HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 59


__ADS_3

Lima belas menit dalam kamar mendapat touch up, Hana terlihat gelisah terbukti beberaa kali mrmbuang napas berat. Belum ada clue, siapa yang Ayahnya pilih. Mereka tak ada yang boleh keluar kamar sebelum di jemput. Make up Hana pun sudah terlihat rapi lagi, walau bagian mata terlihat sedikit memerah dan bengkak.


"Cit, menurut Lo, siapa yang dipilih Pak Hadi jadi menantunya? Ih, meresahkan tuh si Ayah. Pakai kita gak boleh sampai akad selesai lagi." yang ditanya mengedikkan bahu.


"Mana gue tau, Gue bukan cenayang, ya!" jawabnya, menatap Hana.


"Tapi tadi si Ayah muji muji Randy. Apa apa mungkin Ayah Hana milih dia?"


Hana tak bersuara, hanya menyimak obrolan temannya. Bu Mira sedari tadi pun diam.


"Eh, Lo kan ada si Bima. Be go ah, cepet chat dia siapa suaminya Hana! " Putri mendelik dikatain be go sama Citra, walau selanjutnya dia menuruti kata Citra.


Ting.... pesan langsung dibaca, lalu terbalas.


"Omegat!" Putri menutup mulutnya dengan tangan, terlihat kaget.


Citra merangsek, kepalanya menempel di bahu Putri demi melihat isi chat Bima. Tapi yang dilihatnya sebuah foto. Sama halnya Putri, Ia melotot sambil menganga mulutnya. Hana menatap keduanya, dia yang sebenarnya paling penasaran.


"Siapa?" tanya Hana tanpa suara. Citra dan Putri saling memandang tersenyum simpul. Lalu menggeleng bersamaan. Dan menyembunyikan ponsel di belakang punggung. Memandang Hana dengan wajah prihatin. Gadis itu tak bertanya lagi.


"Nduk, siapapun pilihan Ayahmu, Ibu harap semoga kamu bahagia ya! "


"Aamiin, Bu."


"Nah ini mbak Hana udah cantik maksimal. Auranya keluar gitu. Dan sebentar lagi pasti dipanggil keluar. " ucap sang perias membenahi kerudung dan tiara yang dikenakan Hana.


"Makasih, mbak." ucap Hana tersenyum, menutupi hati yang dag dig dug.


*Kalau Ayah milih Dimas gimana, apa benar lelaki kutub itu jodohku? Pastinya nanti gue ngomel ngomel kayak kereta dia cuman bilang satu kata, hmmm, iya, nggak! Ya ampun. Kalau punya suami kayak gitu ngapain cape cape belajar kosakata bahasa Indonesia, dan dia cuman punya beberapa kosakata aja.


Kalau Ayah milih Kak Randy, itu artinya aku dipoligami, jadi second wife. Lebih mengerikan lagi. Gak pernah kebayang dalam hidup gue, jadi istri kedua*.


Tok tok tok!


Bunyi pintu diketuk dari luar membuyarkan lamunan Hana.


"Nduk, kamu dijemput suamimu. Bukakan pintunya! " itu suara sang Ayah.


Deg deg deg. Jantung Hana bergetar, lututnya terasa lemas.


Suami?


Siapa?


Gimana ini?

__ADS_1


Jadi, acara ijab kabul sudah selesai?


Ironi sekali, Hana belum tahu siapa suaminya. Bu Mira bergegas membukakan pintu kamar lebar lebar, saat Hana berdiri dari duduknya. Dan saat tahu siapa yang berdiri bersisian dengan sang Ayah, ia berdiri mematung.


"Ayo, hampiri suami kamu!" ucap Bu Mira. Senyum tipis tersungging dari bibir pengantin pria. Saat melangkah kaki Hana serasa tak menapak di lantai, kedua netra tak lepas dari pria yang kini menjadi suaminya. Begitupun sebaliknya.


Kak Randy, benarkah dia sekarang suamiku? Ayah lebih memilih dia?


Mereka telah berdiri berhadapan, Randy menengadahkan tangan, berdoa dalam hati, doa sebagai pengantin baru, lalu mengecup kening Hana cukup lama. Randy begitu menghayati peran barunya.


"Kita sah suami istri sekarang, Dek Hana." bulu kuduk Hana meremang, mendengar bisikan itu. Ia lalu menyalami Randy dan mengecup punggung tangan itu.


"Nanti ayah bisa jelaskan alasannya, kenapa Ayah lebih memilih Nak Randy. Tapi gak sekarang. Sekarang kita ke depan dulu! " bisik Ayah Hana di telinga putrinya.


Bidikan kamera profesional beberapa kali mengabadikan momen sakral mereka, Pun lantunan shalawat tak putus putusnya, mengharap ridha Ilahi melalui syafaat Nabi Muhammad yang terus didengungkan, saat sepasang pengantin digiring menuju pelaminan.


"Lebih serasi sama yang ini, lebih ganteng dan Hana juga cantik." cetus seorang ibu tetangga Hana yang merekam melalui ponselnya.


" Hah, yang tadi juga ganteng, sayang kelakuannya minus. Ya Alloh beruntungnya pak Hadi, ada serepan mantu, hihihi...! " canda ibu satunya lagi.


"Hussh, emang ban, pake serepan." hardik ibu satunya lagi. Hana menunduk. Baik atau buruk perilaku kita di lingkungan sekitar, pastilah ada pro dan kontra. Terkadang disaat kita mendapat musibah, ada yang merasa belas kasih dan iba, membantu sebisanya. Ada juga yang nyokorne, merasa senang dan mencibir.


Bagitupun saat kita beruntung, ada yang merasa iri, ada juga yang merasa ikut senang atas keberuntungan kita. Dan hari ini Hana mendapatkan dua duanya, buntung dan beruntung.


Malam harinya acara telah selesai. Hana pamit ke kamar untuk membersihkan badan, sedang Randy masih ditahan oleh Ayah, ingin bicara sesuatu hal katanya, entah apa yang mereka bicarakan. Para tetangga yang rewang telah banyak yang pulang, sedang kru dekorasi dan kru katering sedang menunaikan tugasnya. Selesai mandi dan keramas, ia telah mengenakan baju tidur model baby doll lengan panjang, dan celana panjang.


Sesaat ia menahan napas, celingukan barangkali Randy telah masuk ke kamar, namun saat tak melihat sesosok manusia yang baru bergelar suami beberapa jam lalu, dia merasa lega.


"Assalamu'alaikum. " sapa suara bariton sambil memutar knop pintu. Hana yang sedang membuka ponsel hampir menjerit tertahan dengan jantung yang berirama dengan cepat. Kini Randy berdiri menatapnya, tersenyum manis setelah menutup dan mengunci pintu.


Hana yang sedang duduk ditepi ranjang menahan napasnya, detak jantungnya tak karuan, saat Randy mendekat.


"Assalamu'alaikum, istriku! Kok gak dijawab?" Randy tersenyum menggoda.


"Eh, iya. Waalaikum salam. " gugup perasaan Hana saat menjawab.


"Istriku udah mandi, harum lagi. bikin pengen cepet cepet...! "


"Eh, Kak, boleh sa saya bicara? " Hana segera menukas, dengan suara bergetar.


"Tentu boleh. Mau bicara apa? Boleh kita bicara sambil duduk?" Hana mengangguk dalam kecanggungan.


"Kak, maaf sebelumnya. Aku tahu, aku istri sah kak Randy sekarang. Kakak berhak atas diri saya. Dan saya juga tahu, Malaikat melaknat seorang istri yang menolak suaminya." Randy terdiam, berusaha mencerna apa maksud dari perkataan sangat istri yang bicara to the point.


"Maka dari itu, saya mohon dengan sangat. Beri saya waktu, untuk menerima semua keadaan ini." tangan Hana sudah tak tenang, memilin milin ujung bajunya. Tentu bukan hal yang mudah, melewati hari ini bagi Hana.

__ADS_1


Kenapa dengan mulutku ini, gimana kalau kak Randy marah. Hana.


"Maksud kamu bagaimana, Dek?" bukannya tak faham, hanya Randy ingin Hana mengatakan dengan jelas. Senyum diwajahnya telah memudar.


"Mmm, maksud saya tuh, sa-saya...! "


"Saya... belum siap untuk malam ini. Saya... " kalimat Hana menggantung lagi. Ia tak sanggup meneruskannya.


"Iya, iya. Aku tahu apa maksudmu. Kamu belum siap untuk kita menyatukan diri sebagai suami istri, itu 'kan maksud kamu?" Hana tak menggeleng, namun tak juga mengangguk.


"Oh, atau mungkin kamu berharap Dimas yang Ayah kamu pilih? Kalau begitu tadi, kenapa kamu menyerahkan keputusan ditangan Ayah, kenapa gak kamu sendiri yang bilang kamu milih si Dimas?" Hana mendongak, tak menyangka Randy salah paham atas kata katanya. Walau Randy bicara dengan nada sehalus mungkin, terdengar nada getir di suara itu. Ia menatap suaminya itu dengan berkaca kaca.


"Sebenarnya tadi, akupun tak berharap lebih. Aku tahu diri, Hana. Aku merasa kesempatanku satu dibanding seribu, setipis kulit ari. Karena aku pernah menyakiti kamu, aku terkejut saat Yuri memohon untuk aku menjadi pengantin pengganti, pun Ayahmu yang lebih memilih aku untuk jadi Imam kamu, belahan jiwamu, anak semata wayang yang sangat dicintainya daripada Dimas, yang notabene pria lajang dan jelas bibit, bobot, dan bebetnya."


" Aku hanyalah anak Panti yang tak jelas siapa orang tua kandungku. Jika kata Bunda aku ditemukannya diteras rumah, itu sama artinya wanita yang melahirkanku dan juga pria yang menanam benihnya di perut ibu tak menginginkan kehadiranku di dunia. Ya, aku sama sekali tak diharapkan, bahkan oleh Ayah Ibuku sendiri." Randy nyerocos tak berhenti. Wajahnya sendu.


"Bu- bukan itu maksudku, Kak! "


"Saya meminta sedikit waktu, Kak. A aku masih shock dengan kejadian hari ini. Menguras tenaga dan pikiran. Kok jadi melebar kemana mana?" keluh Hana sambil cemberut.


"Iya, memang kenyataannya seperti itu, Kan?" ucap Randy, getir. Namun sejurus kemudian Randy tersenyum.


"Aku serasa mimpi, saat mengucap Kabul atas nama kamu. Tapi itulah kenyataannya, Ayahmu memilih aku. Dan kamu, harus terima konsekuensinya."


"Iya, aku bisa menerima semua ini. tapi aku butuh waktu. Itu saja."


" Baiklah, aku bisa terima kemauanmu, memang ini semua terlalu mengejutkan. dan gak pernah disangka sangka. Tapi jangan lama lama buat buka hati kamu lagi." Hana mengangguk.


"InsyaAllah, Kak." Lama keduanya terdiam, malam telah semakin larut. Hingga rasa kantuk pun menyapa.


"Mmm, Dek. Tapi boleh 'kan aku tidur di kamar ini? Di sofa itu juga boleh! " tawarnya. Hana seperti berpikir, kemudian berkata yang membawa angin segar bagi Randy.


"Saya akan berdosa membiarkan kak Randy tidur di sofa. Aku juga akan berdosa kalau aku meninggalkan tempat tidur dimana suamiku berada. Jadi, kita sama sama tidur disini, tapi bantal sama guling ini ditengah. Dan jangan coba coba melangkahinya. Awas aja. Aku bakalan ngambek, kalau kak Randy berani melanggar." ancam Hana dengan mimik muka yang menurut Randy terlihat lucu, hingga ia mengu lum senyum.


"Baiklah, aku terima, aku janji gak akan melanggar kode etik malam pertama kita. Deal?" Randy mengulurkan tangan, menyalami Hana yang ragu menerima uluran tangannya.


"Deal! " Hana menarik tangannya, tapi genggamam tangan Randy terlalu kuat.


"Lepas, Kak! "


"Ci um dulu, dong! " menunjukkan punggung tangannya untuk dicium Hana. Dengan cemberut Hana mencium punggung tangan Randy. Setidaknya Randy merasa lega karena tak harus tidur di sofa. Istrinya masih berbaik hati ia boleh tidur diranjangnya.


Nasib kamu malang betul tuh Ran. Punya dua istri, tapi masih tetap perjaka tingting.


Maaf maaf banget untuk reader yang selalu setia komen. Makasiiih banget. Tapi author gak pernah bales. Hehehe. Tapi semua author baca kok. Maaf yaaaa!!!

__ADS_1


__ADS_2