HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 29


__ADS_3

Keesokan harinya sebelum subuh menjelang, seperti yang sudah sudah, Hana berjibaku di dapur dengan ritualnya. Dibantu oleh ibu yang dengan sigap membantu membuat kue untuk di jual. Donat aneka toping, kue pukis dan kue karamel.


Ia juga menyiapkan bahan bahan untuk membuat kue nanti setelah sekembalinya mengantar ke warung langganan dan ke kafe De Amor tempat kerja Randy. Hari ini ia mendapat pesanan 100 kotak kue untuk acara arisan Bude Sofia, kakak dari ayahnya.


"Hai!" sapa Randy.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam. Hehe."


"Han! 2 hari gak ada kue buatan kamu banyak yang nanyain loh!" sambut Randy didepan pintu sembari tersenyum.


"Dan lagi kamu kok gak bilang kalau mau pergi, so langganan banyak yang kecewa deh." Hana tersenyum kikuk langsung ditodong kekecewaan Randy.


"Maaf, kak! Kemarin itu lupa ngasih tahu kak Randy. Habisnya akhir akhir ini suka lola. Loading lambat. Malam aku baru ingat kalau waktu kemarin itu nikahannya temen aku. Jadinya mendadak deh perginya." ujar Hana memberi alasan yang apa adanya. Sesuai kenyataan.


"Ya udah, besok besok lagi kalau mau libur setor kue, kamu bisa kirim pesan. Biar gak bikin kecewa para pelanggan." Hana mengangguk mantap. Saat makan siang


"Oiya, yang kejedot pintu tadi malem itu masih merah, masih sakit ya?" tanya Randy sembari mengamati kening menyadarkan Hana akan kejadian memalukan tadi malam yang langsung membuat mukanya memerah karena malu.


"Aku pulang dulu, kak! Aku masih banyak pekerjaan. Ada pesenan seratus kotak kue buat arisan Bude aku. Assalamu'alaikum." Hana tak mau membahas lagi, terlalu memalukan baginya. Ia memilih langsung berpamitan dan segera berlalu dari hadapan Randy yang tersenyum seakan meledeknya.


Randy masih tersenyum lebar menatap kepergian Hana yang tergesa-gesa gesa. Lucu sekali.


"Waalaikum salam." Randy geleng kepala, hingga terjingkat kala seseorang menepuk pundaknya.


"Wow, teman kita lagi falling in love nih kayaknya."


" Langsung tembak aja, Bro. Biar langsung klepek klepek. Duarrr! Terlalu sayang aja kalau keduluan yang lain." sekali lagi Panji, anak buah sekaligus orang kepercayaan Randy menepuk pundaknya sembari tertawa. Randy menoleh, dan tersenyum penuh rasa percaya diri tingkat tinggi.


"So pasti, men! Lo kan tahu gimana gue. Kalau gue serius, bahkan bisa malam ini juga gue lamar dia buat jadi bini. Gak usah pacaran, bikin dosa tambah numpuk aja."


"Waah gercep, ayo gercep. Beneran falling in love ternyata dia, gue dukung seratus persen. Gue percaya Lo kalau serius besok langsung nikah juga bisa. hahaha...."


"So pastinya." keduanya tertawa dan beriringan masuk ke dalam kafe.


*****


Sesampainya dirumah, Hana kembali berjibaku dengan tepung dan bahan bahan kue lainnya.


"Hhh, harga telur sekarang melambung naik. 2 kali lipat dari bulan lalu deh. Ibu ibu yang anaknya suka olahan dari telur, pada sambat. Tadi waktu ibu belanja di warung denger denger begitu." ibu sedang memecah beberapa telur yang diambil bagian kuningnya saja. Mencampur terigu, kentang, gula, dan susu bubuk. Kemudian menambahkan ragi, kuning telur, dan air dingin. Lalu mengaduk adonan menggunakan mixer sampai kalis.


"Bener, bu. Tapi ya biarlah. Biar peternak ngerasain untungnya. Kan beberapa bulan lalu, harga telur anjlok. Bahkan ada peternak yang sampai gulung tikar, bahkan ada yang sampai ngejual asetnya. Biar ngerasain lagi dapat laba dan pulih asetnya." ucap Hana bijak menanggapi Bu Mira.


"Iya sih, Han. Tapi kan kalau bikin kue terus apa apa mahal gini, memang masih ada untungnya? Pasalnya bukan cuma harga telur, bahan bahan lainnya ikutan naik juga. Kayak terigu, tepung tapioka, gula dan lainnya."


"Insya Alloh ada, Bu. Yakin aja, Alloh sudah menakar rezeki kita. Tak akan tertukar, tak akan juga hilang kalau memang rezeki kita." sambungnya lagi.

__ADS_1


Mereka kini sedang membuat bulatan bulatan dari adonan tadi yang telah kalis, membiarkannya setengah jam dulu dan setelah mengembang barulah dibuat bulatan bulatan kecil.


"Han, hape kamu bunyi, tuh!" ujar ibu saat Hana menggoreng donat. Bu Mira menggantikan menyelesaikan pekerjaan Hana.


"Assalamu'alaikum, ya budhe!"


"Iya, gak lupa kok. Tenang aja, Tuh ibu lagi goreng donat! Brownis sama kue pukis udah jadi, tinggal pudingnya. Nanti mas Farid suruh ambil jam satu ya!"


"Iya, Bude. Assalamu'alaikum!" Hana menutup panggilan.


"Budhe Sofia, kenapa?"


"Cuman memastikan kalau kita tidak lupa pesanannya." dan mereka meneruskan pekerjaannya hingga bisa selesai tepat waktu.


"Alhamdulillah akhirnya kelar juga." sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu saat telah selesai mengemas kue dalam kotak dan memasukkannya pada kresek merah besar. Tinggal menunggu si empunya kue yang akan menjemput.


" Capek Han? Sepertinya kamu butuh orang buat bantu kamu kalau kamu pas dapat orderan seperti ini. Pasti capek banget." seru ibu yang membawa air putih dingin di hadapan Hana. Di jam jam pergi ini hari lagi panas panasnya.


Hana menegakkan duduknya. "Maaf, ibu pasti capek ya bantuin Hana!" menatap sang ibu dengan rasa bersalah. Terlihat ibunya lelah juga.


"Ojo salah paham, Nduk. Ibu senang kok ada kegiatan baru seperti ini. Tapi kan kalau punya batur atau rewang, biar kamu gak terlalu kecapekan. Kamu kan bikin kue sendiri, nganter sendiri, beli bahannya juga sendiri. Semuanya dipikirin sendiri. Ibu cuman bisa bantu dikit. Biasanya ibu kan cuman masak, beberes rumah, selebihnya itu nganggur."


"Masih capekan jadi kasir kok Bu, apalagi kalau toko pas rame ramenya. Betis ini pegel semua karena berdiri terus, gak bisa istirahat sebab antriannya panjang."


"Mmm, kalau rewang sepertinya untuk saat ini belum perlu, Hana insya Allah masih bisa ngatasin. Ibu kalau lagi capek, gak perlu sungkan buat istirahat. Sama anak sendiri juga."


" Hana masih nyoba nabung buat bisa sewa toko. Buat mengembangkan bisnis ini. Akan lebih leluasa kalau sewa toko aja, Bu. Gimana menurut Ibu?" Ibu mengerut keningnya.


"Boleh kan, Bu?"


"Sebenernya bagus itu, Han. Tapi, kalau sewa toko kan mahal. Lebih baik uangnya disimpan saja atau buat tambah modal. Ibu gak keberatan kok kalau tetap disini. Ibu jadi bisa leluasa bantu nyambi pekerjaan lainnya gak usah keluar rumah."


" Lagian ya, kamu itu anak ibu satu satunya, ibu sama Ayah gak pernah keberatan kalau kamu meneruskan usaha kamu tetap disini. Toh, gak ada yang dirugikan juga!" ucap ibu panjang lebar.


Dan begitulah, Hana disibukkan dengan rutinitas itu. Hingga tak terasa sudah 3 bulan lamanya Hana menekuni usaha itu. Semakin banyak yang mengenal kue kue buatannya. Sampai ia kebanjiran orderan, baik itu untuk hajatan pernikahan, ulang tahun, sekedar arisan dan lainnya.


Ia lalu mempekerjakan 2 orang wanita tetangganya untuk membantu.


Hari itu Putri bertunangan, dan memaksa Hana beserta Citra untuk menginap semalam di rumahnya. Sekali seumur hidup, itu alasan Putri.


Pihak dari keluarga Bima akan datang sehabis isya. Berdua bersama Citra, Hana mendandani Putri. Hana yang kebagian menata jilbab Putri. Saat Hana memasang pin di kerudung Putri, hape yang diletakkan diatas meja menggelepar kencang.


Ayah calling.....


Tumben. Batin Hana.


"Assalamu'alaikum, " Hana membuka percakapan.

__ADS_1


"Nduk, kancamu moro mrene!"


(Nduk, temanmu datang kesini!")


"Konco? Siapa Bu?" ternyata ibunya yang menelpon.


"Kuwi loh, sing winginane moro numpak mobil expander malem malem. Masa udah gak ingat?"


"Mas Salman?" gumam lirih Hana lalu menoleh pada kedua temannya yang masih asyik memadu padankan make up.


Ngapain dia dateng ke rumah?


"Ya udah, Ibu bilangin aja kalau Hana gak ada di rumah, beres kan?" Hana bicara dengan lirih. Takut kedengeran kedua temannya.


"Udah, udah ayah bilangin kok tadi. Ibu tuh cuman ngasih tahu kamu aja. Oiya, acara tunangannya gimana udah apa belum?" tanya ibu terdengar antusias.


"Belum, Bu! Habis isya' nanti mereka datang katanya. Ya udah, kalau gak ada yang perlu dibahas Hana tutup dulu ya? Ini masih ngurusin Putri, Assalamu'alaikum."


"Iya, Nduk. Semoga kamu cepat nyusul Putri. Waalaikum salam." sebelum menutup telpon ibu masih sempat mendoakan Hana.


"Ih, Ibu apaan sih? Itu melulu yang dibahas." gerutu Hana kembali menghampiri kedua sahabatnya. Dan langsung terkesima, menutup mulut dengan telapak tangan.


"Waaaw! Pangling nih. Ini siapa Cit, kok ada biyutipul gil disini?" Hana tertawa sembari tangannya meremas udara, seolah olah sedang mere mas pipi Putri. Putri mengibaskan tangan dan tertawa.


"Apaan sih Lo, Han! Lebay deh!"


"Ciee ciee, yang mo *sold out!"


"Habis ini giliran Lo, Han!" Hana merengut, memajukan bibirnya.


Kedua temannya malah tertawa mengejek*.


"Gue Aminin deh!" Citra memberi sentuhan akhir pada pipi Putri hingga pipi itu merona dengan cantiknya.


"Siapa tadi yang telpon, Han?"


"Itu, ibu ngabarin kalau ada pesanan kue, seminggu lagi." jawab Hana sedikit berbohong.


"Makin laris aja, Han bisnis kue Lo! Gak nyesel deh Lo resign dari swalayan. Bisa mandiri berwirausaha. Gak kayak gue!" keluh Citra. Dan kedua temannya tak mempermasalahkan lagi.


Acara pertunangan Putri berlangsung dengan suasana hangat dan kekeluargaan. Hana sesekali menatap Putri yang tersenyum malu malu sepanjang acara, dari awal sampai Bima dan keluarga undur diri acara berjalan lancar. Namun, ada ruang hati yang kosong pada diri Hana. Satu persatu temannya mengakhiri masa lajangnya.


Pagi pagi sekali Hana pulang, Bu Mira yang sudah lihai membuat kue dengan arahan Hana, telah menyelesaikan satu jenis kue brownies. Tinggal menggoreng donut dan membuat kue bolu pandan.


"Nduk, tadi malam sehabis teman kamu namanya Salman itu pulang, Randy datang juga kemari."


"Oiya! Apa mau pesen kue tambahan, Bu! Kenapa gak wa Hana?" buru buru Hana mengecek hapenya. Khawatir Randy menghubunginya dan ia abai. Tak ada chat darinya, ia lalu melihat daftar log panggilan tak terjawab, pun tak ada.

__ADS_1


"Randy ada kepentingan sama kamu, tapi... ah. Biar dia aja yang bilang sendiri ke kamu nanti." ibu meneruskan menggoreng donut. Hana mengerutkan alis bingung.


Ada apa ya?


__ADS_2