HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 11


__ADS_3

Kenapa, Han? lesu banget!" tanya ibu saat mereka sampai di meja makan. untuk sarapan.


"Biasa, Bu! Suka agak pusing kalau lagi hari deras!" Hana menaruh Sling bag pada belakang kursinya, lalu mengambil piring dan menyendok nasi.


"Perbanyak makan makanan berprotein, kayak telur sama tahu!" seru sang ibu sambil mengambilkan telur dan tahu bumbu balado.


"Juga perbanyak sayur, kayak brokoli sama toge seperti ini!" sambil mengambilkan juga oseng brokoli dan toge.


"Nanti ibu bikinin susu, sekarang minum air putih aja dulu. Susunya lagi habis, nanti kamu belikan di tempat kamu kerja, ya!" nasihat ibu yang selalu diulang ulang, jika anemianya kambuh.


"Besok ibu masakin sayur bayam juga, kaya zat besi biar reda anemianya!" sambung ibu lagi sebelum mulai menyiapkan nasi.


Siang harinya, Hana yang sudah memasukkan jaket milik Randy di jok sepedanya merasa bimbang. Antara mau mengembalikannya ke tempat kerja Randy, atau mengembalikannya jika nanti kebetulan bertemu saja. Terus terang jantungnya bekerja dengan keras memompa darah dengan bertalu kencang, jika ia bertemu dengan pemuda itu apalagi jika ia sedang menatapnya dengan sorot matanya yang tajam.


Ia takut terkena serangan jantung dan mendadak lidahnya kelu saat bicara dengannya. Tapi ia punya kewajiban mengembalikan jaket dengan segera. Takut jaket itu satu satunya atau pemiliknya membutuhkan untuk dipakainya.


Hmmm, kalau dipikir pikir, kok kayaknya kak Randy gak cocok jadi karyawan disana, bener kata si Putri dia cocoknya jadi owner-nya tempat itu. Dari segi penampilannya. Tapi masa sih! Ah, bodo!


"Woy! Melamun aja!" Putri menepuk bahu Hana agak keras, hingga si empunya meringis. Malu dan sakit.


"Ngelamun apa sih? Ingat Babang Randy ya, hihihi!" Hana melirik tajam rekannya itu. Yang dilirik dengan santai mengambil potato cheese stick milik Hana.


Hatiku resah, hatiku gundah


Semuanya jadi serba salah


Aku mau makan,


ku ingat kamu


Aku mau tidur,


juga ku ingat kamu


Aku mau pergi,


ku ingat kamu


Oh cinta,


mengapa semua serba kamu?


Aku sedang bingung,


ku ingat kamu


Aku sedang sedih,


juga ku ingat kamu

__ADS_1


Aku sedang bosan,


ku ingat kamu


Oh cinta,


inikah bila ku jatuh, ku jatuh cinta?


Semua tertawa lihat tingkahku


Yang jadi tak menentu


Ini salah, begitu pun salah


Ku tanyakan mengapa


Dengan santainya Putri dengan suara fals nya menyanyikan lagu milik Maia mantannya Ahmad itu, dan langsung mendapat timpukan pulpen dari Hana.


"Woy, sakit tau! Makanya kalo makan tuh jangan sambil ngelamun. Udah mau habis tuh jam istirahatnya. Udah shalat belum?"


"Aku lagi dapet!" jawab Hana sembari mengunyah makanannya.


"Han!" Putri mendekati Hana lagi.


"Kenapa?"


"Minggu depan gue dilamar!" bisik Putri dekat telinga Hana.


"Kalem Han, kalem!" ucap Putri memberikan air mineral pada Hana.


"Kenapa sih, Lo?" Hana menggeleng setelah mengelap mulutnya dengan tisu.


"Ya, nggak apa apa! Ikut seneng gue, tapi katanya kemarin lo masih kepingin bareng kita."


"Ya gitu. Ortu si Bima maunya kita cepet nikah.


Bapak ibunya sudah tua,


ingin menimang cucunya...! "


Putri malah menyanyi membuat Hana menutup kupingnya sembari tertawa. Suaranya cempreng dan sumbang. Beda 180 derajat dengan si Bima yang agak pendiam. Mungkin itu yang dinamakan jodoh, saling melengkapi, saling menutupi kekurangan pasangannya.


"Ya udah, lagian kalian udah lama pacaran, segera di halalin aja, biar gak nambah nambah dosa!" ceramah Hana yang diiyakan Putri sambil mengangguk dalam.


"Inggih, ustadzah Hana!"


Hana sedang merekap hasil penjualan hari ini untuk di forward ke manager swalayan, beberapa karyawan sudah pulang, pintu harmonika telah ditutup menyisakan sebagian kecil yang sedikit terbuka.


"Han, kita pulang duluan ya!" Citra berpamitan dengan beberapa temannya.

__ADS_1


"Ya, Titi dije!" ucapnya tanpa melepas pandangan pada layar bergantian dengan keypad. Tak berapa lama, ia mematikan komputernya dan menyusul teman temannya pulang.


Ia telah sampai di tempat parkir, saat sebuah sepeda motor berhenti didekatnya, seorang cowok tersenyum sembari turun dari sepedanya.


Dia lagi!


"Mau belanja, eh udah tutup ternyata!" seru cowok itu terkekeh, Hana menyebik.


Halah, modus doang.


"Udah mau pulang, Han?" Hana hanya mengangguk, lalu menaiki motornya yang tak luput dari perhatian cowok itu. Lalu Hana teringat sesuatu.


"Eh, kak Randy, sebentar!


Aku tadi bawa jaketnya kak Randy!" Hana turun lagi dari motornya, membuka jok dan mengeluarkan sebuah kresek tebal hitam dari jok.


"Tadi rencananya sekarang aku mau ke tempat kak Randy kerja, tapi ternyata kak Randy disini. Ya udah, sekalian aku kasih jaketnya."


"Sekali lagi makasih, kak Randy. Udah minjemin aku jaket, udah aku cuci kok." Randy menerima angsuran kresek dari Hana.


"Haha, ternyata kita satu server!" kata Randy seraya menatap Hana, Hana mengerutkan alisnya menatap Randy yamg tersenyum dihadapannya tanpa kedip.


"Hah, ma_ maksudnya?"


"Tadi katanya mau ke tempat aku kerja kan? Ya udah, kesana yuk sekarang aku traktir makan di cafe sebelahnya. Ada mushala juga kok disana kalau mau shalat!" ajak Randy terlihat serius, tapi membuat Hana teringat hari kemarin saat Randy melihat bendera berjuluk Hinomaru di celananya, mukanya memerah. Mau taruh mana nih muka, alamak. Hana pun memalingkan pandangan ke sembarang arah, yang penting bukan ke muka Randy.


"Gak ah, mau pulang aja, suka diintrogasi kalau pulang telat sama bokap nyokap!" tolak Hana rada ketus, menutupi rasa malu.


Dia lupa apa, kemarin aja masih bocor, untung deh kalau udah amnesia. Gue gak malu malu amat.


"Ahaha, iya ya, lupa. Kemarin kan kamu masih lagi dapet sampe bocor, pastinya sekarang masih juga." Randy mengulum senyum, melihat muka Hana yang bertambah merah seperti tomat.


"Ish, malah diingetin lagi!" protes Hana dengan bibir mengerucut. Randy tambah lebar senyumnya, tak jauh dari sana, satpam swalayan senyum senyum pada mereka yang terlihat seperti sepasang kekasih. Sang cowok membujuk ceweknya yang merajuk. Hari sudah menjelang Maghrib dan agak gerimis.


"Ya udah. Keburu malem. Hati hati di jalan!" Hana mengangguk pelan, merasa hatinya mengembang mendengar perhatian Randy.


Hari sudah gelap, hanya lampu lampu jalan yang menerangi membuat suasana tambah syahdu ditambah lagi hujan rintik rintik semakin kerap turun.


"Ish, kurang satu kilometer lagi sampai, mbok ya sabar to kamu itu jan, hujan bin rain binti mathar!" gerutu Hana dengan aksen gak jelas.


"Ini kenapa lagi coba!" tiba tiba motor Hana terasa tak seimbang, jalan menuju rumahnya terlihat sepi jika Maghrib begini. Warga masyarakat di sekitar lingkungan rumah Hana sangat anti keluar pada waktu petang, hanya orang yang akan pergi ke mushala atau masjid yang keluar pada waktu itu. Dan orang orang yang dari bepergian jauh.


Hana menghentikan motornya yang Ternyata ban belakangnya bocor.


Astaghfirullah. Ternyata bocor, kurang sedikit lagi padahal, apa aku harus nuntun ni motor sampai rumah? Disini kan gak ada tukang tambal ban. Mana deket kuburan lagi. Hikks!


Baru dua ratus meter Hana menuntun motornya yang mogok, ia dibuat merinding dengan sapaan seseorang.


"Hai cantik? Sendirian aja. Kenapa motornya, mogok? Kehabisan bensin?" Hana menoleh. Dua orang lelaki berpakaian ala preman senyum senyum sembari menaik naikkan alisnya mengikutinya langkah Hana disamping dan dibelakang Hana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


...Bersambung...


__ADS_2