HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 24


__ADS_3

Sementara di saat Hana kedatangan tamu tak diundangnya, Randy dengan sedikit tergesa pergi menuju panti tempat ia dibesarkan. Ia tak sempat pulang ke rumahnya untuk sekedar mandi dan ganti baju, terlalu penasaran karena Bunda Hilma meneleponnya sembari terisak.


Tak butuh waktu lama Randy memarkirkan sepeda motornya di halaman panti dan segera menuju ruangannya Bunda Hilma.


"Assalamu'alaikum Bund!" sapanya sembari mengetuk pintu pelan. Sebelumnya ia berdiri agak lama didepan pintu ruangan, tak terdengar suara apapun hingga ia memutuskan untuk mengetuk pintu itu. Tak ada sahutan. Sekali lagi ia mengetuk dan mengucap salam, lebih keras lagi.


"Bang Randy!" sapa seorang anak laki laki yang memakai sarung dan baju Koko. Sepertinya setelah shalat Maghrib anak itu langsung mengaji.


"Baru mengaji, Doel?" anak itu mendekat sembari tersenyum, lalu menjabat tangan Randy dan mencium punggung tangannya.


"Iya, Bang. Mau jadi anak Sholeh. Biar Ibu sama Ayah Doel yang sudah di surga bangga sama Doel!" Randy menanggapi dengan mengacungkan dua jempolnya.


"Aamiin. Anak pinter. Adik siapa dulu, dong!" mereka tertawa bersama dan ber toast, mengadu ujung kepalan tangan. Mereka kudu di bombong, biar lebih semangat dan giat lagi belajar ilmu agama maupun ilmu umum serta belajar apapun asal bermanfaat bagi mereka semua dan juga lingkungannya. Agar di kemudian hari mereka menjadi anak yang berguna.


"Oiya, Doel! Bunda dimana? Kok pintu kamarnya diketuk ketuk gak nyahut? Bunda sehat kan?" rentetan pertanyaan Randy membuat Doel melongok kesana kemari. Sepi.


"Kagak tau, Bang! Aku kan baru ngaji sehabis dari mushala tadi. Mmmm, tapi, tadi siang sih sepertinya Bunda baru keluar sama mbak Yuri. Mbak Yuri akhir akhir ini suka pucet mukanya, sakit barangkali, ya!" Randy mendengar penjelasan Doel sembari mengangguk-angguk.


"Oiya, dia juga beberapa kali mimisan, dan sering sakit kepala. Entahlah, kena sakit apa mbak Yuri, Doel ga tahu!"


Apa Bunda Hilma tadi nangis karena Yuri, ya? Emang ada apa sama Yuri? Apa Yuri kena penyakit serius, Jadi penasaran deh?


"Randy!" terdengar suara menyapa, Randy dan Doel menoleh! Orang yang mereka bicarakan berjalan kearah mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, bunda? Pa kabar?" tanya Randy berbasa-basi, setelah mencium tangan.


"Alhamdulillah, bunda sehat. Yuk, kita ke ruangan Bunda. Ada yang ingin bunda omongin sama kamu!" Randy mengangguk dan tanpa banyak kata ia mengikuti ayunan langkah kaki bunda Hilma.


"Hiikss... Ran! Yuri kena leukimia, Ran!" sesampainya di dalam ruangan, bunda langsung bicara to the point, Randy membelalak tak percaya dengan pendengarannya.


"A_apa, Bun! Aku_ aku gak salah dengar?" ditatapnya bunda Hilma yang menyeka air matanya dengan tisu. Bunda hanya mampu menggeleng.


Ia lalu mengeluarkan hasil cek laboratorium dan hasil biopsi sumsum tulang belakang dari dokter onkolog yang telah mereka datangi.


Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun.


ucap Randy melihat hasil tes milik Yuri.


Randy merasa bersimpati dengan apa yang dialami Yuri. Bagaimanapun mereka tumbuh bersama, sejak kecil. tanpa kasih sayang orang orang yang telah menjadikan mereka hadir di muka bumi ini.


Pada siapa ia memanggil Ayah, pada siapa mereka memanggil ibu, pada siapa mereka mengeluh saat sakit, mengeluh saat mereka tak bisa mengerjakan soal soal yang guru mereka berikan, saat masih sekolah.


"Hai Yuri! lagi apa?" Randy dengan diantar bunda Hilma datang ke kamar Yuri. Gadis itu sedang rebahan di kasur kecilnya, sedang membaca buku.


"Bang Randy!" Yuri menoleh dan tersenyum ceria walau tampak sekali wajah pucatnya. Ia merentangkan tangannya bermaksud menyambut Randy dengan pelukan seperti saat mereka kecil. Namun Randy menolak dengan mengangkat tangannya, senyum dibibir Yuri mengerut seketika.


"Maaf Yuri, kita memang tumbuh sama sama, dibesarkan disini. Tapi kita bukan mahram. Ya kali waktu kecil kita sering pelukan, tapi sekarang kita sudah sama sama dewasa. Gak boleh sembarangan pelukan. Kamu tahu kan maksud aku?" Randy memberi penjelasan panjang lebar, sembari mengacak rambut Yuri yang memang sudah berantakan. Yuri tersenyum dipaksakan.

__ADS_1


"Iya, Bang. Aku tahu!" Randy menatap lengan Yuri yang terlihat lebam lebam. Mukanya pucat dan tampak lebih kurus.


"Kamu udah makan malam, Ri?" Yuri mengangguk. " Sudah, bang makan bubur buatan Bunda!"


"Kamu harus makan yang banyak, badan kamu kurus begini." mendapat perhatian dari Randy, Yuri terus mengulas senyum. Hatinya berbunga bunga.


Randy sengaja memutar ke arah kanan, yang seharusnya jika pulang, harusnya kearah kiri. Dan ia memberhentikan sepedanya diseberang jalan, kala melihat empat orang berdiri di teras rumah seseorang yang ingin ia sambangi. Ia merasa kangen walaupun siang tadi ia telah menghabiskan siang dengan lunch berdua di tempat yang ia ingin kunjungi bersama gadis yang ia sukai.


Ia merasa beruntung mengenakan helm fullface, dan sepeda yang ia gunakan bukan sepeda yang biasa ia pakai. Sehingga tak menimbulkan kecurigaan, apalagi ia berhenti agak jauh dari rumah itu.


Bang sadh, bukannya itu lelaki breng sek tadi di kafe! gumam Randy dari balik sepeda yang ia parkir.


Ia pura pura mengutak atik sepeda agar tak ada yang curiga. Ia mengawasi lelaki itu yang pamitan, lelaki itu bergegas ke mobilnya. Ia membunyikan klakson sebelum menginjak pedal gas mobil. Randy mengawasi kearah mana laju mobil itu, ia menuruti feeling-nya membuntuti kearah mana laju mobil, ingin tahu letak rumah lelaki bernama Salman, yang katanya teman sekolah Hana.


Ya, yang Randy lihat adalah Salman yang datang ke rumah Hana semenjak habis Maghrib. Dan sekarang hampir menunjukkan pukul 9 malam.


"Huuh, aku gak respek sama pemuda itu, Bu! Mending Randy, anaknya sopan, tanpa diajak dia kalau waktu shalat ngikut bapak ke masjid. Lah, yang ini jangankan ngikut. Diajak saja dia bilangnya mau shalat dirumah nanti. Rada kagak beres tuh anak." ujar pak Hadi sembari masuk dan menutup pintu rumahnya, Hana yang berjalan duluan melirik kedua orang tuanya membicarakan tamunya yang barusan datang. Laki laki yang pernah mengisi relung hati Hana. Yang kata orang adalah cinta monyet. Dan ada lagi, first love never die! Mungkin itu istilah yang cocok untuknya.


"Ibu juga, gak begitu suka. Belagak anaknya!"


Hana membanting tubuhnya keatas kasur yang empuk. Menerawang, dulu ia bahkan seringkali berdoa yang isi dia tersebut adalah ingin dipertemukan kembali dengan cowok yang bernama Salman. Berulang ulang ia ucapkan doa itu dan hari ini doanya makbul. Tapi, kenapa rasanya hati ini hampa! Tak sesuai ekspektasi. Ucapan ucapannya dan sikapnya menunjukkan kalau dia adalah cowok arogan.


Kenapa jadi begini, dulu aku kepengen banget ketemu mas Salman. Tapi, saat ketemu dia, kenapa yang aku ingat kak Randy?

__ADS_1


__ADS_2