
"Cantik sekali istriku. Tapi, akan lebih terlihat cantik lagi kalau begini didepan suaminya!"
"Ah, Kak Randy! Jangan! "
Hana menahan tangan Randy yang melepas jilbab instannya. Namun terlambat, jilbab itu sudah ada ditangan Randy dan dicampakkannya diatas kasur. Hana tertunduk dengan wajah bersemu merah.
"Jangan nunduk sayang, aku pengen liat wajah kamu! "
Apalagi kalau wajah kamu kemerahan gini. Jadi gemes pengen tak uyel uyel.
Randy meraih dagu Hana, lalu mendongakkannya. Tatapan mata mereka beradu, senyum manis Randy membuat Hana tak mampu menatap wajah itu lama. Randy mendekatkan wajahnya, menatap bibir wanita pujaan hati. Menyapu bibir itu dengan jemarinya, semakin mendekat dan mendekat. Hingga saat bibir saling bersentuhan, terlintas dipikiran Hana wajah Yuri. Hana menjauhkan wajahnya, dan melengos.
"Dek!" sorot netra Randy terlihat kecewa.
"Maaf, Kak! Aku... aku... "
Tok tok tok...
Terdengar ketukan di pintu.
"Nduk, udah bangun? Kamu belum sarapan loh. Jangan telat sarapan, nanti sakit perut lagi." pelaku dibalik pintu berbicara yang tak lain dan tak bukan adalah bu Mira.
"I_iya, Bu. Sebentar! " Hana menjawab dengan gugup, karena Randy tak juga beranjak dari depannya sesentipun.
"Ibu ngajak sarapan. Turun yuk!" ajak Hana grogi, pasalnya Randy dengan sengaja menyugar rambut panjangnya yang sedikit berantakan sambil merapikan rambutnya. Ingin menolak takut sang suami makin tersinggung. Hana segera berbalik saat Randy selesai merapikan rambutnya, tapi yang terjadi tangan kanan Randy meraih bahu, merangkulnya, dan mereka keluar kamar bersama sama. Baru sampai bawah tangga Randy melepas tangannya, karena bu Mira menatap tajam dirinya.
"Ibu udah bikinin bubur, khusus buat kamu. Makan ya, Nduk! makan makanan yang halus halus dulu, mumpung hangat gih! " Bu Mira hanya menyapa anak gadisnya, mengabaikan pria yang sudah menjadi menantunya.
"Sini nak Randy, nak Randy juga boleh kalau makan bubur buatan ibu itu jos gandos. Enak gurih gak ada duanya. Ayah juga mau, wong Ibu buatnya juga banyak. Cukup buat sarapan bersama." namun Bu Mira hanya diam saja.
"Iya, Yah." Merekapun duduk berempat, saat Hana mengambilkan bubur untuk Randy, Randy menggeleng.
"Buat kamu aja, biar cepet sehat, makan yang banyak! " terdengar Ayah mendesah.
"Bu, tawarin juga dong mantunya." tegur Ayah pada istrinya lirih.
"Lah, kan udah ditawarin sama istrinya. gak mau. Harus gimana lagi Ibu." bu Mira enggan menatap menantunya.
"Sudah Yah, Randy sepertinya pengen nasi goreng sama telur ceplok aja. Enak kelihatannya." Randy mengulurkan tangan namun dicegah Ayah.
"Nduk, layani suamimu, dia mau makan nasi goreng, tuh! " tegur Ayah Hana, Hana mengiyakan dan langsung berdiri mengambilkan nasi goreng untuk Randy.
Mereka makan dalam keheningan, hanya terdengar suara piring dan sendok beradu. Saat selesai, Randy menahan Ibu mertuanya yang akan membereskan piring piring.
"Biar saya sama Hana aja, Bu. Ibu udah capek masak, Randy biasa cuci piring dan beres beres seperti ini." Randy dan Hana bahu membahu membersihkan bekas makan mereka berempat.
"Ibu ini, jangan judes sama mantu sendiri. Kalau dia gak tahan terus bawa anak kita pergi jauh, atau ninggalin anak kita berabe, kan. Ibu mau! " tegur Ayah saat anak dan menantunya sibuk dekat wastafel dapur.
"Bela aja terus dia. Ayah emang udah gak sayang sama Ibu, biar Ibu pulang ke rumah pakdhe Hamdan aja deh, daripada disini, makan ati."
"Ibu...Jangan kayak anak kecil! " pak Hadi memijit pangkal hidungnya. Si ibu kalau ngambek memang selalu seperti itu. Pakdhe Hamdan adalah adik ragil atau bungsu dari nenek Hana, alias paklik Hana dari Ibu, yang saat ini menempati rumah peninggalan almarhum orang tua Bu Mira.
Bu Mira meninggalkan suaminya di meja makan dengan bersungut sungut, dan mengomel entah apa masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Menjelang siang, keduanya berpamitan keluar untuk jalan jalan.
"Tunggu!" Bu Mira mendekati Randy, sedang Hana terburu buru naik lagi karena ponselnya ketinggalan dikamar.
"Iya, ada apa, Bu? "
"Aku minta Hana tetap tinggal disini. Aku gak rela, dia tinggal serumah dengan Yuri di rumah kamu. Tak ada tawar menawar, kalau kamu masih ingin tetap bersama anakku." pernyataan Bu Mira yang membuat Randy mengangguk.
"Iya, Bu. Kami sudah bicarakan hal ini tadi."
"Satu hal lagi, jangan pernah buat anakku menangis, aku juga gak rela. Kalau itu terjadi, aku akan paksa kamu melepaskan dia, ngerti kamu?" bibir Randy kelu untuk menjawab.
"I_iya, Bu. Saya mengerti. Saya akan ingat selalu, dan berusaha membahagiakannya." jawab Randy bersamaan kedatangan Hana.
"Ada apa, Bu?" bu Mira tersenyum dipaksakan, tak mungkin ia memberitahukan pada Hana apa yang barusan dia katakan.
"Nggak ada apa apa. Ibu cuma bilang sama dia hati hati nyetirnya. Yaudah, keburu siang. Kabari Ibu kalau ada apa apa." Randy mengangguk. Dalam hati dia berpikir, Ibu mertuanya ternyata pandai juga bersandiwara.
"Sudah, Kak. Ayo!"
Bu Mira menatap kepergian keduanya, hingga sepeda motor milik Hana yang mereka kendarai tak terlihat lagi.
Randy memarkirkan sepeda motor di depan kafe De'Amor. Yang langsung mendapat sambutan senyuman lebar dari Panji, asistennya.
"Selamat datang, pengantin baru. Silakan masuk!" sapa Panji memberi penyambutan, sembari membungkukkan badan. Randy hanya diam, Hana tersenyum membalasnya.
"Makasih, mas Panji." Randy menggandeng tangan Hana erat, sembari berjalan.
Para karyawan yang melihat kedatangan sang owner kafe menyempatkan diri mendekat dan memberi salam pada keduanya. Hana terus mengumbar senyum, sedang Randy berwajah datar.
"Ada, pergilah keluar dan jangan ganggu kami! " Panji menyebik. Lalu keluar sambil menggerutu.
"Dasar pengantin baru."
"Tunggu! " Panji yang hampir menutup pintu berbalik. Mendekat lagi.
"Ya, Boss! " Randy merengkuh bahu Hana.
"Bawa beberapa makanan ringan dan minuman untukku dan istriku. Sudah itu saja! " Randy mengibaskan tangan mengusir Panji, sang asisten menganggukkan kepala dan setengah badannya.
"Baik, paduka! " Hana tersenyum lebar, hingga menampakkan lesung di kedua pipinya.
"Cepat pergi!" hardik Randy saat Panji tak beranjak bahkan melihat dan menatap Hana. Sekali lagi Panji menyebik, lalu pergi. Randy melirik tak suka dan merengut.
"Jangan senyum senyum sama dia, aku gak suka, ya!"
"Upps." sikap posesif Randy keluar.
Hampir satu jam mengobrol sambil ngemil ringan tanpa beban, Randy mengajak istrinya keluar, ingin menunjukkan sesuatu pada sang istri. Dan saat ini mereka berdiri di hadapan sebuah bangunan disebelah kafe De'Amor.
"Bangunan ini telah aku beli beberapa bulan lalu, aku berpikir untuk memperluas area kafe. Tapi tadi malam aku berpikir ulang. Kata Ayah kamu mau bangun toko disebelah rumah ya?" Hana mengangguk.
"Iya, Kak. Dapur Ibu rasanya sempit. Kasian Ibu tiap hari dapurnya aku berantakin, hehehe..." Hana tertawa, Randy tak berkedip menatap senyum sang istri yang dirasanya sangat manis, dengan bibir pinknya.
__ADS_1
Melihat Randy terpaku menatapnya, membuat Hana cemberut.
"Liat apaan sih, Kak. Biasa aja deh! "
"Liat senyum kamu tiap hari bisa bikin aku diabet, Dek. Kemanisan pake banget. Senyum begini sama aku aja, jangan sama cowok lain. Bisa bisa istriku ditaksir orang, pusing aku ntar! "
"Huh, gombal!" sahut Hana dengan mulut maju.
Hahahaha
Gemes. Jadi pengen gigit.
"Ok lanjut! " Randy merapatkan badan, merangkul bahu dan mengecup puncak kepala yang tertutup hijab pink itu.
"Setelah kupikir pikir, bangunan ini akan aku hadiahkan untuk kamu, Area bangunan lebih luas, kamu bisa pindahkan kesini usaha toko roti kamu kesini. Kan lebih enak! " Hana Membelalakksn mata.
"Serius nih, Kak?"
"Dua rius malah! " Hana mengedarkan pandangan, tempat ini lebih luas tiga kali lipat dari halaman rumah Ayahnya yang sudah dipasang pondasi bangunan.
"Dan untungnya lagi, kita akan bekerja berdekatan. Bisa berangkat bareng, pulang bareng, tiap saat bisa ketemu. Bisa bosi bareng. " Hana mengerutkan alis dan menoleh setengah mendongak, karena tinggi badan pria di sampingnya.
"Bosi, apaan tuh! "
"Beneran gak ngerti? Bobo siang cantik." Randy menjadi hidung mungil itu.
"Oooh, kirain apa! "
"Masuk yuk, kita liat dalamnya." Randy mengambil kunci dari saku celana, dan membuka pintu harmonika berwarna perpaduan hijau tua dan hijau muda itu.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Randy sebelum menggeser pintu sedikit.
"Luas banget, Kak! "
"Biar lega dan nyaman. Ada pantry nya juga. Tapi kalau kamu butuh ruangan lain lagi, bilang aja. Semua bisa diatur. "
"Gimana, cocok 'kan?" Hana menatap suaminya dengan mata berkaca kaca.
"Makasih ya, Kak. Aku gak nyangka, aku bisa nempatin tempat seluas ini." Randy tersenyum memutar badan dan berdiri dibelakang Hana, lalu merangkulnya erat dari belakang.
Hana terkejut seketika, tubuhnya meremang, karena mereka sama sekali tak berjarak. Randy meletakkan kepala dibahu Hana, sembari mengendus leher tertutup hijab dan harum parfum yang lembut dan klasik beraroma mawar.
"Makasihnya yang bener, sayang, " bisikan yang membuat merinding. Apalagi tangan kekar yang memeluknya itu tak bisa diam. Mengelus lembut area yang disukainya.
"Ah, Kak. Jangan sekarang, aku... aku...! " Hana sedikit terbuai.
"Please, Dek. Jangan buat aku puasa lama lama. Nanti malam, kuminta jangan mengelak lagi." Hana menggigit bibirnya, menahan agar tak mengeluarkan de sah an dari bibir itu.
"Kak, berhenti. Jangan teruskan! " Hana tak tahan lagi, ia memberontak melepaskan diri. Jika dibiarkan, mereka bisa khilaf ditempat itu. Berbalik menatap sang suami yang telah berkabut gai rah. Bagai singa yang siap menerkam, Randy tak menggubris penolakan Hana, diraihnya tubuh sintal itu. Mendekatkan wajah dan meraup bibir manis itu yang kali ini tanpa penolakan.
\=\=\=\=\=
Huhuhu, imajinasi kan sendiri ya emak emak. Gak tega aku ngelanjutinnya.... takut khilaf khilaf....
__ADS_1
Yang masih gadis Skip skip skip.
Apalagi yang sedang LDR an sama misua.