
Hana sedang memberi arahan pada mbak Wati menguleni adonan untuk membuat donat, saat sang ibu memanggilnya. Bahwa ada tamu yang bermaksud memesan kue ulang tahun untuk cucunya dan ingin bertemu langsung dengannya.
Dan ia terkejut saat masuk ke ruang tamu, pemesan kue ternyata tak asing baginya.
"Loh, Sintya!"
"Kak Hana!" Tante Namira dan Dimas yang mengantar Sintya juga tak kalah kaget.
"Nak Hana! Jadi, usaha kue ini ternyata punya kamu, toh?" tanya tante Namira setelah mereka berjabat tangan dan mempersilakan tamunya untuk duduk.
"Iya, Tan. Usaha kecil kecilan. Masih rintisan Tante, belum genap setahun saya geluti usaha bikin kue."
"Benarkah?" Hana mengangguk.
"Tante tuh kesini atas rekomendasi teman arisan lingkungan rumah Tante. Semua muji kue bikinanmu enak. Emang bener, enak. Mangkanya Tante mau pesankan buat Sintya kue ulang tahun disini."
"Makasih Tan, buat kepercayaannya. Insya Alloh saya akan buatkan sesuai keinginan Sintya. Ya, sayang?" Sintya menggelayut manja duduk didekat Hana.
"Sintya mau kue yang seperti apa?" Sintya yang hari ini mengenakan dress selutut dengan rambut dikepang dua yang tampak lucu, terlihat bingung.
"Gimana kalau Kakak pilihkan?" karena Sintya bingung, Hana membuka ponselnya.
"Coba liat ini, Kakak pernah bikin kue seperti ini, kamu bisa pilih mana yang kamu suka. Yang ini, suka gak?" Hana menggulir ponselnya, satu persatu ia perlihatkan kue hasil kreasinya dan Sintya masih diam memperhatikan.
"Sintya suka karakter Frozen. Kue dengan hiasan karakter frozen mungkin dia suka! " sahut Tante Namira.
"Benarkah, Sin. Sama dong kayak Kakak. Kakak juga suka frozen. Nih, coba liat yang ini, mana yang kamu suka! " Sintya tersenyum cerah saat Hana memperlihatkan beberapa kue tart dengan hiasan butter cream warna dominan biru muda dan putih itu.
"Aku suka yang ini, Kak!" akhirnya Sintya menunjuk salah satu contoh kue. Kue dua tingkat, diatasnya terdapat boneka kecil karakter frozen, dan lilin angka 6, serta tulisan happy birthday pada salah satu sisi kue.
"Ok! Insya Alloh, Kakak bikinin yang persis seperti ini." janji Hana, sintya berwakah semringah.
"Horeeee! " keceriaan seorang anak kecil mbuat moodboster Hana.
Selain kue ulang tahun, Tsntw Mamira juga memesan kue bok dan nasi bok yang sama jumlahnya. Ia lalu menanyakan nomer rekening Hana dan langsung mentransfer sejumlah uang dari Dimas sebagai DP, sisanya akan dibayarkan setelah pesta usai.
Setelah berbasa-basi sebentar, tante Namira hendak berpamitan untuk pulang, tapi sintya menggeleng keras.
"Aku masih mau main di rumah Kak Hana!" pintanya sungguh sungguh. Kalau sudah seperti itu, Dimas maupun Neneknya sudah sangat sulit membujuk Sintya.
"Tapi Kak Hana sedang sibuk, Sintya. Lusa aja kalau kak Hana ke rumah, biar dia agak lama ke rumah kita! " bujuk sang Nenek lagi. Sedari tadi Dimas hanya diam memperhatikan. Selama dirumah Hana, baru beberapa kalimat ia ucapkan tadi.
"Gak mau, Sin maunya disini. Main sama Kak Hana!" tak mau melepas cekalan tangannya. Bu Mira yang baru gabung tersenyum mendengarnya.
"Dim, bujuk dong ponakan kamu!" Dimas menoleh pada Mamahnya.
"Mamah kayak gak tahu Sintya saja. Bujuk sendiri lah, Mah! " ucapnya datar dan terkesan cuek.
"Ckkk, kamu!"
"Kalau begitu, biar Sintya disini saja. Nanti biar Hana yang anter pulang." Bu Mira ikutan bicara akhirnya, memutus perdebatan Ibu dan anaknya itu.
__ADS_1
"Ya kan, Han?" Hana bingung mau menjawab apa.
"Aku kan, gak tahu rumah mereka, Bu!" bisik Hana pada ibu yang duduk disamping kirinya, sedang Sintya disamping kanannya.
"Sintya 'kan bisa nunjukin jalannya! Iya kan, Nak!" Ini si Ibu getol banget sih, ada udang dibalik bakwan kah?
Sintya mengangguk angguk. " Nanti aku tunjukin rumah aku, Kak. Ya Kak, ya? Aku mau main disini, please!" bertingkah manja sambil menerima kedipkan mata, mode merayu, membuat Hana gemas menoel pipinya.
"Izin dulu deh sama Om sama Neneknya Sintya. Kalau boleh, Kakak izinin main disini." Tante Namira tersenyum penuh arti.
"Yaudah. Tapi inget, Kak Hana sibuk. Gak boleh ganggu!"
"Ashiaaap, Nenek! " anak itu tertawa senang. Namun berubah menjulurkan lidah pada Om-nya yang menatapnya tajam.
"Baiklah, Tante tunggu minggu depan jam delapan ya, Hana. Jam sembilan acara di mulai. Jangan terlalu mepet waktu nganter kuenya."
"Siap, Tante. Insya Alloh. Kami amanah." Mereka pun pulang meninggalkan Sintya dirumah Hana.
"Sintya main sama ibunya kak Hana dulu, ya. Kak Hana masih sibuk, banyak pesenan." Perintah Hana pada Sintya.
"Iya, Kak. Ayo, Nek! Sintya mau lihat ikan di kolamnya Kakek!" Bu Mira sumringah seorang anak kecil memanggilnya Nenek.
"Duh, gini ya, rasanya punya cucu. Ibu jadi beneran pengen punya cucu, Hana! " kata Ibu Mira sambil menggandeng tangan Sintya menuju samping rumah yang ada kolam ikan lelenya.
Hana memutar bola mata. Selalu saja ibunya seperti itu.
Selama kurang lebih tiga jam, Sintya berada di rumah Hana, terkadang bermain bersama bu Mira, terkadang memperhatikan dan mencari perhatian Hana yang sedang membuat kue, dan sorenya Sintya merasa jemu hingga pak Hadi mengajak bermain air bersamanya yang sedang mencuci motor.
"Iya, Kek. Seneng banget. Seru main air, ehehehe!" sama halnya dengan bu Mira, hati Pak Hadi berbunga gadis cilik itu memanggilnya Kakek. Dulu, mereka tak berhasil memberikan adik untuk Hana, dan harapan satu satunya sekarang adalah Hana menikah dan mereka bisa punya cucu.
"Habis ini mandi ya, terus biar dianter Kak Hana pulang. Nanti Neneknya nyari lagi."
"Nggak, Kek! Kan tadi yang nganter Om sama Nenek. Tuh, Om datang!" saat menoleh didepan gerbang berhenti sebuah mobil yang sangat Sintya hafal. Pak Hadi ikut melongok, melihat seseorang turun dari mobilnya
"Hai, Om! Nenek mana."
"Hai juga! Om sendiri tuh, Nenek dirumah lagi masak. Om mau jemput kamu!" jawab Dimas, lalu menunduk hormat saat dari balik sepeda Pak Hadi yang tadinya jongkok berdiri.
"Sore, Pak! "
"Sore juga. Nak. Mau jemput ponakannya yah?"
"Betul, Pak. Udah terlalu lama disini. Pasti merepotkan ya, anak ini! "
"Nggak, nggak! Kami seneng kok, rumah jadi rame kalau ada celotehan anak kecil. Anaknya juga manis, gak rewel."
"Tuh, kan Om." Sintya menyebik, dapat pembelaan dari Pak Hadi.
"Oiya, Ini saya bawakan Pizza buat Bapak sekeluarga. Semoga suka! " tadi Tante Namira alias Mamahnya Dimas menyuruhnya mampir dulu membeli pizza buat oleh oleh, sebagai rasa terimakasih karena Sintya boleh bermain dirumah mereka.
"Duh, kok repot repot sih, Nak. Yaudah saya terima ini. Rezeki, gak boleh ditolak, kan?" Pak Hadi mengusapkan tangannya yang basah ke celananya, lalu menerima kresek berisi pizza. Dimas menyunggingkan senyum, menatap wajah sumringah Pak Hadi. Ia jadi teringat Papah-nya yang telah meninggal beberapa tahun lalu.
__ADS_1
"Terima kasih, ya!"
"Sama sama Pak. Kalau begitu saya izin mau bawa Sintya pulang. Ayo, Sin. Salim sama Bapak ini terus pulang." ajak Dimas.
"Sebentar, Om. Sin mau pamit dulu sama Kak Hana, sama Nenek juga!" Sintya hendak masuk ke dalam rumah, saat itu Hana muncul membawa handuk ditangannya.
"Ayo, Sin mandi dulu. Habis mandi Kak Hana antar pul...! " Hana tak jadi menyelesaikan ucapannya. Ternyata Dimas sudah berdiri diujung teras rumahnya. Tatapan netra mereka sempat bersirobok.
"Oh, Sudah dijemput rupanya. Mau langsung pulang atau mandi dulu!" tawar Hana pada Sintya.
"Mmm, Sin mau pamit aja, Kak. Mandi dirumah. Nenek mana, Sin mau pamit."
"Nenek ada di belakang, sebentar ya Kakak panggilin."
"Mmm, Kak Dimas silakan duduk dulu." Pria berwajah datar itu hanya mengangguk, lalu duduk di kursi teras. Ayah Hana juga menyelesaikan kegiatannya, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Dimas.
Hana berlalu ke belakang. "Sin, kemana? Kita mau pulang?" tegur Dimas saat Sin mengikuti langkah Hana.
"Liat Nenek sebentar!" Sin menjawab tanpa menoleh. Tak butuh waktu lama, Sintya keluar lagi dengan menenteng kresek yang berisi boks kue.
"Apa ini, Sin?" tanya Dimas karena Sintya mengulurkan boks padanya.
"Kue, dikasih sama Kak Hana."
"Ya ampun, dugaan Om pasti bener, kamu bikin rusuh, ya?"
"Nggak kok Nak Dimas, Sintya anteng disini. Kapan kapan main lagi, ya! Nanti Nenek buatin ayam kentaki yang krispi lagi." Sahut bu Mira yang muncul dari belakang Sintya.
"Iya, Nek. Sin seneng disini. Kapan kapan kalau libur sekolah mau dolan kesini, ah!" sintya melenggang menuju mobil, tak menghiraukan tatapan tajam Om-nya.
"Boleh, boleh banget, ***!"
"Sekali lagi, terimakasih dan maaf, jika ponakan saya bikin susah orang rumah sini. Saya permisi, assalamu'alaikum. " Dimas mencium punggung tangan kedua orang tua itu takzim.
"Waalaikum salam warahmatullah." jawab pak Hadi dan bu Mira, mengiringi langkah Dimas mengikuti Sintya.
"Dadah.. Kek, Nek!" Sintya melambaikan tangan kearah mereka sebelum mobil melaju.
"Ooh, gak jadi nikah sama mas Randy, ternyata sekarang Hana nggaet duda kaya dan udah punya anak, ya?" tiba tiba bu Daniel muncul dari balik tembok.
"Bu Daniel, maaf ya. Allah memang memberikan mulut pada manusia untuk berbicara dan itu gratis, tis. Dengan maksud untuk berbicara yang baik, memakan makanan yang toyyib lagi halal. Bukan untuk menggunjing atau merendahkankan manusia lainnya. Bisa jadi orang yang bu Daniel rendahkan, di mata Allah orang itu lebih tinggi derajatnya."
"Maaf saya harus berkata demikian, cuman untuk mengingatkan. Siapa tahu bu Daniel lupa, tolong rem dan jaga ucapan ya. Anak saya tak serendah itu. Bukan untuk menunjukkan derajat kami lebih tinggi, bukan. Kita semua sama di mata Allah SWT. Hanya kadar ketaqwaan manusia yang menunjukkan tingkatan diri, bukan harta, tahta, atau yang lainnya. " bu Daniel malah mendapat ceramah dari Pak Hadi yang jengah, seringkali keluarganya mendapat cemoohan dari wanita itu. Selama ini dirinya diam, bukan berarti kalah atau membenarkan ucapan wanita itu. Hanya ingin mencari momen yang pas.
"Baca Kitab Suci punya bu Daniel, dalam suraah Al Hujuraat ayat 13 hal tersebut difirmankan oleh Allah. Juga dalam hadits Nabi dijelaskan, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya"
"Kita harus bisa mengukur apakah kata-kata kita itu melukai perasaan orang atau tidak, karena sensitifitas tiap orang itu berbeda-beda, Bu. Saya harap Bu Daniel tidak tersinggung atas kata kata saya." selesai pak Hadi bicara, bu Daniel langsung melengos pergi. Terdengar ia menggeeutu, entah apa. Bu mira dan pak Hadi hanya saling pandang dan menggelengkan kepala sebelum masuk ke dalam rumah.
"Salah kita apa ya, Yah. Punya tetangga kayak gitu."
"Jangan bilang salah kita apa. Kita itu juga manusia yang tempatnya salah dan lupa. Raba aja hati Ibu, barangkali punya salah yang disengaja. Kalau gak disengaja sih, dipastikan ibu lupa. " pak Hadi ganti menceramahi sang istri.
__ADS_1