HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 27


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" Seru Hana dan Putri mengucap salam saat memasuki rumah Nia. Di halaman rumah yang cukup luas itu sudah di dekor sedemikian rupa untuk acara besok pagi sampai selesai. Para tetangga yang membantu atau rewang di acara nikahan juga terlihat sibuk dengan tugasnya masing masing.


"Waalaikum salam warahmatullah."


" Ah, ini dia yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga kau Hana, Putri!" Tante Indah, ibunya Nia menyambut kedatangan Hana. Mereka berjabat tangan dan saling menanyakan kabar.


"Tambah cantik aja, Han! Udah berapa tahun ya gak liat kamu?" Seperti biasa Tante indah menciumi pipi Hana. Mereka memang seperti sepasang anak dan ibu. Bahkan dulu, tante Indah malah pernah bilang, andai dia punya anak laki laki, pasti Hana akan ia jadikan mantu. Sayangnya kedua anaknya semua perempuan.


"Bu Mira sama Pak Hadi gimana kabarnya Han, sehat kan?" Tante Indah menanyakan kabar kedua orang tua Hana setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah, mereka sehat tante. Mereka kirim salam buat Tante dan meminta maaf tak bisa hadir."


"Waalaikum salam, iya Han. Gak apa apa, yang penting mereka sehat. Terus gimana dengan Ayah dan ibu kamu, sehat kan Put?"


"Iya Tante, mereka sehat wal afiat. Mereka juga kirim salam buat Tante Indah!"


"Waalaikum salam. Salam balik ya buat Ayah sama ibu kalian. Jadi kangen deh pengen ngumpul seperti dulu. Tapi yah, pastinya sulit banget."


"Oiya, Tante kok malah nyerocos sih, Kalian pasti capek kan habis perjalanan jauh?"


Hana dan Putri tersenyum saling pandang.


"Ya lumayan Tante. Perjalanan 2 jam lebih." Kata Hana sambil melihat jam tangannya.


"Tapi seru kok Tante, Hana baru kali ini loh naik kereta api. Enaknya itu kalau kita naik kereta api, kita bisa lihat pemandangan yang indah dan hijau. Bahkan jauh dari perumahan penduduk. Beda sama naik bis, Tante. Kalau naik bis sepanjang jalan yang kita lihat itu jalan aspal dan di kanan kirinya perumahan padat penduduk. Dan bahkan kadang suka terjebak kemacetan. Kalau kereta api mah, jalan terooosss sampai ke bulan, ke stasiun maksudnya, Tante." Hana nyengir dengan candaannya.


"Hehehe, kamu bisa aja Han! Ya udah sana istirahat dulu dikamarnya Nia. Nia, ajak mereka ke kamarmu dulu!" Nia mengangguk.


"Han, Putri, Yuk! istirahat dikamar gue! Sambil ngeteh." Nia menarik nampan yang berisi dua gelas teh panas untuk Hana dan Putri. Mereka berdua mengekor di belakang Nia sang calon pengantin.


"Heeh, calon pengantin tambah cantik aja, pasti perawatan mehong nih!" Putri nyelutuk saat mereka sudah didalam kamar Nia yang lumayan luas. Hana menyesap tehnya. Ia meregangkan tangan setelah dua jam perjalanan hanya duduk. Sedang Putri mengelilingi kamar Nia, kebiasaannya kalau datang ke tempat baru, meneliti semua yang dilihatnya.


"Hahaha, udah kinclong ngapain juga perawatan. Tapi boong, so pastilah perawatan. Tapi yang paling utama itu rasa bahagia. Hati yang bahagia itu cenderung membuat cewek itu kelihatan awet muda dan glowing loh! Bahkan terlihat lebih cantik. Percaya gak, percaya gak?" kini mereka duduk selonjoran di karpet dalam kamar Nia.


"Nggak!" jawab Hana dan Putri bersamaan, lalu tertawa.


"Ahaha, iya iya percaya. Gitu aja ambek calon pengantinnya. Pantesan Lo tambah keliatan kinclong, Nia. Efek hati bahagia ya?"


" Eh, be te we, rumus dari mana tuh?" Hana bertanya dengan berbisik.


Nia cengar-cengir menatap kedua sohabatnya yang selonjoran didepannya.


"Rumus dari yayang gue. Dia tuh selalu gombalin gitu waktu gue ngambek. Nah kan, jadi deh ngambeknya hilang."


"Makanya gue tuh luluh sama dia, meski dia gak seganteng Rendra. But, he always succeed in make me always smile and feel comfort with him. Gak seperti Rendra yang selalu bikin gue makan ati...!"


"Udah, udah! Gak usah diingat tuh mantan. Besok udah mau ijab kabul juga. Fokus ke calon Babang suami ya!" potong Hana cepat, kalau tidak pasti akan membuat Nia badmood, tak baik buat calon pengantin.

__ADS_1


"Buanglah mantan pada tempatnya!" sahut Putri juga. Nia meringis.


"Oiya, kalian belum pernah liat calon gue kan? Nih, aku kasih liat fotonya." Nia mengalihkan topik. Lalu mengambil sebuah foto di meja rias. Dan kembali menghampiri Hana serta Putri dan memperlihatkannya.


"Lumayan ganteng kok calon elu, Ni. Gak kalah sama mantan." komentar Putri setelah melihat foto prewed Nia dan Sony di sebuah pantai.


"Dan nanti kalau udah nikah, gak boleh merasa orang laen lebih ganteng dari suami elu. Dosa itu Ni!" imbuh Hana.


PLAKK!


Sebuah pukulan mendarat di bahu Hana.


"Aduhhh!" ringis Hana nampak kesakitan.


"Eh, maaf! Masa sih sakit perasaan gak kenceng gue mukulnya!" Nia merasa bersalah melihat muka Hana menahan sakit.


"Sakit banget tauk, Nia. Orang kenceng banget gitu mukulnya." protes Hana masih meringis.


"Tapi bo'ong!" Hana tertawa melihat Nia kebingungan.


"Serius amat, Neng!" Nia cemberut membuat Hana menjawil dagu calon pengantin..


"Sia lan Lo Han, kirain bener bener sakit. Oiya, gue kan tadi mo nanya Putri."


"Nanya apa?"


"Jangan salah Nia, dia sih udah ada yang deketin. Cakep banget loh cowok itu. Naga naganya nih, doi langsung ngelamar, gak pacaran kayak kita, kita kan tahu siapa bokap nyokapnya. Calon ustadzah euy!" Putri bicara sembari menatap Hana yang mengerutkan bibir.


"Apaan sih Lo, Put! Emang siapa juga cowok yang lagi deket sama gue. Jangan ngarang Lo!" sembur Hana melempat bantal ke muka Putri yang meledeknya dengan memeletkan lidah. Tawa mereka berderai didalam kamar itu.


"Siapa lagi coba, itu tuh... yang kerja di cafe!" sahut Putri, tentu saja uang ia maksud adalah Randy.


Mereka lalu terdiam beberapa saat.


"Hana, Putri! habis istirahat terus mandi nanti, kalian fitting baju yang gue pilihkan buat lo berdua ya? Gue mau Lo berdua jadi maid gue besok." pinta Nia yang bagi Hana dan Putri tak terbantahkan. Apalagi ini adalah untuk pernikahannya. Mungkin ini yang terakhir kali mereka dimintai tolong oleh Nia.


****


"Ah, kenapa bajunya cuman ngepas gini sih Ni, bagus sih bajunya, gue suka sama warna dan modelnya. Tapi terlalu ngepas, menonjol sana sini!" protes Hana saat ia fitting baju yang akan dikenakannya besok. Baju gamis model brokat bagian atas dan polos bagian bawah.


Sedangkan Putri malah merasa suka mengenakan model baju yang terkesan seksi itu.


"Ih, cocok banget buat elu, Han. Ditambah make up dikit, wuuuih, pasti banyak cowok yang bakal ngelirik elu. Elu tuh cantik banget tau. Kalau udah gitu... elu tinggal pilih mana cowok yang Lo suka, hahaha!"


Nia memutar mutar tubuh Hana, melihatnya seksama dari atas sampai bawah, depan samping dan belakang. Semua tak luput dari tatapannya.


"Ih, pusing tau gue. Elu muter muter kayak gangsing aja." tangan Hana meraih lengan Nia, agar tak muter muter lagi.

__ADS_1


"Lo tahu temen temen Sony masih banyak yang jomlo, sapa tahu salah satunya cocok sama Lo! Bisa langsung pedekate!"


Ckkkk. Decak Hana.


Tubuh yang tak terlalu tinggi dan agak berisi. Kalau orang Jawa bilang sih, mon tok dan sintal. Kulit kuning Langsat, dengan lesung pipi dikedua belah pipinya, dan gigi gingsul. Menambah paras manis Hana.


"Tapi ini terlalu pas, Nia! gue gak mau." Seru Hana cemberut.


"Ya Alloh, Han. Elu kan bisa modifikasi sama kerudungnya. Plis lah gue udah capek capek milihin buat elu. Kalau elu gak mau makai, gue marah sepuluh tahun gue gak bakal mau ngomong sama elu." ancam Nia bukannya membuat Hana takut, ia malah tergelak.


"Kayak Putri tuh, gak banyak nyap nyap!" gerutu Nia mendelik.


"Ya ampun, mana tahan gue sepuluh tahun marahan sama elu. Bisa mati berdiri hahaha ..." Hana mentoel lagi dagu Nia.


"Ya udah deh, gue pakai ini. Yang waras ngalah!" sahut Hana lagi, menyudahi semua perdebatan, karena sebenarnya ia sudah sangat lelah dan ingin istirahat.


****


Keesokan paginya, adalah hari bahagia bagi Nia yang akan menjadi ratu sehari. Hana, Putri dan Nia bergegas untuk mandi, setelah mengerjakan shalat subuh. Pihak penata rias tak lama lagi akan tiba.


"Duhh, Han. Gue kok deg degan ya?


Keluh Nia. Tangannya yang memang dingin karena baru mandi, tambah dingin. Hana ingin tertawa, temannya yang sama tengil dengan dirinya itu bisa gugup juga ternyata. Ia jadi membayangkan dirinya sendiri saat nanti menikah. Dan saat itu entah mengapa yang terlintas di kepalanya adalah wajah Randy.


Ehhhh! Hana menggeleng gelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan wajah itu.


"Napa Lo Han?" Nia yang melihat gelengan Hana bertanya keheranan.


"Ah, nggak! Cuman tadi kayak ada sesuatu hewan kecil terbang didepan gue, mungkin nyamuk atau apa!" kilah Hana berbohong.


Pukul delapan tiga puluh menit, pagi itu. Rombongan calon pengantin pria telah datang. Dengan menggunakan 3 mobil pengiring.


Hana dan Putri mengapit sang calon pengantin, di depan Hana adalah sang ibu dan Omnya Nia, karena ayah Nia telah meninggal dan ibunya tak menikah lagi. Sedang calon pengantin pria telah berdiri paling depan, diapit oleh seorang wanita dan pria paruh baya yang sepertinya kedua orang tua pengantin pria.


Sebagai pihak pengantin perempuan juga telah siap menyambut, didepan gapura terop atau tenda. Hana berdiri disamping Nia dengan sebelah lainnya sang ibu pengantin. Putri mundur menjadi dibelakang Nia.


Pengantin laki laki mendekati pengantin perempuan dan dilakukanlah ritual adat di daerah tersebut sebelum acara Aqad nikah di mulai. Sedang pengiring pengantin laki laki dipersilakan duduk ditempat yang disediakan khusus untuk mereka.


Hingga saat Hana membetulkan pakaian pengantin Nia, seseorang memanggilnya.


"Kak Hana...!" Hana menoleh, seorang gadis memakai kebaya modern nan cantik tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.


Hana mengernyit. "Bukannya itu Sintya dan omnya sama Tante Nami?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...To be continued.......

__ADS_1


__ADS_2