
"Yuri...!" tubuh Yuri yang lemah karena sakit terbaring di atas tempat tidur. Membelakangi pintu kamar sehingga yang terlihat oleh bunda Hilma adalah punggung Yuri yang turun naik karena menangis.
"Saya sudah membujuknya buat makan, Bunda! Tapi gak mempan, Udah saya bujuk juga buat cerita masalahnya apa, siapa tahu saya bisa kasih solusi. Tapi juga gak digubrisnya, dia cuman nangis dan nangis." bisik Sari yang mengekori bunda Hilma.
"Iya, makasih ya Sari, kamu udah ngelakuin yang terbaik. Memang Yuri nya saja yang susah. Kamu boleh pergi ke kamarmu sekarang!" Bunda Hilma menepuk pundak Sari.
"Tapi, Bun! Saya khawatir sama Yuri!"
"Udahlah, kamu istirahat dulu sana! Besok kamu kan harus sekolah." ucap bunda Hilma mengingatkan Sari. Akhirnya Sari mengangguk, lalu dengan langkah terpaksa ia pergi.
"Sayang, ini Bunda! Coba Yuri hadap ke bunda sini!" bujuk bunda yang mengusap usap pundak Yuri, namun Yuri bergeming.
"Yuri, bunda gak pernah loh ngajarin kamu cuek kalau dipanggil orang!" Yuri menurut, membalikkan badan masih dengan terisak.
"Bunda jahat!" Wanita setengah baya itu mengerut keningnya sebab dikatai oleh Yuri bahwa ia jahat.
"Memang apa yang Bunda lakuin? Kok Bunda dicap jahat sama anak Bunda sendiri?" diusapnya kepala berambut pendek itu. Dikarenakan pengobatannya, rambut Yuri dipotong pendek karena rontok dan tubuhnya melemah dan banyak terdapat biru lebam. Wanita itu mencium kening Yuri dengan sayangnya, lalu mengusap pipi yang banjir air mata itu.
"Coba bilang ke bunda, Bunda jahat gimana sama Yuri, hmmm!" masih dengan sisa Isak tangisnya lalu Yuri menjawab dengan terbata.
"Yuri kan udah bilang Yuri cinta sama Bang Randy, kenapa bunda mau menikahkannya sama orang lain?" katanya dengan sesenggukan. Isak tangis Yuri membuat Bunda Hilma ikut meneteskan air mata.
" Ya Allah, Yuri. Udah berapa kali Bunda bilang, kalian sama sama anak Bunda, dan Randy mengganggap kamu sebagai adiknya. Dipaksa sekalipun, dia gak akan bisa menganggapmu lebih dari sekedar adik, Yuri."
"Tolong relakan Abangmu bahagia dengan wanita pilihannya! Dan kamu, berusahalah untuk sembuh. Nanti bunda kenalin deh, sama cowok ganteng dan saleh. Gantengnya gak kalah kok sama Abangmu. Ya...!" bujuk bunda Hilma seakan membujuk anak dibelikan es krim agar tidak ngambek.
"Bersikaplah lebih dewasa, Yuri. Bunda mohon, jangan membuat bunda jadi serba salah." Di satu sisi, bunda ingin Randy hidup bahagia dengan wanita pilihannya. Sedangkan di sisi lain, dia juga merasa kasihan dengan keadaan Yuri karena penyakitnya dan ditambah dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Nggak, Bunda, Yuri cuman mau Bang Randy. Yuri hanya akan bersemangat jika bersama bang Randy. Tolong Bun, bujuk Bang Randy. Yuri yakin, bang Randy akan patuh sama apapun perintah Bunda. Dia gak akan menikah dengan perempuan lain. Tolong sekali ini, ya!" Yuri masih saja kekeuh dengan kemauannya. Cinta tak berbalas memang sangatlah sakit rasanya. Ditambah lagi dengan rasa sakit raganya yang mulai melemah. Ia ingin orang yang menjadi sumber kekuatan dan keinginan untuk sembuh selalu mendampinginya. Agar ia bisa melewati rasa sakit itu.
" Bunda pengen kan, aku punya semangat hidup lagi, bunda pasti juga pengen Yuri rajin berobat, biar bisa sembuh?" bunda Hilma hanya mengangguk. Tenggorokannya tercekat tak mampu mengatakan apapun lagi. Mereka menangis sesenggukan. Siapa yang tak teriris hatinya melihat anaknya berjuang melawan sakit sendirian. Ibu mana yang sanggup? Seorang ibu bisa menanggung derita, menanggung lapar, menanggung kesusahan demi anak anaknya. Ibarat kata, kasih seorang ibu ialah sepanjang jalan, tak ada ujung dan pangkalnya. Tapi, cinta juga tak bisa dipaksakan.
Kenapa kamu begitu egois, nak?
Meletakkan lagi piring nasi yang telah diambilnya. Kalau sudah begini, rasanya percuma membujuk Yuri untuk makan.
***
Hana masih melakukan pekerjaannya seperti biasa. Pagi menjelang siang yang cerah hingga hanya tampak warna biru di langit, saat ia tiba di kafe. Randy mencegah Panji yang akan membantu Hana mengangkat boks boks kue, namun ia sendiri malah asyik berdiri di pintu masuk dengan bersandar pada dinding. Sembari tersenyum menatap sang pujaan hati dengan bersedekap.
__ADS_1
"Ih, Kak Randy bukannya bantu malah cuman ngeliatin doang. Ngeselin!" protes Hana dengan wajah cemberut melangkah membawa 4 boks kue yang ditumpuk dan menaruhnya di meja.
Randy malah tertawa melihat Hana yang cemberut.
" Tuh bibir jangan monyong gitu dong! Gak baik loh. Jadi gimana gitu, mmm ilang deh cantiknya. " Randy membuntuti Hana dan mengambil alih boks kue kedua dari tangan Hana.
"Biarin!"
"Katanya calon suami, liat orang kerepotan malah diketawain, dasar!" gerutu Hana lagi. Namun didengar Randy.
"Iya, iya calon istri. Ini kan udah dibantuin. He he he, maaf ya becanda..."
Setelah selesai menaruh kue dalam boks, Randy mengajak Hana duduk di ruang yang lebih privasi. Agar tak terganggu dengan pelanggan yang datang.
"Pernikahan kita hanya tinggal dua bulan lagi, mulai sekarang kita bakalan bahas tentang pernikahan dan pernak perniknya. Iya, kan?" Siang itu sehabis makan siang, mereka tak membuang waktu dengan percuma. Mereka membuat list siapa saja yang bakal mereka undang pada pernikahan.
Selesailah mereka membuat list, sudah terselesaikan dalam 2 lembar kertas. Satu lembar adalah nama nama teman yang akan diundang oleh Randy. Lembar kedua adalah nama nama yang bakal diundang Hana. Setelahnya, mereka memilih desain kartu undangan pernikahan.
Hampir dua jam mereka berdiskusi diselingi canda tawa, berkali kali Randy menggoda Hana, yang disambut senyum malu malu Hana.
Randy menopang dagu, menatap gadis manis berlesung pipit yang menjadi pujaan hatinya. Yang mengisi dan memenuhi pikirannya siang dan malam. Benar benar tak menyangka dan rasanya masih seperti mimpi, dua bulan lagi gadis itu akan menjadi ratu dihatinya.
Kekasih halalnya.
Permaisuri hatinya.
Teman seia sekata, sehidup semati.
(Apalagi ya? wkwkwk...)
Huuuh, rasanya tak sabar rnenunggu waktu dua bulan.
" Apa sih, kedip dong Kak?" Randy mengerjap dan tergagap, tersadar dari khayalannya saat Hana menegur dan melambaikan tangan didepan wajah. Lalu tersenyum.
"Suka ngelamun ih, kak Randy! Aku didepan mata, malah mengembara kemana mana tuh pikiran. Mikirin cewek lain ya? Hayoh ngaku!" Randy tertawa melihat Hana menunjukkan perasaan dengan nada cemburunya.
"Gak usah jeleaus, sumpah aku memang lagi mikirin cewek. Tapi yang aku pikirin tuh cewek yang manisnya kayak gula didepan aku tuh. Jadi pengen gigit!" Hana menyebik, menutupi wajah meronanya kena gombalan cak su.
"Kamu tahu apa yang aku lamunin sekarang, Han?" bersedekap dan mencondongkan wajah lebih kedepan.
__ADS_1
"Emang aku cenayang!" Hana malah memundurkan wajah, merasa malu ditatap sedemikian rupa oleh Randy.
"Ish, kamu tuh!"
"Kamu tahu, aku udah gak sabar, nunggu waktu tanggal sepuluh dua bulan lagi. Pengen rasanya acara ijab kabulnya dipercepat. Andai aku bisa menyulap, aku akan menyulap waktu ijab kabul kita menjadi besok."
"Wusssh!" Hana menyebik lucu dimata Randy.
"Itu kan mau kamu, Kak."
"Kalau aku sih, kebalikannya. Waktu dua bulan itu terlalu cepat, maunya sih setahun lagi kayak si Putri." curhat Hana.
"Masih pengen bebas kumpul sama teman. Nanti pasti waktunya lebih terbatas lagi kalau udah nikah."
"Ish, dua bulan itu terlalu lama, sayang. Ini malah minta satu tahun lagi, keburu ubanan, bisa mati berdiri aku!" pffft.... Hana menahan senyum geli. Randy takjub beberapa saat akan pemandangan didepannya. Hana yang tersenyum walau ditahan dengan menutup mulutnya memakai telapak tangan. Tanpa rasa jaim.
"Aku gak masalah kalau kamu kangen teman temanmu terus pengen ngumpul bareng. Malah enakan ngumpul bareng suami mereka juga kan jadi rame. Apalagi kalau udah pada punya anak, pasti tambah rame lagi, mainnya di Playground. Sambil ngasuh anak sambil meet up an."Randy kemudian mengingat sesuatu.
"Oiya, Han! Kemarin request aku kan belum berjawab!" kata Randy setelah beberapa saat terdiam. Hana yang sedang menyeruput teh hangatnya mendongak. Dengan raut wajah heran.
"Tentang apa, kak?"
"Tentang nama panggilan sesudah kita halal nanti." Hana tersipu malu, lagi.
"Emang kak Randy mau dipanggil apa? Abah, Abi, Ayah, Papa atau papi?" Hana mengulum senyum.
****
Karena kesibukannya, seminggu belakangan Randy tak pergi ke panti. Ia meminta maaf pada bunda Hilma tak bisa berkunjung dengan disertai beberapa alasan. Ia juga meminta maaf karena belum bisa menjenguk Yuri, dan bertanya lewat chat kabar adik angkatnya itu.
Hingga ia dikejutkan oleh kedatangan Bunda Hilma dirumahnya, saat ia baru pulang dari kafe. Malam sudah larut, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, bunda Hilma menunggunya didepan televisi ditemani asisten rumah tangganya sembari melihat tayangan sinetron kesukaan para ibu ibu yang gabut.
"Bunda Hilma...!"
"Maaf Randy, Bunda gak mengabari kamu kalau mau kesini!"
"Harusnya Randy yang minta maaf, sebab belum bisa jenguk Bunda dan adek adek. Oiya, gimana kabarnya Yuri Bunda? Apakah ada perkembangan yang lebih baik?"
"Itu sebabnya, Bunda kesini, karena ingin bicara sama kamu tentang Yuri!" Mereka berdua lalu duduk berhadapan, sedangkan asisten Randy telah pamit untuk istirahat.
__ADS_1
"Penyakit Yuri makin parah, Ran. Ditambah lagi karena ia tak mau berobat, tak mau lagi kemo. Bahkan makanpun ia harus dipaksa. Dia ada satu permintaan supaya dia bersemangat lagi melawan penyakitnya dan mau berobat. Dan itu menyangkut kamu!"