HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 30


__ADS_3

Seperti biasa Hana mengantarkan kue ke tempat Randy adalah yang paling akhir. Tahu Hana datang Randy langsung menyambutnya dengan hangat, meminta karyawan lain untuk mengambil box kue.


"Tadi kamu pulang jam berapa, Han? Katanya kamu nginep ya dirumahnya Putri." Randy menghadang dengan tanya setelah box kue dibawa masuk oleh Panji.


"Tadi habis subuh Kak, aku pulangnya sama Citra. Emang kenapa?" Hana menatap cowok yang juga tengah menatapnya sembari bersedekap dan bersandar di kusen pintu, namun Randy menggelengkan kepala. Dari ekspresinya Randy memperkirakan Hana belum diberitahu oleh ayah maupun ibunya.


"Ah, enggak apapa." Randy menggeser kursi duduk dihadapan Hana.


" Oiya Han! Tadi malem aku ke rumahmu terus minta izin sama ayahmu buat ngajak kamu malam ini keluar. Mau ya?" dengan wajah penuh harap Randy bertanya.


"Mmm!" Hana berpikir dengan raut heran.


"Emang kak Randy mau ngajak aku kemana sih?"


Randy menaikkan alis tebalnya. "Udah, nanti juga kamu tahu. Yang penting kamu siap siap aja habis Maghrib aku ke rumah kamu. Ok!" Hana diam saja. Merasa heran kok tumben Ayahnya ngasih izin ia keluar bersama lelaki malam malam.


"Sama siapa aja yang ikut?" terlontar juga pertanyaan itu.


"Berdua aja sama kamu. Please, mau ya? Ayah kamu udah ngasih izin kok!" Randy tahu Hana akan menolak dengan alasan Ibu dan Ayahnya gak mengizinkan.


"Tapi ...!"


"Ssst! Gak ada penolakan. Pokoknya harus mau, atau menyesal selamanya." Hana menyebik, Randy tertawa lebar.


"Liat aja nanti deh, kak! Aku pikirin dulu!" Hana merapikan bawaannya. Randy menghela nafas menatap Hana.


"Yuk masuk aja dulu, kita ngobrol didalam. Disini panas, lagian kamu pasti haus barusan muter muter nganterin dagangan! Biar dibuatin minuman dingin!" tawar Randy yang langsung dapat gelengan dari Hana.


" Aku selalu bawa minum air mineral kok. Maaf, aku mau pulang aja. Masih banyak yang harus aku kerjakan dirumah Kak. Ya udah, aku pamit dulu, assalamu'alaikum!" Hana berlalu, menaiki motor maticnya dan melajukannya meninggalkan area parkir kafe De Amor. Randy mengikuti dengan tatapannya sampai Hana tak kelihatan dari penglihatan. Ia sudah menduga, akan sangat sulit bagi dia membawa Hana untuk keluar rumah berdua. Hana memang lain dari yang lain dimata Randy. Ia takkan mudah dibujuk dan dirayu seperti umumnya perempuan yang akan dengan senang hati diajak seorang cowok keluar rumah. Padahal ia tak punya kekasih atau pacar yang akan menghalanginya untuk pergi.


Tapi ia merasa lega, Hana tak langsung menolak ia ajak. Ia masih mau memikirkannya kembali.


Flashback On.


Randy melajukan motornya menuju rumah Hana, sudah agak lama ia tak ke rumah itu. Selain menemui Hana, ia sudah cukup akrab dengan ayahnya. Mereka sering ngobrol berdua, bahkan pak Hadi rencananya akan menambah usaha sampingannya, yaitu beternak ayam dan lele, dibelakang rumah mereka. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan selain pekerjaannya di pabrik. Beternak ayam dan lele pada awalnya adalah hobi yang menyenangkan, namun akhir akhir ini pak Hadi lebih menseriusi hobinya itu agar bisa menghasilkan cuan.


Mendadak Randy menghentikan laju motornya agak jauh dari rumah Hana saat melihat sebuah mobil keluar dari pekarangan rumah itu. Ia merapatkan helmnya, karena mobil itu mengarah pada tempatnya berhenti.


Itu kan mobil cowok menyebalkan yang waktu itu. Ngapain dia dirumah Hana? Tiba tiba terbersit rasa tak suka jika Hana sering didatangi lelaki lain. Ya elah, Randy tak menyadari juga kalau dia itu juga menyebalkan bagi Hana. Garing Thor.


Apa Hana di dalam mobil itu? gumam


Randy melirik mobil yang melintas didepannya. Mencoba menelisik apa benar Hana ikut cowok itu keluar. Dan ia lega setelah bisa memastikan jika cowok itu sendirian dalam mobilnya.


"Ga bisa dibiarin nih, bisa bisa gue disalip di tikungan tajam. Bisa bahayyya. Gimana ya?" Randy bermonolog, mengetuk ngetuk setang motornya. Ia berpikir keras, harus bertindak cepat. Ia tak mau didahului orang lain. Bisa nangis guling guling gue. pikirnya lagi. Kenapa kok bisa bahayyya, dengan tiga huruf Y? Karena bahayanya berlipat lipat jika sampai Randy kena salip. Celaka dua belas.


Dan tak mau berpikir ulang lagi, ia mantap menuju rumah Hana. Pak Hadi bersiap untuk menutup gerbang, saat Randy berhenti didepan rumah itu dan menyalakan klakson motor.


"Oh, ada yang mau bertamu lagi rupanya. Silakan masuk nak Randy!" pak Hadi tersenyum lebar dan tak jadi menutup gerbang. Ia hanya menggeser separuhnya saja.


"Hana ada di rumah Putri, dipaksa nginap disana katanya. Sekarang ini Putri kan lagi tunangan sama pacarnya itu." ucap pak Hadi sesaat setelah mereka duduk diruang tamu. Randy mengangguk dan baru paham saat bertanya perihal Hana. Karena ternyata Hana tak dirumah. Pantas saja masih jam segini cowok yang tadi keluar dari rumah sini. Rupanya dia juga kecele. Kalau Hana ada, cowok tadi pasti masih betah disini.


"Gak papa kok Pak! Lagian udah lama juga saya gak kesini, kangen sama bapak juga. Hehehe!"


Pak Hadi tertawa, bisa saja anak didepannya ini menggombal padanya.


"Nak Randy mau main catur sama bapak lagi?" Randy menggeleng. Disaat itu Bu Mira keluar dengan nampan ditangannya.


Berisi dua gelas teh hangat dan sepiring camilan.


"Nggak dulu deh, Pak. Lain kali saja. Saya ada kepentingan sama bapak dan juga Bu Mira!" Bu Mira mengerut keningnya saat Randy bilang seperti itu.

__ADS_1


"Ada perlu sama ibu juga?" Randy mengangguk, dan setelah kedua orang tua Hana duduk bersebelahan dan berbasa-basi sebentar sembari menyeruput teh, ia pun mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah itu.


"Bu Mira, Pak Hadi langsung saja. Saya tadi kesini dengan maksud ingin meminta izin." Randy menatap kedua orang tua Hana yang duduk berseberangan.


"Saya menyukai Hana sejak pertama kali bertemu dan ingin menjalin hubungan yang serius dengannya!" Randy menjeda kalimatnya. Menunggu reaksi dari kedua orang dihadapannya. Ternyata mereka masih diam, pertanda ingin ia meneruskan kata katanya.


"Tapi untuk saat ini saya sendiri juga tidak tahu bagaimana perasaan Hana terhadap saya. Itulah sebabnya saya ingin meminta izin dulu sama Pak Hadi dan Bu Mira untuk mengutarakan niat hati saya pada Hana. Dan, kalau Bapak dan ibu setuju dan Hana nantinya juga mengiyakan, saya ingin segera menikahinya!" ucap Randy dengan lugas dan tegas. Pak Hadi dan Bu Mira saling pandang. Tak menyangka pria muda dihadapannya yang mereka telah menganggap seperti saudara sendiri dengan berani melamar anak mereka.


Samar Bu Mira mengangguk, menyerahkan segala keputusan pada suaminya.


"Nak Randy bersungguh sungguh?" Randy mengangguk mantap.


"Saya sudah siap lahir dan batin untuk menjalani kehidupan rumahtangga, Pak Hadi!"


"Secara finansial, insya Alloh saya sudah siap bisa menghidupi istri dan anak kelak. Saya juga punya pekerjaan tetap, punya rumah layak huni dan kendaraan untuk keluarga kecil saya nanti."


"Saya juga akan berusaha menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil saya, untuk hal ini saya masih berproses, dan tentunya masih harus banyak belajar. Ilmu agama saya memang masih sangat jauh jika dibanding dengan Pak Hadi, dan saya bersedia untuk belajar meningkatkan ilmu agama saya!"


Pak Hadi saling tatap lagi dengan sang istri mendengar penjelasan Randy panjang lebar tanpa keraguan.


"Baiklah nak Randy, Bapak mengizinkan nak Randy mengutarakan niat untuk menikahi Hana. Kami setuju saja, karena kami juga menyayangi nak Randy seperti anak sendiri. Tapi keputusan diterima tidaknya sama Hana, kita tak bisa turut campur. Hana yang menentukan masa depannya, dengan siapa nanti ia berumah tangga."


" Sebenarnya kami juga ingin sekali Hana segera menikah dan segera menimang cucu. Tapi beberapa kali bapak atau ibunya menyinggung tentang hal itu, Hana sepertinya masih belum memikirkan tentang pernikahan. Entah kalau memang ada orang yang langsung melamar dan dia sreg seperti nak Randy!"


Flashback off.


Petang harinya sehabis maghrib, Randy benar benar mengajak Hana untuk keluar rumah.


Randy tampak gagah mengenakan kemeja santai model slim fit dengan bawahan celana jeans. Randy duduk santai di ruang tamu berselancar dengan benda pipihnya. Sedangkan Hana belum selesai berdandan. Sebenarnya Hana enggan keluar berdua dengan Randy dengan alasan ia sedang sibuk karena besok ada pesanan kue cukup banyak, dan masih ada beberapa bahan yang belum lengkap di rumah.


"Anak ibu cantik banget." puji ibu sembari memperhatikannya dari belakang anaknya yang sedang memasang kerudung. Ia bisa melihat raut wajah anaknya dari pantulan cermin.


"Ya karena memang sudah saatnya."


“Udahlah, Hana! Sesekali kamu itu mbok ya santai menikmati hidup, wong kamu juga masih muda. Kan nggak setiap hari. Hidup Jangan monoton ntar kamu tuh cepet tua loh! Mumpung ada laki-laki baik yang ngajak keluar.” Bujuk sang ibu yang di iyakan ayahnya.


“Siapa tahu kamunya dilamar dan dia ngajak  segera nikah.” Bu Mira dengan santainya bilang seperti itu. Padahal Hana dengan sekuat tenaga menahan gejolak di dadanya yang kebat kebit gak karuan. Baru kali ini ia akan keluar rumah bersama seorang pria selain dengan ayahnya dan pernah pergi juga dengan sepupunya, Farid anaknya Budhe Sofia.


“Ih, ibu ini apaan sih! Ngaco ngomongnya.” Lirik Hana pada ibunya yang berdiri di belakang, terlihat dari pantulan cermin kaca riasnya sang ibu tersenyum.


“ Karena ibu kepingin anak ibu yang cantik dan manis ini segera dapat pasangan!” ibu mendesah sembari meraupkan kedua tangan pada wajah seperti saat habis berdoa.


“Dalam agama kita, ada 3 perkara yang harus disegerakan jika sudah tiba waktunya.


Yang pertama, menyegerakan shalat jika tiba waktunya.


Yang kedua, Menyegerakan merawat lalu memakamkan jenazah.


Dan yang ketiga, menikahkan anak gadis jika sudah tiba jodohnya.” Ibu bicara sembari menatap anak semata wayangnya yang hanya bisa diam lewat pantulan cermin. Lalu mengusap kedua bahu Hana lembut.


“Ibu ingin menjodohkan aku dengan kak Randy ya? Heran aja Ayah sama Ibu membiarkan aku keluar malam berdua begini.” Hana menolehkan wajah, ingin tahu ekspresi ibunya saat ini.


“Ya kalau kalian memang berjodoh, ibu bisa apa. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik buat masa depan kamu Hana. Ayah sama ibu ingin kamu segera mendapat jodoh yang bisa jadi imam terutama untuk keluarga kecilmu kelak. Seperti teman temanmu yang lainnya juga sudah pada menikah dan hidup bahagia sesuai tuntunan agama.”


"Apa kamu gak ingin segera nyusul Nia sama Putri?" tanya ibu yang membuat Hana diam.


“Eh, kok malah ngelantur ibu. Padahal kamu udah ditungguin sedari tadi. Udah sana, pergi sana. Nikmati hari kamu, Nduk!” Walaupun ucapan sang ibu terdengar ambigu, namun Hana hanya nurut saja.


Ditengah perjalanan, Randy menepikan mobil yang katanya mobil pinjaman. "Ada apa, kak?"


"Han, kamu jangan marah ya, aku ada surprise buat kamu, tapi syaratnya mata kamu harus ditutup sama ini." Randy membawa sebuah kain semacam kerudung segi empat, lalu ia lipat.

__ADS_1


"Apaan sih ini, kak?" Hana makin bingung terlihat dari raut wajahnya. Ia benar benar tak peka dengan keadaan.


"Udah, nanti juga kamu tahu. Aku pakein ya?" ucap Randy meminta izin. Ia lebih mendekat pada Hana dan memakaikan kain itu menutup mata Hana. Jantung Hana berdetak lebih kencang dengan jarak sedekat itu dengan Randy. Bahkan ia bisa menghirup aroma parfum Randy dengan jelas.


"Maaf, Han!"


"Udah selesai. Yuk, kita lanjutkan jalannya." Hana hanya diam saja. Hingga 5 menit setelahnya, mereka telah sampai.


"Udah boleh dibuka belum?" tanya Hana begitu mobil berhenti.


"Jangan dulu!" Randy tergesa keluar mobil, memutar ke sebelah kiri dan membuka pintu untuk Hana.


"Maaf Han! aku tuntun kamu dulu ya!" Hana hanya pasrah saat Randy menuntun tangannya, dan ia mengikuti kemana arah Randy berjalan.


"Nah, dah sampai. Aku buka ya penutup matanya! Bismillahirrahmanirrahim." Hana mengerjap, berkali kali. Seakan tak percaya dengan penglihatannya.


"Surprise!"


"Apa ini kak?" Hana menengok ke kiri dan ke kanan. Sebuah tempat yang disetting begitu romantis, lebih cocok menjadi tempat untuk orang yang sedang melamar kekasihnya. Batin Hana.


Tunggu! Apa ini memang kak Randy sedang melamarku?


Ditengah tempat yang sepertinya adalah taman, terdapat satu set meja makan dengan dua kursi yang dikelilingi lilin, berbentuk hati.


Tunggu.....


"Han, yuk kita kesana!" menunjuk pada meja yang barusan Hana perhatikan. Mereka masuk dalam lingkaran lilin dan Randy menggeser kursi mempersilakan Hana duduk.


Hana menatap Randy lekat, yang dipandang tersenyum penuh percaya diri.


"Kak, apa apaan ini!" sudah berulangkali Hana tanya hal serupa namun belum berjawab.


"Maaf ya, Han! Kamu tentu kaget. Karena aku punya alasan tersendiri soal ini."


"Aku tahu kamu wanita muslimah yang taat beragama, yang menjunjung tinggi nilai dan norma islami. Hingga aku memutuskan untuk melakukan ini tanpa konfirmasi terlebih dulu darimu." mendadak Randy merasa gugup, dan ia tengah berusaha menguasainya dengan tersenyum manis.


"Kamu tanpa aku mengatakannya tentu bisa merasa dan peka, kalau aku memberi perhatian yang lebih padamu. Kamu tentu bisa merasakan perhatianku lebih dari sekedar teman, ataupun saudara. Aku...mencintaimu, Hana! Dan aku...mau langsung mengkhitbahmu." mata Hana terlihat berkaca kaca. Tenggorokannya seperti tercekat tak mampu berucap apapun. Randy lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Setelah membuka dan memperlihatkan pada Hana isi dari kotak beludru merah yang dibawanya, iapun berucap.


"Hana, malam ini aku ingin mengatakan dengan segenap rasa di hatiku. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,


maukah kamu menikah denganku Hana, menjadi pendamping hidupku?" Hana menutup mulutnya.


Tak menyangka ia dilamar dengan begitu romantis. Tak terasa pula air mata haru menetes begitu saja.


Setelah beberapa waktu terpesona dengan lamaran yang romantis, seperti tengah berada ditaman bunga yang elok warnanya dan banyak kupu kupu beterbangan. Hana tersadar kembali lagi ke dunia nyata. Mendengar suara Randy.


"Gimana Hana, apa kamu bersedia menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak anakku kelak. Menjalani suka dan duka bersama sama?" Hana masih terdiam, ia bingung harus berbuat apa. Tak mampu berkata dan sedang berfikir tentang sesuatu.


*****


Gimana nih.... kira kira diterima gak ya? wuuih 2178 kata loh...ini. Harusnya sih jadi dua bab ya...


Terima...


Enggak...


Terima...


Enggak...


 

__ADS_1


__ADS_2