HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 38


__ADS_3

“Cepat sembuh ya, adik manisku!” Ucap Randy mengelus puncak kepala Yuri sembari berusaha tersenyum manis. Namun Yuri melengos, matanya terlihat berkilat. Setelahnya bahu lemah itu sedikit berguncang.


Randy menahan nafas, dan salah tingkah sendiri. Merasa di posisi serba salah. Ia menoleh pada bunda Hilma yang menatap interaksi mereka. Bunda Hilma terlihat menggeleng samar, lalu mendekati ranjang.


“Sayang, tidurlah lagi. Kamu harus banyak istirahat, biar kamu cepat pulih.” Yuri tak merespon. Pun tak menoleh sama sekali.


Beberapa saat dalam keheningan di ruangan itu, sama sekali tak ada yang bersuara.


“Bunda, pusing..!” terdengar Yuri bersuara lemah. Saat wajah pucat dengan mata cekung itu menolehkan wajah pelan sekali.


“Ya Alloh, Yuri!” terlihat darah diujung hidungnya. Randy segera meraih tisu di atas meja, menyerahkannya pada bunda Hilma yang segera mengusap dengan sangat pelan.


"Makanya kamu jangan berpikiran macam macam, Yuri. Kamu akan sulit sembuh kalau berpikir yang aneh aneh. Percaya sama Bunda, semua akan baik baik saja.


***


Bunda Hilma mengajak Randy pergi ke cafetaria, untuk sekedar ngobrol karena tugas menjaga Yuri telah digantikan paman Herman dan istrinya.


“Kamu denger sendiri kan tadi apa kata dokter, Ran? Yuri butuh support dari orang orang terdekatnya. Terutama orang yang dicintanya.”


“Bunda, aku memang menyayangi Yuri, tapi aku tak mencintainya sebagai perempuan.” Sanggah Randy yang masih terus didesak mengambil sikap.


“Bunda tak tahu lagi, gimana cara meyakinkan kamu. Bunda bener bener menyesal, gimana nanti kalau tiba tiba Yuri dipanggil oleh yang Maha Kuasa, sedang ibu tak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi keinginannya. Aku adalah Ibu yang gak berguna. Hikks hiiikkss.....”


Terlihat Bunda Hilma menepuk dadanya, menetes pula air matanya yang sedari tadi ia tahan saat di ruangan Yuri.


“Bunda, jangan berkata seperti itu.” Randy mengacak rambutnya frustasi. Ia merasa tak berguna sebagai anak, merasa bersalah, mengingat jasa jasa bunda Hilma yang telah merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang. Hilma juga tak pernah meminta sesuatu yang memberatkannya selama ini.


Sudah beberapa lembar tisu Hilma habiskan untuk menyeka air matanya. Randy membiarkan wanita yang telah membesarkannya itu menumpahkan kesedihan. Untunglah tempat duduk mereka berada di pojok ruangan dengan lampu yang tak terlalu terang.


Lima belas menit telah berlalu, kini wanita berkerudung putih tulang di hadapan Randy terlihat lebih tenang. Randy meraih tangan kanan Hilma di atas meja, mendekatkannya pada pipi kirinya, lalu mengecup punggung tangan itu takzim.


“Bunda, Randy sudah memikirkannya. Tapi, apa bunda bisa memastikan sesuatu?” tanya Randy pelan, seakan ragu dan berat mengatakannya.


“Apa maksud kamu, Rand?” helaan nafas Randy terasa berat dan sesak. Dari percakapannya tadi bersama Hana masih abu abu. Apakah seorang Hana akan semudah itu bisa menerima alasannya. Belum lagi tanggapan pak Hadi dan istrinya.


“Apa bunda bisa memastikan, jikalau aku... aku menikahi Yuri, Hana tetap mau menikah denganku?” Hilma menatap pemuda tampan di hadapannya. Tak menduga Randy berubah pikiran secepat itu.

__ADS_1


“Aku...aku, tak bisa bayangkan kalau Hana sampai membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tak bisa hidup tanpa Hana. Randy belum pernah jatuh cinta sedalam ini, Bunda! Rasanya aku tak bisa bayangkan jika Hana pergi ninggalin Randy!” Hilma semakin tak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Kamu yakin, Nak?”


“Kalau kamu yakin, Bunda yang akan bicara dengan Hana. Insya Allah kalau memang kalian berjodoh, ia pasti mau menerima.” Bergetar tangan dan hati Randy, nyatanya wanita yang ia anggap seperti ibunya itu tak bisa membuat kepastian.


“Aku akan menuruti kemauan Bunda, Jika bunda bisa memastikannya....!” masih berusaha mengukuhkan kalau wanita dihadapannya itu bisa meyakinkan Hana.


“Pemilik kepastian itu hanyalah Allah SWT. Percayalah, jika memang kalian jodoh, pasti kalian akan bertemu di pelaminan. Dan tak akan ada yang bisa pisahin kalian berdua.” Randy mendesah. Ia terlalu takut.


Takut akan ketakutannya.


Takut akan ....Ahhh!


“Besok, Bunda akan bicara dengan Hana dan orang tuanya. Kita berdoa untuk hal yang terbaik untuk kita semua.”


“Makasih ya, sayang. Semoga Allah memberkahi kehidupanmu selalu.” Doa tulus bunda Hilma panjatkan.


***


Esokan harinya, setelah isya' lima orang di ruang tamu rumah Pak Hadi, duduk berhadapan. Pak Hadi dan bu Mira saling pandang, merasa aneh dengan kedatangan calon besan mereka.


“Pak Hadi dan Bu Mira, pasti tahu anak angkat saya yang bernama Yuri, yang saat ini tengah berjuang dan bertahan dari penyakit yang dideritanya?” ucap Bunda Hilma setelah berbasa- basi sebentar menanyakan kabar. Bu Mira mengangguk, pak Hadi memang belum pernah menjenguk Yuri, hanya bu Mira dan Hana yang beberapa waktu lalu menjenguk Yuri di panti. Namun waktu itu Yuri pura-pura terlelap, karena ia memang merasa cemburu dengan Hana dan tak mau menemuinya. Dikarenakan tak mau mengganggu tidur Yuri, bu Mira dan Hana pamit pulang sebelum Yuri bangun dari tidur.


Dan semua itu Bu Mira ceritakan pada suaminya.


“Iya, mbakyu, kami tahu. Apa yang terjadi padanya, dia baik-baik saja kan, Bu Hilma?”


Hana hanya menyimak dengan saksama perkataan bunda Hilma. Begitu pun dengan pak Herman.


“Vonis dokter yang menanganinya, usia Yuri diprediksi tak akan lama lagi. Dan sebelum itu semua terjadi, dokter mengatakan agar kita mengabulkan apa yang menjadi keinginan Yuri, agar tak ada penyesalan di kemudian hari jika ia...hikkss!” Herman mengelus pundak adiknya yang mulai tak bisa menguasai diri.


“Yang tawakkal mbakyu, usia manusia bukan dokter yang menentukan. Tapi Allah SWT. Percayalah, walaupun kata dokter seseorang akan tutup usia seminggu atau sebulan lagi, tapi jika Allah menentukan usianya 10 tahun lagi, maka takdir Allah lah yang berlaku. Dokter juga manusia yang hanya bisa memprediksi, bukan Penentu hidup dan mati seseorang.” Ucapan pak Hadi menyadarkan bunda Hilma.


“Iya, Kang Hadi benar. Astaghfirullahaladzim, Terima kasih sudah mengingatkan saya.” Hilma menyusut air matanya dengan tisu.


“Sama sama mbakyu. Kita sebagai manusia sudah seharusnya saling mengingatkan. Kita juga manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.” Sekali lagi bunda Hilma mengucap terima kasih.

__ADS_1


“Begini Kang Hadi, mbakyu Mira. Dan anakku Hana, tanpa mengurangi rasa hormat saya sama kang Hadi dan mbak Mira, serta rasa sayang saya sama Hana, saya ingin mengajukan sesuatu. Dan saya sangat berharap keluarga ini terutama Hana tak berkeberatan dengan keputusan yang sudah saya ambil dengan persetujuan Randy tentunya.”


Hana menanti ucapan bunda Hilma dengan rasa waswas dan hati berdebar.


“Dengan sakitnya Yuri dan keadaannya yang semakin lama semakin mengkhawatirkan, dokter juga mengatakan untuk kita bisa memberi support pada Yuri, agar ia bersemangat bertahan menghadapi sakitnya, dengan mengabulkan apa yang menjadi keinginannya. Karena dikhawatirkan ini menjadi keinginan terakhirnya.” Hilma menunduk dan terdiam beberapa saat.


“Sejak awal Yuri itu mencintai Randy bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya. Dengan keadaan Yuri yang seperti itu, saya mohon untuk Hana mengikhlaskan Randy menikahi Yuri.” Ketiga orang tuan rumah terperanjat mendengar ucapan Bunda Hilma.


“A_apa?” bibir Hana bergetar, terlebih lagi hatinya. Pipinya terasa hangat oleh air mata yang luruh begitu saja.


“Apa kami gak salah dengar, mbak Hilma?” ucap bu Mira yang bahkan langsung berdiri. Pak Hadi menarik tangan istrinya untuk duduk kembali, untuk tetap menghormati sang tamu.


Kedatangan calon besan yang tiada direncanakan, malah membawa berita yang sangat tidak mengenakkan. Apalagi bagi Hana yang sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahannya dengan Randy. Mendadak semuanya menjadi ambyar.


“Disini saya akui saya yang salah, saya memang setengah memaksa Randy untuk melakukannya. Jadi, Hana jangan salahkan Randy, ya! Dan pernikahan kalian akan tetap berlangsung karena pernikahannya dengan Yuri hanyalah status. Tak mungkin juga Yuri bisa melakukan kewajibannya sebagai istri, dan kamulah yang akan tetap dicinta Randy, Hana. Randy akan tetap jadi milikmu seutuhnya. Jangan khawatirkan tentang Yuri, walau nanti Randy menikah dengan Yuri, ia tetap akan menganggapnya adik, dan relakanlah sedikit waktu Randy untuk mengurus Yuri. Bunda mohon, Hana.”


“Saya tak setuju anak semata wayang saya dipoligami!” bu Mira segera berdiri, naik pitam lagi. Ia tak terima dengan pernyataan bunda Hilma yang begitu entengnya mengatakan ini semua.


“Bu, cukup. Jangan emosi. Duduklah lagi!” tegur pak Hadi pada istrinya dengan tegas. Namun bu Mira tak kalah lantang.


“Tapi yah, bagaimana ayah begitu tenangnya, mendengar satu satunya anak kita akan dipoligami. Ibu gak terima!” bu Mira kekeuh dengan pendapatnya.


“Tapi bu, bukankah alasan mereka ini demi harapan Yuri untuk bisa memenuhi keinginan yang mungkin keinginan terakhirnya. Harapan sembuhnya tipis. Dan mereka terpaksa juga melakukan semua ini.”


“Harapan sembuh tipis, bukan berarti tidak sembuhkan? Bukannya ayah sendiri yang bilang, usia manusia itu ditangan Allah, bagaimana kalau setelah menikah dengan Randy Yuri terus sembuh dari sakitnya, apa pernikahan mereka juga akan terus berlangsung atau dibatalkan dan mereka mempertahankan anak kita. Mikir dong, Yah!” ucap bu Mira penuh emosi. Mereka malah berdebat di depan tamu mereka.


“Dari pada nanti, lebih baik sekarang saja sakitnya.”


Pada dasarnya wanita yang menikah, ingin suaminya menjadi milik dia seutuhnya. Tak ingin berbagi dengan siapapun. Satu dibanding seribu wanita yang rela dimadu atau apapun namanya. Ya, emang sih namanya madu, harusnya rasanya manis dan menyehatkan. Tapi, pada kenyataannya jika dilakoni sangatlah pahit.


Sedangkan Hana yang sedari tadi diam dan menjadi menunduk, tetesan air matanya terus saja mengalir. Apalagi mendengar perdebatan kedua orangtuanya, ia tak tahan dan berlari menuju kamarnya.


“Hana...!” panggil bunda Hilma namun tak dihiraukan Hana.


Kenapa setelah ku memberikan hatiku untukmu, kejadian yang menyakitkan ini terjadi. Membuat hatiku terluka, kak Randy. Hana.


“Mbakyu, Kang Hadi, maaf saya menyela sedikit. Maksud adik saya ini baik. Kami juga dibingungkan oleh hal ini sebenarnya. Tapi apa boleh buat, keputusan harus diambil. Dan Randy setuju. Dan kami berharap pernikahan anak kita juga tetap berlangsung, itu permohonan Randy tadi sebelum kita kesini.” Pak Herman akhirnya buka suara. Namun langsung dipotong oleh bu Mira.

__ADS_1


“Dan kami, ingin yang terbaik untuk anak satu satunya kami, pak Herman. Jangan salah. Kita sama sama menginginkan yang terbaik karena untuk anak kita. Dan keputusan saya sudah bulat, saya tidak akan merelakan pernikahan Hana dan Randy dilanjutkan jika memang Randy hendak menikahi Yuri. Saya permisi.” Bu Mira segera berlalu dari ruang tamu menghampiri Hana ke kamarnya, tak menggubris panggilan pak Hadi.


Karena tak ada titik temu, akhirnya pak Herman dan bunda Hilma pulang dengan tangan hampa, pak Hadi pun meminta maaf, dan akan menyerahkan persoalan ini pada Hana. Karena, dialah yang akan menjalaninya. Dan keputusan Hana, akan menjadi penentu dilanjutkan atau dibatalkan pernikahan mereka.


__ADS_2