
Setelah terjadi kesepakatan antara Hana dan Randy, merekapun segera beristirahat. Ranjang telah diberi sekat ditengahnya, Dan Randy juga diberi selimut untuk dipakai saat tidur nanti.
"Kak Randy gak boleh melebihi batas tempat ini. Ingat itu! " Randy hanya mesem melihat istrinya yang sibuk membuat pembatas.
"Sudah sudah, itu masa mau kamu taruh disitu, Dek? Percaya sama aku, gak bakalan nyebrang ke samping, pegang janjiku malam ini. Tapi untuk besok besok, entah." seru Randy saat melihat Hana menaruh boneka cukup besar diatas guling.
"Aku udah janji. Aku gak akan melebihi batas, kamu bisa percaya aku, kan?" Hana menghentikan kegiatannya.
"Baiklah ini saja. Mari kita tidur!" Hana tidur miring menghadap sisi dimana Randy berada dengan selimut menutupi seluruh tubuh kecuali kepala. Randy bangkit dari duduknya, lalu membuka kemeja. Semula Hana hanya diam, namun saat Randy membuka sabuk, lalu memelo rot-kan celana, ia pun menjerit kecil, dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Aaaa, kak Randy mau apa? Kan kamu udah janji, gak bakalan
macem macem." Hana yang sudah merebah, bangkit lagi dengan kasar, lalu merapatkan selimut dan berbalik memunggungi Randy.
Randy tersenyum geli. "Kenapa? Takut tergoda ya? Atau takut aku macem macem."
"Iih, kak Randy belum berapa menit, udah mau ingkar janji." repetnya. Randy tak bisa menahan tawa melihat ekspresi istrinya. Dan ia sengaja menggodanya. Ia bergerak ke arah Hana yang menutupi seluruh tubuh dengan selimut itu. Hana makin ketakutan.
"Kak Randy bohong, aku gak suka, aku benci!" ucapnya dengan cemberut.
"Benci? Benar benar cinta maksudnya?" Randy masih tertawa tawa dan langsung berhenti saat melihat istrinya melotot tajam padanya.
"Aku gerah dek. Belum mandi seharian cuman pagi tadi sebelum kesini. Pinjem handuk, dong! " Randy mencari alibi, hingga tatapan tajam itu meredup.Wajah Hana langsung berubah, yang tadinya memerah karena hampir menangis, sekarang meringis karena malu, dia mengira Randy bakal melakukan hal yang disepakati untuk ditunda malam ini.
"Oh, kirain! " gumam Hana lirih dan memalingkan muka. Malu dengan mulut sedikit maju.
"Kirain apa? Berharap aku benar benar ingkar janji. Dan sentuh kamu malam ini?" ternyata randy mendengar gumamannya.
"Handuknya ada di lemari, aku ambilin." Hana melesat ke arah lemari dengan selimut tebal di badannya hingga hampir terjungkal karena kesandung selimut itu. Beruntung Randy sigap menangkap tubuhnya.
"Katanya gak mau, malah sengaja jatoh gini ya, biar bisa dekatan sama aku! " Hana memukul badan Randy dengan tangannya yang masih bebas, dan menatap tajam setengah melotot.
"Enak aja di sengaja, jadi di ambilin gak nih, handuknya?" ucapnya dengan galak, tapi senyum Randy malah bertambah melebar.
"Duh, istriku galak banget, jadi dong sayang!" Hana berlalu meninggalkan selimutnya teronggok dilantai, tak meladeni godaan suaminya.
"Nih, jangan lama lama mandinya, udah malem banget, ntar kalau masuk angin, aku ogah ya, disuruh ngerokin kak Randy! " omel Hana memberikan jubah mandi warna biru muda itu.
Setelah menerima handuk, Randy berlalu menuju kamar mandi dengan bersenandung ria.
*Yo wis ben, duwe bojo sing galak.
__ADS_1
Yo wis ben, sing omongane sengak.
Na na na na na na
Nanging aku wegah pisah*.
Hana menutup kupingnya, tak mau mendengar sederet cuplikan lagu berbahasa daerah itu. Walaupun sebenarnya suara Randy lumayan bagus, tapi itu adalah lirik lagu menyindirnya. Sebelum menutup pintu kamar mandi, Randy sempatkan melirik istrinya dan mengerling satu mata dengan senyum lebar.
*Tak tompo kanti tulus ing ati
Tak trimo sliramu tekan saiki
Mungkin wis dadi jodone
Senajan kahanane koyo ngene*
Suara itu masih terdengar dari kamar mandi. Hana menggelengkan kepala, sungguh suatu yang tak pernah diduganya. Harusnya malam ini dia dikamar ini bersama.... Ah, sudahlah.
Ketentuan Ilahi memang kadang tak bisa ditebak.
Jodoh Rahasia Tuhan, jika Allah berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagiNya. Walau harus terjeda dengan adanya Yuri, toh akhirnya jodoh Hana adalah Randy.
Hana, pura pura memejamkan mata saat Randy keluar dari kamar mandi, terbukti dari aroma harum sabun mandi yang dipakainya. Ia tak berani membuka mata barang sekejap, tak perlu ditanya bagaimana rasa hati Hana sekarang. Jantung yang bekerja ekstra keras, cemas, takut, merasa bersalah karena menolak suami tercampur jadi satu. Nano nano rasanya. Tapi disisi lain ia menepis rasa bersalahnya itu, dia butuh waktu.
"Dek Hana, aku tahu kamu belum tidur, ngobrol, yuk! " Hana tak menjawab, masih bertahan untuk pura pura tidur. Tak ada suara lagi setelahnya. Namun Hana tetap waspada, detak jantungnya juga terasa lebih cepat. Sebenarnya ia pun merasa sangat bersalah, ia tahu menolak suami adalah dosa apalagi ini adalah malam pertama mereka, tapi perasaannya sebagai sesama wanita ia melihat Yurike merasa kasihan. Dan benar benar belum siap untuk malam ini.
Walau gadis yang penyakitan dan kurus kering itu mengatakan berkali kali ia telah ikhlas, dan memang sudah seharusnya mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Bahkan ia meminta maaf atas perilakunya dulu yang memaksa Randy menikah dengannya dengan alasan sakitnya.
Hingga saat kantuk mulai menyerang, ia dikejutkan suara mendesis dari sebelah ranjangnya. Ia memberanikan membuka mata, dan melihat suaminya menahan sakit.
"Ka- Kak Randy, kenapa?" segera ia bangkit dan mendekati laki laki yang masih mengenakan jubah mandi itu.
"Eh, masih pakai bathrobe juga! " Randy tersenyum, suara omelan Hana menjadi moodboosternya saat ini. Walau masih menahan rasa nyeri.
"Aku kan gak bawa baju ganti. Mana aku tahu tiba tiba jadi pengantin dadakan kayak tadi." belanya tak mau kalah.
"Kak Randy kenapa?" ulangnya lagi, tak ingin membahas tentang pengantin pengganti dadakan.
"Lukanya masih sakitkah?" tanyanya menerka. Tak ada jawaban dari Randy membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Randy menahan sakit pada bekas lukanya.
"Kak Randy bawa obatnya, kan? Dimana? U_udah diminum belum?" Hana melupakan kesepakatannya, ia bahkan membuka selimut yang Randy kenakan. Dan bersemu merah saat melihat Randy hanya mengenakan celana boxer dan kaos putih tipis dibalik bathrobe selutut.
__ADS_1
"Ah, maaf! " pekiknya sambil menutup mata dengan telapak tangan kirinya. Randy menangkap dengan cepat tangan sebelah kanan Hana.
"Kenapa? Udah halal kita, boleh dilihat sepuasnya, apalagi dipegang. Sangat boleh sekali." goda Randy sambil terkekeh, Hana memukuli Randy dengan gulingnya.
"Awww, haduh. Istriku tengah malam berubah jadi singa betina ngamuk nih! Ishh..." Randy menangkis pukulan Hana dengan lengannya, dan meringis saat rasa nyerinya terasa lagi.
"Aku cuman minum obat pagi tadi. Gak tau kenapa kok masih nyeri juga. Tadinya aku bawa obat buat persediaan, aku taruh di laci mobil. Dan mobilnya dibawa Pak Herman pulang." jelas Randy masih mengenggam tangan Hana.
"Mungkin kalau kamu elus bekas lukanya, rasa sakitnya berkurang!" Hana menarik tangannya dengan cepat demi mendengar ucapan itu.
"Ih, itu mah modusnya kamu, Kak! " Hana segera turun dari ranjangnya dan keluar kamar.
"Heii, mau kemana sayang udah malam?" tapi Hana tak menggubrisnya. Sekitar sepuluh menit kemudian ia datang kembali dengan kain sarung di pundak dan segelas air putih di tangannya.
"Ini, aku ada ibuprofen kalau kak Randy mau minum, buat mengurangi nyerinya. Besok pagi baru minum obat dari rumah sakit yang katanya di mobil." ucap Hana menyerahkan satu tablet juga air putih.
"Makasih sayang, atas perhatian kamu. Pasti cepet sembuh kalau kamu yang ngasih obat. " Hana menyebik, dalam keadaan sakit Randy masih sempat menggodanya. Dan sedikit terenyuh. Bagaimana dan siapa yang merawat luka Randy selama ini? Yuri pasti gak bisa, karena merawat dirinya sendiri pun Yuri butuh bantuan orang lain
"Ini juga, sarungnya Ayah. Tapi belum kepakai, katanya buat kak Randy aja. Daripada pakai handuk buat tidur." meletakkan dipaha Randy sarung motif batik berwarna hitam putih yang masih terbungkus plastik, sumringah wajah Randy, istrinya begitu perhatian padanya.
"Makasih lagi, emang Ayah belum tidur?" melihat jam diatas nakas menunjukkan tengah malam beberapa saat lagi.
"Tadi kebetulan aja Ayah juga lagi diluar, orang kantor temen Ayah pada baru bubar." jelas Hana.
Rasanya baru beberapa jam tertidur, suara dering alarm ponsel mengganggu tidur sang pengantin baru. Randy segera bangkit dari tidurnya karena sayup terdengar kumandang azan subuh. Setelah selesai wudhu dan mengenakan kemeja kembali, Randy berniat membangunkan istrinya dengan mengguncang bahu yang terbungkus selimut itu pelan.
"Sayang, aku mau ke masjid dulu. Kamu shalat di rumah aja, kan?" Hana menggeliat dan saat membuka mata Randy yang sudah mengenakan sarung dan baju koko pinjaman dari Ayah mertua dengan peci hitam. Menambah aura ketampanannya, hingga Hana terkagum, pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya dari seorang Randy walau baju kokonya agak kekecilan.
"Ehm, i-iya. Pergilah." tergagap Hana menjawab, Randy tersenyum lebar, dan segera melangkah keluar kamar, meninggalkan Hana yang wajahnya memerah.
Hana menenggelamkan wajah dibalik selimut, " Ya Tuhan, rasanya seperti mimpi." ia tersenyum, dan disaat mengingat peristiwa kemarin, senyumnya langsung hilang.
"Hoooaam! Masih ngantuk lagi." Hana menguap. Ia gerak gerakkan badan dan tangannya, meregangkan otot, lalu menguap lagi. Andai tak ingat kewajiban sebagai seorang muslimah, ia masih ingin bergelung dibawah selimut.
"Aduh, sakit perut aku!" Hana membungkuk seraya meringis, perutnya terasa melilit lilit. Karena kesibukan dan tekanan pikiran akhir akhir ini, ditambah seringnya telat makan, maag Hana sering kambuh.
"Alhamdulillah. Punya mantu yang InshaAllah shaleh. Mau ke masjid juga, kan?" sapa pak Hadi saat Randy sampai diruang tengah. Pak Hadi menggunakan kostum yang sama, sarung dan baju koko serta peci hitam, menepuk pundak sang mantu.
"Ibu sedang di kamar mandi, Ayah biasa kunci dari luar pintunya kalau ke masjid subuh." ucap pak Hadi lalu mengunci dari luar daun pintu, sebelum sama sama melangkahkan kaki menuju masjid.
***
__ADS_1
Harum aroma kopi racikan sang ibu mertua menguar saat Randy membuka pintu. Ia pamit pada Ayah mertuanya langsung naik ke kamar. Tak berapa lama ia turun lagi dengan tergesa, tak mendapati pak Hadi diruang tengah, iapun langsung menuju ke dapur.
"Masih belum bangun menantu kesayanganmu itu, Yah?" terdengar suara bu Mira. Randy melambatkan langkahnya hingga berhenti di balik pintu dapur yang terbuka.