
Hana keluar dari bangunan toko kosong dengan wajah merah padam, antara malu dan kesal. Suaminya tak bisa diperingati. Hampirhampir saja mereka keterusan. Berbeda halnya dengan Randy yang nampak biasa biasa saja dan tersenyum, Hana merengut dengan muka ditekuk.
"Heii, biasa aja kali. Kita ini pasangan sah. Gak berbuat dosa, malah bernilai ibadah." ucapnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Hai Boss, udah surveinya? " sambut Panji didepan pintu. Hana lebih dulu masuk ke ruangan Randy.
"Hmmm! "
"Itu kenapa lagi bininya kayak gak akur gitu? Baru berantem?"
Berantem bibir. Randy.
Bibir bini lu kayak jontor gitu, Baru diapain boskuh tuh bibirnya bini baru? Panji hanya mampu bertanya dalam hati.
"Boss, boskuh! Kasih info dong. Semalam kuat berapa ronde?" Randy berbalik menatap Panji yang nyengir kuda.
"Berasa punya asisten ban-ci. Kepoan! Masih ori, puas Lo! "
"Woww!" seru Panji yang sudah tak digubris lagi oleh Randy langsung masuk ke ruangannya. Sedetik kemudian pintu dibuka lagi.
"Woii, lo asisten ban-ci. Secepatnya urusin dokumen gue buat ngesahin nikahan gue sama Hana. Gue mau secepatnya punya buku nikah." perintah Bos Randy pada Panji.
"Yang kawin siapa, yang repot ngurusin dokumen siapa! " jawabnya melengkungkan bibir ke bawah. Mengejek.
"Lo mau gue pecat tanpa pesangon?"
"Upps, sorry bos!"
"Oiya, nanti gue kasih pasfoto gue, fotokopi KTP, akta lahir, sama kartu keluarga gue, dan yang ada di surat nikah adalah nama gue! " goda Panji lagi setelahnya setengah berlari menjauhi Randy, jangan sampai ada benda yang melayang ke tubuhnya karena membuat bosnya itu kesal.
"Panjiiii, Ya Allah asisten gue sia-lan geblek, ban-ci kaleng, abal abal!" maki Randy, di kejauhan Panji tertawa sangat puas.
****
"Masih ngambek nih, sayangku?" Randy duduk di samping Hana yang sibuk dengan benda pipihnya. Gadis itu diam saja seolah tak mendengar.
"Heiii! "
"Kak Randy omongannya kasar banget! "
"Habisnya dia sih, bikin aku darting mulu. Kesel banget aku sama dia, Dek."
Hana diam lagi. Merasa diabaikan, Randy merebut ponsel ditangan Hana.
"Ih, hape aku." Hana berusaha merebut hapenya, tapi tangan Randy lebih gesit menjauhkan benda itu.
__ADS_1
"Salah siapa ngacangin suami?"
"Iya, iya aku gak ngambek. Cuman kesel kak Randy itu kok ya gak liat tempat mesumnya, ngomongnya sama orang kasar lagi. Siniin hape aku?" pinta Hana menengadahkan tangan. Berharap Randy menyerahkannya cuma cuma.
"Sun dulu dong! Baru tak kasi hapenya ke kamu! " Randy menunjuk pipi kanan dan kirinya, kening dan yang terakhir bibir.
"Ih, kayak anak kecil, sun dulu baru dikasih mainan." sungutnya.
"Seterah aku lah. Mau sun dulu, atau hape gak dikasih!" Randy memberi penawaran.
"Ihh, kak Randy. Aku lagi chat sama pelanggan aku, kak. Entar dia ngambek, gak jadi pesen roti karena chatnya aku abaikan! " protes Hana sambil terus berusaha menggapai hapenya.
"Tahu kan apa syaratnya buat hape aku kasih?"
Dengan muka kesal Hana menuruti kemauan Randy, sun pipi kiri, kanan, kening dan terakhir bibir pria itu.
"Ah, gak ikhlas nge-sunnya. Ulangi! Yang ikhlas! Sambil senyum gitu" goda Randy makin membuat Hana kesal.
"Yaudah. Biarin lah hapenya. Nanti kalau pelanggan ku kabur, aku mau minta ganti rugi sepuluh kali lipat! " sungutnya mengancam, agar hapenya dikembalikan. Namun jawaban Randy malah tak terduga oleh Hana.
"Jangankan sepuluh kali lipat, seluruh aset yang aku punya pun kalau dibaliknama atas nama kamu aku rela. Serius! " mata Hana membelalak bulat.
"Asal kamu terus sama aku seumur hidup jangan sampai ninggalin aku. Aku bisa gila Dek, jika kehilangan kamu. Cukup sekali aja waktu kamu membatalkan nikahan kita. Aku lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan kamu. Memberikan nyawaku pun aku rela, sudah aku buktikan hari itu saat kamu digoda preman. Aku hampir menyerah dan lebih baik mati."
"Gombal mulu!" Hana pun menyerah, mengingat perjuangan hidup dan mati Randy hari itu. Kilas balik peristiwa yang membuatnya trauma akan warna merah.
Saat melintasi samping meja meja yang beberapa diantaranya telah duduk beberapa orang yang sedang makan, ataupun minum sambil mengobrol, netra Randy menangkap ada seseorang yang dikenalnya dengan baik.
Itu, kan?
"Dek, ada temen aku. Yuk kesana dulu, aku kenalin sama mas Aam." Hana menurut karena memang tangannya digenggam erat oleh Randy.
"Assalamu'alaikum, mas Aam!" laki laki yang sedang mencandai anak perempuan usia empat tahun itu menoleh.
"Hai, Randy! Waalaikum salam" keduanya tertawa, dan adu tos.
"Ih, anaknya imut banget mbak! " Hana memandangi anak berambut lurus yang dikuncir dua, dan berpipi seperti bakpao. Wanita di samping suaminya itu berdiri dan mengulurkan tangan.
"Kenalin, aku Diah. Ini pasti mbak Hana, istrinya Dek Randy, ya?" Hana tersenyum, rupanya mereka telah mengetahui siapa dirinya.
"Iya, mbak Diah salam kenal." menerima uluran tangan Diah, rupanya wanita itu tengah hamil besar.
"Udah berapa bulan mbak Diah, kandungannya?"
"Masuk bulan ke tujuh. Ini tadi lewat, biasanya sih aku langganan kue disini. Habisnya rasanya enak, tapi sayangnya hari ini gak ada kuenya! " adu wanita berhijab grey, matching dengan gamisnya itu.
__ADS_1
"Oiya, memangnya mbak Diah suka kue apa?"
"Kue bika mawar, sama kue pukis tabur coklat kacang. Aduh, mulutku ngiler bayangin aja. " Diah tersenyum malu, mengusap sudut bibirnya.
"Ya Allah, anakku jangan sampai ileran ya, sebab hari ini gak kesampaian apa yang dimau dia! " Aam yang mendengar mengelus perut sang istri.
"Insha Allah, besok ada, mbak. Hari ini memang lagi cuti saya, besok mbak dan mas boleh kesini lagi. " mata wanita itu membulat.
"Jadi, yang bikin kuenya kamu sendiri? " Hana mengangguk.
" Aku juga suka kue. Tante aku juga punya toko kue. Tapi rasanya beda, lidah aku lebih berselera sama kue buatanmu sekarang ini."
"Aku dulu juga sering bantuin Tante Nisa sebelum ada bocil, sekarang mana sempat. Ngurusin bocil sama ngurusin Papahnya bocil, udah merebut semua waktu aku."
" Tapi aku senang kok, jadi ibu rumah tangga ternyata juga bisa menyenangkan." tak ragu ragu wanita itu curhat pada Hana.
"Terimakasih kak. Saya masih pemula, masih perlu banyak belajar. Oiya, siapa nama kakak cantik ini?" beralih topik pada anak wanita itu.
"Ayo kakak dijawab, siapa nama kakak?" Aam menegur anaknya.
"Shiyen Yumna Putli Hamjah! " gadis kecil itu langsung menyembunyikan muka dibalik lengan papanya setelah menjawab dengan cedal. Sesekali melirik sambil tersenyum malu malu, lalu sembunyi lagi, lengan Papanya dipeluk nya erat. Keempat orang dewasa tertawa akan jawaban itu.
"Iih, gemes banget. Pengen kumakan bakpao dipipi kamu, Dek."
Bincang bincang santai itupun terputus, Randy dan Hana harus pergi. Aam merajuk tak mendapat undangan pernikahan dari Randy. Randy meminta maaf, karena memang situasinya berbeda dan tak memungkinkan. Karena Aam memang belum tahu ceritanya. Sebagai gantinya Randy menggratiskan semua yang dimakan keluarga kecil itu hari ini.
"Cantik ya Dek, anaknya mas Aam! " ucapnya saat di parkiran. Hana mengangguk, ia memang terpesona akan imutnya anak mbak Diah dan mas Aam.
"Nanti kita buat yang lebih cantik dan imut dari dia, empat atau lima boleh. Sisanya cowok yang ganteng seperti bapaknya. Biar rumah tangga kita nanti rame. Aku suka aku suka." di jok belakang Hana menyembunyikan rona merah wajahnya dibelakang punggung Randy.
"Dek! " panggil Randy karena Hana tak merespon.
"Eh, iya iya. Tapi, kok banyak amat, lima? Terus cowoknya berapa?"
"Berapapun aku mau. Empat atau lima juga." ucap Randy enteng sambil memakai helmnya.
"Duh kak, banyak amat anaknya. Hamil sama ngelahirin itu gak gampang loh. Apalagi nafkahinnya. Emang sanggup?"
"Insya Alloh sanggup. Kata orang dulu, banyak anak banyak rezeki. Jangan mengecilkan peran Tuhan, karena Tuhan telah menyiapkan rezeki pada semua makhluk ciptaan Nya."
"Tak terkecuali manusia, rezeki, jodoh, dan maut sudah diatur oleh Nya. Buktinya kita, walaupun melalui liku liku perjalanan kehidupan, ternyata kita masih dipertemukan di pelaminan. Padahal sebelumnya kita sudah merencanakan pernikahan jauh jauh hari, tapi batal. Dan saat harapan itu hampir musnah, tetiba kita dipersatukan dalam ikatan pernikahan. lucu kan?"
"So, mulai nanti malam kamu persiapkan diri buatin bayi cantik kayak anaknya mas Aam tadi."
Hana langsung merasa pening kepala, memikirkan nasibnya nanti malam. Apakah harus mengelak lagi atau pasrah.
__ADS_1
\=\=\=\=
"