
Selama hampir satu jam mereka berada di kantor polisi memberikan keterangan dan nantinya bersedia memberi kesaksian. Dan meminta pihak kepolisian menghukum dengan seberat beratnya agar mereka merasa jera, tak lagi melakukan hal hal yang mengganggu orang lain. Karena selain mabuk mabukan, dua pemuda itu juga sering memalak orang yang lewat, dan sering mengancam dengan senjata tajam seperti yang dilakukan pada Randy. Ternyata selain mereka berdua, ada beberapa orang lain lagi yang juga telah melaporkan karena hal yang sama. Hingga mereka sangat berharap hukuman mereka diperberat.
"Kita terus pulang, Kak? Atau ke kafe dulu?" tanya Hana selesai mereka dari kantor polisi. Randy sedang memasangkan helm pink milik Hana walau pada awalnya Hana menolak, bisa melakukannya sendiri katanya. Selesai mengunci helm, sebuah kecupan mendarat dibibir Hana yang langsung berubah merah wajahnya.
"Ih, Kak Randy. Malu tahu kalau ada yang liat. Liat sikon dong kalau mau mesum! " bibir itu mengerucut. Melirik ke kiri dan ke kanan. Beruntung tak ada yang memperhatikan mereka.
"Kita ke KUA sekarang setelah ini. Buat tanda tangan berkas berkas yang udah dilengkapi. Agar kita, segera punya surat nikah, sayang!"
Randy membonceng Hana pelan, Randy sangat menyukai dalam posisi seperti ini, karena Hana memeluknya erat dari jok belakang, dan tangan kirinya memegang tangan Hana. Sedang enak berkendara sambil bercanda, sebuah mobil menghentikan laju motor secara tiba tiba karena menghabiskan bahu jalan lalu berhenti. Randy sampai mengerem mendadak dan berhenti tepat di samping mobil. Helm Hana sampai beradu cukup keras dengan helm yang dikenakan Randy.
"Hei, kalian mau kemana?" teriak seseorang dari dalam mobil dan segera keluar dari mobilnya. Mobil itu Hana kenali adalah mobil yang membuntuti mereka tadi.
"Mas Salman?" gumam Hana.
"Bisa nyetir gak sih, lo pikir ini jalan punya nenek moyang lo. Seenaknya, aja motong jalan orang laen! Kalau kita jatoh gimana, mau tanggungjawab Lo?" merasa geram akan tingkah Salman, Randy membentak lelaki itu. Tapi Salman hanya meliriknya sebentar.
"Kalian disini rupanya aku cari cari dari tadi. Hana, kemarilah! Menjauh dari laki laki itu. Kita bicara baik baik! " Pria pengemudi mobil yang ternyata Salman mendekat dan menarik tangan Hana agar turun.
"Hei, lepaskan tangannya! " Randy berang, Salman menggenggam erat tangan Hana supaya turun dari motor, walau Hana meronta untuk dilepaskan.
"Hana milik gue, jangan coba coba lo dekatin dia lagi. Sebentar lagi kita pasti akan menikah, iya kan, Han?" setengah meloncat Randy turun lalu melepaskan helm, Randy berlari mengitari sepeda dan menarik kaos yang dikenakan Salman dengan tangan kiri.
"Jangan kurang ajar lo. Kalau lo mau Hana, langkahin dulu mayat gue!" Randy langsung membogem mentah perut Salman hingga genggamannya terlepas. Hana menjerit, Salman mengaduh dan terlihat kesakitan tapi segera pasang badan dan terlihat akan membalas perlakuan Randy.
"Kurang a jar Lo. Berani beraninya nggandeng calon istri gue! " Salman menatap tajam Randy, lalu meludah.
"Sudah sudah. Jangan berantem, malu tahu diliatin orang! " seru Hana berikhtiar melerai.
"Jangan pukul kak Randy, tolong mas Salman! " Hana berteriak lagi dan menangis. Ia ingat bahwa Randy belum sembuh dengan benar luka di perutnya. Tapi Salman tak mengindahkan, ia mengarahkan kepalan tangannya sekuat tenaga ke perut Randy. Beruntung Randy cepat menghindar, namun perkelahian tak bisa dihindari.
Saling memukul dan saling menendang terjadi diantara keduanya, Hana berteriak teriak untuk meminta mereka berhenti. Hingga saat Salman sedikit lengah, Randy yang tubuhnya lebih bongsor dari Salman berhasil memiting lehernya. Salman meronta ronta dan memukul mukul Randy minta dilepaskan.
"Lepasin gue!" teriak Salman berusaha menyikut Randy, tapi Randy lebih gesit melepaskan Salman sembari mendorongnya. Salman hampir terjerembab andai tak bisa menguasai diri.
Randy menunjuknya dengan raut marah.
__ADS_1
"Lo jangan berani beraninya sentuh dia, karena dia sekarang istri gue. Sekali lagi lo sentuh istri gue, gue gak akan kasih ampun sama lo! " ancam Randy tak main main.
"Apa?" Salman menggeleng tak percaya. Ini mimpi buruk baginya.
"Nggak! Lo pasti boong. Dia boong kan, Han? Mana mungkin kamu jadi istrinya dia? "
"Dan Lo. Gue tahu waktu itu lo dateng 'kan sama istri lo yang penyakitan itu?" Randy menggeretakkan gigi, amarahnya naik lagi. Lalu ia mendekati Salman dengan kepalan sampai memutih buku buku tangannya.
"Betul apa yang dikatakan kak Randy. Kami sudah menikah, dan dia sekarang suamiku." Randy tersenyum sinis mendengar ungkapan Hana.
"Denger kan, Lo sekarang?"
"Nggak, ini gak mungkin. Hana, please. Jangan becanda, ikut aku sekarang, dan kita menikah. Kamu gak bisa boongin aku dengan pura pura sudah menikah dengannya. Aku akan jelaskan peristiwa kemarin! Perempuan itu..." pinta Salman masih kekeuh ingin mengajak Hana pergi bersamanya. Namun dipotong oleh Randy.
" Dasar gemblung, Bebal amat sih Lo. Udah dibilangin dia istri gue juga." Randy sudah bersiap akan memukul Salman lagi. Tangan kanannya sudah terangkat diudara.
"Jangan, Kak. Lebih baik kita pergi. Jangan kamu kotori tanganmu lagi dengan melukainya, please!" Randy luluh dengan permohonan istrinya, ia turunkan tangannya lalu melangkah mundur menjauhi Salman yang banyak lebam di tubuhnya. Namun tatapannya tetap tajam pada lelaki itu.
"Mas Salman, kami benar benar sudah menikah. Saat mas Salman dibawa pulang sama keluarga dan wanita itu, dia menggantikan posisimu menjadi pengantin. Sudah disahkan oleh pihak KUA, cuma tinggal melengkapi berkas berkasnya. Ku mohon mas Salman gak mengganggu kita lagi, sudah cukup. " setelah berbicara panjang, Hana segera naik di belakang Randy dan sepeda melesat menjauh, meninggalkan Salman yang terpaku di tempatnya.
****.... umpat Salman. Ia menjambak rambutnya. Perih dan sakit akibat tendangan dan pukulan Randy yang ia rasakan terkalahkan oleh rasa sakit dihatinya.
Sonyaaaa, kenapa kamu harus hadir dalam hidup aku*....
Salman menendang nendang ban mobilnya dan terus mengumpat. Ia merasa menjadi orang yang sangat sial saat ini.
Malam itu saat tahu Hana akan menikah dengan Randy, dia merasa frustasi. Suasana hatinya kacau balau. Ia tak pernah merasakan rasa cinta yang begitu dalam, selain pada Hana cinta pertama alias cinta monyetnya. Cinta yang ia rasakan saat masih berseragam putih abu abu.
Ia memang pernah singgah di banyak gadis yang memujanya. Ia tak pernah mengejar cewek, tapi para cewek lah yang mengejarnya dan mengajak jadian. Salman hanya oke oke saja, toh mereka yang memulai duluan. Namun semuanya hanyalah cinta palsu. Pada kenyataannya, didasar lubuk hatinya hanya ada Hana, Hana dan Hana seorang.
Saat itu, ia begitu sungkan untuk mendekati seorang Hana yang alim, Bahkan teman teman sekelasnya banyak yang memanggilnya ustadzah, karena nilai ilmu agamanya yang lebih tinggi daripada teman yang lain. Ia juga sering dimintai pendapat oleh teman temannya karena pemikirannya yang lebih dewasa dan agamis.
Malam itu adalah malam kelabu bagi Salman. Dalam keruwetan pikirannya ia singgah di sebuah kafe yang menyediakan minuman beralkohol. Bukan hal baru baginya meminum minuman yang memberi efek relaksasi namun hanya untuk sementara itu.
Beberapa sloki minuman haram itu masuk ke tubuhnya, membuat dirinya berfantasi liar. Disaat itu ia bertemu dengan Sonya. Sonya adalah teman kuliahnya, gadis itu pernah begitu dekat dengannya, hingga teman yang lain mengira mereka pacaran. Dan saat Sonya mendengar dengan telinganya sendiri bahwa Salman menyukai gadis lain, tetiba gadis itu menghilang. Tak pernah mengikuti mata kuliah hingga di DO dari kampusnya.
__ADS_1
Setelah sekian tahun mereka bertemu lagi, dengan keadaan Salman yang hampir hilang kesadaran. Salman memanggil Sonya dengan sebutan Hana, ia mengira gadis didepannya adalah Hana. Karena keadaan Salman itulah gadis itu berinisiatif mengantar Salman pulang. Ia masih hapal betul letak rumah Salman, karena dulu ia sering bertandang ke rumah itu. Ia menyetir mobil Salman yang terus terusan berfantasi tentang Hana.
Sesampainya dirumah Salman, rumah nampak sepi. Selain karena sudah malam, orang tua Salman yaitu Pak Sandi dan Bu Susi sedang di luar kota, ke rumah orang tua pak Sandy. Juga dengan adik Salman yang bernama Rahma, ikut berlibur ke rumah neneknya.
Sonya mengantar Salman sampai ke kamarnya. Sesampai di kamar ia merebahkan Salman diranjangnya. Namun yang terjadi adalah Salman menariknya hingga terjerembab diatasnya. Salman tertawa, lalu membalikkan posisi mereka, kini Salman mengungkung Sonya dibawahnya.
Sekuat kuatnya tenaga wanita, Sonya terlalu lemah untuk seorang Salman yang dikuasai oleh nap su dan fantasi li arnya serta dalam keadaan setengah sadar. Walaupun ia masih berharap Salman sadar dan terus menerus mengatakan bahwa dia Sonya, bukan Hana. Dan memohon untuk Salman tak berbuat asusila padanya. Namun harapan tinggal harapan.
Malam itu terjadilah sesuatu yang membuat Sonya kehilangan kesuciannya.
Pagi harinya ia bangun dengan mata sembab, sebab Salman mengguncang tubuhnya dengan kasar. Salman menuduh Sonya sengaja menggodanya, sampai mereka bisa tidur bersama. Tentu saja Sonya tak terima, maksud hatinya baik ingin menolong, tapi kesialan bertubi tubi yang didapatinya. Sudah dinodai, dituduh pula dengan keji.
Sonya terpuruk, tapi tak berani mengatakannya pada siapapun. Bahkan pada ibunya sendiri. Ia hanya mengubur dalam dalam untuk dirinya sendiri. Tapi tidak kepada Salman, 3 kali ia menemuinya, memintanya bertanggung jawab, tapi dengan keras Salman menolak. Berapa hatinya hancur, dan ia terlihat murung setelah kejadian itu.
Dan itu terbaca oleh ibunya, tapi ia hanya mengatakan sedang kecapekan karena pekerjaannya. Beberapa bulan kemudian, ia dinyatakan hamil. Kebingungan merajai nya, pada siapa ia mengadu.
Sang ibu mulai mencurigainya saat pagi hari ia selalu merasa mual dan wajahnya pucat. Ia juga tiba tiba minta Ibunya membuatkan makanan yang sebelumnya makanan itu sangat ia benci. Ia juga mual saat Ayahnya berangkat kerja dan menyemprotkan parfum ditubuhnya.
"Sonya, jujur sama Ibu. Dari gejala gejala yang ibu liat, ibu yakin kamu hamil. Benar begitu?" sang ibu mengintrogasinya saat Ayah telah berangkat kerja. Sonya mendekat dan memeluk kaki ibunya yang berdiri.
"Ampun, Bu. Sonya... Sonya... hikks!" Sonya menangis tersedu. Ibunya pun terlihat shock.
"Itu artinya benar. Kamu hamil? Siapa laki laki itu, Sonya?" geram ibu Sonya pada anaknya. Menghempas dengan kasar bahu anak satu satunya. Telah berurai air mata Ibu itu, anak satu satunya yang ia banggakan dan harapkan menjadi anak shalihah hamil diluar nikah.
"Ini, ini gak seperti yang ibu bayangkan. Sonya... Sonya diper kosa, Bu. Ini bukan kemauan Sonya, Sumpah!" keduanya bersimbah air mata. Menangis dengan sebab yang berbeda namun sama sama hancur. Tak menyangka kehormatan anaknya telah direnggut paksa oleh laki laki tak bertanggungjawab. Bagaimanapun juga, sebab apapun juga, laki laki yang menodai wanita diluar pernikahan adalah lelaki tak bertanggungjawab.
"Siapa laki laki itu, Sonya. Dia harus bertanggungjawab dengan kehamilan kamu!"
"Aku udah nemuin dia, Bu. Tiga kali aku memintanya bertanggungjawab, tapi... tapi...hikks"
"Siapa? Biar Ayah dan Ibu yang menemuinya. Jika tidak, Ibu akan bawa ke jalur hukum, kalau benar benar kamu diper kosa olehnya?"
"Sonya gak bohong, Bu!" mengalirlah cerita tentang kejadian malam itu dari mulut Sonya.
"Salman? Apa Salman teman yang buat kamu kehilangan minat untuk kuliah dan lebih memilih meneruskan usaha rumah makan Ibu?" Sonya mengangguk dan terus menunduk dengan derai air mata, tak berani menatap wanita yang bertaruh nyawa melahirkannya itu.
__ADS_1
"Ibu harus buat perhitungan sama laki laki bi adab itu! "
\=\=\=\=\=