
Hana duduk dengan kepala mendongak di sebuah ruangan, seorang anak kecil tiba tiba datang menawarkan permen padanya. Ia menyambutnya dan mengucap terimakasih. Anehnya anak itu juga tetiba menghilang, saat Hana membuka permen itu. Ia berpikir anak itu memintanya membukakan bungkus permen.
Ih, maunya tak kasih lagi sama anak itu, malah ngilang. Makan sendiri aja!
Tapi, kalau anak itu balik lagi, terus permennya habis gimana? memandang permen ditangannya.
Anak itu kan tadi nawarin, berarti dikasihkan, dong! Begitu kata sisi hati yang lain.
Yaudah deh, aku makan aja. Ntar kalau anaknya nyariin, beliin aja permen lain, atau diganti uang. Gitu aja kok repot.
Hmmm, kenyal kenyal manis. Enak. Baru kali ini aku makan permen kayak gini. Permen apa ya tadi namanya.
"Aduh!" Hana membuka mata dan setengah sadar menggigit permen di mulutnya. Dan...
"Ah, kak Randy! " Randy baru melepas pagu-tan bibirnya, menjauhkan wajah, lalu memegangi bibirnya.
Jadi permen kenyal tadi... ternyata....
"Duh, Dek. Kamu gigit bibir aku. Sakit tahu! "
Jadi benar yang ku e- mut tadi bibir, bukan permen. Heh, siapa suruh nyium orang lagi tidur.
"Kamu tuh tidur apa niat menggoda.
Mangap gitu. Ya aku manfaatin aja. Aku ci um kamu, Dek." ucap Randy merasa tak bersalah.
"Dan gara gara nge sun kamu, aku jadi kepengen anu lagi!" akunya menyeringai. Hana membelalakkan mata.
Aaa malu, pasti bau mulut aku.
"Nggak ah, ngantuk mas. Badan aku juga sakit semua." tolak Hana yang memang benar adanya. Ia memiringkan tubuh memunggungi Randy. Tubuhnya terasa lemas bagai tak bertulang, dan sakit tentu saja dibagian bawah sana, karena memang ini baru yang pertama kali baginya.
"Gak baik loh, tidur munggungi suami!"
" Ayolah, Dek. Please." memaksa Hana menghadap kearahnya dengan menarik bahunya.
"Tapi, Kak!" walau tanpa persetujuan Hana, malam itu Randy mengulang dan mengulang lagi mereguk manisnya madu malam pengantin.
Pagi menyapa. Suara nyaring alarm hape terdengar berisik ditelinga sepasang pengantin baru itu. Dengan kantuk yang masih mendera, Hana mematikannya, dan terkulai lagi di tempat tidur.
Terdengar ketukan dipintu kamar. Hari sudah terang saat Hana membuka mata.
Astaga, aku ketiduran sampai jam segini? Dan belum mandi junub, belum Subuh.
Rupanya matahari telah mulai menyapa bumi dengan hangat.
"Nduk, udah siang. Kok belum bangun! " Hana menoleh ke sampingnya. Randy sudah tak berada disampingnya.
Kemana dia?
"Nduk!" Ibu mengulang panggilannya.
"Iya, Bu sebentar." buru buru Hana bangun. Terkejut. Lupa jika ia tidur dengan keadaan tubuh polos. Buru buru ia mencari dan mengenakan bajunya. Dengan sedikit tertatih dia melangkah. Tapi melihat sprei yang acak acakan, ia mengurungkan niatnya. Menata lebih dulu tempat tidur, sekilas melihat sedikit bercak darah. Menutupinya bagian itu dengan selimut. Tak lupa memakai kerudung instan sekenanya, tak mau ibunya melihat stempel stempel yang diciptakan Randy.
__ADS_1
"Iya, Bu." sambil mengucek mata ia membuka pintu, nyengir.
"Baru bangun? Belum subuh?" Hana meringis. Malu. Lalu menguap dan meregangkan badan.
Sudahlah, tanpa dikasih tahu pun Ibu pasti sudah bisa menebak. Ibu dulu juga pernah muda dan berstatus pengantin baru.
"Yaudah sana bebersih. Tadi suami kamu pamit, dia pergi buru buru sekali. Memangnya ada apa?" Hana bingung, iapun tak tahu apa apa. Ia mengira Randy hanya turun, dan menemani Ayahnya ngobrol sambil ngopi.
" Mungkin, Yuri lagi butuh dia, Bu. Biarin aja." jawabnya sekenanya, sok cuek. Ibu pun pamit turun. Senyum Hana memudar, dan menoleh ke ranjangnya.
Baru aja mereguk manisnya madu. Sekarang udah tiba tiba ngilang gitu aja gak pamit sama aku. Begini rasanya dimadu. Ada rasa nyeri menjalar dihati Hana. Ya, dia sudah tahu resiko menjadi istri pria beristri. Tapi rasa itu tetap hadir, mengingat ia yang baru saja menyerahkan sesuatu yang memang menjadi hak suaminya.
Tak bisakah ia menunggu aku bangun, atau membangunkan aku terlebih dulu.
Dengan langkah gontai Hana menuju kamar mandi untuk mandi wajib. Dan melaksanakan Subuh yang sudah kesiangan.
Dan hingga siang pun tak ada kabar dari Randy. Ia tak mau merusak suasana jika memang Randy bersama Yuri, jika ia berkirim pesan atau menelponnya.
Siang itu Hana mengurai kemelut hati dengan menyibukkan diri bersama para karyawannya. Mereka mulai bekerja kembali, berkutat dengan kesibukan mengolah makanan berbahan dasar tepung itu.
Hana hanya tersenyum, menyembunyikan kegundahan hatinya saat beberapa orang meledeknya.
"Udah jebol pasti gawangnya. Liat aja, cara jalannya beda, hihihii! " ucap si A
"Dah proses bikin calon cucunya bu Mira dong kalau gitu." timpal si B
"Lemes banget, Nduk. Berapa ronde semalam? Atau jangan jangan gak tidur semalaman ya?" si C pun tak mau kalah, ketiganya kompak mengulum senyum setelah meledek Hana.
"Ku do'ain deh, moga cepet jadi. Bu Mira nih, kayaknya gak sabar mau nimang cucu." cuitan cuitan mereka hanya ditanggapi senyum oleh Hana.
"Apa?"
"Kepengen cepet punya cucu nggak? "
"Ya pastilah, Bu. Jika anak udah nikah, tentu yang dinanti adalah cucu." jawabnya diplomatis.
Menjelang sore, suara sepeda yang Hana sangat kenali masuk ke halaman, ia melongok lewat jendela kamarnya. Tapi yang mengendarainya bukan Randy. Hana memicing mata, ternyata Panji yang mengendarai sepeda itu, diikuti deru mobil milik Randy.
Mengingat ia tak mendapat pesan ataupun sepatah dua patah kata untuk pamitan, hatinya berdenyut. Pun tak memberi kabar lewat pesan sekalipun. Begitu tak pedulikah ia akan perasaan istrinya. Sebagai perempuan Hana enggan memulai berkomunikasi lebih dulu. Apalagi ada Yuri di sampingnya.
Ya Alloh, ternyata aku tetap manusia biasa yang mempunyai sisi ego yang tinggi. Berharap suamiku tak berbagi cinta dengan wanita lain. Sakitnya tuh disini, Tuhan.
"Assalamu'alaikum! "
Randy memasuki kamar, maklum tak mendapat jawaban karena memang istrinya tengah shalat. Ia membersihkan diri, lalu duduk di tepi ranjang. Menatap istrinya yang tak kunjung selesai berdzikir. Pun tak menoleh padanya sama sekali.
"Assalamu'alaikum, Dek! " Randy berinisiatif mendekati Hana, dan duduk di samping bersila menghadap kearah Hana. Mengusap kepala sangat istri.
"Waalaikum salam, Kak! " jawab Hana sambil menunduk. Tak mampu menatap Randy.
"Kenapa?" tak ada jawaban.
"Marah ya, sebab aku ninggalin kamu dari pagi?" menyentuh dagu Hana.
__ADS_1
Udah tahu nanya. Gak ada kabar lagi.
"Maaf ya, aku buru buru banget. Dan aku panik. Soalnya...! "
"Pasti karena Yuri, kan? Gak apa Kak, aku tahu aku yang kedua. Harusnya aku sadar diri." potong Hana cepat. Matanya sudah berkilat, sebening air menetes pelan. Membuat Randy merasa bersalah.
"Bukannya gitu! Aku...."
"Kakak udah makan, udah minumi? Aku siapin dulu, ya. Aku bikinin minumannya juga. Oiya, kopi atau teh, Kak. Maaf! aku belum begitu hapal selera Kak Randy. " Hana segera berdiri, melipat mukenah dan segera keluar. Randy ikut berdiri.
"Aku mau su su! " Randy tersenyum dan berusaha menahan Hana dengan menggapai pundaknya. Namun Hana berkelit dengan mundur ke belakang.
"Yaudah kalau mau susu, aku buatin susi bubuk full cream ya. Maaf adanya cuman itu! " Hana berlalu, Randy yang sudah mau mengatakan sesuatu menggantung diujung bibirnya.
"Aku maunya su su kamu, Dek!" gumam Randy pelan, lalu mengikuti langkah Hana turun. Biarkan saja, istri yang lagi ngambek. Nanti kalau tensinya sudah turun, baru dijelaskan. Begitu Randy berpikir.
"Gak jadi susu, Dek. Teh aja." ucap Randy lesu, lalu duduk dikursi. Hana melirik sekilas, tanpa menjawab ia menyeduh teh dengan air yang mendidih langsung dari kompor. Bukan dituang dari termos. Tak langsung mengaduk, ia belum bertanya, seberapa suka Randy dengan gula.
" Ini aku kasih gula 1 sendok makan. Ap...! "
"Gak usah diaduk, gak usah diaduk. Gitu aja udah!" potong Randy cepat. Ia lebih suka teh tawar, atau diberi madu.
Tak jadi mengaduk teh, Hana menyodorkan gelas yang mengepulkan uap itu. Aroma teh melati menguar.
"Makasih, Dek. Kamu gak minum juga, kita minum sama sama?" Hana menggeleng.
"Aku mau nyiapin Kak Randy makan. Belum makan, kan?" ucap Hana beralasan untuk segera berdiri. Randy mengelus perutnya. Sebenarnya ia baru saja makan, sedari pagi ia hanya makan sepotong roti dan sebotol kecil minuman kemasan rasa kopi dingin. Dan baru saja, mengajak Panji makan di sebuah rumah makan Padang. Tapi tak berani menolak saat Hana menyodorkan nasi dan lauk berupa ikan gurame kuah pedas.
"Harum, enak sepertinya. Tapi perutku agak begah, Dek. Jangan marah ya, kalau aku makannya sedikit! " pinta Randy beralasan. Hana menatap pria yang terlihat lelah itu.
"Pinternya beralasan. Kalau perut begah, liat makanan kayak gini bukannya harum dan enak, tapi eneg." ucapnya ketus.
Duh, salah. Sekalinya berbohong. Mau jujur dari tadi, dipotong terus, kata kataku. Randy.
"Ehehe, iya. Sedikit aja nasinya! " Hana tetap melayani makan Randy dengan baik. Walau hatinya nyeri.
"Sebenernya, memang nggak begah perut aku, tapi emang baru makan. Masih kenyang! " akhirnya Randy memilih jujur. Jika berbohong lagi, maka akan terus berbohong menutupi kebohongan sebelumnya, jadi ia putuskan lebih baik jujur kalau memang masih kenyang.
Bukannya pujian yang ia dapatkan melainkan kata kata cukup ketus yang ia dapatkan.
"Kalau masih kenyang, kenapa iya iya aja di ambilin makanan. Makan saat lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, itu lebih baik biar badan tetap sehat. Aneh banget, sih! " Randy melongo mendapat omelan istrinya. Tapi kemudian tersenyum saat bisa mencerna omelan itu. Tapi tak menanggapinya.
"Kalau begitu, kamu juga harus tanggung jawab menghabiskan makanan ini, ayo aaaa! " Randy menyodorkan sendok yang penuh nasi dan lauk didepan mulut Hana.
"Ayolah, bikin suami senang 'kan ibadah sayang!" Randy tak menyerah, sendok itu masih didepan mulut Hana.
"Ehhm! " Bu Mira lewat dan berdehem, tanpa ngerasa bersalah berlalu ke samping rumah. Tak mau ibunya makin membenci Randy, iapun mengalah memakan nasi itu.
"Gitu, dong. Ayo lagi!" Randy menyodorkan lagi satu suapan.
"Ehmm! " kali ini Ayah yang lewat.
"Eh, ada kalian. Terusin aja gak perlu sungkan. Makan yang kenyang, Nak." ucap pak Hadi sebelum menyusul istrinya. Keduanya saling pandang, Randy tersenyum lebar menatap sang istri. Hana tersenyum tipis lalu menunduk.
__ADS_1
"Kompak banget Ayah sama Ibu, ya Dek. Oiya, tadi aku memang buru buru, karena dapat kabar Yuri masuk rumah sakit! "
\=\=\=\=