
Hana mengucap syukur tiada henti, walaupun Randy sempat kehilangan kesadaran dan dirawat secara intensive beberapa hari, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Hingga Hana fokus pada pernikahannya yang tinggal menghitung jam.
Hari H - 1
"Han, kenalin dong sama temen lo yang jomlo, siapa tahu ada yang jodoh. Gak kasihan nih, sama gue?" Farid duduk di hadapan Hana yang sedang duduk manis disofa, membalas chat teman temannya, sekaligus sesekali mengecek kinerja kru WO yang sedang bekerja. Terjadi kesibukan yang lumayan menguras pikiran dan tenaga hari ini.
"Udah pada laku semua! " jawabnya ketus. Tak mengalihkan tatapan pada ponsel. Baru sore nanti kedua sahabatnya, Citra dan Putri bakal datang.
"Hah, berarti Lo yang terakhir laku dong. Ck ck ck, kasiaaannya!" Farid menggelengkan kepala. Berdecak mengejek sepupunya, padahal dia lebih parah dari Hana.
"Lebih payah lagi Lo, dasar jomlo! Kalau ngejek, ngapain lo tadi minta dikenalin sama temen gue. Dasar! " jawab Hana telak. Kedua saudara sepupu itu bukan rahasia lagi suka saling ejek, saling goda, saling usil. Dan hari ini Hana tak selera meladeni keusilan sepupunya itu.
"Hehehe, iya ya. Gue aja jomlo." balasnya kemudian.
"Langit kok surem banget ya, suasananya. Padahal udah luluran, udah perawatan. Muka sih kinclong, putih, bersih. Tapi, auranya itu loh!" Farid menatap sepupunya, dari atas sampai ke bawah. Makin terlihat cantik, anak yang terlihat mirip dengan ibunya waktu muda itu terlihat tak begitu berseri.
"Diem, Lo! " sewot Hana. Mukanya makin ditekuk. Suasana hatinya semuram cuaca hari itu yang mendung.
"Gak papa deh sekarang mendung, ujan aja sekalian gak papa. Tapi semoga besok cerah ceria agar mood pengantinnya juga bagus, terang benderang. Kasian calon lakinya, kalau muka pengantinnya ditekuk gitu. Bisa dikira Siti Nurbaya dikawin paksa Datuk Maringgih!" ejek Farid mengingatkan cerita novel yang sangat melegenda itu. Hana segera bangkit, mengayun langkah menuju kamarnya, tak selera meladeni ejekan Farid.
"Woiii, diajak ngobrol juga." teriak Farid kesal dicueki sepupunya.
###
Saatnya telah tiba, peristiwa sakral yang Hana harap akan menjadi momen sekali seumur hidup. Perjalanan panjang hidupnya akan berlabuh pada satu hati, Salman Wijaya bin Sandy Wijaya.
Walau rasa cinta dulu tumbuh subur, menjulang setinggi langit sebagai secret admirer seorang Salman, entah karena tanpa diberi pupuk, maka pohon cinta itu telah layu.
Note: Othor maunya kasih nama lengkap Salman Alfarisi, tapi karena ini tokoh yang bisa dibilang antagonis, gak jadi deh. Entar ada yang protes, Salman Alfarisi di dalam sejarah Islam adalah tokoh ahli strategi perang dan sahabat dekat Nabi.
Dan saat ini, Hana meyakini seiring berjalannya waktu, rasa itu akan dipupuk kembali, disiram dan dipelihara dengan indah, disertai untaian doa dan harapan, rasa itu akan tumbuh subur kembali, di dalam perjalanan kehidupan yang halal, rumahtangga yang sakinah.
Halaman rumah Pak Hadi telah disulap menjadi tempat dilaksanakannya ijab kabul dan resepsi setelahnya. Pengantin wanita telah siap dengan riasan yang sungguh cantik, sehingga membuat orang yang melihat Hana berbeda dari aslinya. Istilah jawanya manglingi, atau bikin pangling.
Yuri.
"Bang, Abang pake baju ini ya, ke nikahan Mbak Hana. Abang kalau pake baju ini kelihatan tambah ganteng dan gagah, pasti gak kalah pamor sama pengantinnya." Yuri menunjukkan pada Randy yang baru keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk dan celana kolor itu sebuah atasan batik lengan panjang model slim fit, dengan celana kain. Yuri sendiri telah berpakaian rapi, wajah pucat nya tersamarkan oleh make up. Randy mempekerjakan seorang sebagai suster yang melayani kebutuhan Yuri selama ia tinggal bekerja. Dan suster yang bernama Sindy itulah yang me--make up Yuri.
"Dengan keadaanku yang seperti ini, sepertinya kita batalkan saja hadir di nikahannya Hana, Yuri! Aku belum benar benar sembuh. Aku gak mau jadi perhatian orang orang, apalagi nanti jika ada orang yang tahu aku pernah jadi mantan calon suaminya." jelas Randy biar Yuri tak merasa kecewa dengan keputusannya.
"Tapi, Bang. Mbak Hana sudah jauh jauh mengundang kita. Apa karena Bang Randy malu karena aku ikut? Dengan keadaanku yang seperti ini? Malu diliatin orang orang, apalagi jika orangnya tahu aku istrinya mantan calon suami mbak Hana." bukannya ngerti Yuri malah menuduh. Sorot matanya yang redup semakin meredup karena merasa kecewa.
"Bunda sebentar lagi juga dateng, ngajak datang bareng 'kan tadi." sorot netra cekung itu penuh harap menatap Randy.
" Bukan begitu maksudnya, Yu. Aku masih ngerasa sedikit nyeri di perut aku. Luka jahitan nya kelihatan udah kering, tapi dalamnya kayaknya belum! Kamu jangan tersinggung aku ngerasa malu atau apa. Bukan karena itu. Aku juga kepengen datang sebenarnya. Lagian kemarin aku waktu di rumah sakit udah bilang sama Hana, kalau aku udah sehat bakalan datang, kalau masih merasa belum sehat betul, aku izin. Dan ia mengiyakan."
"Iya, iya aku ngerti, Bang. Bang Randy istirahat saja sekarang biar cepat pulih. Jangan lupa obatnya diminum. Maaf, kalau aku gak bisa ngerawat Bang Randy seperti Bang Randy ngerawat aku selama ini. Aku memang gak berguna, Bang. Maaf." Randy berdecak tak suka.
"Sudah berapa kali kubilang, aku bosan denger kata permintaan maafmu itu. Udahlah. Gak perlu berpikir ngaco, jalani aja apa yang ada." Randy meraih kaos putih untuk dikenakannya.
" I-Iya, Bang. Aku keluar dulu. Mau ketemu Bunda, kayaknya udah datang. Bilang juga kalau kita gak jadi pergi. " pamit Yuri sambil memutar kursi rodanya. Hendak keluar kamar.
"Tunggu, Yu." cegah Randy pada Yuri.
"Kenapa lagi, Bang? " Randy berpikir sejenak sebelum memutuskan.
"Aku berubah pikiran, baiklah. Kita pergi ke acara itu. Sekarang aku ganti pakaian yang kamu siapkan. Jangan ngambek ya!" kata Randy akhirnya.
"Secepat itu Bang Randy berubah pikiran? Terus itu lukanya Abang?" Tapi Yuri merasa senang. Entah kenapa, ia ingin sekali menghadiri pernikahan Hana.
"Makasih ya, Bang." Randy hanya sedikit tersenyum. Sebenarnya bukan rasa nyeri di perut yang ia khawatirkan. Melainkan rasa nyeri di hati saat melihat wanita yang masih setia bertahta dihatinya itu, bersanding dengan pria lain. Ia akan mencoba menguatkan hati, melapangkan dadanya, mengikhlaskan takdirnya dan memasrahkan kehidupannya. Ia yakin Allah memiliki dan menyiapkan rencana yang lebih indah untuk masa depannya kelak, walaupun pada hakikatnya ia mencintai, tapi tak mampu memiliki.
"Bang Randy! "
"Hmmm, apa? Udah selesai, kan. Yuk kita berangkat!" Selesai mengaca, dan dirasa penampilannya telah maksimal, Randy mendekati Yuri dan mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Bentar Bang! Mmm, sebelum berangkat, boleh aku peluk Abang sebentar?" tanya Yuri ragu ragu.
"Kamu tuh aneh aneh aja, kenapa?"
Gak tahu kenapa, aku merasa mungkin ini pelukan yang terakhir kalinya. Batin Yuri.
"Kenapa? " ulang Randy lagi.
Yuri menggeleng dalam pelukan Randy.
"Nggak, Bang. Cuman pengen peluk Abang aku aja sebentar! " semakin mengeratkan pelukan.
"Aku berharap semoga suatu saat Bang Randy bersatu dengan tulang rusuk Abang yang sesungguhnya! " gumamnya lagi.
"Kamu itu ngomong apa, Yu. Kamu yang semangat untuk sembuh. Nanti kita bisa memulai dari awal." Yuri mendongak, tak percaya barusan apa yang didengarnya dari Randy terasa ambigu. Sorot netra itu menyiratkan rasa putus asa. Dan kosong. Begitu berharga dan cintanya Randy dengan Hana.
Sudah saatnya aku menyerah. Saat yang aku perjuangkan menjadi milik orang lain, aku pun ingin mendapatkan kebahagiaan dan kehidupanku sendiri. Randy.
Randy beserta rombongan tiba di rumah Hana beberapa saat sebelum akad. Para hadirin datang untuk menyaksikan acara sakral dua anak manusia yang akan mengikrarkan diri menjadi pasangan halal itu.
Randy lebih banyak menunduk, jika menuruti kata hati, kata ikhlas yang pernah ia lontarkan saat tahu Hana akan menikah akan ia cabut sampai ke akar akarnya. Ia sama sekali tak fokus akan rentetan acara akad itu, hanya larut dengan pikirannya sendiri. Hingga tiba tiba terdengar teriakan seorang wanita.
"Tunggu!" Semua orang menoleh pada pintu masuk, begitupun Randy. Dua orang wanita, satu wanita paruh baya dan satu gadis muda yang sepertinya ibu dan anak, sang anak yang terus menunduk menjadi pusat perhatian.
"Oh, dihubungin susah banget, dicariin gak pernah ketemu, disini rupanya kau, sedang enak enakan mau kawin." wanita itu menghardik dan menuding Salman. Salman yang tampak gagah mengenakan jas pengantin, terlihat salah tingkah dan gugup saat keduanya mendekat. Pak Hadi langsung berdiri.
"Ada apa ini, saya merasa saya tak kenal dan tak mengundang anda. Jangan buat acara pernikahan anak saya jadi heboh."
" Jadi anda bapaknya calon pengantin?" Pak Hadi mengangguk mantap.
"Iya. Ada perlu apa anda kesini dan berteriak teriak. Siapa yang Anda cari?" tanya pak Hasil setenang mungkin. Para hadirin terdengar kasak kusuk membicarakan.
"Itu, Salman. Dia harusnya bertanggungjawab atas hamilnya anak saya. " bagai disambar petir, tubuh Hana hampir limbung. Bu Mira dan Citra di dekatnya langsung menopang tubuh Hana yang menegang dan berkeringat dingin.
"Tidak, bukan. Saya tidak kenal anak Anda, kenapa saya yang harus tanggungjawab. Emang siapa kamu?" pertanyaan terakhir Salman ditujukan pada gadis muda yang terus menunduk.
"Ini fitnah. Pak, Bu, Hana, ini fitnah. Percaya sama saya. Saya tak sebejad itu. Pak, ayo teruskan pernikahan ini, jangan hiraukan mereka! " pinta Salman pada pak penghulu yang terbengong akan drama calon pengantin.
"Sudah, sudah cukup. Stop. Salman, mereka ada perlu sama kamu. Pergilah, selesaikan masalahmu dulu." perintah pak Hadi tegas. Hana menangis sesenggukan, dalam pelukan Ibunya. Citra mengelus elus pundak Hana untuk menenangkan. Bahkan bu Mira tak kuasa untuk menatap para tamunya.
"Keep strong, Hana. Gue yakin Lo kuat." tak ada yang meragukan Hana adalah gadis yang kuat dan mandiri. Kuar dalam arti dia gadis yang tidak cengeng manja, dan berdikari.
"Tapi, Pak. Pernikahan saya sama Hana bagaimana? Saya sangat mencintai Hana, Pak! Jangan pisahkan kami! " mohon Salman memelas.
"Saya memutuskan tak ada pernikahan antara kamu dan anak saya. Mulai sekarang, kalian putus, tak boleh ada apapun hubungan diantara kalian." Ayah Salman yang semula diam, kini berdiri untuk bertindak. Diikuti istri dan juga Rahma, adik Salman. Pak Sandy merangkul putranya dengan raut memerah.
"Ayo pulang! kamu sudah tak diharapkan disini. Malu maluin orang tua saja kamu." Salman memberontak dengan menggerakkan bahu, agar rangkulan sangat ayah terlepas.
"Tapi, Pa. Sudah kukatakan ini fitnah. Bu, tolong aku. Aku difitnah." bu Susi menggeleng. Mukanya ia tutupi dengan tas jinjingnya. Malu tiada terkira.
"Hana, Hana, tolong percaya sama aku. Ini fitnah keji. Hana, tolong aku, kita jadi menikah kan, Hana." tak mendapat dukungan dari keluarga, ia meminta pertolongan pada Hana.
"Pergilah, ada wanita dan calon anakmu yang harus kamu pertanggungjawabkan. Dan jangan pernah kembali lagi kesini." usir Hana dengan air mata berlinang.
Salman diseret oleh Papanya. Bu Susi mendekati wanita dan anaknya.
"Bu mari ikut kami, kita selesaikan baik baik dan kekeluargaan." Setelah mereka pergi, Hana dituntun oleh Bu Mira dan Citra diikuti Putri masuk ke ruangan tengah. Farid yang tadi berada disana tiba tiba ikut keluar menyusul Salman beserta rombongan.
Kini tinggallah Pak Hadi berhadapan dengan pak penghulu. Mereka saling tatap sebentar.
"Maaf, Pak. Calon pengantin laki laki bermasalah. Pernikahan dibatalkan, saya benar benar mohon maaf." Pak penghulu dan asistennya mengangguk mengerti.
"Yang sabar, Pak. Kami mengerti. Yasudah, kami undur diri." pak Hadi bereaksi dengan mengangguk.
"Tunggu dulu, Pak!" suara seorang wanita mencegah pak Penghulu pergi.
__ADS_1
"Pak Hadi, saya ingin berbicara dengan pak Hadi sebentar. Mohon pak penghulu menunggu sejenak, paling lama 15 menit." ujar wanita itu.
Diruang tengah telah berkumpul keluarga Hana, Farid yang semula keluar telah kembali dengan nafas memburu dan muka memerah.
"Pak Hadi dan Ibu serta Hana. Mohon maaf atas kelancangan saya. Saya turut prihatin atas kejadian ini. Dan langsung saja, saya ingin menawarkan anak saya Dimas untuk menjadi pengantin pengganti. Insya Allah anak saya bersedia menjadi suami Hana. Lahir dan batin. Bukan begitu, Dimas!" Tante Namira, wanita yang tadi meminta pak penghulu untuk tinggal, berbicara dengan tegas. Tak ada keraguan dalam kata katanya. Dimas menatap Hana sebentar, lalu mengangguk kecil.
"Dimas ini meski terlihat dingin dan acuh, dia sayang dan cinta keluarga. Insya Allah anak baik baik, ibadahnya juga tertib. Rajin bekerja, dan siap menjalin rumah tangga." Tante Namira melobi dengan semangatnya, membanggakan anak laki lakinya.
"Maaf, jika saya menyela." Yuri, diambang pintu ruangan berucap. Randy mendorong kursi roda dan berhenti di hadapan pak Hadi, disamping Tante Namira. Yuri lalu meminta Randy untuk pergi dari tempat itu.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu. Saya mohon maaf sebelumnya."
"Apalagi yang ingin anda ucapkan atas kehancuran anak saya, kamu puas sekarang? Anak saya dua kali gagal menikah! " hardik Bu Mira pada Yuri. Pak Hadi mengelus punggungnya.
"Sabar, Bu. Kita dengar apa yang akan disampaikan anak ini."
"Maafkan saya, Bu, Pak. Saya memang salah, dan tolong dengar saya kali ini. Saya ingin menebus kesalahan saya atas gagalnya pernikahan mbak Hana dulu."
"Udah, gak usah muter muter gak jelas, apa maumu. Kami menanggung malu berkali kali. Salah satu sebabnya adalah kamu." Hana tak mampu berucap apapun. Rasa hatinya sekarang ini adalah rasa malu yang sangat, make up nya terlihat sudah berantakan. Dua kali sudah ia gagal menikah.
Bukan karena kehilangan Salman dia sedih. Entahlah, perasaannya pada laki laki itu sepertinya sudah mati. Perasaan yang dominan dihatinya saat ini adalah,
dirinya akan menanggung aib ini seumur hidup.
"Mbak Hana dan Bang Randy saling cinta, Bu. Saya yakin mbak Hana masih mencintai Bang Randy. Saya mohon nikahkanlah Bang Randy dan mbak Hana sekarang juga! " semua orang saling pandang. Bagaimana bisa seorang istri menyerahkan suaminya pada gadis lain. Hana bahkan membelalakkan mata.
"Mumpung pak penghulu masih ditahan disini dan belum pulang."
"Itu tidak benar, Yuri. Saya ikhlas Kak Randy buat kamu. Kuharap kamu lekas, sembuh dengan didampingi kak Randy." Yuri menggeleng keras.
"Nggak mbak Hana, jika saya pergi nanti, saya akan membawa penyesalan saya. Maka dari itu dalam kesempatan ini, saya mohon pada Pak Hadi menikahkan Mbak Hana, dengan Bang Randy. Saya tak apa, rela saya. Saya mohon Pak, terimalah permintaan terakhir saya, hikks hikks! " Yuri meneteskan air mata penyesalan serta permohonannya, agar dikabulkan oleh Pak Hadi sekeluarga.
Ruangan itu menjadi hening, tak ada yang bersuara beberapa saat. Pak Hadi mendongak, mengusir air mata agar tak terjatuh. Laki laki sekaligus seorang Ayah harus kuat. Bagaimana ia bisa mengayomi anak dan istrinya kalau dia lemah. Begitu pikirnya.
"Rid, panggil Nak Randy kemari." Farid yang diperintah pak Hadi mengangguk, melesat keluar. Dalam hitungan menit ia kembali bersama Randy. Kedua laki laki itu didudukkan berdampingan. Dimas dan Randy.
"Rid, dan juga mbak Sofia, aku minta tolong, handle tamu yang didepan. Mintalah mereka untuk duduk sejenak dan makan hidangan yang telah disediakan." pinta pak Hadi pada kakak kandungnya itu. Keduanya mengangguk dan segera ke depan seperti permintaan pak Hadi, walau dalam hati mereka penasaran akan jawaban Hana.
"Nduk, Anakku Hana yang paling Ayah sayangi dan Ayah Ibu cintai seumur hidup kami. Hari ini, rencana pernikahanmu dengan Salman telah gagal. Namun dengan Kehendak Allah yang Maha Kuasa atas segala hal dibumi ini, Allah kirimkan dua lelaki yang siap menjadi pengganti Salman. Karena tak ada hal yang tak mungkin jika Allah menghendaki. Ayah lihat mereka berdua laki laki yang baik meski Ayah baru lihat nak Dimas beberapa kali. Begitupula nak Randy. Meskipun dia pernah membuat kamu patah hati dan memilih membatalkan pernikahan, karena rasa tanggungjawabnya pada adik angkat yang sakit untuk menikahinya. Tapi Ayah bangga padanya sebagai laki laki ia sangat bertanggungjawab. Bahkan beberapa hari lalu dia menolongmu, yang diganggu preman mabuk dan sempat kritis karena kena tikam pisau dan kehilangan banyak darah. Beruntung nyawa masih terselamatkan, bahkan saat ini mungkin dia belum sembuh total, tapi memaksakan diri untuk datang memenuhi undangan kami."
"Bagaimana Nduk, apa kamu mau memilih salah satu diantara keduanya pria dihadapanmu ini?" Hana menatap kedua pria tampan di depannya. Keduanya mempunyai kelebihan masing masing. Sama sama pria tampan yang mapan.
"Atau mau menolak keduanya, semua terserah kamu. Kamu yang akan menjalaninya."
Hana diam menunduk. Hati rasanya hancur berkeping-keping. Berharap semua hanya mimpi, namun saat ia mencubit tangan terasa sakit. Dalam arti ini adalah kenyataan. Kenyataan pahit dari keraguan yang dirasakannya beberapa hari ini.
Randy melirik pria disampingnya. Lalu menatap Yuri beberapa saat. Ia merasa ia telah kehilangan harapan untuk bisa bersanding dengan Hana walau itu setipis kulit ari. Dia pasrah, dan yakin Hana bakalan memilih pria lajang di sampingnya. Walau pak Hadi memujinya didepan semua orang diruangan itu.
"Gimana Nduk, pak penghulu sudah terlalu lama nunggu. Beliau mungkin harus pergi ke tempat nikahan lain. Jadi tolong Ayah, beri jawaban sekarang juga. Walaupun kamu belum siap dan menolak keduanya, Ayah gak apa apa. Ayah gak akan maksa kamu, karena Ayah yakin kamu pasti juga masih bimbang dan butuh waktu. Betul begitu, Bu! " bu Mira mengangguk setuju.
"Baiklah, saya akan jawab sekarang. Saya tak mau orang tua mendapat citra lebih buruk lagi dengan kegagalan saya. Saya tahu Ayah dan Ibu menanggung malu atas kejadian ini. "
"Saya saat ini adalah anak Ibu dan Ayah. Jadi, saya serahkan keputusan di tangan Ibu dan Ayah. Saya yakin kalian punya feeling yang baik, saya percaya, Yah, Bu. Hana akan menurut, siapapun yang Ayah pilihkan untuk Hana. Apapun keputusan kalian, akan Hana terima! " Hana menyerahkan lagi tanggungjawab memilih pada Ayahnya. Pak Hadi dan bu Mira saling tatap.
"Kamu yakin, Nduk?" Hana mengangguk.
"Gimana, Bu?" Bu Mira diam, sebelum membuka suara ia melirik Dimas yang menatap lurus dan Randy yang menunduk.
"Saya menyerahkan putusan sama Ayah." ucapnya kemudian masih membuat tanda tanya bagi semuanya.
"Baiklah, karena anak dan istriku menyerahkan putusan ditangan saya."
"Bismillahirrahmanirrahim. Bu, ajak Hana masuk! Biar make up-nya diperbaiki. Nanti dia akan keluar jika ijab kabul sudah dilakukan, dan dia akan dijemput suaminya." Walau masih penasaran akan jawaban sang Ayah, Hana manut. Tanpa membantah ia dituntun ibunya dan juga Citra dan Putri masuk ke kamar.
Wah wah ini si Ayah masih buat teka teki. Yang gak suka alurnya, jangan dihujat ya. Mungkin memang gak relevan bagi anak zaman now. Diibaratkan kayak beli karung dalam kucing, eh kebalik, wkwkwk. Beli kucing dalam karung. Di zaman othor dulu, masih ada yang seperti itu. Dan ini hanyalah fiktif, hanya untuk bacaan. Jadi, jika mungkin cerita ini menyinggung tentang harga diri dan tak mencerminkan martabat wanita, karena keputusan mutlak di tangan seorang Ayah yang jadi kepala rumah tangga. Othor minta maaf, jan dimasukin hati, masukin keranjang sampah aja.
__ADS_1
Yuks, komen komen. Mana nih teamnya Randy...
Mana teamnya Dimas...