
"Tunggu, sepertinya beneran feeling aku, kalau ibu tuh mau jodohin aku sama kak Randy?" tanya Hana menoleh pada sang ibu yang menyuapkan mie terakhirnya.
"Kalau iya gimana, kamu bersedia?"
"Ibuu!" Hana mendesah.
"Kamu tinggal bilang iya atau tidak, Nduk! Witing tresno jalaran soko kulino. Rasa cinta itu bisa datang karena telah terbiasa. Dulu, Ayah sama Ibu juga gak pacaran karena kita dijodohkan orang tua. Jangan anggap tidak pacaran itu gak gaul, gak keren, ketinggalan jaman dan lain sebagainya! Itu salah besar, karena dalam ajaran agama juga tidak dibenarkan pacaran!" ceramah sang ibu berapi api, namun Hana beranjak pergi.
"Eee, ni anak! Orang tua lagi bicara malah pergi!" omel sang ibu sembari membereskan bekas makannya, tak lama Hana kembali membawa segelas air.
"Nih, kalau habis makan tuh minum dulu Bu, jangan langsung ceramah aja!" Bu Mira tersenyum lebar, ternyata Hana dengan pengertian mengambilkannya air tanpa diminta.
"Makasih, ya!" Hana tak menjawab namun duduk lagi didamping Bu Mira.
"Gimana tawaran ibu tadi, Han?" ucapnya setelah meneguk air sampai habis.
"Tau ah, Bu! Hana capek, mau istirahat. Hana ke kamar dulu, ya?" tanpa mendengar jawaban ibunya Hana ngeloyor pergi, penglihatan Bu Mira mengekori langkah Hana menuju kamarnya.
*Kenapa sih, ibu bahas hal itu melulu? Orang yang bersangkutan aja diem, gak ngomong apa apa! Ih, nanti jangan jangan kalau aku bilang iya, apa ibu sama Ayah mau mengatakannya sama kak Randy?
Ngunggah ngunggahi dong! Cewek ngelamar cowok, Kayak Ande Ande Lumut aja*! Batin Hana seraya naik ke kamarnya.
Keesokan harinya, setelah mengantar kue, dan yang terakhir adalah ke tempat Randy. Namun Hana terkena apes, ban sepedanya tiba tiba gembos. Dengan susah payah ia mendorong sepedanya berjarak 300 meter dibawah terik sinar mentari. Hingga ia sampai di kafe hampir tengah hari.
" Maaf kak, aku terlambat!" urai Hana setelah memarkirkan motornya, Randy dengan mengayun langkah cepat menghampirinya di tempat parkir.
"Ada masalah apa? Apa kamu keliling dulu nyari pelanggan baru?" Hana meringis, sembari menggeleng ia membuka helm pinknya. Raut wajah Randy terlihat khawatir.
"Tadi, tiba tiba bannya kempes. Aku dorong sampai tukang bengkel agak jauh, antri lagi!" keluh Hana, mengelap peluh di dahi yang tertutup hijab. Dua orang karyawan mengangkat boks kue.
"Nji, taruh ditempat yang kemarin ya!" Karyawan yang bernama Panji dan satu temannya mengangguk.
"Ikut masuk yuk! minum dulu, pasti kamu haus banget! Mana panas banget cuacanya!" Hana mengiyakan dan berjalan mengekor Randy.
"Besok besok lagi kalau terjadi sesuatu telpon aja aku, Han! Takutnya kalau nanti ada orang yang iseng kayak kemarin, kamu gak takut apa? Apalagi orangnya masih berkeliaran. Aku bahkan tadi lihat mereka di perempatan dekat sekolahan waktu itu!" Randy mengomel sampai mereka di pintu masuk kafe. Hana hanya bisa terdiam, tak mampu berkata karena Randy menghawatirkannya begitu rupa.
__ADS_1
"Kamu mau minuman seperti kemarin?" tawar Randy setelah Hana duduk persis ditempat kemarin.
"Ice tea less sugar aja, kak!"
Habis minum, aku mau ajak kamu makan di tempat lain, Han! Mau ya?" bujuk Randy yang duduk didepannya.
"Aku janji sama ibu, bakalan makan dirumah, Kak! Maaf! Kak Randy ngajak orang lain aja!" terlihat raut kecewa Randy dengan menghembuskan nafas berat dan membuang pandangan ke sembarang arah, tapi ia berusaha menahannya.
"Okelah."
"Mm, kalau begitu aku beli makanannya, kita makan dirumah kami aja, ya. Please, kali ini jangan nolak aku!" tangan Randy mengatup memohon sembari menaik naikan alis tebalnya.
"Kalau gitu, opsi pertama aja deh, kita makan diluar." Randy tertawa lebar.
"Nah, gitu dong!"
Baru Hana ingin membuka mulut lagi, seseorang menyapanya.
"Ini, Hana ya? Benar kan ini Hana?" sapa seorang cowok tampan berkemeja hitam dan celana kain. Cowok itu membuka kacamatanya sembari tersenyum lebar, dan Hana yang mengenalinya berdiri sembari menutup mulutnya.
"Syukurlah, rupanya kamu masih mengenali aku. Apa kabar kamu, Han?"
"Alhamdulillah, baik mas! Mas Salman kelihatannya juga sehat walafiat...!"
"He eh!"
"Lama ya, kita gak ketemu? Mmm, 6 tahun, maybe!"
Bagaimana aku lupa mas, you are my first love*!! Hana hanya sanggup membatin.
"Kamu udah nikah, Han?" Hana meringis sembari menggeleng. Tambah lebar senyum Salman, membuat Randy jengah diantara keduanya.
"Aku juga belum, apa ini kebetulan ya?" Hana tersenyum menunduk, pipinya bersemu merah karena malu. Melihat itu, Randy dibuat tambah jengah ditengah situasi ini.
"Kamu beda, Han! Kamu diet? Setahu aku kamu dulu agak gemuk. Tapi lebih cantikan sekarang, suer!" Salman mengangkat tangan, mengacungkan dua jari, telunjuk dan tengah. Salman benar benar tak tahu situasi, Randy sudah memerah telinganya mendengar gombalan Salman untuk Hana.
__ADS_1
Dianggap apa aku, patung? kesal Randy.
"Han, kita mau makan siang diluar, kan? Ayo, aku udah lapar nih!" Randy meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat, bahkan jarinya ia sematkan di sela sela jari Hana, tak memberi ruang Hana untuk melepas tangannya. Sama sekali tak menoleh pada Salman.
"Tapi, kak!" Hana memandang Randy, ia baru menyadari raut wajah Randy yang tak bersahabat. Lalu berganti menatap Salman.
"Mas Salman, maaf!" Hana mengayun langkah cepat mengimbangi Randy, ia sudah tak peduli Salman yang setengah berteriak hingga pengunjung kafe menoleh pada mereka.
"Hei, Lo kan karyawan disini! Gue laporin ke atasan lo, kalau Lo dipecat jangan salahin gue ya!" ancam Salman sembari menuding kearah Randy yang tak terima Hana dibawa pergi olehnya.
Sejenak Randy menoleh, " Laporin aja, silakan! Gue gak peduli, emang gue takut!" selanjutnya ia melangkah lagi seraya tangannya tak melepas tangan Hana yang meronta.
"Kak, lepasin gak!" Hana menghempas tangannya agar tautan tangan Randy terlepas, dengan berat hati Randy melepas tangan Hana.
"Kenapa sih kak Randy ini, dia itu teman sekolah aku dan kita udah lama banget gak ketemu!" Hana menatap tajam dan kesal pada Randy. Mereka berhenti disamping sebuah mobil Honda jazz warna merah yang terparkir di tempat parkir khusus karyawan, lalu membuka pintu mobilnya.
"Masuklah!" Hana menggeleng kuat.
"Memang mobil siapa ini?" Randy terdiam sejenak mencari jawaban.
"Mmm, aku di pinjamin teman aku, kemarin sore aku ke luar kota, waktu mau pulang tapi turun hujan cukup deras. Teman yang baik itu minjemin aku mobilnya, dan sepeda aku ada dirumahnya sekarang!"
Tapi Hana tak langsung percaya, namun ia hanya diam. Randy tetap memaksa Hana masuk dengan memohon dan mengatupkan kedua tangannya di dada, mengatakan kalau ia sudah benar benar lapar, hingga Hana pun luluh.
Mobil telah meluncur di jalanan yang siang itu cukup padat. Disepanjang perjalanan, Hana hanya diam, begitu juga Randy konsentrasi mengemudi mobil itu.
"Han, kamu ini gak tau atau pura pura gak tahu sih..?" Hana menoleh mendapat pertanyaan dari Randy yang masih fokus di jalanan.
"Maksudnya apa sih, kak Randy jangan mancing emosi deh! Wajar kalau ketemu teman lama nanya kabar, nanya ini dan itu. Kak Randy tentu pernah kan, ketemu teman lama?"
"Iya, tentu saja. Tapi cuman sama sesama cowok, ke teman cewek gak pernah. Cowok macam dia tuh, indikasinya dia mo ngadalin. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau cowok itu tuh udah jadi bapak bapak." Hana tiba tiba tertawa, menertawakan ucapan Randy. Bagaimana bisa mereka tak saling kenal, dan baru pertama bertemu, namun Randy sudah men judge Salman sudah menjadi bapak, alias sudah menikah.
" Hahaha... kamu sok tahu, kak! Bagaimana bisa kamu mengenali cowok udah nikah apa belum?" masih berderai tawa Hana.
"Maksud aku, aku bisa nebak orang yang masih jejaka atau udah pernah ngerasain hubungan suami istri. Bahkan aku juga bisa nebak, mana gadis yang benar benar masih suci ataupun gadis yang sudah gak perawan!" pernyataan Randy terakhir mampu menghentikan tawa Hana, ia langsung terdiam.
__ADS_1