HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 57


__ADS_3

"Ayo sini ikut aku! " Salman setengah menyeret Hana menjauhi orang orang yang duduk berjejer di kursi. Pak Hadi menatap anaknya yang digenggam tangannya oleh Salman.


Setelah dirasa cukup jauh, Salman berhenti dan berbalik, melepas cekalan tangannya.


"Kau anggap apa aku, Hana. Beberapa hari lagi kita menikah, kamu harusnya ngajak aku, atau seenggaknya bilang kemarin ke rumah siapa tadi?


Sintya... iya Sintya... agar kamu aman. Malah seharian ngilang, gak jelas kemana, tahunya malah sama mantan calon suami semalaman disini! " ucapan Salman tajam, ia mendekat kearah Hana, Hana mundur. Hingga tubuhnya merapat ke dinding. Kedua tangan Salman mengunci gadis berpostur separas dada calon suaminya itu.


Beginikah perangai calon suamiku. Hana.


Ya Allah, apakah aku gak salah pilih? Harusnya dia bersyukur aku terselamatkan, bukannya malah marah marah. Walaupun akui aku salah, karena seharian tak mengabari keberadaan dan kepergianku pada Mas Salman. Ke rumah laki laki lagi.


"Maaf!" hanya itu yang mampu Hana ucapkan. Tenaga dan otaknya terkuras habis semalaman. Dan ia juga, sama sekali tak tidur, hanya terlelap beberapa saat. Lelah sudah pasti, dan hanya menunduk, tak berani menatap mata Salman.


Andai mas Salman tahu, tentang Om nya Sintya, yang pernah mau dijodohkan sana aku, apa ia bakalan lebih marah lagi, ya! "


Hana merasa tak nyaman berdekatan seperti itu, ingin rasanya mendorong dada pria yang harum maskulin menyeruak ke dalam rongga dadanya. Ia ingat dari sedari sore tak mandi, tubuhnya terasa lengket dan pastinya, bau keringat.


"Mas, jangan begini. Aku gak pede, menjauhlah. Aku belum mandi dari kemarin sore." pinta Hana masih dengan menunduk. Tapi Salman tak bergeming. Hingga Hana mendorong tubuhnya. Ucapan itu sedikit menurunkan emosinya.


"Maaf, ya! " sepertinya banyak sekali stok permintaan maaf, entah untuk urusan yang mana.


Hhh, enteng sekali minta maaf.


" Kita akan sering berdekatan dalam keadaan apapun nantinya. Kamu masih wangi kok, meski ada asem asemnya dikit." canda Salman sedikit menurunkan tensinya.


"Ih, Mas Salman gausah ngada ngada. Aku beneran gak pede nih! "


"Baiklah, aku mau memaafkanmu, asal..."


"Asal apa? " Hana mendongak, penasaran dengan apa yang akan diucap calon suaminya. Salman diam sejenak, seringai licik terbit dalam hatinya. Wajahnya lebih mendekat kearah wajah Hana. Hingga Hana memiringkan kepala sedikit menjauh, Salman lalu berbisik.


"Asal aku boleh ci um pipi!"


Plakkk!


Salman terkejut, ucapan isengnya membuat Hana reflek menampar pipinya.


"Hana, kamu! "


Salman mundur, selangkah, menatap Hana dan meraba pipinya. Hana menatap telapak tangannya dengan raut menyesal, dan takut.


"Maaf, mas. Aku gak sengaja! Reflek tadi."


Maaf lagi, maaf lagi.


"Habis kamunya sih, ngomongnya gak disaring. Jangan macem macem." ancam Hana.


Cuma ci um pipi Han, Yaelah.


"Aku yang minta maaf, tadi hanya becanda! " untuk mengurai rasa antara kesal dan malu, Salman meminta maaf.


Gak kebayang nanti saat malam pengantin. Apa kamu bakalan reflek mendorongku hingga jatuh dari ranjang? Tapi gak masalah, yang penting aku bisa dapetin kamu Hana. Gadis cantik berlesung pipi, yang selalu jadi idola kelas waktu SMA. Bisik hati Salman.


"Mas...! "

__ADS_1


"Apa?"


"Sekali lagi maaf! "


"Iya, aku maafin. Kalau begitu ayo kita pulang sekarang! Banyak orang yang nungguin dia disini. Lagipula banyak juga yang harus dipersiapkan menjadi jelang pernikahan kita, bukan?" ajak Salman sehalus mungkin.


"Kita masih perlu meeting dengan pihak WO, ada beberapa hal yang masih perlu dikoordinasikan dengan pihak mereka. Dan aku udah jadwalkan hari ini."


"Nggak, Mas. Aku masih mau nunggu kak Randy bangun. Aku gak tenang dan baru merasa lega kalau dia siuman dan baik baik saja!" tolak Hana beralasan yang membuat Salman bukannya mengerti, malah tambah mengepal tangannya karena emosi.


"Hati kamu lega, atau kamu memang ingin bertemu dan berduaan dengannya!" sahut Salman dengan nada tinggi. Hana menatap pria yang cepat sekali berubah moodnya itu tajam. Tak terima.


" Astaghfirullah, Mas Salman. Kak Randy itu sudah bertaruh nyawa menolongku. Kemarin jika tak ada dia, entah bagaimana nasib aku sekarang. Kak Randy kehilangan banyak darah karena aku, bahkan terlambat sedikit saja dia mendapat pertolongan mungkin nyawanya tak dapat diselamatkan. Bisa bisanya kamu mencurigai aku mau berduaan dengannya? Tak bolehkah aku khawatir akan keadaannya. Kalau sampai kenapa napa, mungkin aku akan ngerasa bersalah seumur hidup aku. Tak pahamkah kamu dengan alasanku? Masih pantas kamu marah? Harusnya kamu berterimakasih, bukannya malah marah." Hana meluapkan emosi yang ia pendam. Beberapa kali mereka berdebat, dan ujung ujungnya Hana selalu ngalah. Kali ini ia membantah Salman yang diam tak menjawab.


"Bukan begitu maksud aku, Hana. Aku cuma... ah. Maafkan aku, itu karena aku terlalu cemburu. Jadinya aku emosi. Maaf, maaf!" akhirnya Salman mengakui kesalahannya.


"Tapi kamu juga keliru. Kamu 'kan bisa telpon aku, minta dianterin gitu. Jadinya gak seperti ini, 'kan!" baru saja meminta maaf, kini Salman menyalahkan Hana lagi merasa Hana patut dipersalahkan.


"Cemburumu tidak pada tempatnya mas. Dan lagi, kita belum sah. Jadi aku belum pantas ngerepotin kamu, anter sana anter sini. Bukan aku banget itu, Mas. Lagian kamu juga kerja, pastinya kamu juga capek, dan harus ngurusin hal gak penting kayak gini."


"Tapi karena hal gak penting ini, akibatnya fatal 'kan! " keduanya sama sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah. Hingga Panji muncul memanggil Hana.


"Han, Randy udah sa -dar! " ucapan Panji terbata karena ada Salman bersamanya.


"Benarkah, Alhamdulillah ya Allah." Hana tersenyum lega.


"Ayo, mas, kita temuin Kak Randy! " Hana tak pedulikan tatapan tajam dan ogah ogahan Salman. Dengan langkah malas Salman mengikuti keduanya, Panji melangkah di depan, Hana mengikutinya setengah berlari, Salman menangkap pergelangan tangannya.


"Apa sih, Mas? " ia lalu mensejajari langkah Hana.


"Happy banget sepertinya denger dia siuman. Gak usah buru buru gitu juga, kali!" Salman merengut dengan raut tak suka.


"Hei, bisa gak sih bertengkar nya di pending dulu? Ini rumah sakit, tempatnya orang sakit. Bisa jadi pasien yang mendengar pertengkaran kalian tambah parah sakitnya. Temen gue lagi sakit. Mending Lo keluar deh, daripada disini bikin ribut! " Panji menuding Salman, tak terima, mereka berdiri berhadapan, sama sama membusungkan dada. Jika Hana tak menengahi, akan ada aksi gelut yang terjadi antar keduanya.


"Stop! Kok jadi kalian yang ribut. Stop atau aku bakal teriak, biar kalian berdua, di gelandang sama sekuriti keluar dari sini! " Hana berdiri diantara keduanya. menatap bergantian.


"Ini gara gara Lo tau nggak." Panji.


"Gara gara Lo! Ngapain juga Lo laporannya sama Hana dia siuman." Salman.


"Suka suka gue lah! " Panji.


"Sudah sudah. Bener kata Panji mas, kalau bikin ribut mending mas Salman pulang. Entar kalau kak Randy siuman, aku janji bakalan cepet pulang! " ujar Hana menengahi.


Ini lagi, ngapain bela belain orang malah. Salman menggerutu dalam hati.


Panji membuang napas kasar, wajahnya yang memerah menandakan ia sedang emosi. Lalu berbalik lagi, melangkah dengan cepat. Tak mau meladeni Salman lagi.


"Randy masih ditangani dokter, kalau kondisinya sudah stabil bakalan dipindahkan ke ruang perawatan." ucap Bu Hilma yang baru keluar dari ruangan, bertepatan dengan kedatangan Hana, Panji dan Salman.


"Apa boleh bertemu dengannya, Bun?"


"Kita tunggu dokter selesai memeriksanya, ya! Sabar." Hana menunduk, lalu melirik Salman yang membuang muka. Laki laki itu lalu mendekati pak Hadi, entah apa yang lelaki itu bicarakan, Hana tak bisa mendengarnya dengan jelas. Fokusnya terbagi dengan keadaan Randy.


Tak berapa lama dokter keluar dan berbicara pada bu Hilma, bahwa Randy sebentar lagi di bawa ke ruang perawatan.

__ADS_1


"Gimana keadaan Kak Randy, apa lukanya masih sangat sakit? " pertanyaan pertama saat ada kesempatan berbicara dengan Randy. Pria dengan selang infus di punggung tangan kirinya itu tersenyum, walau tipis r.


"Aku sudah lebih baik, Han. Cuma terasa nyeri di bagian perut. Tak perlu khawatir. Lalu kamu sendiri gimana? Apa kamu juga terluka? Kamu diapain sama baji ngan itu?" Hana menggeleng.


"Nggak Kak, Kak Randy datang disaat yang tepat. Alhamdulillah, Allah masih melindungiku. Mereka memaksaku menemani dan minum bersama mereka. Terlambat sedikit saja, entahlah, bagimana nasib aku sekarang! " Hana menunduk, ia gerakkan ujung kakinya yang terbungkus sepatu, sepatu itu terlihat kotor dan berdebu karena kejadian kemarin.


"Aku sungguh lega kamu baik baik saja, Han. Aku..! "Randy menghentikan ucapannya.


"Ehemm, ehemm! " Salman yang berdiri mematung di belakang Hana berdehem, memberi kode bahwa ia berada diantara mereka. Hana memundurkan langkah, sejajar dengan Salman.


"Sayang, sekarang kamu lihat, kan, dia baik baik saja." Salman menunjuk Randy dengan dagunya, Hana mengangguk. Sebenarnya ia risih Salman memanggilnya sayang. Dan ia yakin itu semata mata karena hanya ingin pamer pada Randy yang notabene mantan Hana.


"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Banyak yang harus kita lakukan. Kita mau nikah, masih banyak yang perlu dipersiapkan. Hari ini kita perlu meeting dengan pihak WO, sejauh mana kesiapan mereka. Tinggal beberapa hari lagi, sayang! " Rayu Salman kekeuh mengajaknya pulang. Ia pun tak mau debat, sudah merasa lega, melihat keadaan Randy yang terlihat lebih baik. Hana yakin dalam beberapa hari luka Randy sudah membaik dan mengering.


"Tadi malam seorang ibu namanya bu Rani, aku gak kenal beliau, tapi beliau yang nolongin Kak Randy, mendonorkan darahnya buat Kak Randy. Tapi maaf, aku lupa tanya alamatnya, belum mengucap terimakasih, tapi beliau lebih dulu pergi entah kemana. Karena aku terlalu banyak pikiran".


"Benarkah, lalu gimana caranya aku berterimakasih padanya?"


"Lewat doa, aja, Kak. Semoga masih diberi kesempatan bertemu lagi dengan beliau untuk mengucap terimakasih. Kebetulan tadi malam cuman ada aku sama Ayah."


" Semoga aja suatu tak sengaja ketemu, aku masih ingat kok sama wajahnya."


"Ehemm! Uhukk" Salman berdehem karena merasa kehadirannya lagi lagi tak dipedulikan.


"Yaudah, Kak, saya permisi! Semoga cepat sembuh."


"Tunggu bentar! " Salman mendekati Randy, mengulurkan tangan dan disambut Randy, mereka berjabat tangan.


"Aku hampir lupa, terimakasih ya, kamu udah nyelametin calon istri aku. Cepatlah sembuh, agar kamu bisa hadir di nikahan kita berdua, bukan begitu sayang! " Salman menoleh pada Hana dan tersenyum. Menekankan kata calon istri.


"Iya, sama sama. Kebetulan saja aku lewat daerah situ. Jadi, sudah kewajiban aku nolong dia."


"Pergilah, Han. Aku gak apa apa?"


"Dan, Selamat menempuh hidup baru buat kalian, Semoga jadi keluarga samara. Maaf, aku ngucapinnya sekarang, karena nggak tahu aku bisa datang apa nggak dengan keadaanku seperti ini. Kado menyusul, ya!"


Hana tak bisa membantah lagi saat Salman mengajaknya untuk pulang. Ia pun berpamitan pada Randy sebelum melangkah keluar. Randy menatap keduanya dari tempatnya berbaring.


Tiada lagi harapan.


"Loh, Ayah kok gak ada? Bunda tahu Ayah saya kemana!?" tanya Hana setelah sampai di ruang tunggu tak ada Ayahnya disitu.


"Tadi pak Hadi ada pesan buat kamu, beliau pulang duluan, bawa motor kamu. Salman diminta buat antar kamu pulang. Katanya khawatir ibu kamu cemas memikirkan kalian."


"Tentu, Bu. Tanpa diperintah pun saya bakal antar Hana pulang." sahut Salman.


Dalam perjalanan pulang, tak ada yang bersuara, keduanya larut dalam pikiran masing masing. Sesekali Salman melirik gadis yang duduk di jok samping dengan raut cemberut.


"Han, kamu marah?"


Udah tau nanya.


"Han, kita mampir buat sarapan ya! Kamu pasti juga belum sarapan? Cacing diperut aku lagi nyanyi keroncong, kepengen dapat asupan, nih."


"Tapi aku gak lapar, pengen cepet pulang aja! " ucapnya ketus.

__ADS_1


"Please deh, Han. Jangan ngambek. Kamu pengen makan apa? Aku manut."


"Udah kubilang aku gak lapar, pengen sampe rumah, mandi dan istirahat. Gerah, capek, semalaman gak bisa tidur." jelasnya lagi. Kepalanya pening, seharian ini terasa sangat begitu melelahkan. Pun dengan sikap Salman yang gak mengerti posisinya.


__ADS_2