
"Yuri, sudahlah! Randy itu kakak angkatmu. Selamanya dia akan menganggap kamu adik, dan tak akan berubah sayang. Cintanya ke kamu, itu adalah cinta kakak ke adiknya! Ibu kenal betul watak Randy." tegas wanita berhijab pastel, ia tengah membujuk anak angkatnya yang dari gesturnya menyukai Randy. Gadis itu tengah menangis tersedu, karena pria yang ia cinta membawa
gadis lain ke panti. Walau Randy tak mengatakan apapun, ia paham yakin Randy menyukainya.
"Baiklah baiklah, ibu punya satu cara yang mungkin bisa menghiburmu, yang mungkin bisa mengubah nasib. Alloh Maha membolak-balikkan hati manusia, sayang."
"Yaitu dengan do'a, Alloh menjadikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Jika Alloh berkehendak, maka Alloh berkata, "Kun" maka terjadilah hal yang menurut kita mustahil itu." Yuri mengelap air matanya yang telah menganak sungai dengan tisu yang disodorkan bundanya, matanya memerah dan membengkak karena sedari kemarin terus terusan menangis.
"Perbanyak doa ya sayang, ibu juga akan mendoakan yang terbaik untuk anak anak ibu! Semuanya. Bukan hanya untukmu dan Randy." ucapnya menenangkan hati Yuri sembari mengelus kepala gadis yang merebah di dadanya.
"Apa dengan doa, aku bisa dapetin Bang Randy, Bunda? Yuri benar benar cinta sama Bang Randy! Tak mau yang lain...Hikks hikks..."
" Ibu tak bisa memastikan, Yuri. Tapi kehendak Alloh lah yang terbaik bagi kita. Kita berdoa dengan tekun dan penuh tawakkal, namun hasil akhirnya tetap Milik Alloh. Kita tak bisa memaksakan kehendak. Percayalah, yang terjadi pada kita, itu memang adalah yang terbaik untuk kita menurut Alloh. Alloh memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Hadapi dengan rasa penuh syukur."
nasehat sang bunda selalu menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya. Namun karena hati manusia yang telah dibutakan oleh cinta dan masih labil, maka dengan sengaja memaksakan kehendak pribadinya untuk mencapai apa yang diinginkannya.
"Aku cuma mau Bang Randy, Bunda. Aku cinta Bang Randy, tak mau yang lain, hikks hikks!" bunda mengangguk.
"Berdoa saja, Yuri. Semoga bang Randy memang jodoh yang telah ditetapkan Alloh di Lauhul Mahfudz untukmu." pungkasnya ingin menenangkan hati sang anak.
Ya Alloh, apa yang aku lakukan ini? Semata Engkau meridhai, Ya Alloh!
****
"Han, kamu suka makan mie?"
"Suka aja sih kak, tapi aku jarang makan mie. Tahu sendiri dari segi kesehatan keseringan makan mie itu gimana?" Randy manggut manggut.
"Tapi kamu mau kan kalau ku traktir kamu mie ayam sekarang?" tanya Randy penuh harap.
"Mmm, gimana ya. Tadi ibu udah wanti wanti kalau Ibu hari ini masak, jadi aku disuruh makan dirumah!" tolak Hana secara halus. Randy sudah terlalu sering menolongnya, ia sebisa mungkin bersikap baik pada Randy. Namun ia juga tak ingin mengecewakan ibunya.
"Yaah, padahal aku kepengen banget traktir kamu, mumpung sekalian disini, apa gak sebaiknya kamu telpon ibu, siapa tahu ibu belum masak. Nanti bawain aja mie buat ibu!"
__ADS_1
"Tapi...!" Randy mengangkat tangannya.
"Biar aku saja yang hubungi Bu Mira!" putus Randy yang lalu mengambil ponsel di sakunya.
What, kak Randy punya nomer ibu aku?
Randy telah menelpon ibu Hana untuk memberitahu bahwa Hana sedang makan siang dengannya, Hana memperhatikannya dengan raut penuh tanya.
"Kak Randy tahu nomer ibu aku?"
Randy nyengir seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung untuk memberi alasan.
"Mmm, itu! Bu Mira terkadang minta tolong aku kalau kamu pulang telat atau kemalaman, takut terjadi apa apa sama kamu lagi. Tapi nyatanya kamu terus resign. Gak apalah, aku memang yang minta nomernya ibu kamu!" Randy nyengir setelah melihat tatapan netra Hana menyiratkan ketidakpercayaan.
Gak masuk akal!
Randy lalu memesan mie untuk mereka berdua, sembari menunggu mie pesanan mereka berbincang tentang apapun.
"Kak Randy, beneran ini kak Randy gak bakalan bermasalah kalau bawa kue bikinan saya disini? Gimana nanti kalau teman kak Randy tahu dan marah?" tanya Hana penuh selidik. Ia kurang yakin dengan apa yang Randy katakan.
"Udah, gak perlu risaukan hal itu. Biarlah itu jadi urusanku. Yuk, sekarang makan dulu!" Randy menunjuk makanan yang telah tersaji didepannya.
"4 tahun yang lalu, aku jatuh bangun mendirikan kafe ini. Masih belum banyak peminatnya, atau mungkin karena kurang dikenal. Bahkan hampir bangkrut karena biaya pengeluaran biaya lebih besar dari income nya. Hingga datang temen aku menawarkan bantuan dengan berinvestasi."
"Waktu itu aku melihat kedai mie ayam bakso yang lumayan ramai. Dan lagi makanan ini merakyat, mengenyangkan tapi murah meriah. Ya, walaupun seperti katamu makanan ini hanya berefek mengenyangkan perut dan memanjakan lidah. Namun minim nutrisi yang dibutuhkan tubuh."
" Jadilah kafe ini aku bagi sebagian jadi kedai bakso mie ayam. Karena temanku itu usaha warung baksonya banyak cabang dan lumayan sukses. Waktu itu aku bertekad sesukses dia, tapi terbentur modal." Randy bercerita tanpa Hana minta.
"Bu, kak Randy ngasih mie ayam sama ibu!" Hana mengulurkan kresek putih berisi mi ayam dalam stereofoam pada sang ibu.
"Iya, kamu sudah makan?" tanya Bu Mira yang langsung membuka wadah dan tercium aroma khas mie ayam yang wangi menggoda.
"Sudah!"
__ADS_1
"Oiya, Bu!"
Bu Mira yang tengah duduk di kursi ruang depan tivi sembari menyendok mie mendongak.
"Kak Randy kok bisa tahu nomer hape Ibu? Buat apa sih Bu?" mendengar pertanyaan anaknya, Bu Mira meletakkan lagi sendoknya.
"Gak apa apa, Hana. Cuma sesekali berkomunikasi, boleh kan?"
"Dia anak yang mudah diajak ngobrol, juga mudah dimintai tolong, selain itu juga dekat sama keluarga kita, gak ada salahnya kan?" Bu Mira membalikkan pertanyaan.
"Ya, gak salah sih Bu! Hana cuma heran aja, gak ada yang ibu sembunyikan dari Hana kan? Ibu gak sedang merencanakan sesuatu pada Hana, kan?" Selama ini Hana merasa sang ibu dan Ayah seperti ingin mendekatkan dirinya dan Randy.
"Memangnya kamu pengen ibu sama Ayah merencanakan sesuatu untuk kamu dan Randy?" jawab ibu yang malah membuat Hana tersudut.
"Ih, ibu kalau ditanya selalu gitu!" Hana mengerucutkan bibirnya.
"Aku tuh, merasa aneh aja. Kenapa ya, apa ini kebetulan atau memang sebuah kesengajaan? Waktu kak Randy selalu datang tepat saat saat Hana lagi apes atau butuh bantuan?" Hana teringat kala ia akan berobat, namun ayahnya terburu buru pergi ke kantor, Randy datang tiba tiba. Saat sepeda Hana rusak, ia juga tiba tiba datang menawarkan tumpangan, dan kebetulan kebetulan yang lain.
Bu Mira menepuk sofa dekat dirinya duduk, mengkode Hana untuk duduk disampingnya.
"Kamu masih mau mienya? Yuk dimakan berdua?" tawar sang ibu, namun Hana menolak dan mengatakan sudah kenyang.
"Han, ibu mau tanya? Perasaan kamu sama Randy itu gimana sih? Jujur sama ibu!" pertanyaan ibu yang membuat Hana gelagapan.
"Ih, ngapain ibu nanya kayak gitu?" Hana pura pura menghidupkan tivi dan menekan nekan tombol remot. Biasanya jam segini ada film televisi yang sedang tayang.
"Kalau ibu bilang dia suka sama kamu, bagaimana dengan kamu?"
"Bu, kita baru saja kenal dengan dia, terlalu dini menyimpulkan dia suka sama aku. Emang dia pernah bilang, enggak kan?"
"Kita gak pernah tahu bagaimana kehidupannya, siapa dia? Kita juga tak tahu kalau andainya dia punya teman wanita lain dan menyukainya."
"Tunggu, sepertinya beneran feeling aku, kalau ibu tuh mau jodohin aku sama kak Randy?" tanya Hana menoleh pada sang ibu yang menyuapkan mie terakhirnya.
__ADS_1
"Kalau iya, kamu mau?...
...Bersambung.......