
"Kompak banget Ayah sama Ibu ya, Dek. Oiya, tadi aku memang buru buru, karena dapat kabar Yuri masuk rumah sakit!"
Uhuk uhuk...
Hana yang sedang mengunyah tersedak. Randy menyodorkan gelas berisi air putih.
"Hati hati dong, Dek. Berabe, kan keselek! " omelnya.
"Terus, gimana keadaannya sekarang? Kenapa Kakak ninggalin dia? Harusnya ditungguin dong, gak ditinggalin kayak gini! Kasian dia!" omel Hana menanggapi ucapan Randy.
"Duh, salah lagi ya? Tadi aja ngambek ngambek, sekarang ngomelin Kakak. Serba salah nih. Disana tadi aku juga diomelin sama Bunda, suruh cepat pulang biar Yuri sama Bunda aja katanya. Yuri juga bilang gitu, klop sama Bunda. Jadi yang diturutin yang mana nih?" Hana meringis malu.
"Maaf. Terus keadaan Yuri gimana sekarang Kak? "
"Alhamdulilah, udah mendingan. Tapi, ada satu hal lagi yang membuat shock tentang Yuri. Selain leukimia, ginjalnya juga kurang berfungsi dengan baik, hingga memperparah keadaannya. Entah sampai kapan akan seperti ini! " Randy meletakkan sendok dan menghela napas, menghalau rasa gelisah yang bercokol dihati. Senyumnya pudar seketika.
Hana meraih tangan suaminya. "Sabar ya, Kak. Yuri gadis yang kuat. Kakak juga suami yang kuat. Insya Allah, akan ada saatnya badai pasti berlalu. Berganti langit cerah, dengan matahari yang bersinar terang dan menghangatkan." Randy terharu dengan mata berkaca. Setelah omelan dan raut cemberut tadi, Istrinya menjadi sosok yang dewasa dan penuh pengertian. Ia genggam tangan itu, dan mengecupnya.
"Sekarang kamu adalah sumber kekuatanku, Dek. Aku sangat berterimakasih, kamu menopang ku dari rasa putus asa. Teruslah seperti ini, aku gak sanggup tanpa kamu." Randy menurunkan tangan Hana, saat tiba tiba ibu mertuanya masuk lagi dengan muka datar. Ayah mertua mengikuti di belakangnya, dengan tersenyum lebar pada anak dan menantunya.
"Terusin aja, gak apa-apa, Nak. Ayah ke kamar dulu." Randy melongo menatap punggung Pak Hadi dan bu Mira yang beberapa saat hilang dibalik pintu kamar.
"Dek! " Randy menutup pintu rapat, setelah makan mereka masuk ke dalam kamar.
"Hmm, apa? " Hana pura pura membersihkan debu di meja rias, melihat pantulan wajah Randy lewat cermin.
"Mau su su! " Hana berbalik dengan heran.
"Lah, tadi maunya teh. Udah dibikinin teh udah dibawain juga itu, masih mau susu?" tunjuk nya dengan mengangkat dagu pada meja kecil tempat ia menaruh teh. Randy mendekat kearahnya.
"Bukan su su yang itu, tapi su su yang ini! " menunjuk dada Hana yang wajahnya langsung merah seperti tomat.
"Mesum banget masih sore gini! " komennya kemudian.
__ADS_1
"Itu artinya, kalau malam boleh, dong!" menaik naikkan alis menggoda wajah yang bersemu merah di depannya. Sama sama menatap cermin dan tersenyum.
" Jadi gak sabar nunggu nanti malam." dagunya ia letakkan dikepala sang istri, sama sama tersenyum menatap cermin dengan kedua tangan memeluk istrinya.
"Emang nanti malam kenapa? Aku kan gak bilang kalau boleh?" menatap netra hitam itu dari pantulan.
"Terserah deh, yang terpenting aku bakalan pantang menyerah sebelum dapat yang aku mau dari pasangan halalku!" Hana mencibir.
"Huh, egois dipiara!" Randy menciu mi rambut dan juga telinga Hana dari belakang.
"Dek, dua pelaku perbuatan jahat sama kamu sudah dibekuk polisi. Besok kita ke kantor polisi, ngasih keterangan sekaligus kesaksian tentang peristiwa kemarin itu." Hana mengangguk mengiyakan. Kejadian waktu lalu bahkan sampai terulang kembali membuatnya sedikit trauma. Walau tidak membuatnya benar benar takut.
"Mulai sekarang, jangan pernah keluar sendiri. Ajak orang lain, Ayah, Ibu atau sohib kamu jika aku pas gak bisa antar. Bahaya jalan sendiri. "
"Tapi, Kak!" ingin membantah, setelah memutar badan 180 derajat. Mereka kini berhadapan, Hana sedikit mendongak dan Randy sedikit menunduk, saling bersitatap mata.
"Jangan bandel, atau kamu dapat hukuman setimpal dari aku. Okey? " Hana memajukan bibirnya.
"Oke, nggak?"
"Berarti kamu nantangin aku ya. Baiklah, hukumannya dimulai dari sekarang! "
Aaaa
Hana menjerit tertahan, karena tiba tiba tubuhnya melayang diudara. Lalu dilemparkan keatas ranjang. Dan Randy merayap diatasnya. Beberapa saat menelusup kan wajahnya dileher Hana. Hingga Hana yang tak tahan dengan sensasi rasa geli mendorong dada itu.
"Iiih, main banting orang aja. Gimana kalau aku keseleo, atau retak tulang. Emang situ mau tanggungjawab, heh! " Randy tertawa. Wajah Randy hanya berjarak beberapa senti diatas wajah Hana yang tersipu malu, dipandangi secara terus terusan oleh Randy.
"Mana ada gara gara dibanting diatas kasur terus retak tulang. Ngadi ngadi. Yang ada enak, juga kali! "
"Halah... eh tadi mau nanya lupa. Pagi tadi kak Randy gak lupa mandi wajib, kan?" Hana bertanya dengan wajah malu malu dan memalingkan wajah ke samping.
"Mana mungkin lupa. Duh bener bener tidurnya pulas banget tadi. Itu sebabnya, aku gak berani ganggu. Lebih tepatnya, gak enak hati banguninnya. Kamu kayak kecapekan banget! Lagian aku perginya sehabis Subuh."
__ADS_1
"Yaiyalah cape, maraton aja ngelakuinnya, gak berenti berenti! " Randy tertawa terbahak bahak hingga bahunya terguncang, membuat Hana memanyunkan mulut.
" Namanya juga pengantin baru, Dek. Masih panas panasnya. Hareudang, hot, semangat 45. Maruk kalau kata anak jaman sekarang."
"Request berapa ronde nanti malam. aku jabanin?" tanya Randy dengan ekspresi jumawa. Hana menggeleng dan tetap manyun.
"Jangan manyun gitu. Ntar dia-nya jadi kepingin bangun lagi, liat bibir seksi kamu!" Hana langsung menormalkan raut wajahnya. Terutama bibirnya yang tadi manyun.
"Gombal terus, ih. Awas, aku mau mandi dulu, gerah."
"Tunggu, puk puk dulu dong. Ngantuk banget kurang tidur dari kemarin."
Hana menuruti Randy yang menaruh tangan didadanya, sampai pria itu tertidur. Dan pergi untuk mandi sore setelahnya.
Pukul sepuluh pagi, Hana dan Randy bersiap pergi ke kantor polisi.
"Kita pakai sepeda kamu aja, ya. Biar cepet!" Hana hanya mengiyakan, padahal yang sebenarnya, Randy ingin selalu berdekatan. Senang saat Hana memeluknya erat seperti tadi malam saat pulang dari rumah Aam.
Baru beberapa menit keluar pekarangan, sebuah mobil memepet sepeda yang Randy kendarai.
Hana terlihat khawatir. Sedang Randy sesekali melirik spion, waspada.
"Mobil itu sepertinya mengincar kita, Kak! " bisik Hana, Randy mengangguk, meminta Hana lebih mengeratkan pegangannya. Mobil terus-menerus mengikuti sepeda mereka, Hana merasa menyesal mengiyakan ajakan Randy bersepeda.
Randy terus waspada sambil melaju lurus, meyakinkan bahwa tak ada pengendara motor yang dekat dibelakangnya, didepan terdapat sebuah persimpangan tiga arah ke kiri dan lurus.
"Pegang yang kuat, Dek! " Hana mengangguk, dan dengan konsentrasi penuh, Randy tiba tiba membelokkan arah ke kiri membuat sport jantung bagi Hana. Untung dari arah kiri sepi pemotor, hingga Randy bebas melaju kencang. Seharusnya tadi arah mereka lurus saja untuk ke kantor polisi. Dan kini mereka harus memutar arah untuk sampai kesana. Pengendara mobil pasti kelabakan mengerem, dan butuh waktu untuk berputar balik ataupun mundur.
"Alhamdulillah, selamat! " mereka telah tiba dihalaman kantor polisi.
"Siapa pengendara mobil itu, Kak? Bagaimana bisa kak Randy tahu mereka mengintai kita?"
"Firasat aja, Dek! " jawabnya, pendek seraya melepas helm. Randy tak mengatakan bahwa mobil itu sejak pagi ada dekat rumah mereka, dan pengendaranya celingukan mengawasi rumah itu.
__ADS_1
"Udah, makanya nurut. Gak boleh keluar rumah sendirian. Kita tak tahu bahaya mengintai kita, kan. Lebih baik jaga jaga dan waspada." kali ini Hana hanya bungkam. Tak bisa berkata apa apa untuk membantah. Kali ini dia juga merasa takut. Apalagi yang akan terjadi dalam hidupnya...