HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 70


__ADS_3

Hana


"Dek! Kamu kesini? " tiba tiba Kak Randy telah berdiri didepanku dan Bunda Fitri yang terlihat tak bersahabat denganku. Ya Allah, ini yang aku sangsi kan kemarin malam sampai aku susah tidur, yaitu sikap Bunda Fitri. Aku akan tidak peduli jika yang bersikap seperti itu adalah orang lain, tapi ini adalah wanita yang membesarkan suamiku.


"Mm, kak. Assalamu'alaikum, aku mau jenguk Yuri, boleh?" Aku berbicara to the point, menunjukkan buah tangan yang kubawa dari rumah dan beberapa macam buah dalam kresek. Kak Randy menatap bunda Fitri dan aku bergantian, seperti ingin memastikan sesuatu sebelum menjawab.


"Waalaikum salam. Tentu boleh Dek, Yuk, masuk! Kamu sama siapa?" Kak Randy menarik tanganku untuk masuk. Diiringi tatapan tajam Bunda Fitri, aku berusaha tersenyum dan mengangguk, berusaha santun pada wanita yang ikut membesarkan suamiku itu. Bunda Fitri ikut masuk, dan berdiri di belakang kami, sepertinya dia memang menjaga jarak denganku.


"Seperti inilah keadaan Yuri, Dek." aku mengangguk. Selang infus tertancap di punggung tangan kiri. Beberapa alat medis yang aku tak tahu fungsinya terhubung ke tubuhnya yang ringkih. Ia memejamkan mata dengan damai. Rasa iba menelusup relung hatiku. Ya Allah, berdosa kah aku padanya.


Hampir setengah jam aku disana, Yuri baru membuka mata. Ia tersenyum saat tahu aku datang. Aku membalas senyumnya, meraih tangannya dan meminta maaf, karena baru datang hari ini.


Dia tersenyum dan menjawab tak apa, dengan nada sangat lirih. Ya Tuhan, bukannya aku jahat, tapi aku merasa usia gadis ini tak akan lama.


Berbeda dengan saat keraguanku di rumah, aku berbincang santai dengannya. Tidak, bahkan aku yang mendominasi percakapan. Kami seperti teman yang lama tak bertemu, kak Randy hanya menimpali sesekali. Terlihat senang dengan keakraban kami. Yuri terlihat begitu menanggapi ucapanku. Terselip doa doa semoga dia cepat pulih. Yuri berkata jika dia ingin sering bersamaku. Dia ingin aku sering mengunjunginya.


Bunda Fitri sama sekali tak mau mendekat, dia duduk disofa agak menjauh. Dan sama sekali tak bersuara. Aku seperti seorang narapidana dalam sebuah pengawasan sipir penjara.


Setelah cukup lama berbincang, aku mendekati bunda Fitri, meminta diri untuk duduk disamping wanita itu. Ia mempersilakan nya, namun saat aku ingin mengakrabkan diri dengannya, baru aku mau membuka mulut wanita itu berdiri tanpa memedulikan ku dan mendekat Yuri di bednya.


Aku melongo dan menelan ludah yang terasa seret, dengan reaksi bunda Fitri. Untungnya suamiku cukup peka, melihat ketidaknyamanan suasana kak Randy pamit keluar mengajakku. Meminta bunda Fitri menungguinya. Saat kami telah mendekati pintu, terdengar gumaman bunda Fitri.


"Kasian sekali kamu, Yuri. Suami kamu lebih mementingkan orang lain saat kamu seperti ini. Semoga kamu kuat!" Aku menoleh dari ambang pintu lalu menutupnya pelan. Hati ini bagai tersayat sembilu. Aku tahu, kata kata itu ditujukan untukku terutama.


"Kak Randy, biar aku pulang sendiri saja. Kasian Yuri harus kamu tinggal, dia lebih membutuhkanmu! " cicitku namun kak Randy malah merengkuh bahuku hingga aku harus menyamai langkahnya yang lebar.


"Gak usah didengerin Bunda Fitri. Dia selalu begitu, aku sudah biasa mendengar ocehannya agak menyakitkan hati. Tapi sebenarnya dia baik kok, aku tahu karena dia terlalu menyayangi Yuri." ucapnya berusaha menetralkan suasana hatiku.


"Tapi, Kak...! " Aku menghentikan langkah yang sudah agak jauh dari ruangan Yuri. Sikap Bunda Fitri terasa begitu menggangguku, menguasai pikiranku. Aku yang suka merasa tak enak hati benar benar tak nyaman.


"Tapi apa, sudah. Ayo aku antar pulang! "


"Ih, kak Randy kok ngeyel sih, Bunda Fitri pasti mikirnya aku ini gak berperasaan. Tinggallah, biar aku pulang sendiri, Bunda akan semakin membenciku kalau begini! " tolak ku lemah setengah mengeluh.


"Ckkk, itu hanya perasaaanmu aja. Dia nggak benci kamu. Mungkin dia hanya kecewa, dengan kebersamaan kita disaat keadaan Yuri seperti ini. Udah aku bilang biarin." dia masih terus saja berusaha menyanggah bahwa bunda fitri tak membenciku. Aku hanya diam.


"Kenapa sih, dia gak ngerti perasaanku. Gak peka banget punya suami!" gerutuku namun hanya dalam hati. Aku melambatkan langkah, tempat parkir motor masih cukup jauh. Kak Randy menoleh.


"Dek! "


"Dek! "


"Sayang! " namun aku hanya diam, aku melengos demi tak ingin saling bersitatap mata dengannya. Dia menjawil dagu, kutepis pelan tangannya.


Apaan sih! ucapku dalam hati.


"Hello! "


"Hai..! " dia berusaha menggodaku, geli rasanya dan ingin tertawa. Tapi aku sekuat tenaga menahannya. Dia menarik bahuku, hingga langkahku tertahan dan kami berdiri berhadapan. Dia mendongakkan wajahku.


"Tatap aku, Dek!" pintanya dengan sorot netra sungguh sungguh. Aku menatapnya sebentar, lalu melengos. Tak tahan menatap netra tajam dengan sorot tegas itu.


"Hmm, harusnya aku sih yang marah, karena istri aku ini gak nurut apa kata suami. Aku bilang apa kemarin, hmmm! Aku bilang kamu kalau keluar rumah ajak teman."


Duh!


" Bandel ya ternyata kamu, mau aku hukum?" melenceng dari permasalahan sebenarnya, dan dia sedang mencari cari kesalahanku. Masih kesal, aku menepis tangannya dari bahu tanpa mengucap sepatah kata. Dia menghembuskan napas berat.


"Apa salahku Tuhan?" aku tetap diam.


"Marah yang menakutkan dari seorang istri adalah jika dia sudah diam saat ditanya." gumamnya pelan, tapi aku masih bisa mendengar.


Aku berjalan lagi menuju parkiran.


"Udah dong ngambeknya, Dek!" merebut paksa kunci kontak sepedaku.


"Ih, siniin. aku mau pulang!" pintaku meraih tangannya yang membawa kunci motorku. Namun kalah gesit, ia menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.


"Aku antar kamu sampai rumah."


"Gak mau! Aku mau pulang sendiri! Tungguin Yuri, turuti kata bunda Fitri!" aku tetap pada pendirian ku, meminta pengertian suamiku.


"Gak ada tawar menawar. Lagian aku gak ngasih opsi buat kamu pulang sendiri. Tuh, mobilku ada disana! " menunjuk mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri disamping motorku. Menggenggam tanganku dan menariknya menuju mobil.


"Aku tetap mau pulang sendiri. Jangan paksa aku. Tetaplah disini tungguin Yuri!" tegasku menarik tanganku, tapi apalah daya genggamannya lebih kuat.


"Dek! " rahang kak Randy mengeras, tanda ia mulai kesal.


"Dengar! dan tatap aku!" suaranya yang tegas membuatku mendongak menatap manik matanya.


"Aku suamimu, Imam kamu, ingat itu. Tolong patuhi aku, Keselamatanmu adalah tanggungjawab ku sekarang. Tolong turuti kata kataku, sekali ini. Masalah sikap Bunda Fitri aku kira hampir sama dengan sikap Ibu Mira terhadapku. Aku berpikir mereka hanya kecewa pada kita, seiring berjalannya waktu, aku yakin sikap Ibu terhadapku, dan sikap bunda Fitri terhadapmu akan berubah lebih baik lagi. Aku bersabar dengan sikap Ibu, dan kuharap kamu juga sabar dengan sikap Bunda, ya? Aku tahu mereka berdua sebenarnya berhati baik. Jangan diambil hati dan aku janji akan bicara dengan Bunda secepatnya. Oke?" ucapnya tegas. Nafasku pun memburu. Kenapa pria yang jadi suamiku ini keras kepala banget sih? ( Hana gak nyadar dia juga keras kepala.)


"Iya, aku ngerti dan minta maaf atas sikap Ibu. Tapi Kak Randy juga ngertiin aku. Jangan buat Bunda Fitri makin tak suka sama aku, tinggallah disini selama ini masih jatah waktu untuk Yuri. Aku gak apa pulang sendiri, sanalah balik ke ruangan. Yuri pasti nungguin Kak Randy! " usirku mendorong bahu pria yang ternyata tak mempan oleh kekuatan tangan kecilku. Padahal aku sudah mengerahkan tenaga.


Malah tubuhku terpaksa bergerak mengikuti langkahnya. Ya, ia menggamit tanganku, melangkah menuju mobilnya.


Dan disinilah sekarang aku, ternyata menikah tidaklah sesimpel yang aku pernah bayangkan sebelum ini. Jika kita tak saling memahami karakter pasangan, yang terjadi adalah perselisihan yang berkepanjangan karena tak ada yang mau mengalah. Mengalah dan memilih diam jika salah satu berkeras hati saat berdebat adalah salah satu solusinya. Jika tidak, yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran karena sesuatu hal yang mungkin masih bisa dibicarakan dengan baik baik dan tanpa emosi.


Menikah, adalah menyatukan dua insan dengan karakter yang berbeda. Apalagi aku dan kak Randy masih tergolong pengantin baru, masih perlu beradaptasi dengan sifat masing masing individu. Dan lagi, kami tak berpacaran dan belum mengenal lama. Hanya perasaan nyaman dan bahagia yang hadir saat aku bersamanya. Sebelum datangnya Yuri ditengah kami, hingga aku membatalkan pernikahan. Tapi takdir Allah untuk kami berkehendak kami tetap bersama, hingga saat aku hampir menikah dengan mas Salman, sesuatu hal yang terjadi dan berakhir aku menikah dengan kak Randy.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk! " aku yang masih berusaha menguasai rasa jengkel ku mengikuti langkahnya. Astaghfirullahalazim. Ampuni hambaMu yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk kak Randy. Ego kami masih cukup tinggi untuk saling mengalah satu sama lain.


Kak Randy mengajakku duduk berhadapan di sebuah kafe saat senja ini. Entah berapa lama kami berkendara, karena aku tertidur cukup lama dalam mobil. Saat bangun, suasana hatiku belum juga membaik. Walau aku telah berwudhu dan melaksanakan shalat ashar. Dari tempat masjid itu terdapat alamat yang aku baru tahu, kami telah berada cukup jauh diluar kota. Oleh sebab itu suasana hatiku yang sempat membaik, menjadi badmood lagi.


Demi menghindari tatapan kak Randy yang mengu lum senyum sembari menatapku lembut, aku mengedarkan pandangan. Aku takjub dengan kafe yang bernuansa alam, ternyata view kafe ini cukup indah. Dengan lampu warna warni menghiasi antar pohon pohon disekitar. Didepanku terdapat panggung kecil, dengan siaran live yang tengah melakukan tes audio dan alat musik.


Apa kak Randy sengaja mengajakku kesini, atau cuma tak sengaja lewat dan mampir? Sepertinya sengaja deh, buat apa jauh jauh kesini coba?


Aku masih gengsi untuk bertanya pada kak Randy yang dari ekor mata masih menatapku. Iih, kenapa aku jadi melting ginih.


Terdengar musik pembuka, vokal penyanyi pria yang cukup merdu mengalun membuatku menatap panggung.


If I had to live my life without you near me


Jika aku harus menjalani hidupku tanpamu di dekatku


The days would all be empty


Hari-hari semua akan kosong


The nights would seem so long


Malam akan terasa begitu lama


"Hei, jangan menatap kesana! Ini yang halal dipandang ada didepanmu! " suara kak Randy membuatku berhenti menatap sang vokalis. Lalu menatapnya sekilas. Ayam geprek mozzarela didepanku lebih menarik dipandang dan menggoda lidah untuk disantap.


With you I see forever, oh, so clearly


Denganmu aku melihat selamanya, oh, sangat jelas


I might have been in love before


Aku mungkin pernah jatuh cinta sebelumnya


But it never felt this strong


Tapi tidak pernah terasa sekuat ini


Mimpi kita masih muda dan kita berdua tahu


Our dreams are young and we both know


Mereka akan membawa kita kemana kita ingin pergi


They'll take us where we want to go


Pegang aku sekarang, sentuh aku sekarang


Hold me now, touch me now


Aku tidak ingin hidup tanpamu


I don't want to live without you


Nothing's gonna change my love for you


Anda harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu


You oughta know by now how much I love you


Satu hal yang bisa kamu yakini


One thing you can be sure of


Aku tidak akan pernah meminta lebih dari cintamu


I'll never ask for more than your love


Nothing's gonna change my love for you


Anda harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu


You oughta know by now how much I love you


Dunia mungkin mengubah seluruh hidupku melalui


The world may change my whole life through


Tapi tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu


But nothing's gonna change my love for you


Jika jalan di depan tidak begitu mudah


If the road ahead is not so easy


Cinta kita akan memimpin jalan bagi kita


Our love will lead the way for us

__ADS_1


Seperti bintang pemandu


Like a guiding star


Aku akan ada untukmu jika kamu membutuhkanku


I'll be there for you if you should need me


Anda tidak perlu mengubah apa pun


You don't have to change a thing


Aku mencintaimu apa adanya


I love you just the way you are


Jadi ikut saya dan bagikan pemandangannya


So come with me and share the view


Saya akan membantu Anda melihat selamanya juga


I'll help you see forever too


Pegang aku sekarang, sentuh aku sekarang


Hold me now, touch me now


Aku tidak ingin hidup tanpamu


I don't want to live without you


Nothing's gonna change my love for you


Anda harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu


You oughta know by now how much I love you


Satu hal yang bisa kamu yakini


One thing you can be sure of


Aku tidak akan pernah meminta lebih dari cintamu


I'll never ask for more than your love


Nothing's gonna change my love for you


Anda harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu


You oughta know by now how much I love you


Dunia mungkin mengubah seluruh hidupku melalui


The world may change my whole life through


Tapi tidak ada yang akan mengubah cintaku padamu


But nothing's gonna change my love for you


Nothing's gonna change my love for you


Anda harus tahu sekarang betapa aku mencintaimu


You oughta know by now how much I love you


Satu hal yang bisa kamu yakini


One thing you can be sure of


Aku tidak akan pernah meminta lebih dari cintamu


I'll never ask for more than your love


* Nothing's Gonna Change My Love For You


By George Benson. *


Tepuk tangan menggema dari para pengunjung kafe, begitu juga diriku ikut larut dalam romantisme lagu tersebut. Kak Randy yang posesif beralih duduk disampingku. Tangan kirinya memeluk pundak, sedang tangan kanan ia gunakan untuk bertopang dagu sembari menatapku, sesekali meraih gelas dan menyeruput minumannya. Setelahnya kembali bertopang dagu dengan muka mengarah padaku. Seolah tak terpengaruh oleh suara sang penyanyi yang merdu di panggung. Lucu sih sebenarnya dia!


Ia mendengkus ketika aku masih juga tak menganggapnya. Aku masih kesal karena kak Randy bukannya nurut, mengantarku sampai rumah lalu kembali mendampingi Yuri, malah membawaku jauh keluar kota.


"Dek, aku ke toilet dulu ya!" pamitnya lalu berdiri. Aku cuma mengangguk. Peluh mengalir dari dahiku merasakan sensasi pedas dan gurih dari ayam geprek yang kumakan.


Kak Randy telah pergi, aku mengelap peluh dengan tisu sembari melirik ayam geprek sambal matah milik kak Randy. Masih utuh, hanya jus jeruk yang masih tersisa setengah. Ya Allah, apakah aku keterlaluan? Bukannya kak Randy tadi mengeluh lapar?


Aku meneguk lemon tea milikku hingga tersisa separuh, sedikit mendesis karena rasa pedas masih menyisa. Lagu kedua sang penyanyi telah usai. Aku masih termangu dengan kelakuanku sedari keluar rumah sakit tadi.


"Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. " terdengar suara salam dari mikrofon. Eh, sepertinya aku kenal suara itu!

__ADS_1


__ADS_2