HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 53.We Time Gagal.


__ADS_3

"Saya lagi ingin shalat dirumah, berjamaah dengan kalian! " pak Hadi menepuk pundak Salman untuk bergantian melakukan wudhu.


Mereka telah berada di kamar yang dikhususkan untuk shalat berjamaah.


"Nah, Nak Salman. Silakan menjadi imam shalat, saya istri saya dan Hana akan jadi makmum shalat kamu! "


Duaarrr


Pucat pasi wajah Salman. Bagaimana tidak? Ia sudah lama tak melakukannya. Jikapun iya, dia hanya akan menjadi makmum yang diam mengikuti gerakan Imam Shalat, shalat jumat, itupun kadang kadang. Dan Shalat dua hari raya.


"S-sa.. sa ya! "


"Iya, Nak Salman. Mau bicara apa? Nak Salman bisa 'kan?"


"Ta_ta..pi.. " keringat dingin membanjiri punggung Salman.


"Tapi apa Nak Salman? Bukannya Nak Salman ini kakak angkatannya Hana, berarti di SMA Islam 'kan?"


Salman menunduk, ingin menolak, tapi bingung mengemukakan alasan.


"Sudahlah, Yah! Nak Salman ini pasti belum pede ngimami kita. Secara dia masih muda, Ayah ajalah yang jadi Imamnya. " bujuk bu Mira, melihat ketidaknyamanan Salman. Hana hanya menyimak percakapan mereka.


"Tapi, Bu. Anak muda, seperti Nak Salman 'kan harus belajar sejak awal, apalagi nanti kalau udah nikah, harus bisa jadi Imam untuk anak dan istrinya. Mereka ini anak anak yang akan menggantikan yang tua seperti kita ini. " bantah Pak Hadi.


Lagian untuk tes dia, yang berani ngedeketin anak saya. Pak Hadi.


"I _iya, Pak, Saya belum pede, seperti yang dikatakan Ibu. Tapi saya janji, saya akan memperbaiki bacaan bacaan saya, biar jika saya menjadi imam shalat untuk anak dan istri saya nanti sudah lancar." terpaksa Salman berucap janji, melirik Hana.


"Yaudah, maaf! Bapak terbawa perasaan. Saya akan selalu menomorsatukan masalah agama untuk pria yang mendekati anak saya. Karena saya ingin yang terbaik untuk anak saya satu satunya!"


"Ayah..! Apaan sih." tegur Hana agar tak meneruskan ucapan.


"Oiya. Ayo segera shalat. Waktu maghrib cuma sebentar." pak Hadi mengalah, ia maju ke depan, Salman di belakangnya, dan Hana serta ibu Mira di belajang Salman.


Allahu Akbar....


Huuuhhft


Didalam mobil, Salman masih terlihat nervous, beberapa kali menghela napas.


"Kenapa sih mas, dari tadi buang napas berat gitu. Kayak nanggung beban, gitu loh. Terus pengen buang beban itu dengan buang napas berat. " Hana membuka percakapan.


"Ya, nervous jelas. Siapa gak nervous kalau seperti tadi, suruh berdiri jadi Imam calon mertua! " Hana menoleh pada pengemudi mobil yang tersenyum lebar.


"Ish, pedenya mas Salman ini. Calon mertua apaan?" Hana membuang muka ke sebelah kirinya.


" Ya terus. Aku rasa mereka ngasih lampu hijau buat hubungan kita. Bagaimana Hana, kamu pasti sudah memikirkannya?" merasa ada kesempatan, Salman langsung menembak pada intinya.


"Jujur, aku belum pernah ngimami Shalat, bacaan ku saja masih amburadul. Apalagi, aku jarang membuka Kitab Suci, tapi aku janji sesuai sama yang aku katakan tadi didepan Ayahmu, aku akan berusaha memperbaikinya."


Demi kamu, aku akan lakukan segalanya, Hana. Salman hanya bisa membatin.


Hana diam seribu bahasa. Jujur dalam hati kecilnya, ia belum siap menerima Salman. Tapi...


Ia lalu mengusap tengkuk, "maaf, saya belum bisa jawab sekarang. " Mimik muka kecewa terlihat dari Wajah Salman, namun segera ia sembunyikan dengan senyuman.


"No problem, asal jangan aku digantung lama lama. Karena, digantung itu gak enak, bikin galau. Gak bisa tidur gak enak makan. Antara ada dan tiada! "


###

__ADS_1


"Kita ke lantai 3 ya, kamu pernah kesini?"


"Pernah, tapi udah lama. Gak hobi shopping aku. "


"Syukur deh, calon istri idaman banget." Salman tersenyum lebar, penuh arti.


Hana tak banyak tolah toleh, barang barang yang dipajang di tempat ini membikin lapar mata. Ia menjaga diri agar tak menjadi bergaya hidup hedonis dan konsumtif. Ia hanya akan membelanjakan uang seperlunya, yang bermanfaat, dan menghindari membeli barang mewah yang gak sesuai kantong gadis sepertinya.


"Hei, banyak barang bagus, kenapa cuma nunduk? Kamu boleh kok nunjuk sesuatu, biar aku belikan?" Salman memiringkan muka, melihat ekspresi Hana.


Aku harus, bisa mengambil hati nya. Salman.


" Kok malah bengong."


"Eh, iya mas. Aku belum ada yang aku pingin. Katanya tadi mau ke lantai tiga, Ayo! "


"Baiklah, kalau mau langsung kesana. "


Ini yang ngajak siapa juga.


Keduanya naik menggunakan eskalator, suasana malam minggu ini cukup ramai. Salman mengedarkan pandangan, tak sengaja menoleh ke samping, dua orang gadis cantik turun menggunakan elevator sebelah. Segera ia berbalik memunggungi, pura pura sibuk mengambil sesuatu dari waistbag -nya. Ia merasa lega, setelah kedua gadis itu tak menoleh kearahnya, mereka sibuk berbincang sambil melihat hape.


"Mas Salman kenapa?" sapa Hana melihat Salman tiba tiba sibuk sendiri.


"Gak papa, aku gak mau kita ada yang ganggu, makanya hape aku matiin aja." menunjukan layar hitam ponsel yang di genggamnya.


"Tapi, siapa tahu ada orang mau nelpon, dan itu penting." sanggah Hana. Ia akan merasa bersyukur jika seperti itu.


"Ini saatnya we time. Tak ada yang boleh ganggu." jawab Salman lagi.


"Loh, ngapain kita kesini?" saat Salman menunjukkan tempat yang ingin dia tujuan. Gerai perhiasan.


"Oh, kenapa ngajak aku? Kenapa gak ngajak seseorang yang istimewa itu?" tanya Hana tak mau terlalu percaya diri, bahwa yang dimaksud Salman adalah dirinya.


"Nanti kamu juga tahu! " ucapnya pendek, lalu membimbingnya masuk.


"Cincin ini bagus gak?" tunjuk Salman bertanya pada Hana.


"Duh, jangan tanya aku, mas. Selera aku jelek tentang perhiasan!" bisik Hana, namun terdengar oleh orang didepan etalase, seorang pramuniaga yang melayani mereka tersenyum. Sebenarnya Hana terkagum kagum dengan desain berbagai perhiasan itu.


"Ckkk, gak percaya aku. Mana coba yang kamu suka, biar mereka yang berkomentar. Yang ini, yang ini, atau yang mana aja deh! Terserah, pilih yang menurutmu paling bagus." Salman tetap memaksa Hana, memilih yang menurut Hana paling bagus. mengherankan bagi Hana, orang lain yang bakalan memakainya, kenapa pula ia yang ribet dan harus memilihkannya.


"Dibilangin juga. Tapi baiklah, kalau mas Salman maksa!" daripada debat gak guna, Hana ngalah. Hana mengedarkan pandangan pada deretan cincin yang dipajang, tak perlu bertele tele karena toh cincin itu bukan dirinya yang bakal mengenakannya. Maka dipilihkah satu secara acak.


"Yang ini, Mas! " tunjuk Hana. Keduanya dan juga sangat pramuniaga fokus melihat barang yang Hana maksud.


"Yang ini Mbak?" tanya sang pramuniaga sebelum mengambil cincin dari tempatnya.


"Bukan, yang sebelahnya lagi, Mbak!"


"Wah, yang ini model baru mbak, cincin solitaire single handmade kristal swarovski, sangat cocok buat tunangan atau nikahan. Gak perlu risau soal harga, sangat bersaing." uca pramunuaga berpromosi.


"Kamu suka yang ini? Gak liat liat yang lain dulu?"


"Tapi ini cincin buat tunangan. Atau mau ambil yang lain aja?" tawar Hana lagi.


"Nggak, cukup yang ini aja. Gak masalah kalau cocoknya buat tunangan."


Siapa tahui dia mau aku ajak tunangan sekalian.

__ADS_1


"Coba tangan kiri kamu mana, Han? "


"Eh, buat apa?" Hana terkaget Salman meraih tangannya.


"Buat mastiin aja. Dia cukup gak sama cincin ini. "


"Bisa dipesan sesuai ukuran, kok, Mas! "


sang pramuniaga menyahut.


"Emang dia jarinya segini juga?" tanya Hana tak lepas memandang cincin yang tersemat di jari manis. Cantik. Hana terkagum tapi tak mau menampakkan rasa dihati.


*Dasar gak peka, atau pura pura sih, Han?


"Heem, kayaknya begitu. Yaudah ambil yang ini, mbak! " Salman membayar cincin itu dan merekapun meninggalkan gerai.


Keluar dari gerai perhiasan, keduanya terkejut, mereka dihadang dua gadis yang sangat mereka kenal.


" Astaghfirullah, Citra, Putri. Ke_kenapa kalian ada disini? " Hana mengelus dada. Dan tak salah tingkah setelahnya.


"He he he, sori. Gue bukannya gak setiakawan, tapi... " Hana meringis, merasa bersalah.


"Alaah, muka Lo aja sok alim, sok polos, tak tahunya...." Putri pasang muka sejutek mungkin.


"Iya nih, Dia kata kita sohib, tapi kita ajak kagak mau, tahunya dating ternyata." tambah Citra.


"Dan ketahuan kita, iya kan?"


"Sorry, gue bisa jelasin!" Hana menatap kedua sahabatnya yang terlihat sengit.


"Gak usah dijelasin juga. Kita udah tahu, Lo dating, dan gak mau kita ganggu, makanya nolak kita ajak jalan. "


Duuuh, menggerutu. Namun tiba tiba...


"Hahaha...! " Citra dan Putri terbahak, melihat raut bingung Hana menjadi tak tega untuk mengerjainya.


"Upss!" tawa kedua gadis centil itu menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.


"Jadi kalian nge prank gue?" Hana cemberut, raut muka bersalah campur kaget dan kesal. Matanya hampir melompat.


"Lo tahu gak, perasaan gue sekarang nano nano. Tak tahunya kena prank. Kalian itu ya, sukses bikin jantung gue kayak baru maraton tau nggak? " sambungnya.


"Enggak! " keduanya kompak menggeleng lalu tertawa.


"Ciee cieee, yang lagi dating!" goda Citra menaik turunkan alis. Salman memijit pelipis bersama kedua teman Hana. Maksud hati ingin we time bersama Hana, tak tahunya...


Gagal deh...


Author menyapa..


Hai Hai...


Maafkan ya, jika cerita recehku ini slow, slow, and very slow update.


Yah, namanya juga hidup didunia nyata butuh perhatian lebih. Author butuh money, money dan money. Jadi....


Dunia halu minggur dulu. Urutan ke sekian ya.... Maaf banget, Terima kasih juga pada yang masih setia membersamai, yang setia ngasih vote dan poinnya. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang bisa membalas kebaikan hati kalian semua.


Netizen...Duh, dasar. Udah othor receh aja belagu, sok sibuk. uppsss!

__ADS_1


__ADS_2