HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 41


__ADS_3

HANA


Malam itu, aku habis melaksanakan kewajiban sebagai muslimah, lalu membuka kitab suci Nya. Aku menerapkan program one day one juz. Aku sudah melakukannya sudah hampir tiga tahun belakangan, walau aku tak mengikuti komunitas apapun. Hanya memotivasi diri untuk mengistikamahkan membaca Kitab suci umat Islam secara kontinyu, selama tiga puluh hari berturut turut kecuali jika mendapatkan halangan kewanitaan. Selain mendapatkan pahala, hatinya juga lebih tenang.


Entah, tak tahu apa sebabnya, beberapa hari ini aku merasa ada sesuatu yang tidak beres akan menimpaku. Walaupun apa gerangan yang akan terjadi aku tak mampu menerkanya, aku hanya berharap kan mampu menanganinya dengan baik. Bukankah Allah sudah menjanjikan dalam Kitab SuciNya, bahwa Dia tak akan memberi cobaan di luar kemampuan manusia itu sendiri? Itu yang aku yakini selama ini. Apapun yang akan terjadi, Allah Maha Tahu bahwa aku kan sanggup menjalaninya.


Laa haula walaa quwwata illa Billah.


Aku masih baru membaca tiga lembar surah saat ku dengar ketukan di pintu, disusul suara sang ibu.


"Han, ada bunda Hilma dibawah."


"Ya, Bu. Sebentar." tergesa aku membuka mukena, lalu menggantinya mengenakan kerudung. Aku bercermin, lalu tersenyum. Tak mau terlihat jelek didepan calon suami, aku mengambil bedak dan mengaplikasikannya di wajahku yang kata orang manis, juga lipstik tipis berwarna pink. Setelah kurasa cukup memuaskan aku segera membuka pintu dan ibu masih berdiri disana.


"Lama sekali sih? Temui bunda dan Pak Herman yuk! Beliau ingin bicara dengan kita bertiga. Sepertinya penting."


"Ya, Bu!" ucapku sembari menutup pintu kamar.


" Oiya Han. Kamu bikinin minuman dulu, ibu langsung ke depan. Tiga gelas teh ya!" Aku mengangguk, sudah tak sabar aku menemui kekasih hatiku itu.


Tapi aku langsung merasa kecewa, saat tiba didepan ternyata dia tak ikut serta. Aku tetap menyunggingkan senyum termanisku sembari menawarkan teh buatanku pada dua orang tamu, dan satu gelas tersisa ternyata untuk ayahku.


Setelah berbasa basi sebentar, mereka akhirnya memulai pembicaraan yang bagaikan petir menyambar di saat itu.


Apa? ternyata mereka memberitahu sesuatu yang sangat mengejutkanku. Mereka memintaku mengikhlaskan Kak Randy menikahi Yuri yang sakit sebelum menikahiku. Dengan alasan Yuri mencintai Randy. Sebelum semuanya terlambat, dan ia dipanggil Yang Kuasa, mereka ingin mengabulkan keinginan dan harapan Yuri dengan menikahkan mereka.


Sakit tentu saja, tapi aku menyadari aku tak boleh egois karena ini menyangkut harapan orang sakit dengan harapan hidup tipis. Tapi apa benar ia harapan hidup yang kata vonis dokter tinggal menghitung hari?Kan, hidup dan mati manusia adalah ketentuan Allah, rahasia Allah Azza wa Jalla yang tak ada seorang makhluk pun yang tahu, selain para Malaikat yang diberi tugas oleh Nya. Jika Tuhan masih memberinya kehidupan dan kesehatan, maka Allah berkata 'Kun' terjadilah apa yang Allah inginkan. Walaupun dokter menvonis umur manusia, tapi dokter bukan Tuhan. Ia hanya bisa memprediksi saja.

__ADS_1


Lalu, jika ia telah diberi kesempatan sehat dan hidup lebih lama lagi, apa yang akan terjadi padaku jika aku tetap menikah dengan Kak Randy? Tak pernah bisa aku bayangkan. Rasanya aku seperti kambing congek yang hanya bisa menerima hasil, tanpa aku di ikut sertakan dalam mencari jalan sebuah persoalan.


Melihat mereka berdebat sengit, hatiku terasa nyeri. Aku memutuskan segera pergi dari sana, menemui bantalku di kamar. Dan menumpahkan ganjalan di hatiku. Berharap semua ini hanya mimpi.


"Bu! Bagaimana ini?" aku menumpahkan tangisku di pangkuan ibuku. Setelah kedua tamu undur diri, beliau berdua masuk ke kamarku.


"Sudahlah, sekarang ini jadi lebih baik, daripada nanti setelah menikah. Masih banyak laki laki saleh dan tampan di muka bumi ini. Semoga kau akan bertemu lalu berjodoh dengan salah satunya." ibu mengelus pelan rambutku. Sebagai anak satu satunya, tentu ini adalah hal terberat untuk mereka.


"Kamu dan dia sudah selesai. Jangan mencoba untuk menemuinya lagi!" tegur ibu.


"Kau boleh menangis sepuasmu sekarang. Bahu ibu masih kuat buat bersandar." tangisku makin kencang setelah ibu berucap seperti itu. Hingga tak terasa aku tertidur di pangkuan ibu.


Pagi harinya, aku terbangun dalam dekapan hangat ibuku. Perutku terasa perih, karena semalam aku terlupa makan malam, dan juga tak berselera untuk makan malam.


Aku menatap cermin, sebelum menuju ke kamar mandi. Ya Tuhan, mataku mbintul, sebesar kelereng. Pantas saja, mataku sulit sekali buat dibuka. Benar benar memalukan. Aku tak bisa keluar rumah dengan keadaan seperti ini.


Mengingat itu, air mataku luruh lagi. Ya Allah, apa aku akan kehabisan air mata setelah ini. Baru tadi malam aku menangis hebat selama berjam jam..


"Sudah, gak usah kamu tangisi seperti itu. Bisa bisa air matamu kering, Nduk!" Ibu yang baru bangun tidur, dan melihat aku yang menangis lagi berucap dengan suara serak. Khas bangun tidur.


"Tapi, sepertinya dia keluar sendiri, dan belum mau berhenti, Buk!"


jawabku. Bergetar.


"Yo wis, terusno nangismu. Tapi jangan berbuat yang tidak tidak ya? Pasrahkan dan adukan segalanya pada Yang Maha Pemberi Kehidupan, agar hatimu lebih tenang."


"Ibu mau ke bawah dulu, lihat Ayahmu!" aku mengangguk. Ibu mendekatiku dan membisikkan sesuatu yang membuatku tersenyum, tepatnya senyum dipaksakan.

__ADS_1


"Jangan lupa, kami ada selalu untuk kamu. Ayah dan ibu, selalu menyayangimu, apapun yang terjadi." lalu mengecup puncak kepalaku yang sedang duduk menghadap cermin rias.


Aku tengah duduk di sofa, menerawang mengingat kejadian yang telah lalu. Kak Randy yang menolong saat aku terjatuh dari motor, padahal ia sama sekali tak melakukan kesalahan. Bahkan dengan sukarela beberapa kali mengantarku ke klinik untuk kontrol luka di kaki kananku.


Sejak itu entah sudah berapa kali kak Randy datang hanya untuk menanyakan bagaimana dengan keadaan lukaku. Hampir sebulan aku beristirahat dan tak bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Lamunanku terputus saat aku mendengar sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah. Dari balik pagar besi aku bisa melihat bahwa itu tunggangan kak Randy. Reflek aku berlari ke belakang, mengatakan pada ibu bahwa ada kak Randy didepan.


Ibu meninggalkan pekerjaannya di dapur, Ayah yang hari ini libur kerja duduk didepan pintu belakang rumah sambil mengelus binatang peliharaan kesayangannya pun beranjak berdiri mendengar informasi dariku. Sebelum mengikuti ibu ke depan, Ayah lebih dulu membersihkan tangannya dari bulu bulu kucing yang mungkin menempel di tangan saat ia mengelusnya tadi.


Aku menguping dari belakang tembok pembicaraan mereka, rupanya ibu benar benar tak terima. Ia tak mau walau hanya sekedar mendengarkan pembelaan diri Kak Randy. Hatiku pun terlalu nyeri, belum mau menemuinya lagi. Lebih tepatnya belum sanggup.


Setelah kak Randy terdengar berpamitan, aku duduk di kursi ruang tengah, dengan tubuh meringkuk diujung sofa. Mata ini sudah memanas.


Terdengar suara di sampingku, aku mendongak, ibu duduk di sebelahku.


"Dia sudah pergi!" tanpa kutanya ibu mengucapkannya. Aku langsung memeluk ibu sembari terisak, ternyata stok air mata ini masih saja ada jika berhubungan dengan kak Randy.


Ibu tak mengatakan apapun, hanya terus mengelus kepalaku, hingga Ayah juga muncul dan duduk dihadapan kami. Ikut mengelusku.


Setelah ini aku berjanji, aku akan lebih kuat. Dan tak membuat Ayah Ibuku bersedih lagi.


Aku mengurai pelukan ibu, rasanya gerah. Aku lalu bangkit menuju depan, sedang ibu melanjutkan aktivitasnya didapur.


"Sebentar lagi kita sarapan, ibu siapkan dulu, ya!" aku mengangguk mengiyakan.


Saat aku mengintip dari jendela rumahku yang berkaca riben, ternyata mobil itu belum bergeser dari tempatnya semula. Lamat lamat aku mendengar suara perempuan, tapi tak jelas siapa yang sedang berbincang dengan kak Randy.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, mobil itu melaju. Dan muncul Bu Daniel dari balik mobil itu, ternyata Bu Daniel yang sedang berbicara dengan kak Randy tadi. Setelah menatap kepergian mobil merah itu, Bu Daniel berganti menatap ke arah rumahku, seperti sedang mencari sesuatu, lalu pergi.


__ADS_2