HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 28


__ADS_3

Acara pernikahan Nia berjalan dengan lancar menggunakan adat Jawa modern. Hana sungguh kagum dengan konsep pernikahan yang menurutnya cukup sempurna.


Dan satu lagi yang membuatnya geleng kepala. Sintya, cucu dari Tante Namira yang baru dikenalnya, menempel kayak perangko padanya seperti adik yang menempel pada kakaknya. Neneknya sih hanya senyum senyum, kadang menyenggol anak lelakinya yang pura pura tak memperhatikan kedekatan antara Hana dan Sintya, gadis yang baru mereka kenal waktu naik kereta.


Ternyata suami Tante Namira adalah teman Ayahnya Nia, dan keduanya sama sama telah tiada. Dan Dimas masih sepupuan dengan pengantin laki laki yang baru saja sah menjadi suami Nia.


"Duh, apa ini yang namanya calon ponakan ya, bakalan punya saingan nih, bang Randy. Hihihi!" bisik Putri menggoda Hana, mereka berdua mengikuti Nia yang masuk ke kamar untuk mengganti kostum pengantin. Dan Sintya seperti tak mau berpisah, menggenggam ujung lengan baju Hana. Tetiba Putri mengaduh, dan sebabnya adalah ia kena cubitan kepiting Hana.


"Apaan sih, Lo!" mata Hana melotot tak suka.


"Rasain Lo, weeek!" Hana memeletkan lidah. Namun saat melihat Sintya memperhatikannya dengan mendongak, Hana tersenyum pada gadis kecil itu.


"Sin mau minum, atau makan? Pasti lapar dan haus, iya kan?" Sintya menggeleng.


"Kak Hana cantik sekali. Nanti kalau sudah besar, Sin mau cantik seperti kak Hana!" celoteh Sintya membuat Hana tersenyum malu malu.


"Sintya cantik kok, Dan lucu serta imut banget, nanti kalau udah besar pasti lebih cantik dari kak Hana. Jadi pengen nyubit pipimu deh! hihihi..." Hana menguyel uyel pipi Sintya yang membuatnya tertawa geli, semua tak luput dari perhatian Tante Namira.


"Dim, liat tuh Sintya. Dia udah deket banget sama Hana, padahal juga baru kenal. Kamu juga harus bisa deketin dia, sayang banget loh. Cewek macam Hana itu bisa nyenengin hati Mamah, juga bisa bikin seneng suami dan anak anaknya nanti...!"


Dimas menggeleng dan menatap ibunya tak suka atas perkataannya. "Mah...cukup. Gak usah bahas perempuan itu. Kita baru kenal, yang lama kenal aja bisa berkhianat, apalagi perempuan baru kenal seperti itu." ucapnya menyanggah.


"Hhhh, Dimas Dimas. Sampai kapan kamu seperti itu? Jangan bilang kalau kamu gak suka sama perempuan. Awas saja kalau sampai belok. Bisa Mamah pites kamu jadi kayak kutu. Enak aja, masak sosis makan sosis. Haram, tau!" cerocos Tante Namira. Dimas menggaruk tengkuknya yang terasa kaku karena kebanyakan duduk dan mendengar celotehan Mamahnya.


"Mamah, ya Alloh! Kok punya Mamah seperti ini, sih! Manalah mungkin Dimas berpikiran seperti itu. Hhh...menjijikkan!" keluh Dimas yang lalu memijit keningnya. Berasa pusing dengar celotehan ibunya yang sama sekali gak berdasar.


Dan saat rombongan pengantin pria akan pulang, Sintya masih menggelayut manja menggenggam tangan Hana dan Tante Nami harus membujuknya dengan ekstra keras supaya ia mau pulang. Menjanjikan Sintya pergi ke mall dan mengunjungi taman bermain anak, barulah ia mau lepas dari Hana.


"Bye bye kak Hana...nanti kita ketemu lagi, ya! muuuacch" Sintya melambaikan tangan pada Hana, lalu melakukan kiss bye pada Hana.


"Bye bye juga, Sintya!"

__ADS_1


"Kami duluan ya, Han, Putri!" keduanya mengangguk hormat.


"Silakan, Tante." ucap berbarengan keduanya.


"Ciee cieee! yang sepertinya ditaksir calon mertua buat dijadiin mantunya!" Putri masih saja meledek Hana. Sang pengantin sudah entah kemana bersama suaminya.


"Bisa diem gak!"


"Wuuih, taringnya keluar. Lariiii!" Putri setengah berlari dan tertawa tanpa suara mendekati Bima yang duduk di kursi bawah terop.


Sore harinya mereka berkemas untuk pulang, Bima dengan setia menemani putri dan siap mengantar ke stasiun. Sedangkan Hana, telah memesan ojeg onlen. Dengan berat hati Nia melepas kepergian mereka dengan pesan hati hati dijalan.


"Hhuuh, gak usah pura pura punya wajah sad gitu. Entar kita masih disini dikira gangguin pengantin baru lagi, entar malem kan waktunya belah duren. Ya nggak, Han?" sengaja menyenggol Hana dengan keras sampai Hana mengaduh.


"Gue gak pura pura, dasar sontoloyo lo! Gue bener bener sedih, sama suami gue punya waktu seumur umur. Sedang sama kalian, kita pasti bakalan jarang bisa kumpul kumpul seperti ini, huuuu!" Nia pura pura menangis.


"Will missing you both." bertiga mereka berpelukan, mengabaikan Sony dan Bima yang saling berpandangan.


Di dalam gerbong kereta api.


"Lo tuh, ngapain nyari mereka, gak bakalan kita ketemu lagi sama mereka. Percaya sama gue."


"Tauk ah, gue ngantuk. Mo tiduran!" karena rasa lelah yang mendera, mereka tertidur dan baru bangun setelah hampir sampai di stasiun yang dituju.


Jam enam sore, Hana telah sampai dirumah.


"Alhamdulillah, sampai rumah lagi dengan selamat. Assalamu'alaikum, Bu!" seru Hana dari teras rumah. Tak lama Bu Mira membukakan pintu.


"Alhamdulillah, anak Ibu sudah sampai." Bu Mira menyalami Hana sebelum masuk rumah.


"Iya, Bu. Dapat salam dari Bu Indah. Kangen katanya."

__ADS_1


"Waalaikum salam. Iya. Ibu udah lama banget gak ketemu keluarga mereka. Sayang kemarin gak bisa ikut." Bu Mira mengelus pundak Hana.


" Ya udah sana bersih bersih dulu. Ibu buatin teh hangat buat kamu!"


Setelah bebersih dan melaksanakan shalat Maghrib, melakukan makan malam dan dilanjutkan shalat isya', ia sudah tak bisa membuka mata lagi. Rasanya sudah sepet ingin merem.


Hampir satu jam kemudian Hana membuka mata dan berdehem. Merasa tenggorokannya kering. Tak ada air dikamarnya, dengan langkah gontai dia bangun dan turun bermaksud mengambil air minum.


Jam setengah sembilan malam. Setelah minum Hana memutar leher dan menggerak gerakkan badan, menggeliat, memutar pinggang ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi krek. Barulah terasa lega.


Saat hendak melangkah naik, sayup sayup terdengar suara orang bicara di ruang tamu yang ia kenali suara itu suara ayahnya. Ia mengira Ayah dan ibunya sedang berbincang disana. Merasa penasaran, dia melangkah menuju ruangan itu yang masih menyala lampunya.


"Eh....!" Hana langsung berbalik badan saat tahu siapa yang ada di ruang tamu. Ia merasa malu. Ternyata ada Randy yang sempat menatapnya dalam keadaan muka bantal, tanpa jilbab dengan rambut acak acakan khas bangun tidur.


Dan sialnya karena terburu buru, tubuh Hana menubruk daun pintu yang terbuka.


"Awwwh, isssh!" Hana meringis memegangi dahinya yang terasa sakit.


"Kamu kenapa sih, Nduk? Baru bangun tidur?" tanya Ayah setelah tubuh Hana berada dibalik daun pintu.


"Pake nubruk nubruk pintu lagi." sambung sang ayah lagi, membuat Hana yang sedang merasa malu luar biasa bersungut.


"Tadi kirain Ayah sama ibu disitu, Yah. Jadi Hana nyelonong aja."


"Mau nimbrung sini?"


"Nggak, Yah! Hana tadi baru ambil minum, mau naik lagi. Tidur, masih ngantuk!" ucap Hana dari balik tembok dan langsung ngacir naik ke kamarnya. Membawa serta air minum dalam gelas yang tinggal separuh karena tumpah saat nubruk pintu tadi.


"Skak mat!" terdengar pekik Ayah, rupanya mereka sedang main catur dengan lawan main Randy dan dimenangkan oleh Pak Hadi. Setelah itu Hana tak lagi mendengar suara apapun dari ruang tamu, karena ia sudah masuk kamar dan menutup pintunya.


Hana mengusap usap keningnya yang sakit, hampir satu jam ia berguling ke kanan dan ke kiri tapi tak juga bisa memejamkan mata. Padahal tadi dia ngantuk luar biasa.

__ADS_1


Terdengar suara sepeda motor keluar dari halaman rumahnya. Rupanya Randy baru pulang. Namun sebelumnya ia mendengar bunyi notif pesan di hapenya.


"Masih sakit ya yang kejedot pintu, sini aku usapin." Sebuah pesan yang membuat Hana malu sekaligus kesal.


__ADS_2