HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 61


__ADS_3

"Masih belum bangun menantu kesayanganmu itu, Yah?" terdengar suara bu Mira. Randy melambatkan langkahnya hingga berhenti di balik pintu dapur yang terbuka.


"Menantu kita, Bu. Dia suaminya anak kita satu satunya. Kalau kamu sayang sama anak, belajar menyayangi pasangannya dia juga " ralat pak Hadi mengingatkan sang istri.


"Iya, deh. Tapi Ayah yang ngebet punya mantu dia, Ibu mah enggak."


"Tapi Ibu kan, yang lebih dulu suka sama dia. Wong anak kita itu manut manut aja di jodohin." bantah pak Hadi.


"Tapi itu dulu, sebelum dia punya maksud poligami anak kita. Ibu tetep gak rela ya, anakku satu satunya jadi istri kedua."


"Sttt! Pelankan suaramu, Bu. Nanti ada yang dengar."


"Biarin lah dia denger! "


"Ya Allah, Bu. Jangan buat Ayah merasa salah ambil keputusan. Janganlah benci sangat sama dia.


Nak Randy nikah itu juga bukan maunya, karena gadis itu sakit. Maksudnya juga baik, walaupun bagi sebagian besar perempuan di dunia poligami itu adalah sesuatu yang harus dihindari dan dicegah."


"Lah, kok Ayah malah belain dia, bukannya belain anak kita?" bu Mira merepet.


"Siapa yang bela? Anak kita yang mau dengan sukarela. Itu artinya dia udah siapkan hati dia, suaminya berbagi cinta dengan wanita lain secara halal. Lagian Ayah cuman melihat dari sudut pandang laki laki. Dari sudut pandang nak Randy. Apalagi kan, poligami dibolehkan oleh agama, dan dengan syarat syarat yang tidak membuat hak hak istri mutlak hilang. Dan yang terpenting, ia melakukan hal itu bukan karena kemauan hati, tapi sebuah tuntutan kekeluargaan. Dia sayang sama Ibu dan adik angkatnya."


"Yatapi gak gitu juga kali caranya, Yah. Huh, sama saja ternyata. Maunya laki laki emang gitu. Awas kalau Ayah punya pikiran poligami, mau tak sunatin?" reflek pak Hadi memegang bagian bawah perutnya yang sedikit membuncit.


"Waduh, ngeri nih Ibu kalau marah. Jangan! Kalau dia hilang, kumaha atuh Nyai! Ibu juga yang rugi!" bu Mira menyebik. Pak Hadi tersenyum menggoda istrinya yang merajuk, ekor matanya menatap kemana langkah bu Mira yang membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa sayuran.


"Mangkanya, gak usah mikir apalagi niat buat poligami. Gak rugi rugi juga Ibu kalau punya Ayah disunatin lagi. Daripada itu dibagi bagi, hilangin aja sekalian! " pak Hadi mendesah. Kopinya sudah sedikit dingin, ia lalu menyeruputnya. Istrinya kalau lagi marah, omongannya tak disaring. Tapi itu hanya pada suami dan anak saja. Diluar rumah, istrinya itu pandai menjaga imej suaminya.


" Kenapa ya, madu itu 'kan enak dan menyehatkan pula. Tapi kalau perempuan di madu, ujung ujungnya mencak mencak gak terima."


"Apa?" pak Hadi sampai terlonjak kaget, makin tajam tatapan bu Mira pada suaminya. Menyadari suasana semakin panas pak Hadi mengalihkan tema pembicaraan.


"Eh, buatkan nak Randy kopi, Bu. Tadi dia ke masjid sama Ayah! Lalu naik lagi.Biar Ayah bawain ke kamarnya." mau lari, dilanjutkan pasti ujungnya akan terjadi pertengkaran. Jadi, pak Hadi pikir lebih baik segera pergi, daripada singa betina yang sedang mengaum itu akan menguliti dirinya lagi. Perintah yang tak dibantah bu Mira. Perlahan wanita paruh baya itu menuju termos yang baru dia isi, namun sejurus kemudian terdiam mencerna ucapan suami.


"Eh, ngapain dibawa ke kamarnya? Ayah ini orang tua, mo ngintip?" berhenti, tak jadi menuang air panas pada gelas kopi, dan menoleh pada suaminya.


"Astaghfirullah, Bu. Pikiranmu itu, mbok ya yang sehat. Ngapain ngintip anak sama menantu. Mending juga praktek sendiri, dah hapal, gak usah pake tutorial. Sambil merem pun bisa. Mau sekarang? Hayok, siapa takut!" ucap pak Hadi asal, lalu menyeruput kopinya sampai habis. Sepasang telinga yang mendengar dari belakang pintu, menahan tawa akan jawaban pak Hadi.


"Assalamu'alaikum." mulut bu Mira yang hampir menjawab, terhenti dan hanya mangap sebentar lalu mengatup lagi, melihat Randy masuk ke dapur.


"Eh, waalaikum salam. Yuk, ngopi nak Randy. Ayo bu, tuang itu airnya! " perintah pak Hadi, tapi langsung dicegah Randy.


"Nggak usah, Yah. Nanti aja. Saya kesini mau tanya sama Ibu, ada kunyit kan, Bu?"


"Kunyit? Ada! Buat apa?"


"Hana lagi sakit perut, kata Hana biasanya ibu buatin kunyit kalau dia lagi begitu."

__ADS_1


"Asam lambungnya naik lagi kayaknya. Dibilangin jangan telat makan, jangan stres, susah banget. Giliran begini 'kan jadinya. Yaudah, ibu buatin dulu, nanti ibu antar ke kamar! " bu Mira malah mengomel. Randy menggeleng tak setuju. Dan tersenyum membayangkan andai dirinya ada diposisi sang Ayah, dan Hana mengomeli dirinya.


"Biar saya aja, Bu. Saya udah terbiasa kok, bikinin adik adik saya jamu herbal. Jadi gak masalah biar saya aja yang bikin." bu Mira pun terdiam, menunjukkan tempat dimana ia menyimpan kunyit dan rimpang rimpangan lainnya, lalu menjauh. Duduk dekat pak Hadi.


Pak Hadi dan bu Mira duduk dengan bahan masakan diatas meja, melihat Randy yang begitu cekatan dan telaten mengupas kunyit, mengiris irisnya lalu memasukkan kedalam panci kecil yang ditunjuk bu Mira untuk menggodok jamu.


Tak membutuhkan waktu lama godokan kunyit sudah jadi. Setelah memberi sedikit gula jawa, dan dituang ke gelas, Randy membawanya ke kamar setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu mertuanya.


"Diminum, dek! Ini ramuan herbal bikinan aku. Semoga bisa ngurangin sakit perutnya!" ucap Randy dengan gelas ditangannya.


Hana bangun dengan masih dengan memegangi perutnya. Sesekali ia mendesis karena sakit di ulu hati.


"Sakit banget, ya?" Hana mengangguk. Dan segera meminum setelah mengucap doa, agar jamu yang diminum memberi efek kesembuhan.


"Udah, baring lagi gih. Biar cepet pulih." dengan telaten Randy menyelimuti Hana yang membaring kan diri lagi dengan kaki ditekuk sampai perut. Mlungker.


"Makasih, Kak. Udah mau ngerawat aku! Buatin aku jamu."


"Sama sama. Udah kewajiban kita saling menjaga, karena mulai saat ijab kabul kemarin, kita adalah bagian dari sebuah kesatuan."


"Kamu sakit, aku juga merasakan, kamu senang, aku ikut senang. Kamu sedih, ada bahuku buat tempat kamu bersandar. Aku tempat kamu berkeluh kesah, begitupun sebaliknya. Jadi, jangan sungkan ya." Hana mengangguk, ia tak menolak kala Randy mengusap usap surai hitamnya.


"Kak, gimana Yuri?"


"Sudah, jangan pikirkan dia. Dia pasti baik baik saja bersama Bunda sekarang." jawab Randy dengan tenang. Hana bangkit dan duduk bersila, tangannya bertumpu pada bantal di pangkuannya.


"Inshaallah, akan aku usahakan. Aku mencintai kalian berdua dengan kadar yang berbeda. Aku mencintainya sebagai adik, dan aku mencintaimu sebagai istri. Insya Allah dia rela, meski aku lebih sering bersamamu, itu yang dia katakan kemarin padaku."


"Terus, nanti aku mau tinggal dimana? Disini, atau bertiga di rumah Kak Randy?" ada nada getir dalam ucapan Hana. Serumah dengan madu. Wanita mana yang mau, mungkin sejuta banding satu. Akan lebih banyak sakit hatinya. Oooseraaaam.


" Aku ingin kamu nyaman. Aku nurut maunya kamu gimana. Aku gak akan maksa tinggal bertiga, tapi tolong jangan memberatkan aku juga, ya." pinta Randy sungguh sungguh.


"Kalau aku tetap tinggal dirumah ini, gimana?" usul Hana yang membuat Randy diam.


"Tidurlah lagi, Dek. Nanti aja kita pikirkan sambil jalan. Ya, karena semua memang terlalu mendadak. Dan kalau Dek Hana sudah sehat, aku mau ngajak kamu jalan jalan." Hana mengangguk patuh, dan berbaring lagi.


@@@


Matahari telah terang, pria muda dan pria paruh baya berstatus menantu dan mertua itu duduk berhadapan, didepannya tersaji beberapa kudapan di piring yang sebagian telah berpindah ke dalam perut keduanya.


"Salman telah melunasi semua biaya yang dikeluarkan untuk acara resepsi kemarin. Kami tak mengeluarkan biaya sepeserpun, semua ditanggung Salman dan orang tuanya." pak Hadi menatap menantunya.


"Saya akan kembalikan uangnya, Yah. Secepatnya. Biar saya tak merasa berhutang padanya." jawab Randy cepat tanpa keraguan. Salman yang mengatur konsep pernikahan dan segala te tek bengeknya, tapi Randy yang menikmatinya. Sungguh nikmat yang luar bisa yang dia dapatkan. Disaat ia telah menyerah dan berputus asa. Allah memberi jalan lapang menggapai cintanya. Kini gadis yang sangat ia cinta telah sah menjadi miliknya.


"Terimakasih nak Randy telah menyelamatkan kami dari rasa malu. Walaupun gunjingan yang tak mengenakkan itu pasti tetap ada, ya wajarlah. Jangankan sesuatu yang buruk menimpa, sesuatu yang baikpun bahkan tak lepas dari cibiran dan gunjingan orang. Entah mungkin karena rasa iri dengki, atau karena rasa benci."


"Iya, Yah. Selalu ada hikmah dibalik semua ini. Ini takdir dari Allah dengan jalan yang tak disangka sangka."

__ADS_1


"Tolong jaga kepercayaan Ayah sama kamu, Nak. Perlakukan anak Ayah dengan baik. Dia cinta kamu, Ayah tahu itu."


" InsyaAllah, Yah. Saya juga sangat mencintai Hana, saya janji akan memperlakukannya dengan baik, akan berusaha untuk selalu membuatnya bahagia, dan berlaku adil padanya dan juga Yuri."


Ngomong ngomong tentang Yuri, Randy jadi teringat sampai saat ini dari kemarin ia belum tahu kabarnya. Iapun menduga wanita itu pasti diajak ke panti dan menginap disana.


"Maaf, Yah. Saya melupakan sesuatu. Izin ke kamar dulu, lihat keadaan Hana. " Pak Hadi mengangguk mengiyakan.


Sesampainya dikamar, ia tak mendapati Hana di ranjang. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Mungkin dia sedang mandi, pikir Randy.


Diraihnya hape diatas meja, setelah menggulir nama dikontak, ia pun menekan tombol panggil, sembari berjalan kearah balkon. Tersambung tapi tak diangkat.


Apa Yuri masih tidur?


Ditekannya lagi tombol panggil, tetap saja tak terjawab. Dia lalu memanggil nama kontak Bunda.


"Halo, assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam, gimana kabar Bunda?" yang diseberang telpon tertawa, namun terdengar aneh.


"Tumben pagi pagi telpon nanyain kabar Bunda, yang nanyain pengantin baru lagi, tentu saja kabar Bunda sehat, Ran. " jawabnya kemudian, Bunda seperti menyembunyikan sesuatu.


"Syukur deh, mm Bun. Mau tanya, apa Yuri sama Bunda? Dia ikut ke panti apa dirumah sama Sindy dan Bibi?" beberapa saat tak ada jawaban.


"Bun! " perasaan Randy mulai tak enak.


"Mm, eh iya, Ran." suara di seberang sana tergagap.


"Iya, Yuri sama Bunda di Panti. Gak usah khawatir, Yuri baik baik saja, kok. Nikmati masa pengantin barumu, ya! Salam sama Hana."


"Dia sedang apa, Bun? Kok aku telpon gak diangkat?" Randy memotong ucapan ibu angkatnya.


"Dia sedang tidur, dia memang bilang gak mau mengganggu harimu bersama Hana. Itu sebabnya, dia silent ponselnya. Sudahlah, percayakan Yuri sama Bunda ya, salam untuk Hana! Maaf, Bunda lagi sibuk. Bunda tutup dulu, Assalamu'alaikum." Bu Hilma mematikan telpon sepihak.


Tak mau berburuk sangka, Randy menutup ponsel, dan berbalik, dan mendapati Hana memperhatikannya dari balik pintu kamar, dengan sudah berpakaian rumahan lengkap.


"Nelpon siapa, Kak?" Randy tersenyum memperhatikan sangat istri yang menguatkan aroma begitu segar dan menggoda hasratnya.


"Kamu udah baikan, Dek? Gimana perutnya sudah sembuh?" Randy tak menjawab, Hana hanya mengangguk, bibirnya kelu karena Randy mendekatinya, hanya berjarak beberapa senti didepannya. Dan menatapnya tak berkedip.


Meresahkan jiwa raga. Keluh Hana.


"Cantik sekali istriku. Tapi, akan lebih terlihat cantik lagi kalau begini didepan suaminya!"


"Ah, Kak Randy! Jangan!"


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Hayoo, diapain tuh si Hana sama Randy.


__ADS_2