
Randy memberhentikan sepeda agak jauh dari cowok bernama Salman yang memarkirkan mobilnya, membuka gerbang lalu memasukkan mobil ke halaman sebuah rumah minimalis modern. Randy juga mengambil beberapa gambar untuk ia simpan, dan mencatat alamatnya. Setelah itu ia memutar balik motor dan melajukan motor dengan pesat.
Randy gelisah dalam tidurnya, ia membolak-balikkan badan, berguling kesana kemari diatas ranjang kesayangan, namun tak menemukan posisi yang nyaman untuk tidur. Isi kepalanya ialah bagaimana caranya ia bisa mengutarakan perasaan pada Hana, semakin cepat semakin baik. Sungguh, ia tak rela jika gadisnya dekat dengan lelaki lain. Apalagi sampai keduluan pria bernama Salman. Oh, BIG NO.
Randy tertidur sekitar tengah malam, dan saat jam menunjuk di angka 2, ia terbangun kembali. Entah mengapa ia tak merasakan kantuk, padahal ia tertidur hanya selama dua jam.
Ia baru mengingat sesuatu, dengan langkah yang agak diseret karena tubuhnya terasa pegal semua, Randy berjalan menuju dapur, meminum air putih hangat, lalu menuju kamar mandi, menunaikan hajat dan yang terakhir wudhu. Sesuatu yang jarang dilakukannya setelah usaha kafenya semakin ramai.
*Ya Alloh, ampuni hamba Mu yang tak tahu diri ini.
Setelah mengenakan sarung, baju Koko dan peci sebagai pelengkap, Randy menggelar sajadah dan dengan khusyuk di sepertiga malam itu bermunajat kepada Sang Maha Pencipta. Memantapkan hati dan pikiran, memohon yang terbaik yang dipilihkan Alloh untuknya, kehidupannya, masa depannya. Memohon untuk disegerakan menemukan hilal jodohnya. Dan yang terakhir memohon untuk kesembuhan adik angkatnya, Yuri.
Pukul setengah tiga pagi, ia melepas peci dan meletakkan di meja kamarnya. Tiba tiba ia merasakan kantuk yang luar biasa, ia langsung terlelap. Dan membuka mata dengan enggan tatkala terdengar suara tukang sayur berteriak di depan rumahnya.
"Sayur sayur...!"
"Astaghfirullahaladzim." ia langsung bangun terduduk. Diluar sana hari sudah terang, dan terdengar celotehan para ibu ibu yang membeli sayur, dan ada beberapa yang menawar harganya.
"Ini sawi harganya berapa bang?" tanya seorang ibu.
"Seikat tiga ribu, Bu! Murah kok!" jawab tukang sayur.
"Hari gini semua harga naik, yang gak naik cuman susu, tetep aja di dada, Bu! hehehe!" canda Abang sayur. Yang dijawab koor oleh para ibu.
Huuuuu
"Ih, kurangilah harganya, ya Bang. Aku mau beli 2 ikat lima ribu aja, ya?" tawar seorang ibu lagi.
"Waduh, Bu! tadi diujung sana malah saya jual empat ribu satu ikat, ibunya gak nawar tuh. Malah beli tiga ikat." gerutu Abang sayur, dan itu semua terekam jelas di pendengaran Randy, entah suara para ibu yang terlalu kencang atau memang kamarnya yang terlalu dekat dengan jalan.
"Sayur sayuuur!" seru Bang tukang sayur melihat ibu ibu yang berdiri agak jauh, bermaksud mencari perhatian agar para ibu itu mendekatinya.
"Mang, itu sayur sedari tadi dibawa bawa sampe sini, kok masih dipanggil panggil. Emang sayurannya ngerti Abang panggil panggil?" celetuk seorang ibu bermaksud bercanda sembari terkikik. Bang tukang sayur terdengar ikut tertawa, karena orangnya memang suka melucu.
"Iya ya sampe lupa. Habisnya ini sayur gak nyari di panggilin juga...!" Randy tersenyum mendengar celotehan orang orang didepan sana. Ia lalu mengambil wudhu, sudah kesiangan melaksanakan subuhnya.
Pukul delapan tiga puluh menit, Randy bersiap keluar berangkat ke kafe. Motor sport bersanding dengan mobil Honda jazz miliknya.
__ADS_1
"Maaf, Hana. Aku banyak bo'ong sama kamu. Gak ngaku kalau kafe itu milikku, dan juga mobil ini. Dan rumah ini menantimu untuk menjadi nyonya, istri dari pemilik rumah ini. Hana Pertiwi, alias nyonya Randy Pangestu. Aamiin." Randy bergumam dan tersenyum berhalusinasi jika nanti Hana akan ikut dan menghuni rumah ini bersamanya, dan anak anak mereka nanti.
Come on, Randy. It's too early to think that she will be your wifey.
Randy memakai helmnya, dan menstarter motor kesayangannya.
Bismillah, hopefully my dream will come true. Dengan semangat 45 ia melajukan motor menuju rumah pak Hadi.
"Assalamu'alaikum, Bu Mira!" sapa Randy yang mendapati Bu Mira di depan rumah, baru saja membuang sampah. Dan menenteng tas, sepertinya mau keluar. Dan ia pun terkejut melihat sepeda Hana masih terparkir.
"Waalaikum salam, nak Randy agak lama gak kesini? Sibuk banget ya?" Randy mengangguk mengiyakan.
"Hana, hari ini gak bikin kue, Bu?" tanya Randy keheranan karena biasanya di jam seperti ini Hana sudah keluar rumah, untuk menitipkan kue ke warung.
"Hana gak bilang sama nak Randy ya?"
"Wah, maaf kalau gitu. Mungkin Hana kelupaan. Hari ini sama besok Hana libur bikin kue, karena ia pergi ke pesta pernikahan temannya di kota T. Baru aja dia berangkat ke stasiun diantar sama Ayahnya!" Randy mengerutkan kening mendengar penjelasan Bu Mira.
"Apa, Bu? Jadi, Hana pergi?" Bu Mira mengangguk.
"Naik kereta ya, Bu?" Randy. Bu Mira mengangguk lagi.
"Cuman berdua sama Putri, acaranya sih siang ini, terus sore kalau ada jadwal kereta maunya langsung pulang. Tapi kalau nggak, berarti ya sesok wangsule Hana!" jelas Bu Mira dengan bahasa campuran, membuat Randy mendesah kecewa.
"Oh, ya udah makasih infonya, Bu! inshaa Alloh nanti saya kesini lagi kalau Hana sudah pulang. Ada yang mau saya omongin sama Hana. Saya permisi, assalamu'alaikum!"
"Waalaikum salam warahmatullah." jawab Bu Mira, ia menatap kepergian Randy sampai jejak motor yang dikendarainya tak terlihat lagi.
"Pagi pagi dah diapelin calon mantu, kok Hananya gak kelihatan, Bu! Apalagi berantem? Biasalah namanya juga anak muda, sekarang berantem entar juga baikan sendirinya" cerocos Bu Daniel tiba tiba dari arah belakang, membuat Bu Mira menoleh.
" Ih, Bu Daniel ini sok tahu deh. Kepo banget, padahal yang suka berantem sampai kedengeran sampai sini banting bantingnya itu kan Bu Daniel. Apalagi anaknya tuh, kalau teriak kenceng banget, sakit nih kuping saya sebagai tetangga paling dekat, Bu!" Bu Daniel melengos tak menjawab dan langsung masuk ke halaman rumahnya tanpa permisi. Mulutnya komat kamit dan menggerutu tak jelas.
****
Waktu begitu cepat berlalu, kini tiba saatnya Hana dan Putri untuk pergi ke kota sebelah untuk menghadiri pernikahan Nia sahabatnya.
Ia sangat senang karena ini adalah kesempatannya untuk naik kereta api. Sebenarnya bisa saja dia naik sepeda maticnya, bergantian dengan Putri. Tapi dipikir pikir daripada ia kelelahan sampai sana, dicobanya naik alat transportasi yang belum pernah ia coba sebelumnya. Lebih ke dari rasa penasaran sih sebenernya.
__ADS_1
Pagi itu ia telah bersiap, semalam ia meletakkan semua perlengkapannya didalam sebuah tas punggung. Mulai dari baju, sepatu dan alat make-upnya. Jadwal pemberangkatan kereta pukul 8 pagi, tiga puluh menit sebelumnya ia harus sudah sampai. Jika perjalanan lancar butuh waktu 20 menit untuk sampai ke stasiun.
Sekarang sudah menunjukkan jam tujuh 10 menit. Hana pamit pada ibunya, beliau mewanti wanti untuk hati hati agar anak gadis satu satunya itu tak menemui kendala saat di kereta.
"Hana pamit dulu ya Bu, Insya Alloh nanti sore kalau ada jadwal kereta, Hana langsung pulang. Kalau enggak, besok pagi pulangnya, Bu!" beritahu Hana pada ibunya.
"Hati hati dijalan, kalau ibu sarankan lebih baik besok pagi aja. Karena ibu masih kepikiran apa yang kamu alami waktu lalu."
"Jangan sampai terjadi lagi!"
"Tentu, bu. Hana bakalan hati hati."
"Salam sama Bu Indah ya!" Hana mengangguk.
"Iya, Bu! Assalamu'alaikum." pamitnya pada sang ibu sambil mengecup punggung tangannya. Ia segera berlalu menuju Ayahnya yang sudah siap diatas sepeda motor.
"Berangkaaat." pekiknya menirukan jargon seorang artis sinetron.
Ayah Hana mengantar dan menunggui sampai kereta tiba. Disana sudah ada Putri yang juga diantar Ayahnya, mereka duduk di kursi tunggu di peron stasiun tersebut. Suasana ramai orang berlalu lalang. Mereka seperti Hana, Mau naik kereta. Hana mengeluarkan hape dan melihat waktu, dari informasi yang baru didengarnya melalui toa stasiun, kira kira kurang lebih lima menit lagi kereta akan tiba.
"Put, ini first time gue naik kereta. Nervous juga rasanya!" Putri tertawa mendengarnya.
"Ih, dasar anak manja. Ya iyalah, secara elu kan kemana mana dikawal Ayah, Iya kan Yah? Intan payungnya Ayah Hadi ini?" goda Putri pada Hana yang merengut mendengarnya.
"Ya, namanya juga anak semata wayang, siapa lagi yang disayang kalau bukan Hana?" Pak Hadi merangkul mesra bahu Hana sembari tertawa. Ayah Putri pun ikut tertawa mendengarnya.
Akhirnya yang ditunggu pun tiba, suara bising dari kereta yang datang terngiang di telinga dan getarannya pun sangat terasa. Saat kereta berhenti, ada banyak orang pada antri untuk turun, tetapi ada juga yang masih tetap duduk didalam gerbong. Rupanya perjalanan mereka masih berlanjut, belum sampai tujuannya.
Saat orang yang turun dari kereta habis, Hana dan Putri mengantri pula untuk naik di gerbong.
"Assalamu'alaikum Yah, Hana berangkat dulu, ya!" ucapnya sambil mencium tangan sang Ayah.
Setelah mendapatkan tempat duduknya Hana merasa lega. Ia meletakkan tasnya diatas bagasi, lalu mendudukkan dirinya di kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket.
Ia lalu menoleh pada Ayahnya dan melambaikan tangan sebelum kereta berangkat. Begitu juga Putri, ia yang sudah berkali kali naik kereta lebih terbiasa, hanya menolehkan kepala pada ayahnya diluar gerbong. Dari gerakan mulut Ayah sepertinya Ayahnya bilang hati hati dijalan, Hana!
\=\=\=\=\=
__ADS_1
...Bersambung........