


Sayur.... sayurrr... sayuuuur....


####


Randy duduk menerawang di kursi kerjanya dengan kaki naik diatas meja. Tangannya memegang bolu kukus rasa pandan, ia mengunyah kue itu pelan. Tiga iris bolu dan tiga risoles ragout yang yummy, garing dan gurih yang dihidangkan untuknya telah ludes dan berpindah tempat ke dalam perutnya. Tersisa satu yang ia pegang. Sebotol air mineral tanggung tinggal separuh.


Ragut adalah sejenis adonan berupa campuran sayuran, daging, atau ayam cincang. Semua bahan tesebut kemudian dicampur ke dalam saus putih kental yang disebut bechamel. Dan itu menjadi isian dari risoles.


Karena pikirannya yang di ada di negeri antah berantah, Randy tak menyadari bahwa Panji sejak tadi telah masuk ke ruangannya, menamatkan penglihatannya tak percaya.


"Woy, ini doyan, apa kelaperan sih? Licin, tinggal piringnya doang!" Panji mengangkat piring sekaligus botol air mineral, dan meletakannya kembali diatas meja, dekat kaki Randy. Randy tersadar seketika dari lamunan dan menurunkan kakinya.


"Bisa diem gak, berisik Lo!" maki Randy sembari meletakkan plastik bungkus kue keatas piring. Mulutnya masih penuh kue. Karena merasa seret di tenggorokan, ia pun mengambil air putih dan meminumnya sampai tandas. Lalu mengelap peluh di kening. Panji gedek gedek melihat kelakuan temannya. Bibir Randy terlihat merah karena sensasi rasa pedas yang masih tersisa di mulut.


"Gue kangen sama yang bikin kue ini, Nji." de-sahnya, lalu menurunkan kaki.


"Nah, 'kan! "


"Nambah dong, ambilin lagi gih!" titah Randy pada Panji yang langsung menggeleng.


"No, Lo bisa sakit perut. Cabe segenggam buat makan risoles tiga biji. hiii..! " Panji merinding, membayangkan gimana rasanya nanti perut Randy, pasti panas seperti terbakar. Apalagi kalau BAB nanti, pasti panas dan perih. Belum lagi sakitnya perut melilit lilit, bisa murus dia. Untung Randy gak punya penyakit asam lambung, bisa berabe. Tak habis pikir, pelarian dari rasa kecewanya ia menyakiti dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dasar karyawan bandel ya, Lo. Lucknut. Mau gue potong gaji Lo?" Randy memelototi Panji, Panji malah terkekeh.


"Ya jangan lah, Bro. Tega amat sama gue. Ini kan buat kebaikan Lo juga. Lo udah ngabisin lombok banyak."


"Kalau sampe Lo sakit, emang bini Lo bisa ngurusin? Gue mah, ogah."


" Udahlah Bro. Gue tahu lo nyesel, kan. Usahalah buat ikhlas, 'kan Lo sendiri yang buat keputusan. Kenapa Lo jadi frustasi gini."


"Kalau gue jadi Lo ya, Lo itu free. Lo sekarang mandiri, Lo bisa dapetin apapun yang Lo mau. Bunda Hilma dan Yuri itu bukan siapa-siapa Lo. Harusnya Lo gak tergantung sama orang lain Lo itu mo kawin sama siapa kek, mo temenan sama siapa kek. Terserah. Lo aja yang terlalu lemah. Hanya karena Lo yang merasa berhutang budi karena dibesarkan olehnya. Gue rasa, banyak cara buat balas budi, gak harus nikahin cewek sakit kayak dia juga kale...Gini kan, jadinya. Sekarang baru nyesel Lo, cewek yang Lo cinta jadi ilfil sama Lo." Panji mengomel gak karuan. Menyalahkan keputusan yang telah Randy buat.


"Hana itu memang anak yang religius, agamanya gue akui top Be Ge Te. Tapi di jaman kayak sekarang ini, gadis yang mau dipoligami itu langka, Bro. Emang Lo bisa adil apa, kalau Hana emang mau Lo poligami? Gak njamin gue."


"Karena yang terpenting dari orang yang berpoligami itu adalah keadilan pada istri istrinya. Fifty fifty, gak boleh condong sama yang salah satunya. Emang Lo bisa?" Randy bungkam seribu bahasa, karena iapun menyadari dia yang bersalah. Ah, andai waktu bisa berulang kembali, takkan kuulangi kebodohan ini.


Iya, sih. Mana bisa gue adil, secara hatiku udah penuh rasa cinta sama Hana, gak ada tempat buat Yuri walau secuil.


Pintu diketuk dari luar.


"Masuk!"


Seorang karyawan membawa makanan dalam baki.


"Baiknya Lo makan nasi sekarang, jangan sampe Lo sakit. Gue gak mau ngurusin Lo kalo sampe Lo sakit. Apalagi sampe opname." melihat jam tangannya.


"Ini udah lewat jam makan siang, Bro. Tadi pagi Lo juga gak makan, 'kan?"


" Yaudah deh, gue sumpahin Lo mati. Tapi nanti kalau Lo umur 100 tahun, terus Lo udah tobat. Dosa Lo masih sebesar gunung Himalaya. Emang Lo gak takut azab kubur sama api neraka, apa?" Botol air mineralpun melayang ke tubuh Panji.


####


Kini tiba saatnya hari ulang tahun yang dinanti oleh Sintya. Hana menepati janji mengantar kue jam delapan, walau kelebihan sepuluh menit sih. Tapi belum terlambat karena acara dimulai jam sembilan.


Rumah Tante Namira cukup mewah dengan halaman yang luas. Telah ada dua mobil terparkir, salah satunya adalah mobil yang Hana lihat dipakai oleh Dimas waktu kemarin datang ke rumah untuk pesan kue.


"Alhamdulillah, selesai juga tugas gue. " asisten rumah tante Namira tersenyum, lalu meminta diri untuk ke belakang, membantu yang lainnya menyukseskam acara ulang tahun Sintya.


Sebelum pergi Bi Marsih mempersilakan Hana duduk. Hana memperhatikan di sekelilingnya. Ruangan yang didominasi warna putih itu terlihat berkelas furnitur nya.


Mereka cukup kaya, kenapa dulu waktu kondangan ke tempat Nia harus naik kereta sih? Ih, jadi keinget Nia, sudah lama banget gue gak komunikasi ma dia. Hana.


Karena tak ada sesiapa yang bisa ia ajak bicara, ia pun menelepon Nia.


"Bestiiii! " sapaan yang begitu kencang di telinga Hana saat telponnya diangkat.


"Assalamu'alaikum." balas Hana. Yang diseberang telpon nyengir kuda.


"Waalaikum salam, hehehe.... sorry." balas Nia lagi.


"Hei geser, vidcall lah, biar gue bisa liat muka Lo. Gue kangen nih!"

__ADS_1


"Gue juga. Tapi Lo jangan kenceng kenceng ngomongnya, gue lagi dirumah orang, nih! " Nia meminta video call dan Hana menerimanya.


Keduanya begitu heboh saat bervideo call, maklum karena mereka cukup lama tak berkomunikasi. Hana sungkan memulai menyapa via online karena Nia sudah menikah, takut mengganggu pasangan pengantin yang masih terbilang baru. Hana lupa sudah dirinya berada saat ini, hingga seseorang menyapanya.


"Kak Hana...! "


"Eh, Sintya!" Hana menoleh, Sintya menarik tangan Om-nya, menyusul di belakangnya Tante Namira. Wajah Hana memerah seketika. Malu.


"Maaf, Tante. Mmm, Kak Dimas. Tadi... suara saya pasti ganggu kalian. Saya lagi telponan sama...temen" Hana menggigit bibirnya.


Bodoh...


Bodoh...


Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati, yang lupa tempat. Dan siyalnya lagi, dia belum mematikan sambungan video.


"Gak apapa, Hana. Anggap rumah sendiri. Terusin aja telponnya, gak usah sungkan! " Tante Namira tersenyum tulus, lalu pamit ke depan rumah. Tamu mulai berdatangan. Sedang Sintya menahan Dimas yang mau mengikuti Mamahnya, mereka kini bertiga di tempat itu.


"Kak Hana, Sintya cantik nggak?" Dengan senyum mengembang, Sintya memutar mutar tubuh, dress brokatnya mengembang. Setelahnya ia berpose seimut mungkin dengan senyum lucu dan mengedip kedipkan mata.


"Iya, Kamu cantik, Lucu dan Imut."


"Hei, Lo dimana sih, Han? Kok ada suara anak kecil?"


"Ish, berisik Lo. Diem dulu napa?" bisik Hana.


"Nih, gue ada dirumah temennya almarhum Bokap Lo ya, katanya. Masih ingat, kan?" karena Dimas duduk dihadapan Hana terhalang meja, Hana menggeser ke kamera belakang, hingga yang terlihat adalah sosok yang duduk di depannya dengan muka datar. Sibuk dengan benda pipihnya juga.


"Tunggu, tunggu, tunggu, bukannya itu si Dimas, ya? Ngapain Lo dirumah dia?" tanya Nia bernada curiga. Dimas yang merasa namanya disebut mendongak, Hana meringis malu ditatap lelaki datar itu. Namun itu hanya sesaat, kembali Dimas menekuri ponselnya.


"Sintya disini dulu ya, Kak Hana mau bicara sama teman." Sintya yang mengenakan dress frozen terlihat cantik dan imut dengan mahkota dikepalanya itu mengangguk.


"Iseh, jangan suudzon sama gue. Ini tuh gue lagi nganter kue ulangtahunnya Sintya, terus ini gue ditahan, suruh ngikutin acaranya sampe selesai." ucap Hana setelah menjauh, duduk di kursi pojokan taman. Dirinya terhalang pandangannya oleh sebuah pot besar.


"Gue bener bener curiga nih, jangan jangan Lo ada apa apa dengan cowok datar itu! "


" Ih, dibilangin nggak juga. Sotoy Lo!" Nia tertawa. "Ada apa apa juga no problem Sis. Dia jomlo, Lo juga. Lupain juga Laki plin plan macam si Randy tuh." Hana memberengut.


"Ih, jangan manyun gitu. Gini ya,


sebenernya Dimas tuh anak yang baik, kok. Gue udah kenal lama ama dia. Cuma ya itu, gara gara dia pernah patah hati, padahal ia udah cinta mati sama cewek temen kampusnya dulu, dia jadi apatis sama cewek. Mereka sempet tunangan loh, sama kayak Lo. Failed marriage." cetus Nia menjelaskan.


"Oiya?"


"Sure, Hana. Kalian senasib. Jangan jangan memang kalian jodoh, ya!"


"Eheem, eheem! " saking asyiknya, sekali lagi Hana tak menyadari ada orang mendekat, ponsel Hana hampir terjatuh karena terkejut, ia menoleh. Lelaki yang Nia bicarakan ada di belakangnya, dengan raut wajah yang Hana tak mengerti.


"Duhh, gaswat!"

__ADS_1


__ADS_2