
"Penyakit Yuri makin parah, Ran. Ditambah lagi karena ia tak mau berobat, tak mau lagi kemo. Bahkan makanpun ia harus dipaksa."
"Kenapa bisa seperti itu, Bunda? Maaf kalau akhir akhir ini Randy sibuk sendiri. Aku sama Hana lagi nyiapin segala sesuatunya buat nikahan. Tadi, kita lagi survei benda untuk souvenir dan juga diskusi tentang desain kartu undangan. Besok kita mau survei ke salon dan butik nyari baju pengantin juga." bunda Hilma menelan ludah, Randy terlihat begitu berbinar saat mengucapkan hal itu. Membuat ia ingin mundur tak jadi
membahas tentang keinginan Yuri.
Hilma memandang Randy, melas, mata wanita setengah baya itu sudah diselimuti kabut tebal.
"Tak ku sangka, kamu yang ku besarkan sedari bayi, sekarang udah mau nikah. Rasanya baru kemarin aku menggendongmu sambil mimik dot isi teh, karena bunda kehabisan uang buat beli susu. Rasanya baru kemarin aku marah marah sama kamu karena kamu gelut sama temen sekolah karena temenmu itu menggoda Yuri dan adik kamu yang lain.
Rasanya juga baru kemarin Bunda liat kamu pulang sekolah sambil nenteng termos es, dengan tas sekolah di punggungmu. Uhhh, rasanya Bunda pengen kembali dan waktu berhenti di masa itu dan melihat anak anak Bunda tumbuh bersama di panti!" Hilma menyeka air matanya.
"Ah, Bunda. Jangan diingat ingat lagi masa sulit itu. Randy rasanya juga mau nangis kalau ingat waktu dulu. Biarlah itu semua jadi kenangan." Randy menopang dagu dengan siku diatas lututnya.
"Justru itu, Ran! Kamu harus selalu ingat saat masa sulit kamu, agar saat kamu sedang diatas seperti sekarang ini, kamu gak lupa diri. Sekarang kamu punya segalanya, Selalu ingatlah bahwa kamu juga pernah susah, jangan sampai kamu keblinger hal duniawi semata." tuah bunda Hilma. Randy manggut manggut mengiyakan.
"Kembali ke Yuri." ucap Bunda saat keduanya diam beberapa saat. Kembali ke topik bahasan.
"Dia..dia ada satu permintaan supaya dia bersemangat lagi melawan penyakitnya dan mau lagi berobat. Dan itu, ada hubungannya sama kamu!" bunda Hilma mulai terisak lagi
dan air mata pun tumpah.
"Kok aku, Bun?" Randy mengerut alisnya menanti jawaban bunda yang tengah berguncang bahunya. Tak mengerti. Dia pasti belum bisa bercerita, mungkin ia akan membiarkan beliau menyelesaikan tangisnya agar hatinya lebih lega.
Randy mendekati dan duduk disamping bunda Hilma. Ia elus pundak wanita yang dengan sukarela mengasuhnya itu hingga menjadi dirinya yang sekarang, adalah tempaan dari sang Bunda salah satunya. Matanya menerawang nun jauh disana. Sejak remaja, Randy memang rajin mengumpulkan uang. Ia nyambi jualan es dan kue menepis rasa malu pada teman temannya saat istirahat sekolah.
Bahkan saat ada beberapa teman yang membully dan merendahkannya, ia tetap tersenyum tanpa menaruh rasa sakit hati. Malahan dalam hati ia merasa lebih terlecut lagi untuk lebih giat dalam belajar, dalam mengais rezeki menjemput rupiah serta rajin menabung.
Pulang sekolah, seperti tak ada rasa lelah ia masih nyambi bekerja paruh waktu di bengkel. Saat itu ia sering nongkrong di bengkel sembari berjualan kue, ia memperhatikan cara seorang mekanik atau montir memperbaiki motor. Ia belajar secara otodidak tentang permesinan, tanya ini dan itu pada sang mekanik yang dengan senang hati membagi ilmu yang ia punya. Hingga ia bisa piawai memperbaiki motor yang rusak, dan pemilik bengkel pun mengangkatnya sebagai karyawan.
Motto Randy adalah belajar dan bekerja tanpa kenal lelah untuk mengumpulkan rupiah. Tak lupa ia juga belajar di sekolah dengan giat, hingga ia termasuk siswa yang berprestasi secara akademik. Hingga walaupun ia hanya tamatan SMA, ia bisa merintis usaha sendiri dari hasil tabungannya.
STOP.
Randy kembali ke waktu saat ini.
"Randy! Kalau Bunda meminta sesuatu dari kamu, maukah kamu mengabulkannya?" tanya Bunda setelah tangisnya reda, menyisakan matanya yang membengkak dan memerah. Pun dengan hidungnya juga memerah karena kesedihan yang ia rasakan. Randy mengulurkan tisu pada Hilma.
"Apa yang bunda inginkan? Bunda sudah membesarkan saya dengan kasih sayang. Sebisa mungkin saya akan mengabulkan permintaan bunda. Randy bukan orang yang tak tahu terimakasih, Bund!"
"Asal Randy bisa, sekarang coba bunda katakan, apa yang Bunda inginkan!" Hilma menoleh, menelisik air muka Randy. Sebenarnya ia tahu, ia juga tak mau egois. Ia ingin Randy bahagia dengan pilihannya, tapi... ia juga tak bisa abai dengan anak asuhnya yang lain begitu saja.
"Be_ benarkah kau mau mengabulkan permintaan Bunda?" setengah tak percaya Hilma bertanya. Suaranya lemah, ia benar benar dibuat bingung oleh keadaan. Atau karena Randy belum tahu permintaannya apa, makanya ia bisa dengan enteng bilang begitu. Entahlah jika ia tahu apa yang akan diminta olehnya.
"Inshaa Alloh, bunda. Semampu Randy akan coba mengabulkan. Sekarang apa permintaan Bunda?" Hilma terlihat ragu. Akan ada beberapa orang yang akan tersakiti disini.
Bunda Hilma masih terdiam, menatap sang anak yang duduk disampingnya. Pikirannya menerawang jauh.
__ADS_1
Kayaknya ini gak mungkin. Hilma merasa tak tega, ia ragu dan maju mundur seolah tenggorokannya tercekat. Berkali kali ia menelan ludah, usahanya yang menggebu untuk bicara dengan Randy sejak sore mengenai Yuri menguap sudah.
"Bund, kenapa? Kok malah bengong." suara Randy terdengar khawatir, menelisik wajah sang Bunda yang terlihat lebih tirus. Disebabkan karena salah satu anaknya sakit. Beban di pundaknya pasti bertambah.
"Gak usah sungkan gitu sama Randy. Randy akan bantu selagi Randy bisa bantu." bunda Hilma menatap nanar anak angkatnya itu.
Benarkah? tapi ia benar benar meragu. Dan tak tega. Dia tahu, susah payah Randy mendapatkan pujaan hatinya. Apa hanya karena keegoisan Yuri, ia harus mematahkan kebahagiaan dua orang yang jatuh cinta dan sebentar lagi membina rumah tangga?
Ia tahu, betapa sumringah wajah Randy dan bersemangat penuh senyum saat menceritakan tentang Hana, bagaimana dulu mereka bisa bertemu dan bisa saling mengenal. Walaupun tak dekat layaknya orang pacaran, Randy telah sepenuh hati mantap meminangnya.
Bunda Hilma mengurut pelipisnya.
"Apa lain kali saja ya, Ran. Sekarang udah malam, bunda mau pulang. Tolong panggilkan taksi ya?" putus Hilma kemudian. Namun Randy menggeleng.
"Nggak Bun, Ini udah hampir jam sepuluh! Nanti Randy antar pulang, atau Bunda mau nginap disini juga boleh." tawar Randy.
"Sekarang, coba bunda ngomong dulu yang jelas sama aku? Bunda minta tolong apa, biar Randy gak kepikiran terus. Biar Randy gak dihantui rasa penasaran yang mendera, gak bakalan bisa tidur, nih!" canda Randy yang gak lucu di pendengaran Hilma.
"Jadi, katakan malam ini juga, Bun." desak Randy masih penasaran mengapa wanita itu begitu ragu ragu untuk mengatakannya, ia meraih tangan Hilma dan menggenggamnya. Seolah memberi isyarat bahwa ia tak perlu merasa tak enak hati atau sungkan terhadapnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Yuri, Bunda?" tebak Randy yang langsung dibalas anggukan oleh bunda Hilma.
"Iya, Randy." bunda Hilma menguatkan tekad lagi.
" Kamu tahu, Yuri itu menyukai kamu, lebih dari seorang adik kepada kakaknya. Ia cinta sama kamu, Ran! Hikks... hikkss...!"
"Yuri itu, cinta kamu. Sedari dulu kamu belum ngenalin Hana ke Bunda, kamu tentu bisa merasakannya, Ran. Yuri begitu perhatian sama kamu, ia yang pemalu, hanya bisa memendamnya dalam hati. Berharap dengan perhatiannya sama kamu, kamu bisa menyadarinya."
"Tapi Bun, aku juga mencintainya tapi sebagai seorang adik!" sanggah Randy. Ia mengingat, selama ini Yuri memang begitu perhatian padanya. Dan ia menganggap perhatiannya adalah wajar sebagai bentuk cinta seorang adik pada kakak.
" Iya, Ran. Bunda tahu. Dan Bunda juga sudah mengatakannya sama Yuri, tapi ya namanya wis kadung cinta. Dia udah telanjur cinta ke kamu sebagai seorang wanita pada laki laki. Cinta yang menginginkan sebuah wujud dari cinta itu yaitu pernikahan." Randy melepas genggaman tangannya dan mendesah. Terkejut dengan kenyataan yang barusan ia dengar.
Masa sih, apa aku yang gak peka sama sekali. Tapi ini gak bener. Yuri adalah adik..adik...Dia aku anggap adik aku.
"Dia begitu terpukul saat kamu mengenalkan Hana waktu dulu. Dia cemburu, yang cuma bisa ia simpan sendirian. Ia memang tak pernah berani mengatakannya langsung padamu."
"Sampai dia sakit, dia masih terus memendam rasa itu. Hanya kepada bunda dia berterus terang. Sampai saat inipun ia berharap lebih padamu." Randy mengusap wajahnya kasar. Ia benar benar tak menyangka akan seperti ini, atau justru kasih sayangnya disalahartikan oleh Yurike.
"Dan permintaan bunda yang juga keinginan Yuri adalah...nikahilah Yuri!" Randy menoleh pada Hilma dan menggeleng kuat. Tak percaya dengan permintaan wanita berkerudung krem dihadapannya.
"Itu gak mungkin, bunda."
" Ada beberapa alasan disini.
Pertama, Yuri sudah ku anggap adik, walau tak ada pertalian darah diantara kami dan selamanya akan tetap seperti itu.
Dan yang kedua, aku hanya mau menikah dengan Hana. Bukan yang lain." Randy menghembuskan nafas. Kasar. Ia lalu beranjak ke tepi jendela dan membukanya. Merasa hawa didalam rumah begitu panas. Ia menghirup dalam dalam udara yang berhembus dari jendela dan membuang ya seolah membuang beban yang tiba tiba menghimpitnya.
__ADS_1
Kenapa jadi seperti ini.
"Randy, dengarkan bunda dulu. Bunda tak menghalangi pernikahanmu dengan Hana. Bunda juga mau kamu menikah dengannya, Bunda suka dia.
Cuma yang bunda inginkan kamu menikahlah juga dengan Yuri, karena...karena....uhhh!"
"Bunda!" Randy menoleh ke belakangnya, Bunda Hilma menangis lagi.
"Bunda jangan membuat aku di posisi yang sulit. Bagaimana mungkin aku menikahi adikku sendiri. Aku hanya mencintai dan menginginkan satu wanita yang kelak mendampingiku dalam mengarungi hidup ini, Bunda. Cuma Hana.... cuma Hana...bukan yang lain, apalagi Yuri. Tolong dimengerti juga aku." Randy sedikit mengguncang bahu Hilma. Kesal. Wanita itu makin terisak.
"Ya, sebenarnya bunda juga tahu kamu bakalan jawab begini. Tapi, Ran!"
"Kamu tahu kan leukimia sampai saat ini belum ada obatnya. Yuri menjalani kemoterapi dan pengobatan, hanya untuk mengurangi sakitnya. Hanya untuk lebih memperpanjang angka harapan hidup dan meredakan gejala yang terjadi. Bunda merasa, usia Yuri gak akan lama lagi, Ran!"
"Itu sebabnya bunda ingin kamu mau nikahin dia, mengabulkan keinginan yang mungkin keinginan terakhirnya. Biarkan dia merasa dicinta sebelum penyakit yang ia derita tak sanggup lagi ia menanggungnya." Randy menjambak rambutnya sendiri. Kenapa kebahagiaannya yang telah didepan mata harus mendapat gangguan seperti ini. Ia tak bisa menerimanya, apalagi Hana bisa menerima alasannya.
"Udah malam Bun. Lebih baik bunda istirahat ya! Gak baik jam segini bunda masih terjaga. Bunda tidur disini?" Setelah berpikir sebentar, Hilma akhirnya mengangguk. Tak mungkin juga ia minta antar Randy dalam keadaan kalut seperti ini.
"Pikirkan baik baik permintaan Bunda ya! Bunda gak mau kita semua menyesal jika ada apa apa terjadi pada Yuri."
*Ya Tuhan, kenapa bunda hanya memikirkan Yuri, Masa depan aku dan Hana dipertaruhkan disini.
Baiklah lebih baik aku shalat dulu*!
Setelah mempersilakan bunda Hilma masuk ke kamar yang disediakan di rumah Randy, Randy pun masuk ke kamarnya.
Semoga ada pencerahan. Harap Randy.
Keesokan paginya, Randy mengantar bunda Hilma pulang ke rumahnya, yang sekaligus menjadi panti asuhan.
Randy turun dari mobil, masuk ke dalam panti dan disambut oleh beberapa anak panti yang melihatnya.
"Hai, Bang!"
"Assalamu'alaikum, Anton. Udah mau berangkat sekolah?" Anton mengangguk setelah menjawab salam. Lalu meraih tangan Randy dan mencium punggung tangan itu. Beralih ke bunda Hilma. Di belakangnya ada 3 anak lain yang berbeda tinggi tubuh mereka.
"Eko, Rudi, dan Ardi, kalian segera sarapan setelah mandi dan ganti baju. Keburu telat tuh!" Bunda Hilma menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul enam lebih seperempat.
Setelah mereka berbasa-basi, Randy menuju kamar Yuri yang masih tertutup rapat.
"Kalian bicaralah. Bunda ke kamar dulu ya!" Randy mengangguk dan mengetuk kamar Yuri.
"Yuri.. ini bang Randy nih. Bukain pintunya!" Tak butuh waktu lama Yuri membukakan pintu dan langsung memeluk Randy.
"Bang Randy!"
****
__ADS_1