
“Yuri...!” Randy berusaha melepas pelukan Yuri dengan lembut. Gadis itu tersenyum, walau wajahnya tampak pucat dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibanding minggu lalu saat ia bertandang ke panti.
“Pa kabar, adikku yang manis? Hmmm.“
“Alhamdulillah, baik Bang.” Jawabnya masih dengan senyum mengembang. Mungkin gadis itu berpikir Bunda Hilma sudah mengatakan sesuatu tentangnya pada Randy dan Randy menyetujuinya.
“Kenapa? Kau terlihat sangat kurus dari kemarin terakhir aku kesini. Makan yang banyak dong, lawan dengan semangat penyakit kamu, ya!” Yuri terkikik senang saat Randy memberi perhatian padanya, lalu mengacak rambutnya.
Randy nya tak berubah. Pikir Yuri.
“Yuk kita bicara ke taman, sekarang kan belum terlalu panas. Kita ngobrol sambil nyari vitamin D dengan berjemur.” Ajak Randy yang langsung di iyakan Yuri.
Di sepanjang perjalanan ke taman, Yuri melingkarkan tangannya pada Randy tanpa rasa risih.
“Yuri, kamu udah gede, udah dewasa. Lepas dong tangannya, gak baik kamu nggelendot seperti ini!” pinta Randy dan Yuri melepasnya lalu meminta maaf.
Sesampainya di taman mereka duduk bersebelahan di bangku panjang, sembari melihat kearah air mancur di depan mereka.
Beberapa saat mereka ngobrol ngalor ngidul, tentang apapun. Hingga kemudian Randy bicara serius dengan hati hati.
Ehemm...
Randy mengawali ucapannya dengan berdehem. Bingung juga mulainya.
“Yuri...!”
“Ya, Bang!” jawabnya menoleh pada pria yang ia cinta itu.
“Mmm, kamu tahu kan sebentar lagi Abang mau nikah?” mendadak tercipta kebisuan di pagi itu. Senyum Yuri memudar, tatapannya lurus ke depan. Kearah anak anak yang berangkat sekolah dengan berjalan kaki.
“Abang Randy... Kak Yuri...!Kami berangkat!” beberapa anak melambaikan tangan pada keduanya. Randy membalas sapaan anak anak panti itu yang berbaur dengan anak diluar Panti, berjalan bersama menuju sekolah.
“Iya, hati hati!”
Setelahnya Randy fokus lagi ke gadis disampingnya.
“Yuri...!” Tak ada tanggapan dari Yuri yang menatap kosong lurus ke depan.
__ADS_1
“Kamu, udah pernah ngobrol sama Hana, belum?” Yuri menggeleng lemah.
“Kata Bunda dia sering kesini, sekedar ngobrol, ngasih kue sama adik adik. Kenapa gak coba ngobrol sama dia? Anaknya asyik loh. Itulah salah satu sebabnya Abang jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya.”
“Dia gadis yang menjaga pergaulannya, tak pernah pacaran, walaupun ngomongnya gak lemah lembut sih.” Randy tertawa mengatakannya. Tak tahu jika teman bicaranya sudah berkaca kaca.
“Bang Randy mau pamer, kalau bang Randy punya calon istri cantik dan baik, terus agamanya juga baik, gitu kan maksudnya?” sahut Yuri ketus. Ia mengusap sudut matanya yang berair.
“Bukan begitu!” Randy merasa serba salah. Ia tak pernah interaksi dan berhadapan dengan wanita yang sedang ngambek.
“Ok. Maaf, aku tak akan membahasnya lagi denganmu.” Lalu Randy mengalihkan topik.
“Yuri, tadi malam Bunda cerita sama aku. Kata Bunda, kamu menyukaiku ya?”
“Kamu tahu Abang udah mau nikah. Abang begitu mencintainya. Dan gak mungkin Abang membagi cinta dengan siapapun.” tegas Randy menyambung ucapannya. Tak ingin memberi celah pada wanita lain untuk mengharapkannya.
“Abang minta maaf padamu, Yuri. Untuk tawaran yang Bunda berikan Abang menolaknya. Abang gak akan pernah bisa mendua. Lagipula Abang telah menganggapmu adik, tak lebih dari itu.”
“Tapi Abang tetap sayang sama kamu! Sebagai adik tentunya. Kumohon, jangan meminta lebih. Abang menganggapmu gak lebih dari itu, Abang gak bisa!” Tak ada suara dari lawan bicaranya hingga membuat Randy menoleh. Dan terkejut melihat Yuri berdarah. Darah menetes dari hidungnya, wajahnya bertambah pucat pasi, seperti mayat hidup. Gadis itu termangu, lalu mengusap darah dengan ujung lengannya. Sesaat gadis itu limbung menyaksikan darah di lengannya, dan...
****
Wajah wajah panik mengikuti langkah cepat suster yang mendorong brankar yang terbaring diatasnya adalah tubuh Yuri.
Saat tadi Yuri berdarah, Randy dengan tangan gemetar mengangkat tubuh gadis itu dan berlari, berteriak memanggil siapa saja yang ada. Penghuni panti datang merubung Randy yang berlari, mengarah menuju mobilnya.
“Bunda, kita bawa Yuri ke rumah sakit!” ucap Randy. Melihat Randy yang panik, Pak Ilham, salah satu pengurus panti berinisiatif mengemudikan mobil Randy. Bunda Hilma terus terusan menangis saat di mobil hingga sampai ke rumah sakit.
Hilma duduk di kursi panjang didepan ruang tempat Yuri di rawat. Ia yang terus menangis bersender di pundak Fitri, kakak iparnya atau istri dari Herman.
Sedang Randy berdiri menyender di dinding keramik, dengan tangan kanan menepuk nepuk lengan kiri dengan gelisah. Terkadang melongok ke tempat Yuri di observasi. Hembusan nafasnya pun terasa berat seakan menyesal dengan apa yang dilakukannya tadi.
“Duduklah, Randy!” tegur pak Ilham.
Randy menoleh dan mengangguk mengucap terimakasih lalu duduk.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Ran? Kenapa tiba tiba Yuri pingsan? Tadi bunda liat dia baik baik saja.”
__ADS_1
“Maafkan saya, Bunda. Saya yang salah.” Randy tak mampu mengangkat mukanya. Beberapa saat hening membuat Randy mengangkat wajahnya. Ketiga orang, bunda Hilma, Budhe Fitri dan pak Ilham menatapnya tanpa kata.
Randy menelan ludah, arti dari tatapan ketiga orang itu adalah, mereka meminta ia menceritakan kronologisnya.
“Paman tak menyalahkanmu, apalagi kamu memang sudah mau menikah sebelum kamu tahu Yuri menyukai kamu. Tapi, Paman juga setuju dengan pemikiran mbak Hilma, untuk kamu nikahin Yuri juga. Demi kesehatan dia agar lebih baik dan semangat hidupnya kembali.” komentar pak Ilham sesudah Randy menceritakan kronologisnya.
“Abot mas wong lanang wayuh kuwi, kudu iso adil ambi bojone kabeh. Memange Randy iso adil lek memang arep duwe bojo loro? Gak wani njamin aku.” potong Bunda Fitri menatap tajam pada Ilham.
(Berat mas, orang yang mau poligami, harus bisa adil sama istri istrinya. Memangnya Randy bisa melakukannya kalau punya istri dua? Gak berani menjamin aku)
“Sebenernya, kamu itu mihak siapa sih, Fit?” tanya Paman Ilham pada bunda Fitri, mereka memang sering silang pendapat.
“Aku gak mihak sopo sopo, mas. Aku mung ngelengke lek wong wayuh alias poligami itu angel, abot. Sejene ngunu arang wong wadon seng gelem di wayuh. Ujung ujungnya pasti sakit ati. Lek ora iso adil mending punya istri satu ae le, tinimbang akeh duso mergo gak iso adil ambek bojo bojone.” Mereka malah berdebat sendiri. Sedang Randy hanya diam saja. Begitupun sang pencetus ide untuk Randy menikahi Yuri sekaligus Hana diam saja.
"Lek mas Herman sampe mau nikah lagi, tak uleg anu_ne gae muntu pisan. Di gae bumbu masak." Bunda Fitri malah sewot sendiri. Pak Ilham menahan tawa sembari menggelengkan kepala.
***
Tiga hari dirawat di ruang ICU, tak ada peningkatan yang berarti dengan kesadaran dari Yuri. Kata dokter ia mengalami anemia hemolitik, karena sering mengalami mimisan dan asupan makanannya yang kurang disebabkan ia sering tak mau makan.
“Limfa dan hati telah sedikit membengkak, itu adalah penyebab ia kurang nafsu makan. Itu adalah salah satu dari beberapa efek penyakit leukimia. Juga dengan anemianya.” Kata dokter 2 hari lalu.
“Begini Bu, Pak! Sepertinya pasien ini memang tak mau merespon cairan obat yang kami berikan. Dalam arti, ia memang tak ingin hidup, tak ingin bangun lagi. Kami tak tahu apa penyebabnya.”
"Meskipun belum jelas seberapa besar pasien koma dapat merespon, namun ada kemungkinan pasien mendengar dan memahami. Peran orang orang dekat pasien memang cukup penting untuk menstimulasi Indra sentuhan, penciuman, suara dan penglihatan untuk membantu pasien yang koma agar cepat sadar. Terutama dari orang orang yang bisa membangkitkan gairah hidupnya, seperti sahabat, orang tua, kekasih, atau suami jika sudah menikah dan anak."
“Dulu pernah ada pasien seperti itu. Kehilangan semangat hidup. Dokter menyarankan untuk memenuhi keinginan pasien yang mungkin belum terwujud. Dan itu berhasil memotivasi pasien untuk bersemangat dan akhirnya pasien bangun dari komanya." ucapan dan saran dokter terngiang di telinga Randy dan juga bunda Hilma yang menunggunya waktu itu.
Randy setengah melamun saat bunda Hilma mengajaknya duduk berdua dan bicara.
"Sekarang kamu tahu, Randy. Gimana kondisi Yuri. Bunda minta maaf, Bunda selama ini sudah coba menyadarkan Yuri, menasehati Yuri. Tapi rasa yang datang padanya untuk kamu, siapa yang bisa melawannya? Ia selama ini juga sudah berusaha mengendalikannya, bukan? Sampai sampai orang yang disukainya sama sekali tak tahu menahu. Itu cukup jadi bukti bahwa dia berusaha mengendalikannya."
"Tapi ini keadaannya beda, ia sedang sakit, lemah. Dan... entah sampai kapan ia bisa bertahan dengan rasa sakitnya.Jikalau kali ini kamu tak bisa mengabulkan permintaan Bunda, mungkin kita harus menyiapkan hati kehilangan dia, hikkkss...hikkss!" Bunda Hilma menutup mulutnya, menahan Isak tangisnya.
Randi hanya bisa diam mengacak rambutnya sendiri.
"Kenapa sih harus hal itu yang kamu inginkan, Yuri. Apa gak ada keinginan lain? Aku bahkan bisa ngasih kamu mobil, atau rumah sekalipun. Tapi kenapa harus rasa cinta yang kamu inginkan dariku. Ya Salam, apa salah Dan dosaku, kenapa jadi rumit begini?" Randy menatap Yuri yang tubuhnya menempel alat alat medis.
__ADS_1