
"Disini saya ingin mempersembahkan sebuah lagu khusus untuk wanita istimewa dihatiku. Lagu berjudul Sepanjang hidupku yang lagu asli dinyanyikan oleh band Pilotz, mewakili isi hati saya untuk istri tercinta saya yang duduk dimeja nomer 12."
Eh, ini bukannya meja nomer 12? aku melihat nomer mejaku, benar nomer 12. Aku segera mengangkat wajah, menatap panggung. Yang ternyata kak Randy telah duduk manis disana sembari melempar senyum kearahku. Aku melirik kekanan dan kekiri, banyak pengunjung yang tengah menatapku. Aku benar benar merasa suprise, menunduk malu. Tak terasa hatiku berbunga bunga.
Kamu bagai hujan deras setelah kemarau yang panjang. Selain menyegarkan, bisa juga membuat ambrol pertahanan ku.
Dengan dirimu kini ku bahagia
Tak henti kau berbagi canda tawa
Hilangkan gairah lelah hatiku
Hadirmu mengubah arti hidupku
Jadilah aku tawanan cintamu
Kuserahkan seluruhnya untukmu
Kupenuhi semua yang kau inginkan
Tiada yang penting selain dirimu
Aku gak nyangka, suaranya kak Randy cukup bagus. Apa dia juga sering nyanyi di cafe nya? tanyaku dalam batin.
Aku yakin iya, vokalnya meyakinkan seperti cukup terlatih, bukan kaleng kaleng.
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu
Di setiap waktu
Sepanjang hidupku tak kurelakan dirimu
Tuk tinggalkan aku
Tuk tinggalkan aku
Sejuk kasihmu sampai ke tulangku
Hingga detak jantungku kan berhenti
Senyum manismu sinari hariku
Tulus setia cintaku hanya untukmu
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu
Di setiap waktu
Sepanjang hidupku tak kurelakan dirimu
Tuk tinggalkan aku
Tuk tinggalkan aku oh
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu
__ADS_1
Di setiap waktu
Sepanjang hidupku tak kurelakan dirimu
Tuk tinggalkan aku
Tuk tinggalkan aku
Sepanjang hidupku ingin bersamamu
Setiap waktu
Di setiap waktu
Di hidupku
Di hidupku
Sepanjang hidupku tak kurelakan dirimu
Tuk tinggalkan aku
Tuk tinggalkan aku...
Aku tersenyum malu malu sepanjang lagu itu dinyanyikan Kak Randy, tak terasa hatiku dibuat terlena oleh lagu itu, hati ini meleleh bak es yang mencair. Lupa sudah aku dari rasa kesalku. Dan yang membuatku tersenyum malu selama bernyanyi dia terus menatap kearahku.
Berakhirlah lagu yang dinyanyikan kak Randy, dia segera turun dari panggung itu dan kembali menghampiriku dengan tangan kanan berada dibalik punggungnya. Aku berdiri untuk menyambut kedatangannya, dengan tersenyum khas kak Randy berdiri didepanku. Sebenarnya aku sangat malu, apalagi kami menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya.
"Duduk lagi, Kak!" pintaku pada kak Randy seraya menunjuk kursi dengan dagu disamping kursiku.
"Ini buat kamu! " tangan dibalik punggung itu menggenggam setangkai mawar merah yang cantik, dan diserahkannya padaku.
"Tak lebih cantik dari wanita disampingku ini tentunya!" ia mengeluarkan jurus mautnya, membuatku tersenyum mesem.
"Kak Randy dapet darimana mawarnya, sepertinya baru dipetik ya! Kak Randy nyuri dari pohon bunga kafe ini?" pertanyaan spontan membuat ambyar romantisme yang dibuat kak Randy. Mulutnya berdecak, seperti bunyi cicak.
"Kamu tuh ya, Dek. Mana mungkin aku ngasih sesuatu sama istriku hasil dari curian! Merusak suasana aja kamu itu! " gerutunya kemudian.
"Lah, terus...!" belum aku menuntaskan pertanyaanku, seorang laki laki mendekat dengan tergesa, dia tersenyum lebar.
"Hallo Bos! Gak bilang bilang mau kesini? Tau kalau mau kesini, aku kan bisa mempersiapkan penyambutan! " aku mengernyit, kata kata pria berpakaian semi formal itu membuat otakku berpikir.
*Bos?
Penyambutan*?
Kak Randy berdiri, mereka lalu berjabat tangan dan ber-tos ria khas laki laki, terlihat cukup akrab.
"Ada ada aja kamu. Oiya, perkenalkan ini istri aku. Dek, dia menejer di kafe ini. Namanya Bintang." aku berdiri saat dia mengulurkan tangan padaku. Aku sebenarnya tak bermaksud ingin menerima uluran tangannya, hanya ingin menangkup kan kedua tangan didepan dada. Tapi sikap posesif kak Randy menepis tangan pria yang berdiri dekat dengannya itu.
"Eits, gak boleh! Bukan mahram!"
"Yaelah, iya gue tahu. Gini gini gue pernah ngaji tau!" cibir pria itu mengejek kebucinan kak Randy.
(Cantik, pantesan kalau bucin! batin pria bernama Bintang yang melihat senyum Hana dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya.)
"Namanya siapa, Nyonya?" pria itu agak mencondongkan kepala kearahku, lagi lagi kak Randy mendorong Bintang yang sepertinya sengaja menggoda kak Randy. Setengah menutupi diriku dengan badan gedenya.
"Gausah nanya nama napa sama dia? Gue tahu Lo
modus! Nanyanya sama gue!" meninju bahu Bintang yang tergelak.
__ADS_1
"Dek, aku mau bicara sebentar sama dia. Kamu disini dulu ya?" aku mengangguk, kak Randy menyeret lelaki itu menjauh. Sepertinya menuju sebuah ruangan dari balik tembok. Pria itu tersenyum menoleh kearahku, toyoran kembali diarahkan kak Randy pada bahu Bintang. Ada ada saja kelakuan mereka, sepertinya mereka teman cukup dekat.
Aku iseng membuka map di ponsel karena tak tahu ditempat ramai ini mau ngapain sendirian, lokasi dari kafe ini ternyata berada di puncak sebuah bukit. Pantas saja udaranya segar cenderung dingin di senja ini, pohon rindang berjajar disepanjang jalan, sangat minim polusi.
Kalau siang hari, pasti pemandangannya indah! Jalan jalan dipagi hari pasti seru! gumamku.
Pria bernama Bintang tadi memanggil kak Randy Bos, dan bilang tentang penyambutan, apa kafe ini punya, dia? Sepertinya aku memang belum seratus persen kenal kak Randy. Sebagai anak panti rasanya ini mustahil, kak Randy sekaya itu! Memiliki bukan hanya satu kafe.
Tapi tak ada yang tak mungkin, kak Randy pekerja keras dan ulet. Nyatanya dia bisa memiliki rumah dan mobil. Walaupun tak terlalu mewah, tapi bagi orang berkehidupan sederhana dengan seorang ayah yang hanya sebagai pegawai biasa, kak Randy cukup kaya.
Aku sedikit kaget, karena kursi disebelah berderit, kak Randy ternyata telah duduk lagi disampingku. Rupanya cukup lama aku fokus pada ponselku. "Sudah selesai urusannya, Kak?" ia mengangguk mendekatkan piring nasinya yang masih utuh. Sedang nasi dipiringku telah tandas.
"Maaf aku makan duluan, habisnya kak Randy kelamaan."
*
*
Kali ini aku sudah pasrah, mau dibawa kemana oleh suamiku itu. Protes pun percuma. Ia tidak menerima yang namanya penolakanku. Karena hari telah menjelang malam, kak Randy mengajakku menginap di penginapan yang tak jauh dari sana. Sebelumnya ia mengajakku membeli pakaian hangat dan barang barang yang kami perlukan, karena kami memang tak membawa apapun, hanya baju yang melekat dibadan. Aku juga meminta membelikan minyak kayu putih dan minuman penolak angin herbal berbahan dasar jahe untuk jaga badan agar tetap hangat dan menjaga stamina karena perjalanan cukup jauh.
"Dek, udah ngabarin Ayah Ibu kan, kalau kita pergi menginap diluar kota?" aku mengangguk, kak Randy terlihat berbeda saat mengenakan baju koko dan sarung. Kami baru saja menyelesaikan kewajiban sebagai muslim yaitu shalat isya berjamaah.
Dia membanting tubuhnya di kasur sebelahku, ia pasti merasa penat karena menyetir berjam jam dalam perjalanan kali ini.
"Setelah ini Bunda Fitri pasti makin membenciku, Kak! " keluhku sembari menerawang menatap langit langit kamar. Ia kemudian berbaring miring menghadap ku, dengan satu tangan menopang kepala, tangan satunya membelai pipiku.
"Dek, rumah tangga kita adalah tentang kita berdua, dan anak anak kita nantinya. Fokus itu saja, jangan terlalu memikirkan yang lain. Walaupun itu bunda Fitri atau siapalah itu. Boleh memikirkannya, tapi sewajarnya saja. Kita tak bisa memaksa bunda Fitri menyukaimu, begitu juga aku tak bisa memaksa Ibu Mira menyukaiku sebagai menantu."
"Tapi aku janji, aku akan berusaha mengambil hati Bu Mira, agar bisa menerimaku sepenuh hati dan akan menegur bunda Fitri. Jikalau tak ada perlu mendesak, Dek Hana gak perlu ke rumah sakit jika takutnya nanti bertemu dengan Bunda Fitri sebelum keadaan membaik. Oke?"
"Aku cuma ingin menjadi menantu yang baik! Itu aja, Kak. " kilahku.
"Iya, aku tahu kamu baik. Tanpa pengakuan dari bunda Fitri kamu tetaplah gadis baik baik, aku percaya seratus persen tak ada yang diragukan itu. Aku jadi teringat, pernah membaca sebuah artikel berisi satu kata mutiara yang kurang lebihnya begini, " Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu."
"Bunda Fitri hanya lebih dominan rasa sayangnya sama Yuri, tak lebih. Udah, stop mikirin yang lain. Pikirkan saja cara dek Hana membayar hukuman dariku! "
"Hukuman?"
"Iya, hukuman karena dek Hana pergi sendirian kan. Udah kubilang kalau pergi bawa teman, tapi dek Hana melanggarnya, kira kira hukuman apa yang setimpal?"
"Dih, masih ingat aja. Mmm...!" aku memutar otak. Lalu sebuah ide muncul.
" Oke, baiklah. Sebagai hukuman aku bakalan push up 10 kali dan sit up 10 kali hitungan, gimana adil kan?"
"No no no...! Aku gak mau itu" kak Randy menggoyang jemari telunjuknya tanda tak setuju.
"Mm, gimana kalau aku masakin makanan kesukaan kak Randy selama seminggu?" ia menggeleng lagi, aku memanyunkan bibir. Tak tahu hukuman seperti apa yang pantas diberikan untukku. Karena aku tahu aku salah.
"Aku cuciin mobilnya kak Randy kalau gitu?" tawarku lagi, ia masih menggeleng.
"Terus apa dong?"
Kak Randy mendekatkan kepalanya, membisikkan sesuatu yang membuat meremang bulu kuduk di seluruh badanku.
"Bayar dengan servis yang memuaskan malam ini. Yang gak bisa aku lupakan seumur hidup aku, kita begadang sampai pagi." aku menjauhkan telinga karena memang tak tahan, geli.
"Ini mah modus kak Randy. Yang lain napa?" aku juga mendorong kepalanya menjauh karena tiupan napasnya tepat di daun telingaku.
"Ooo, gabisa lah. Itu hukuman yang paling setimpal."
"Anggap aja ini kita lagi honeymoon dadakan." dan seperti yang aku katakan tadi, kak Randy tak menerima penolakan. Segala bujuk rayu dan sentuhan yang sebenarnya sebenarnya aku rindukan pun terjadi, hingga membuat diriku seperti melayang ke nirwana, berbagi peluh walau udara terasa dingin, dan berbagi kenikmatan sampai lebih dari tengah malam lalu akhirnya tumbang, terlelap sampai pagi ini kami bangun kesiangan. Sejenak melupakan problema hidup dalam rumah tangga kami yang baru saja dimulai.
__ADS_1