HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 55.


__ADS_3

Flashback On


"Han, kita undang juga mantanmu itu, kita antar sekarang ya, mumpung free dan ada undangan sisa! " Ajak Salman saat mereka berdua selesai menyebarkan undangan pada teman temannya.


"Rumahnya deket dari sini, kan?" ucap Salman lagi, tersenyum miring penuh kemenangan.


"Tapi, Mas. Gak usah aja deh ya! Malas aku! " tolak Hana saat mobil telah melaju.


"Aku kata undang aja, biar dia ikut merasakan kebahagiaan kita." eyel Salman berucap ambigu.


"Atau jangan jangan kamu bukannya malas, tapi karena belum bisa move on dari dia, meski dia udah hianatin kamu dan nikah sama adik angkatnya?" tiba tiba tuduhan terlontar dari bibir Salman, Hana melirik tak suka dengan Salman yang mengungkit hal itu. Tapi dia menahan diri agar tak bertengkar dengannya meski hatinya merasa jengkel.


"Maaf, mas. Saya gak suka mas Salman mengungkit masa lalu saya. Itu tuduhan tak berdasar namanya. Biar itu jadi masa lalu saya. Kalau saya belum bisa move on, mana mungkin saya mau nerima lamaranmu, saya pasti sudah nolak tanpa pertimbangan."


"Saya juga gak pernah 'kan mengungkit masa lalu kamu?"


"Tapi baiklah, buat ngeyakinin mas Salman kita kesana sekarang, jalan Kenari nomer 15." jawaban Hana terdengar ketus menyebut alamat rumah Randy, tapi melegakan hati Salman.


"Oke, siapa takut! "


***


"Assalamu'alaikum." sapa Hana diambang pintu gerbang rumah Randy, yang dulu pernah ia diajak kesana beberapa kali. Orang yang Hana ingin temui sedang duduk diteras berdua dengan istrinya waktu itu.


"Waalaikum salam. " jawab keduanya. Randy menatap Hana tanpa berkedip. Tanpa sadar ia berdiri, hampir saja ia menyongsong wanita yang dirindukan nya saat ini. Sedang Yuri yang duduk di kursi roda melempar senyum kearah Hana. Menyadari Randy malah tertegun, Yuri mempersilakan Hana untuk duduk.


"Mbak Hana, masuk dan duduk sini!" ujarnya berhasil mengatupkan bibir Randy yang sedikit melongo. Tak percaya dengan pemandangan di depannya.


"Iya, makasih. Tapi maaf saya gak akan lama." Hana menghampiri Yuri, menyentuh punggung tangan kecil nan ringkih itu.


"Apa kabar Yuri, kamu baik 'kan? Sepertinya kesehatanmu makin pulih! " ucap Hana yang tentu saja basa basi. Sama, sekali tak melirik Randy.


"Alhamdulillah seperti inilah saya. Dikatakan sehat ya seperti ini, hanya bisa duduk dikursi roda." ucapnya terdengar getir.


"Yang sabar, setiap manusia mempunyai cobaannya sendiri. Dan semua sudah digariskan Tuhan." makin getir apa yang dirasakan Yuri, ulu hati pun terasa nyeri dengan ucapan halus tapi terasa menohok perasaan.


"Oiya, langsung saja ya, saya kesini tadi cuma mau menyampaikan undangan ini sama kak Randy juga kamu, datang ya ke nikahan aku! Semoga kalian tak ada halangan buat datang." Yuri terlihat terkejut, apalagi Randy, ia menelan ludah, terlihat dari jakunnya yang bergerak.


"M-mbak Hana mau nikah?" Hana mengangguk. Yuri melihat kartu undangan yang baru saja dihulurkan Hana padanya. Lalu menatap suaminya.


"Yaudah, maaf saya buru buru. Calon suami saya nunggu di mobil, kasihan kalau lama lama. Jangan lupa datang, aku tunggu kehadiran kalian berdua. Assalamu'alaikum. " Hana segera berbalik, rasanya ia tak sanggup melihat pemandangan dirumah ini yang baginya punya kenangan indah.


"Hhh, dia sampe lupa kedip gitu liat calon gue." cetus Salman saat mereka telah meninggalkan rumah Randy, rupanya ia memperhatikan interaksi ketiga orang diteras tadi.


"Maksudnya apa ngomong gitu?" tanya Hana setelah menolehkan wajah dan mengerutkan alis.


"Gak apa, aku liat tadi dia natap kamu gak kedip, padahal didepan istrinya, hhh! " Hana menatap lurus kedepan, tanpa ingin menjawab Salman. Malas.


Jangan harap lo bisa balikan lagi sama Hana, dia udah hak paten gue, begitu mungkin kata hati Salman.


***

__ADS_1


"Hana, tunggu!" keesokan harinya Randy mengikuti Hana yang sedang keluar rumah. Ia menghadang laju motor Hana dengan membelokkan motor kearah pinggir.


"Iih, Kak Randy ngapain? Gak usahlah temuin Hana lagi. Kasian istri Kakak! " ucapnya setelah membuka helm. Wajahnya memerah kesal atas ulah mantan calon suaminya itu. Untung saja dia tadi agak lambat melajukan motor, jadi tak sampai menabrak motor Randy yang menghadang tiba tiba.


"Lagian coba gimana tadi kalau sampe aku nabrak Kak Randy. Kita bakalan celaka, bukan cuman kak Randy, aku juga. " omelnya lagi tanpa jeda.


"Han, please. Dengerin aku, aku udah ikhlas jika kamu memutuskan buat nikah sama siapapun itu. Aku sadar sudah tak ada peluang lagi buat aku. " pasrah Randy. Ia tak menggubris omelan wanita yang masih indah bertahta dihatinya itu.


"Tapi, Han. Salman itu bukan pria yang cocok buat kamu, dia... "


"Cukup, Dia apa? Kak Randy jangan mencoba mau gagalin nikahan aku, atau berusaha menghasut aku. Jangan fitnah mas Salman dengan kata kata burukmu!" Randy menggeleng, ia belum menjelaskan, tapi Hana sudah mengobarkan penolakannya.


"Aku bersumpah, Hana. Aku tak bermaksud menghasudmu.Tak bermaksud menjelek jelekkan dia. Cuma Salman itu suka main wanita, dia... "


"Cukup, aku gak mau dengar lagi fitnahmu Kak. Mas Salman selama ini yang aku lihat baik, gak seperti yang kak Randy katakan. " ucapan Randy terpotong lagi.


"Aku bersumpah demi apapun, Hana. Believe me, sekali ini saja."


"Please! " Randy mengatupkan tangan.


"Maaf, saya percaya sepenuhnya mas Salman. Dan satu satunya laki laki yang tak saya percayai dalam hidup saya saat ini adalah, seorang lelaki yang sudah bertunangan, tapi malah menikahi wanita lain dan bermaksud poligami. Dan orang itu, ada dihadapan saya sekarang. Permisi! " Randy bungkam seribu bahasa, kata katanya mendapat serangan balik dan tepat sasaran menohok jantungnya.


"Baiklah, waktu yang akan membuktikannya Hana. Semoga kamu tak pernah menyesal seperti aku menyesali gagalnya pernikahan kita. Semoga apa yang pernah aku temukan fakta tentang dia itu salah, walau aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Selamat berbahagia, maaf kalau nanti aku tak hadir di nikahanmu. Rasanya aku gak sanggup, Han." ucap Randy bermonolog sembari mengawasi motor Hana yang telah menjauh.


Keesokan harinya Hana mengantar undangan pada Tante Namira, sekaligus memenuhi permintaan Sintya untuk main ke rumahnya. Tante Namira terkejut akan kabar bahwa Hana akan menikah.


"Yaaa, keduluan deh. Padahal maunya sih kamu aku jodohin sama Dimas!" ucap Tante Namira berterus terang. Hana hanya tersenyum kecut, lalu Sintya menyeretnya masuk ke rumah, ikut bermain bersamanya.


"Jangan pulang dulu, kak Hana. Ini kan terakhir kita main sama sama. Nanti kalau Kakak udah nikah, Sin gak bisa main lagi deh, sama Kakak." Hana tertawa, selama dua jam anak itu berhasil menghipnotis dan melupakan kesedihannya.


"Siapa bilang gak boleh, kalau Sintya libur sekolahnya, tetep boleh kok datang ke rumah. Nenek Mira pasti sangat senang Sintya datang."


"Tapi maaf, udah petang Kak Hana harus pulang sekarang. Nanti ada yang nyariin deh."


Dengan berat hati dan mulut manyun Sintya membolehkan Hana untuk pulang. Tante Namira menawari Hana untuk pulang setelah makan malam, dan biar diantar Dimas kalau memang tak berani. Tapi Hana kukuh mau pulang dan tak mau merepotkan Dimas.


Dari rumah Hana menuju pulang melewati area perkebunan yang cukup luas, dan sepi. Hana merasa begidik jika nanti menjelang maghrib ia melewati tempat yang cukup sepi itu.


Hati Hana tak tenang saat memasuki kawasan perkebunan. Ia merasa ada sosok yang mengawasinya, Tapi ia juga tak bisa melajukan motor terlalu kencang, karena jalan yang berkelok dan aspal yang mengelupas disana sini. Dan saat konsentrasi Hana fokus pada jalanan, sebuah sepeda motor menghadangnya. Dua orang pria tengah tersenyum sembari menaik naikkan alis dan saling melirik. Mata mereka terlihat memerah dan yang duduk di jok belakang tengah membawa botol minuman keras.


"Astaghfirullah. Ya Alloh, selamatkan aku dari orang orang berniat jahat." gumam Hana ketar ketir, wajahnya agak pucat dibawah remang cahaya semburat jingga.


Hana seolah tak perduli dan mencoba berusaha menguasai diri agar tak gugup, mau berbalik arah juga percuma. Hingga Hana terus melajukan motor dan berharap semoga dua pemuda itu tak membuat ulah, atau ada pengendara lain yang lewat.


Tapi harapannya nihil, keduanya menghadang sepeda Hana.


"Hei, minggir aku mau lewat! " jantung Hana serasa copot saat satu pemuda berhasil menangkap setir motor.


"Jangan galak galak cantik. Nih, aku punya sesuatu yang bisa buat kamu senang, aku juga senang. Yuk kita nge fly sama sama, minum bersama kami! " kata pemuda berambut gondrong dan dikuncir, ia tertawa terbahak bahak sambil mengacungkan botol yang ia bawa.


"Aku gak selera ya. Aku perempuan baik baik. Awas minggir, aku mau pulang!"

__ADS_1


"Perempuan baik baik, hahaha! " keduanya tertawa lagi. Tapi dua pemuda itu terus merangsek, tak memberinya celah untuk pergi, hingga Hana berpikir untuk melarikan diri.


Saat keduanya tertawa tawa Hana mengambil kunci motor, perlahan turun lalu berlari sekuat tenaga. Ah, andai aku bisa beladiri. Gumam Hana berandai andai.


Kedua orang itu tak membiarkan Hana pergi begitu saja, tak mau melepasnya dan mengejar. Tak butuh waktu lama, hanya berjarak beberapa meter, satu pemuda berhasil menggapai Hana.


"Lepaskan aku! Tolooong, tolooong! " teriak Hana memukul dengan tas selempangnya. Hana mulai tak bisa menguasai diri, ia mulai menangis dan memukuli dua orang itu yang tertawa tawa. Mengejek.


"Tolong lepaskan saya, biarkan saya pulang! " tangis ketakutan Hana yang tangannya dipiting.


"Udah kubilang kita minum sama sama, terus kita seneng seneng dulu, hahaha! " satu pemuda hendak mendekatkan mulut botol ke mulut Hana.


"Yuk, minum! Sedikit aja nanti kamu bakalan ketagihan." sebelum botol menyentuh mulut Hana, ia melakukan sesuatu yang membuat berang keduanya.


"Cuiiih! " Hana meludah dan mengenai dada pemuda panggil saja Parto dan satunya Narto.


"Kurang asem, Lo ngeludahin gue, awas ya!" ucapnya berang, matanya berkilat kemerahan menandakan dia sedang sangat marah dan berhasil memegang rahang Hana, menekannya agar membuka mulut. Mereka tak menyadari sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka.


"Hei, jangan lakukan itu! " seorang pemuda turun dari mobil dan menghardik keduanya.


"Lepaskan gadis itu, aku akan bayar berapapun kalian mau! Tapi lepaskan dia! " teriaknya lagi.


"Kak Randy!" gumam pelan Hana.


"Heh, ganggu kesenangan gue aja Lo. Minggir, atau gue bikin Lo babak belur?" pria yang baru datang yang ternyata Randy pasang kuda kuda, karena Parto yang sedang mabuk melepas cengkraman pada Hana, menutup botol lalu berjalan kearahnya.


"Lepaskan, atau kalian akan menyesal! " ancam nya lagi. Tapi tanpa aba aba Parto menyerang Randy. Terjadilah duel satu lawan satu yang gak seimbang, dikarenakan Parto mabuk, sehingga tendangan dan pukulannya ngawur. Hingga saat Parto lengah, Randy berhasil menendangnya hingga jatuh tersungkur.


Narto yang masih memiting Hana menggeram marah, ia lalu melepas Hana dan mendorongnya. Hampir saja Hana terjatuh, namun berhasil menguasai diri.


"Hana, carilah bantuan, kamu bisa telpon siapa saja yang bisa dimintai tolong! Tadi aku juga udah telpon Panji buat datang kesini." bisik Randy setelah berhasil mendekati Hana. Hana mengangguk paham, dengan tangan gemetar ia membuka tas dan mengambil ponselnya.


"Menjauhlah dan hati hati, Han! "


Dengan kaki dan tangan gemetar, Hana menjauh menuruti perintah Randy dan menempelkan ponsel di telinga. Mengawasi Randy yang berduel satu lawan dua, karena pemuda yang jatuh tersungkur tadi sudah bangun dan bahu membahu melawan Randy.


"Halo Yah, Tolong. Aku dihadang orang jahat di daerah perkebunan! " setelah bicara beberapa saat di telpon, Hana kaget oleh teriakan Parto.


"Mampus kau! " Randy berdiri mematung, tak lama kemudian dia ambruk ke tanah.


"Kak Randy...! " teriaknya.


"Ayo lari, Parto! " Parto membuang sebilah pisau kecil yang berlumuran darah.


 


Me: He he he, lagi seru serunya, TO BE CONTINUED.


Netizen : awas kau Thor. ku cubit online ntar, nyahok loe! "


Me : Lariiii!

__ADS_1


__ADS_2