HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 20


__ADS_3

Tak lama mereka di panti tempat Randy dulu dibesarkan. Hana pulang diiringi motor Randy dari belakang yang membuntutinya. Setelah melihat Hana masuk ke halaman rumahnya, barulah Randy meneruskan perjalanannya ke tempat kerja.


"Han, besok aku minta 4 box kue ya, tolong antar ke tempat kerja aku." ucap Randy sembari menyerahkan uang 3 boks kue yang ia bawa ke panti buat oleh oleh untuk adik adik angkatnya.


"Kak Randy mau ngerayain sesuatu ya?" tanya Hana sembari mengernyit, apa maksudnya Randy membeli kue dalam jumlah banyak. Randy tak langsung menjawabnya.


"Aku ada ide, siapa tahu usahamu bisa cepat berkembang, dan lebih banyak orang yang tahu usahamu. Gak usah aku jelaskan sekarang, besok kamu juga tahu sendiri." jawabnya menggantung.


" Yang jelas, besok kamu bawa aja yang kuminta, ya!" Hana tersenyum mengangguk.


"Baiklah, tapi setelah aku mengantar kue kue yang lain kan?" tanya Hana meminta kepastian.


"Iya, tenang aja. Setelah semua urusanmu selesai, tapi jangan lebih jam 10 kalau bisa. Setidaknya, sebelum waktu tengah hari, kamu udah bawa kuenya kesana!" Hana mengangguk paham.


"Iya, siap kak. Makasih ya, udah selalu bantuin Hana." itu adalah percakapan mereka berdua setelah keluar dari panti.


"Kok aku jadi sangsi ya! Apa sebenernya kak Randy itu pemilik kafe dan kedai bakso? Bagaimana bisa kalau cuman karyawan terus dia seenaknya ngeborong kue, emang gajinya berapa?"


*Terus tadi, harusnya dia kan ngomong dulu sama atasannya? Ini tidak, main ambil keputusan sendiri aja!"


Ah, bodo ah*!


****


Sehabis Maghrib, Hana kedatangan teman temannya di swalayan. Dengan riangnya mereka bercanda ria berlima, sembari makan kue bikinan Hana.


"Gimana, enak nggak?"

__ADS_1


"Enggak!" seru mereka bersamaan seperti koor. Hana mengerucutkan bibir.


"Enggak salah maksudnya, apalagi kalau gratis seperti ini, sering sering ajalah!" Citra menjawab yang langsung dapat toyoran di kepalanya. Namun ia hanya nyengir sembari nyomot kue kedua kalinya.


"Kemarin kak Randy Lo itu nyari loh!" Giliran Putri bicara.


"Kita bilang aja, Lo udah resign. Terus dia tanya tanya, kenapa resign? Ya gue jawab aja kita gak tahu! Emang kita gak tahu, ya kan?" Ketiga orang teman kompak mengangguk. Hana tertawa dengan tingkah teman temannya itu.


"Gak ada yang Lo sembunyiin dari kita kan, Han?" pertanyaan putri membuat Hana gelagapan. Ia lalu mengangguk dan membantah.


"Ya, enggaklah. Kan biasanya gue kalau ada masalah, kalian jadi temen curhat gue! Beneran, gue gak ada masalah dengan siapapun, tapi memang ya, keputusan gue mendadak banget sih. Gak tahu kenapa, waktu ibu ngajakin usaha bikin kue, gue langsung iyain aja."


"Gue berharap banget suatu saat gue bisa sewa toko buat usaha baru gue!"


"Aamiin." keempat teman Hana mengaminkan.


"Ini kue kuenya ditaruh dimeja sudut sana. Kamu duduk manis aja disitu."


"Nji, bawain kue ke meja pojok itu ya!" Randy meminta salah satu temannya mendekat dan membantu Hana membawa kue masuk. Dan meletakkannya dimeja sesuai instruksi Randy.


"Mau minum apa mbak? saya bikinin ice drink ya!" Hana mendongak menatap Randy yang senyum senyum menatapnya. Hana menahan senyum dengan gaya Randy yang menawarkan minuman untuknya.


"Ga usah, Kak. Aku gak haus kok, kalau haus aku cukup minum air putih aja."


"Terus ngapain aku disini? Aku pulang aja ya?" pinta Hana namun dicegah Randy.


"Eiit, jangan dulu. Mbak Hana harus nyicipin salah satu minuman disini, aku yakin mbak Hana pasti suka!" paksa Randy membuat Hana menggaruk belakang kepalanya yang tertutup jilbab.

__ADS_1


"Gimana, mau ya! Nanti sehabis minum mbak Hana boleh pulang deh!" bujuk Randy bersikeras. Menatap Hana penuh harap.


"Ya udah deh, minuman dingin saja!" Hana mengalah dan menghembuskan nafas sembari duduk.


"Terus ini kue mau diapain kak? Mana ada kue seperti ini laku di cafe?" ucap Hana merasa pesimis, setelah Randy duduk dihadapannya setelah tadi memesan minuman pada barista.


"Udah, percaya sama aku. Aku ini ahli marketing cukup handal loh! Teman temanku udah tahu apa yang harus dilakukannya. " ujar Randy menyombongkan diri.


"Lah terus, ngapain kak Randy duduk disini? Gak takut dimarahin atasan?" tatap Hana menyelidik, dari awal ia tak yakin Randy pelayan di kafe ini. Pelayan lainnya terlihat begitu menurut tanpa protes jika Randy memerintahkan sesuatu.


" Sebenernya, yang punya kafe ini temen aku, dia tinggal diluar kota karena bukan hanya ini saja kafenya. Ada beberapa cabang cafe di beberapa daerah pula."


"Jadi, yang disini pengelolaannya diserahkan dan dipercayakan sama aku!" ucap Randy meyakinkan Hana. Dan Hana manggut manggut terlihat percaya akan ucapan Randy.


Minuman telah disajikan didepan Hana.


"Minum gih, semoga kamu suka!"


"Aku tinggal sebentar, ya!" Hana mengangguk, membuatkan Randy bekerja. Sembari meminum ice miliknya, ia memperhatikan para pelayan yang sibuk melayani tamu. Ia menautkan alisnya kala semua tamu atau customer yang datang diambilkan kue yang ia bawa.


Dan ia memperhatikan raut wajah beberapa orang yang telah mencicipi kue itu. Rata rata raut wajah mereka terlihat senang, bahkan ada beberapa yang sepertinya memesan lewat pelayan.


Hingga saat minumannya habis, Randy baru menemuinya lagi. Dan mendapati kue tinggal satu boks.


"Waah, kue kamu laris manis, Han! Padahal, baru jam segini. Mmm, besok kalau aku pesan 10 boks, gimana, sanggup nggak?" tawar Randy yang membuat mata Hana membelalak.


Hehehe, sanggup gak kira kira Hana?

__ADS_1


...Bersambung.......


__ADS_2