
"Bang Randy! " surat undangan berjenis kertas art paper itupun terjatuh di kaki Randy yang terkejut mendapat panggilan. Tak sempat mengambil karena saat menoleh Yuri sedang melihat padanya.
"Iya, ada apa? Ada sesuatu yang kamu butuhkan? Kamu ingin ke toilet? " tanya Randy setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Nggak kok ! Cuman Bang Randy kenapa begadang? Kamu bisa sakit, siang harus kerja, dan malam terkadang aku gangguin tidur kamu. Maaf ya, Bang! " Randy mendekat, mereka duduk bersisian diranjang.
"Udah, jangan minta maaf mulu, bosen aku dengernya!" Randy memperhatikan wajah pucat dan mata cekung serta pipi tirus itu. Rasa di hatinya di dominasi rasa iba akan keadaan wanita yang ia anggap adik namun telah sah menjadi istrinya.
Yuri mengusap kedua bahunya pelan, mengusir hawa dingin. Tubuh kurusnya tak mampu menahan hawa itu hingga tubuhnya bergetar, bibirnya pucat.
"Gak ada yang bisa mewakili rasa sesalku, Bang. Karena aku, kamu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri.
Karena aku...! " Randy memotong ucapan Yuri yang begitu lemah.
"Ssst, sudah. Jangan teruskan. Istirahat lagi, gak baik angin malam buat tubuhmu." Dengan telaten Randy menata bantal agar Yuri bisa merebah dengan nyaman. Lalu menyelimutinya.
"Bang Randy juga tidurlah. Kalau kamu sakit aku tak bisa merawatmu." Randy mengangguk, lalu ikut merebah disamping istrinya.
"Bang, peluk!" Randy yang tengah menatap langit langit kamar menoleh, tersenyum, lalu memeluk dari samping tubuh rapuh itu.
Adik, dia hanya adik yang butuh perlindungan dan kasih sayang. Begitu kata hati Randy.
"Sudah, tidur ya." wajah keduanya begitu dekat. Hingga deru napas Randy menerpa wajah Yuri. Ia lalu sedikit menjauhkan wajahnya, dan menatap pria--nya itu. Pria yang sah secara agama namun belum pernah menyentuhnya secara batiniah. Belum atau mungkin tidak akan pernah.
"Kenapa natap aku seperti itu. Ada yang aneh? "
Yuri tersenyum dan menggeleng pelan.
"Nggak ada."
"Bang, boleh aku cium kamu?" pertanyaan yang spontan membuat Randy berpikir sejenak.
Cup...
Cup...
Cup...
Randy menyentuhkan bibir pada kedua pipi Yuri, dan cukup lama pada keningnya. Lalu menjauhkan wajah.
"Sudah 'kan? Sekarang tidurlah." ucapnya membelai rambut tipis Yuri. Efek dari pengobatan membuat rambut Yuri rontok parah. Yuri menurut, dan memejamkan mata.
Tik..
Tik..
Tik...
Suara denting jarum jam menghiasi kamar.
Cukup lama mata Yuri terpejam, namun tak bisa ia terlelap, sementara pria disampingnya telah terdengar mendengkur halus. Ia elus tangan kokoh yang melingkari pinggangnya.
Yuri merasakan tak nyaman, ia lalu menyingkirkan tangan itu hendak memberi jarak tubuh mereka.
"Hana, kemana kamu. Please jangan pergi! " Randy meracau dengan mata terpejam. Tangan yang tersingkir itu melingkar kembali. Mungkin ia berpikir Yuri adalah Hana. Setelah itu keadaan tenang lagi. Ingin rasanya Yuri menangis, namun air matanya telah kering, ingin menjerit tapi ia tak mampu bersuara. Ingin menghempas, tapi tenaganya tiada.
"Maafkan aku, Bang! Abang pasti tersiksa dengan keadaan ini. "
###
Ting tong...
"Assalamualaikum! " bu Mira tergopoh mau membukakan pintu pada tamu bersuara cempreng yang memencet bel. Masih dengan apron melekat ditubuhnya, wanita paruh baya itu tersenyum lebar.
__ADS_1
"Aduh, Sintya cantik, waalaikum salam. Ayo masuk! " Bu Mira membuka pintu lebar lebar untuk gadis kecil itu.
"Maaf, Bu. Ini tadi Sintya ngerengek terus minta diantar kesini. Jadi Mama menyuruh saya ngantar, gak apa 'kan?" Dengan nada sungkan Dimas menyampaikan maksud kedatangannya dan Sintya.
"Iya, gak papa Nak Dimas, santai aja. Kita seneng kok Sintya disini. Kalau Nak Dimas sibuk, boleh ditinggal, terus nanti dijemput aja. "
"Boleh, Bu?" bu Mira mengangguk. Setelah mengucap terimakasih, menasihati Sintya agar tak mengganggu pekerjaan Bu Mira serta Hana, dan berjanji sorenya akan menjemput, Dimas melajukan mobil meninggalkan keduanya.
"Ayo, masuk!"
"Kangen Nenek! "
"Nenek juga kangen kamu, sini Nenek peluk! " anak itu menjauhkan tubuh saat bu Mira merentangkan tangan.
"Loh, kenapa?" Sintya tetap menggeleng.
"Katanya kangen kok gak mau dipeluk? "
"Gak apa Nek, cium tangan saja." Bu Mira tersenyum, menatap gadis kecil berambut kepang dua yang terlihat imut, dengan bando kupu kupu.
"Mau nyari Kak Hana 'kan? Ada, didapur. Lagi banyak pesenan Kak Hana nya, nih Nenek juga bantuin. " menunjuk apron yang masih melekat terdapat noda tepung.
Sintya sangat senang berbaur dengan keluarga Hana, bercanda ria, terkadang ikut membantu membungkus kue, dan yang paling disukainya adalah saat memberi makan ikan ikan dikolam. Ia begitu heboh melihat ikan yang berlenggok lenggok, berenang kesana kian kemari, berebut pakanannya. Tapi saat Hana menyerok satu ikan dan didekatkan pada Sintya gadis cilik itu melompat karena geli.
"Dasar, wani wani angas ya, kamu." Pak Hadi menertawakan Sintya yang sembunyi di belakangnya, memegang erat sarung yang dikenakannya.
"Hana, ada Salman didepan! " seru Bu Mira muncul untuk memberitahu Hana.
Hana meninggalkan Sintya dikolam bersama Pak Hadi.
"Assalamu'alaikum, Mas. Udah lama? " sapanya saat ke ruang tamu.
"Wa'alaikum salam. Belum kok, masih baru beberapa menit." Hana duduk dihadapan Salman yang tampak keren dengan pakaian casual nya.
" Han, kamu gak lagi sibuk 'kan?" Gelengan Hana disambut senyum cemerlang Salman.
"Namanya juga jomlo, Mas. Nge- date juga sama siapa? Lagian males ah, mending istirahat dirumah. Biar besok badan segar." tolak Hana. Ia memang benar benar sedang malas keluar. Siang tadi Citra dan Putri juga mengajaknya jalan ke pusat perbelanjaan, tapi ia tolak.
"Please lah, Han. Sekali ini aja, mau ya. Kita jalan sekarang, nanti maghribnya di masjid yang kita lewati! " tawar Salman kekeh.
"Maaf Kak. Tapi... "
"Kak Hana, aku berani loh pegang ikannya. " tiba tiba Sintya masuk dan mengalihkan atensi Hana dan Salman. Memotong ucapan Hana.
"Oiya, benarkah. Kok bisa? " Sintya tertawa senang, ia duduk tepat di samping Hana dan memperhatikan Salman, menatapnya tak suka.
"Iya, tadi tuh ikannya diam saja, terus sama Kakek dielus elus gak gerak. Terus aku pengen nyoba pegang, aku elus elus gitu." Sintya antusias bercerita, keduanya abai dengan Salman didepannya, dan terus bicara dengan Sintya. Cowok itu menatap tajam, tak suka kedatangan Sintya yang mengganggu waktunya bersama Hana.
"Mati kali, ikannya."
"Enggak, karena habis itu, ikannya sama Kakek diambil, gerak gerak lagi ikannya, hiii! " Sintya tertawa dengan ekspresi geli, membuat Hana ikutan tertawa juga.
"Dia ini siapa sih, saudara kamu, Han?"
"Eh, dia...mmm " Hana bingung menjawabnya.
"Dia ponakan aku mas, dia anaknya saudara sepupu, iya begitulah." jawaban Hana kurang meyakinkan, hingga Salman menggerutkan kening.
"Oh, anaknya sepupu kamu! " Hana mengangguk.
"Terus, orang tuanya kemana? Kok ada disini sama kamu? " kejar Salman lagi, rautnya terlihat tak suka dengan Sintya.
"Assalamu'alaikum." Hana dan Salman menoleh kearah pintu, disana telah berdiri Dimas bersama seorang cowok.
__ADS_1
"Waalaikum salam. Masuk, Kak! Mau jemput Sintya?" Dimas mengangguk, tapi tatapannya tajam kearah Salman. Tak mau kalah, Salman menatap tak suka pada dua orang yang baru datang itu.
"Om Ozy! " sapa Sintya pada cowok itu. Dengan gaya tengil ia lalu memperkenalkan diri.
"Perkenalkan nama saya Fauzi, tapi gak ada Ikang -nya. Walau muka rada rada mirip sih, bisa panggil saya Ozy." menjabat tangan Salman.
"Salman."
"Hai, saya Hana. "
"Fauzi alias Ozy, tapi gak ada Syahputranya." Hana terkikik sembari menutup mulut mendengarnya, Ozy mencairkan suasana ruang tamu yang cukup tegang.
"Ih, tadi Ikang Fawzi, sekarang Ozy Syaputra." ucap Hana masih tertawa.
"Om Ozy 'kan katanya mirip Ikang Fauzi, kalau mirip 'kan berarti ada yang gak sama 'kan? Kalau aku kata sih, Ikangnya dihilangkan huruf G nya, jadi Ikan Fauzi." Sintya tergelak akan ucapannya sendiri.
"Welehhh, ponakan ini bisanya godain orang tua."
"Iya, maaf ya Kakek! "
"Duh, tadi ikan, sekarang Kakek. Alamaaak! Nasib, kembarannya Ikang ya, ikan." Dimas sama sekali tak terpancing oleh gurauan Fauzi, begitu juga Salman.
"Lah, tadi siapa yang bilang orang tua? " Sintya masih tak mau mengalah.
"Ayo, silakan duduk, Kak Ozy Syaputra, sama Kak Dimas! "
"Gak udah, maaf kita mau langsung pulang aja, ayo Sin! " ajak Dimas melambai pada Sintya, gadis itu menggeleng, merekatkan tubuh pada Hana yang berdiri disampingnya.
"Gak mau...!" ucapnya takut takut.
"Heh, Dimas Hanggara, duduk dulu napa. Jangan sampai aku panggil kamu Dimas Kanjeng ya." Ozy sudah seperti orang yang sudah lama kenal dan sudah akrab saja, tanpa malu memperingatkan Dimas.
" Bodoamat. Mau Lo panggil Dimas Kanjeng, Dimas Hanggara, Dimas Seto apa Dimas Beck, gue gak peduli. "
"Kalau Lo mau duduk, duduk aja. Gue mau pulang ajak Sintya pulang. Ayo Sin! " mereka berdua malah berdebat, di sepanjang tuan rumah.
###
Sintya telah pulang bersama kedua Om nya, setelah Dimas dengan segala cara merayu Sintya. Hana juga ikut berperan, mengiyakan saat Sintya meminta minggu depan Hana main ke rumah mereka. Kini hanya tinggal Hana berdua dengan Salman.
"Please, Han. Mau ya?" Salman mencoba merayu lagi. Untuk acara malam ini yang terputus karena kehadiran Sintya.
Hana kehabisan akal menolak keinginan Salman yang kekeh dan ngeyel merayunya. Hingga ia habis kesabarannya, Hana pun mengatakan, untuk Salman meminta izin pada Ayah dan Ibunya. Jika diizinkan, maka Hana akan menuruti kemauan Salman.
"Udah masuk maghrib 'tuh, yuk kita shalat dulu! " ajak Pak Hadi saat Salman meminta izin.
"Saya lagi ingin shalat dirumah, berjamaah dengan kalian! " pak Hadi menepuk pundak Salman untuk bergantian melakukan wudhu.
Mereka telah berada di kamar yang dikhususkan untuk shalat berjamaah.
"Nah, Nak Salman. Silakan menjadi imam shalat, saya istri saya dan Hana akan jadi makmum shalat kamu! "
Duaarrrrr!
Bisa gak ya...
Bisa gak ya...
Salman jadi imam Shalat berjamaah?
Belum belum Pak Hadi udah menguji cowok yang berusaha mendekati anaknya.
*Padahal belum juga dilamar, gimana nih... Ayah idaman bukan?
__ADS_1
Kunanti koment dan like mu ya,, biar othor semangat nulis lagi*....
"