
Pak Hadi tergopoh gopoh mendekati istrinya yang bersimpuh diatas sajadah. Suara isak tangisnya terdengar memilukan dari tempatnya duduk di ruang tengah. Membuat lelaki paruh baya dengan satu anak itu kebingungan setelah dekat dengannya.
"Bu, bu, eling bu!" menepuk nepuk pelan pipi istrinya.
"Ibu kenapa tiba tiba nangis? Bu...! " pak Hadi panik, ia memindai karena mengira istrinya merasakan sakit disalah satu anggota tubuhnya.
"Kenapa to Ibu, apanya yang sakit? Jangan buat Ayah bingung. Katakan, mana yang sakit, Bu? " Lelaki itu membantu istrinya bangun. Wajah yang nampak sedikit keriput namun masih terlihat gurat kecantikan diwajah itu telah bersimbah air mata. Wanita itu mengelapi ingus dan air mata dengan ujung mukena. Mereka kini duduk di lantai tempat shalat berhadapan.
"Aduh, ibu kalau sakit jadi jorok begini. Yaudah gak papa nanti biar ayah yang nyuci, sekarang katakan sama Ayah, apanya yang sakit hingga Ibu nangis kayak gini, sakit perut, sakit pinggang, sakit kepala, pusing, asamuratnya kambuh atau...! "
"Hati ibu yang sakit, Yah. Hikks hikks...! " potong Ibu karena suaminya nyerocos tak berenti.
"Hah, Ibu sakit hati. Maksudnya sakit liver gitu, apa hepatitis? Kok bisa bu, kok gak bilang Ayah kalau ibu kerumah sakit buat check up, terus ketahuan sakitnya ibu? " pak Hadi tambah nyerocos dengan pertanyaan yang bercokol di kepalanya, masih bingung dan sedikit shock hingga mulutnya sedikit mangap memperhatikan sang istri yang nampak tak menunjukkan gejala sakitnya.
Wanita yang sudah seperempat abad menemani hidupnya dalam suka dan duka itu menggeleng sembari mengelap ingusnya lagi. Apa mau dikata, bu Mira memang seperti itu jika sedih, dan sebagai suami pak Hadi dengan sabar mengambilkan sekotak tisu yang tinggal separuh. Mengangsurkannya, bu Mira menyahutnya cepat dan melesit hingga ingus terbuang ke tisu.
"Bukannya sakit liver, tapi sakit hati Yah, sakit hati. Kesel, sedih, susah atau yang sejenisnya gitu, bukannya kena hepatitis. Sakitnya tuh disini, Yah! " bu Mira menunjuk dadanya, masih terisak dan melesit lagi.
"Adohh, Ibu. udah kayak judul lagu aja. Kirain apa. Bikin panik ayah aja."
"Ayah ini ah, ini juga gara gara Ayah! " pak Hadi yang semula terlihat lega dengan penuturan istrinya kembali kaget dengan kalimat sang istri yang terdengar menyalahkannya.
"Loh, kok gara gara Ayah? Apa yang Ayah buat, Bu. Coba katakan salahnya Ayah dimana? Ayah udah ngasih semua gaji Ayah, jiwa raga Ayah. Semua yang Ayah miliki, gak Ayah sembunyikan sendiri, gak Ayah nikmatin sendiri..."
"Stop! Ayah kalau nyerocos kayak perempuan lagi PMS." bu Mira telah bisa menguasai tangisnya, namun masih terisak.
"Terus? "
"Hana, Yah."
"Hana kenapa? Bicara yang jelas, kenapa dengan anak kita hemm?" dengan rasa sabar yang pak Hadi miliki, ia meladeni keluh kesah sang istri.
" Ibu tuh gak tega sama dia, Ibu yakin Hana ngerasain kecewa hatinya dimadu. Anak kita itu anak yang memendam rasa kecewanya sendiri. Tapi Ibu tahu, Hana kecewa, sakit hati, susah, sedih!" bu Mira terisak lagi setelah meluahkan isi hatinya. Tadi, dia dengan jelas melihat raut sedih Hana, saat Randy pamit mengunjungi Yuri tadi pagi.
__ADS_1
"Kok ibu menarik kesimpulan seperti itu, emang Hana kenapa? Bilang apa? Hana loh gak protes, dia menerima dengan lapang hati. Ayah liat dia juga baik baik saja."
" Kita tak boleh terlalu ikut campur urusannya sekarang. Jangan menghakimi dia tak bahagia dengan suaminya yang masih hitungan hari. Dia udah ada sigaraning nyawa, yaitu suaminya, yang kalau dia punya masalah larinya pasti ke suami, bukan ke kita lagi. Dia gak cerita sesuatu kan, sama Ibu? "
"Aku itu seorang ibu, Yah. Aku yang mengandung Hana, dia yang lahir dari rahimku. Aku meyusuinya sampai tiga tahun, menyuapinya dengan tanganku, membesarkan nya dengan kasih dan sayangku. Walau dia gak cerita apapun aku tahu apa yang dirasanya. Dia tertekan Yah! Dia sedih, tidakkah Ayah tahu paling tidak batin Ayah yang merasakan kesedihan anak kita satu satunya? " bu Mira sedikit menahan emosi, tentang anak mereka berdua sering silang pendapat.
"Nah ini Ibu udah ngambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya. Ibu terlalu mengedepankan perasaan. Kalau kata Ayah, Hana hanya belum terbiasa. Sebagai suami istri yang baru, mereka masih perlu beradaptasi. Masih berusaha mengenal pribadi masing masing. Yakini itu. "
"Ingat gak, ibu dulu waktu pengantin baru kalau ngambek suka purik, minta pulang ke rumah Emak. Itu karena sama halnya Hana saat ini, belum terbiasa dengan sifat masing masing. Sebelum ada Hana, Ibu bahkan pernah seminggu gak mau pulang ke rumah, gara gara Ayah lupa ibu minta mi lidi pedas. Ayah belikan esok harinya, Ibu udah gak mau lagi katanya, ngambek, terus pulang ke rumah Emak. Terus lagi waktu Ayah gak nurutin kemauan Ibu biar gak makan jengkol ibu marah lagi, mau pur..." Ibu mendorong bahu pak Hadi yang mengorek masa lalu mereka.
"Stop! Itu udah lama, kenapa masih diingat ingat. Ayah tuh ya, ingatnya sama jelek jeleknya Ibu aja. Lagian waktu itu Ibu hamil muda, Ayah aja yang gak peka istrinya ngidam. Lagian, kok jadi ngomongin Ibu, tadi kita bahas Hana!" raut bu Mira berubah masam, masa lalu buruknya masih diungkit sang suami.
"Yaudah Bu, semua sudah terjadi. Kalau gak mau jeleknya diungkit, ya jangan ngomongin jelek atau kekurangannya orang. Apalagi yang diomongin mantu sendiri. Ayah juga bukan main main waktu memutuskan memilih Randy jadi pengganti Salman."
"Dia sudah berkorban untuk anak kita, hampir kehilangan nyawa andai tak segera mendapat pertolongan. Andai Ibu dulu tahu dan melihat gimana tegangnya waktu di rumah sakit saat Nak Randy kena tikam pisau. Ayah yakin Ibu setuju dengan alasan yang Ayah buat."
"Biarkan ini menjadi ladang pahala buat anak kita, yang ikhlas hati menerima takdirnya. Ibu harusnya menyemangati, seperti dia yang merasa ridha dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala padanya. Ini takdirnya."
"Sebagai Ibu harusnya Ibu berdoa yang baik baik. Diluar sana banyak wanita dipoligami dan ikhlas, semoga anak kita salah satunya. Yang penting suaminya adil, anak kita legowo. Itu menjadi nilai plus bagi dia, Bu." pak Hadi mengakhiri wejangan nya.
"Lalu gimana kalau perempuan itu sembuh, gimana nasib anak kita Yah. Aku gak bisa bayanginnya. Menjadi yang kedua itu pastinya sakit, sakit sekali. Aku bisa rasakan itu, Yah! " bu Mira menerawang, dia benar benar belum rela dengan keadaan Hana.
"Kalau gitu, apa ibu mau ngelakuinnya. Biar gak cuma di bayangin aja, Bu. Dirasain sekalian! " Bu Mira melotot.
"Maksudnya gimana?"
"Cariin Ayah perempuan yang mau jadi istri kedua. Janda dua anak juga gak papa! "
"Ayahhhh! Awas ya! " pak Hadi menahan senyumnya melihat netra istrinya membulat sempurna, serasa mau keluar dari tempatnya.
@@@
Sementara didalam kamar atas, Hana memeluk guling yang biasa menemaninya tidur saat masih sendiri. Randy benar benar tak pulang malam ini, dan dua malam berikutnya. Bahkan seharian ini sama sekali tak ada notifikasi pesan darinya.
__ADS_1
Dia yang dulu terbiasa tidur sendiri, saat ini malah sebaliknya, lebih nyaman tidur di dekapan suami. Dan disaat tak ada suami, ia hanya bisa gigit jari dan mendekap erat guling dengan sarung warna biru itu, walau mata masih sulit untuk terpejam.
Beginikah perasaan Yuri saat kak Randy bersamaku. Atau bahkan malah jauh lebih sakit, karena dia memang sedang sakit.
Apa benar dia rela, aku saja yang sehat merasa tak rela kak Randy bersamanya. Bagaimana dengan dia yang sakit? Apa aku tak salah bila aku belum bisa menemuinya sampai saat ini?
Hana dalam dilema. Batinnya sedang berperang, satu sisi ia ingin mengunjungi dan melihat keadaan Yuri dengan mata kepala sendiri. Bagaimanapun wanita itu telah menyelamatkannya dan keluarga dari rasa malu gagal menikah.
*Action, Hana. Action. Jangan cuma dipikirin aja, semua bakal jadi bebanmu. Dia rela berbagi, kenapa kamu tidak?
Tapi, dia kan memang sakit, tak bisa memenuhi kewajiban sebagai istri. Terus kalau ada yang bilang kamu itu pelakor gimana? Kata sisi hati lainnya.
"Astaghfirullahalazim, aku gak boleh begini. Aku gak boleh egois." ucapnya bermonolog. Lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya, hingga tiga kali. Diapun tertidur lelap.
Dengan langkah ragu, keesokan harinya Hana pergi tanpa mengabari Randy. Ke rumahsakit tempat dimana Yuri dirawat. Didepan ruangan ia ingin mencoba mengintip dari celah kaca. Di bed pasien sedang tertidur, disamping bed terdapat sofa tunggal dimana ada seorang pria memejamkan mata duduk sambil bersidekap.
Ah, aku pikir dia ke kafe. Tak tahunya disini. Gimana ya, apa aku terus masuk, kak Randy kan gak ngebolehin aku pergi sendiri. Terus kalau dia marah gimana?
Masih menimbang nimbang untuk masuk atau tidak, Hana dikejutksn dengan suara deheman. Hana sampai terjingkat.
"Ngapain didepan pintu? " tanya wanita itu ketus, dengan sorot mata tajam dan terkesan tak suka.
"Eh, Bunda Fitri. Bikin kaget aja. Assalamu'alaikum, Bund! " Hana mengulurkan tangan. Butuh waktu beberapa saat untuk Fitri menyambut uluran tangan Hana.
"Waalaikum salam. Mau ketemu suami ya, karena dia nggak pulang? " nada bertanya Fitri membuat Hana menarik napas. Ini yang dia takutkan. Tak disukai oleh orang yang mencintai Yuri, dan menganggapnya orang ketiga.
"Mmm, bukan. Aku mau jenguk... "
"Dek!" tiba tiba Randy telah berdiri didepan mereka.
"Mm, kak. Assalamu'alaikum, aku mau jenguk Yuri, boleh?" Hana menunjukkan buah tangan yang dibawanya dari rumah. Randy menatap bunda Fitri dan Istrinya bergantian.
"Waalaikum salam. Tentu boleh Dek, Yuk, masuk! Kamu sama siapa?"
__ADS_1