
"Pelan dikit, Dek! Sakit tauk! " Randy meringis saat Hana mengelap dan menempeli lebam bekas pukulan dengan kain lap hangat. Ia sampai mencengkeram pergelangan tangan Hana.
"Iya, ini pelan kok, kak Randy aja yang lebay. Makanya, udah dibilangin gak usah berantem. Jadi bonyok kan?" ujarnya pelan. Randy menarik napas panjang, dan dengan sengaja menghembuskannya tepat diwajah Hana.
"Apaan sih, gak sopan tauk! " mendelik dan mengibaskan tangan.
"Habisnya kamu sih, Dek. Bikin gemeeez setengah hidup. Terus aku bolehnya ngapain, istriku didepan mata mau diserobot pria lain. Suruh diem aja? Atau kamu memang maunya di gandeng dia?" Hana terhenyak, tatapan mata tajam dan ucapan Randy mengandung amarah tertahan padanya.
"Eh, kok jadi salah sangka gini? Maksud aku tuh 'kan bisa dibilangin baik baik, gak langsung main tonjok!"
"Dibilangin baik baik gimana, orang dia maksa mau bawa pergi kamu. Bilang mau nikahin kamu? Suami mana yang terima, hmm?" Randy terus mendebat istrinya. Genggaman tangannya lebih ia eratkan, mewakili emosinya yang meluap.
"Itu 'kan karena dia belum tahu kita udah nikah, Kak. Tadi kita liat sendiri dia kaget dibilang kita udah nikah." Dengan posisi wajah yang cukup dekat, Hana bisa melihat raut wajahnya itu menahan marah dengan mata yang berkilat tajam. Hana sampai memundurkan wajahnya. Kaget dan baru sekali ini melihat raut sedikit angker dari wajah itu.
" Dia tetap gak percaya gitu kita udah nikah, malah dikira kita lagi ngibulin dia. Terus aku harus gimana. Aah! Serba salah gue." agak kasar Randy menepis tangan Hana. Lalu beranjak berdiri.
"Eh, mau kemana kak. Belum selesai nih, ngobatinnya. Nanti habis ini dikasih salep, Kak! " Hana mengekori langkah Randy. Ternyata mengambil jaket, lalu kunci mobil. Hana melihatnya dan bertanya tanya, mau kemanakah gerangan suaminya itu dengan lebam di beberapa bagian wajah.
"Kak!" Randy menoleh, lalu mengambil salep dari tangan Hana. Hana melongo dengan tangan masih menggantung diudara. Menatap tangannya lalu beralih ke tangan Randy suaminya.
"Biar aku oles sendiri nanti! " ucapnya dingin sambil berlalu keluar. Salep ia masukkan ke saku jaketnya.
"Kak maafkan aku."
" Kak Randy mau kemana?"
" Mau keluar! cari angin." jawab Randy pendek. Sambil terus berjalan.
"Bilang dulu mau kemana?" Hana menghadang langkah Randy tepat didepan pintu, sembari merentangkan kedua tangan didepan pintu. Tak ada senyum diwajah itu seperti biasanya. Hanya raut dingin dan sorot mata tak terima yang dilihat Hana.
"Minggir lah, aku mau ke rumah sakit. Mau nengok Yuri!" jawabnya ketus, menatap Hana. Hana pun menyingkir, menurunkan kedua tangannya. Tak ada hak dia melarang Randy menemui Yuri, sedang dia sendiri belum siap bertemu dengan madunya itu, walau dalam hati sebenarnya ingin menengok keadaannya.
Bilang kek, dari tadi. Hana.
"Sebentar!" Hana menahan langkah Randy, menangkap tangan kanannya, lalu melangkah melampaui Randy dan berdiri dihadapan pria itu. Tatapan mereka beradu beberapa saat. Pria itu terasa asing karena sikapnya saat ini. Seperti bukan Randy dimata Hana.
Beberapa saat dia mendongak menatap raut wajah sang suami.
"Maafkan aku, Kak. Jangan pergi dalam keadaan marah. Maaf, aku yang salah! Aku gak memahami semua dari posisi kamu. Aku hanya berpikir dari posisi aku aja." Hana menelan saliva, seret. Kemudian menunduk. Sesak ia rasakan didadanya.
Ya, aku tahu ego lelaki memang tinggi. Apalagi melihat perempuannya ingin di rebut pria lain. Dan lelaki itu mantan calon suami, yang tersandung masalah saat ijab kabul hampir terlaksana.
Randy menarik dagu Hana hingga istrinya itu mendongakkan kepala dan menatapnya. Ada cairan bening di sudut mata itu.
"Bukannya apa. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang telah aku miliki, Hana. Karena aku terlalu mencintai kamu, dan terlalu takut kehilangan kamu. Cukup sudah aku dibuang oleh Ayah dan Ibuku. Aku tak ingin kehilangan lagi sesuatu yang sangat berharga dari hidupku, yaitu kamu. Bahkan meski semua harta aku kamu memintanya atas nama kamu, aku rela, asal kamu mau janji jangan pernah tinggalin aku demi apapun, demi siapapun!" ujar Randy menegaskan dengan suara merendah.
"Iya, aku tahu. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku tak seserakah itu, mau menguasai hartamu. Aku bekerja, dan cukup puas dengan hasil keringatku sendiri, kak."
"Jangan pernah tinggalin aku, demi apapun, dan demi siapapun! " ulang Randy.
"Iya, hanya maut yang akan memisahkan kita, Kak. Insya Allah, seberat apapun ujian hidupku menjadi istri keduamu." buliran bening itu menghalangi pandangan Hana hingga penglihatannya kabur, ia menahan isak tangisnya.
"Dan hati hati dijalan, kabari aku ya, kalau ada apa apa. Maaf kalau aku belum siap ikut kak Randy nengok Yuri. Sampaikan salamku aja buat dia ya!" Dengan sedikit menekan rasa malu, Hana merangkul leher Randy, dan secepat kilat mengecup bibir itu. Agar suaminya mereda emosi. Randy terpaku tak percaya, bibirnya sedikit melengkung keatas sepersekian detik, lalu kembali pada mode awal, datar. Seolah tak merasa surprise dengan yang dilakukan Hana.
__ADS_1
Inginnya lebih, Dek.
Hana yang merasa sangat malu, merangkul pinggang Randy dan menenggelamkan wajah didadanya. Setetes air mata jatuh membasahi jaket denim milik suaminya. Hana yang biasa tegar, Hana yang sebagai wanita jarang meneteskan air mata, kini tak bisa menahan cairan bening itu agar tidak terjatuh.
Ia menghirup aroma dalam dalam wangi parfum suaminya, sebelum aroma itu dirasai orang lain. Aroma yang memenangkan. Dari balik punggung, Randy tersenyum lebar penuh kemenangan dan berteriak tanpa suara.
Yessss.
Randy pura pura masih marah, setelah Hana melepas pelukan. Wajahnya ia buat sedatar mungkin tanpa senyuman.
"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum! " mengusap kepala Hana lalu berlalu tanpa menoleh.
Segitu marahnya dia, menoleh atau tersenyum pun enggan.
"Waalaikumsalam."
Walau begitu Hana tetap mengantar Randy sampai ia masuk ke mobil.
"Kak! Dimaafkan, kan? " Randy menoleh setelah menstarter kendaraannya.Raut wajah istrinya membuat Randy tak tega untuk mengerjainya lebih dari itu. Ia lalu mengangguk, membuat Hana tersenyum hingga menampakkan lesung di kedua pipinya.
"Hei, kenapa hidungmu itu? kok merah. Kamu nangis, Dek! " wajah Randy berubah panik, saat terlihat raut Hana yang sedih.
"Aku minta maaf!" tadi Randy memang benar benar kesal, tapi melihat Hana dengan mata dan hidung memerah, ia jadi merasa bersalah.
"Maaf, baru beberapa hari menikah, aku udah buat kamu nangis, Dek. Waduh, gimana kalau ibu tahu, bisa berabe! " Randy segera keluar lagi dari balik kursi kemudi.
"Kenapa keluar lagi, pergilah kak, Yuri lebih membutuhkanmu saat ini! "
"Tapi aku tak mau pergi meninggalkanmu dalam keadaan sedih begini! Aku minta maaf! Aku baru
Gimana kalau ibu tahu kamu menangis gini, apa aku akan dilarang pulang kesini? Randy
Setiap kamu pergi untuk bersama dia, perempuan mana yang gak sedih, Kak. Hana
"Aku gak apa, kak. Aku malah ngerasa bersalah, kalau kamu tak menemui Yuri dalam keadaannya yang seperti itu. Pergilah! Aku baik baik saja." Hana menggigit bibir setelah berucap demikian.
" Are you sure?" bisik Randy seakan tak percaya. Dia tahu, Hanya satu diantara seribu wanita yang mau dimadu, dengan alasan apapun. Langka. Apalagi dengan rela suaminya menemui wanita dan istri yang lain. Walaupun ada, terkadang mereka tak akan akur satu sama lain. Merasa ingin memiliki sendiri. Manusiawi.
"Of course. Pergilah. Yuri membutuhkanmu saat ini." Hana melerai pelukan.
Randy menghela napas, "Baiklah!"
"Maaf kalau tiga hari kedepan aku nggak pulang. Aku harus adil bukan, sama kamu dan juga Yuri?" Hana mengangguk dan menelan saliva dengan susah payah.
"Ingat, jangan keluar sendirian. Ajak mbak Wati, atau Ibu kalau mau keluar. Tolong perhatikan itu. Aku sayang dan cinta sama kamu, tak mau terjadi apa apa sama kamu." Hana mengangguk lagi.
Randy mengecup kening sebelum masuk lagi ke mobilnya, menoleh dan tersenyum sebelum menarik tuas persneleng.
"Ingat, Kak. Kabari aku segera ya! " harap Hana sembari melambaikan tangan dan dibalas dengan membunyikan klakson. Saat mobil itu melaju pelan keluar halaman. Sampai mobil tak terlihat, Hana masih terpaku ditempatnya berdiri.
Begitu mudahnya, aku berjanji padamu, Kak. Ya Alloh, semoga, aku gak salah ucap. Aku... juga sangat cinta kamu. Semua telah aku relakan untuk kamu, suamiku.
"Tadi aku liat dia lebam pipinya, kenapa, Han?" pertanyaan tanpa aba aba mengejutkan Hana dari ketepakuan menatap mobil sang suami.
__ADS_1
"Eh, Ibu bikin kaget Hana aja! Apa, Bu?" Hana mengelus dada, berusaha tersenyum menyembunyikan kegalauan hatinya.
"Ibu udah sapa dari tadi, nyatanya kamu bengong." Hehehe... Hana meringis.
"Kenapa dia tadi? Berantem apa jatuh?" Ibu mengulang pertanyaannya. Walau terdengar ketus, tapi ibu juga perhatian pada menantunya.
"Tadi kita dihadang Mas Salman. Dia maksa banget narik narik Hana buat diajak entah kemana, Bu. Makanya kak Randy marah, terus mereka berantem, adu jotos gitu." Hana bercerita sambil berjalan masuk.
"Masih berani dia nemuin kamu? Gak tahu malu! " rutuk Ibu pada Salman sambil mengikuti Hana.
"Rupanya tadi dia belum tahu, Hana udah nikah sama Kak Randy! "
***
Di tempat dimana segala penjuru yang tercium adalah aroma obat obatan, Randy dengan langkah lebar menyusuri selasar menuju ruangan Yuri. Di depan ruangan ada Bu Fitri dan suaminya.
"Bun, gimana keadaan Yuri. Terus didalam dia sama siapa?" belum bu Fitri menjawab pintu ruangan terbuka.
"Bunda Hilma! "
"Yuri sedang istirahat. Biarkan saja dia jangan diganggu, Ran! " Randy mengangguk, dia hanya melongokkan kepala, lalu menutup pintu pelan.
"Pipi kamu kenapa, Randy?" Bu Hilma menahan dagu Randy dan menelisik wajah itu dengan teliti.
"Biru gini. Kamu baru jatuh? Atau...! "
"Tadi aku ketemu preman, terus berantem. Dia mukul aku duluan, jadinya aku balas! " ucap Randy sambil senyum, ia hanya beralibi.
"Kok bisa sih. Jangan suka berurusan sama preman ah, Bunda gak suka. Kamu celaka juga gara gara preman." protes wanita yang telah membesarkan Randy seperti anaknya sendiri itu dengan mata melebar.
"Dia ganggu istriku, Bun. Masa aku diem aja." ujarnya membela diri.
"Preman lagi, preman lagi. Sejak kenal Hana sampai saat ini jadi istri kamu, kamu jadi sering berurusan dengan preman, Ran. Heran aku. Sejak kenal dia juga, kamu jadi sering kena masalah. Dan kamu, sudah beberapa hari hanya fokus sama dia, meski Yuri masuk rumah sakit begini." semua terkejut akan ucapan itu dan menoleh pada wanita yang berucap, yang ditujukan untuk Randy tersebut.
"Bunda! "
"Fitri! "
"Fitri, jaga ucapanmu! " bentak pak Herman suaminya, tak suka pernyataan istrinya yang menyudutkan Randy dan Hana.
"Lah, benar 'kan yang aku bilang? Kemarin kamu kena tusuk, sekarang ditinju preman sampe lebam gitu. Besoknya, apalagi yang terjadi sama kamu? "
"Fitri, sejak kapan kamu berpikiran picik seperti itu. "
"Aku ngomong opo anane, mbak Hilma. Nyatanya emang Randy sering celaka gegara dia." bu Fitri tetap kukuh pada statemennya. Dan kalimat bernada ceramah keluar dari mulut kakak iparnya.
"Semua yang terjadi sudah qadarullah. Kita tak bisa melawan takdir. Sakitnya Yuri dan pernikahan Randy Hana juga, kehendak Allah. Siapa yang bisa melawannya?"
"Ingat Fitri. Dalam hidup, kita memang punya keinginan, punya kemauan ini dan itu, bahkan terkadang keinginan kita mungkin mustahil untuk digapai. Tapi Allah Maha berkehendak, tidak semua yang kita mau, Allah mengabulkannya di dunia ini."
" Allah lebih tahu dan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi adalah yang terbaik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita. Mulailah menerima dengan lapang hati."
"Kita terima keadaan Yuri, dan kita juga terima pernikahan Randy dan Hana. Boleh jadi, mereka memang Allah atur menjadi pasangan yang saling melengkapi, di dunia akherat. Hana anak yang baik dan taat beragama. Dan Randy juga mencintainya, apalagi?" Bu Hilma menarik napas melihat raut kesal adik iparnya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat menyayangi Yuri, Fit. Kita semua sama, Randy juga begitu. Tentu dengan porsi yang berbeda. Dari dulu kita juga tahu, Randy menyayangi adik adiknya termasuk Yuri. Sampai kita tak menyadari, Yuri menaruh hati pada Randy, lebih dari seorang adik. Tak ada yang salah, karena ini masalah hati. Siapa yang bisa menentukan dan memastikan kita harus jatuh hati pada siapa? Tidak ada yang bisa, bukan?"
Semuanya terdiam, Randy menunduk, bu Hilma menarik napas, pak Herman menatap istrinya dan Fitri melengos kearah lain.