HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 45


__ADS_3

"Ngapain dia kesini, pengen kubejek muka sok gantengnya itu." Putri yang pertama kali bersuara sampai diteras. Tangannya meremas udara.


"Jangan! " Citra berseru.


"Loh, kenapa? " Putri.


"Ngawur lo, bukannya sok ganteng. Emang dia ganteng. Kalau gak, mana sohib kita ini kesemsem sama dia." canda Citra. Hana cuma memutar bola matanya.


"Ahaha, iya ya. Tapi gantengnya ilang pastinya tuh sekarang, udah jadi penghianat bangsa." Hana tak memerdulikan ocehan kedua sahabatnya. Ia meninggalkan keduanya menuju dapur sambil menenteng tas kresek yang ia taruh tadi di meja.


"Lo sih, doi marah kan!"


"Lo, juga!"


"Lo...!" kedua sahabat Hana itu berdebat sambil sikut sikutan melihat reaksi Hana yang berwajah muram dan berlalu begitu saja.


"Eh, Han. Tunggu! " keduanya menyusul Hana masuk ke dalam rumah.


"Kalian gak masuk kerja? "


Hana merekrut beberapa tetangganya sebagai karyawan, karena sudah kewalahan melayani orderan kue, untuk berbagai acara. Pesta ulang tahun, arisan, acara reuni keluarga, acara lamaran sampai sudah beberapa kali melayani orderan untuk pesta pernikahan.


"Sebentar lagi, kita kesini mau ngajak Lo hang out minggu depan, Han. Mau, ya? Biar jomblowati satu ini ada temennya. "


"Kemana?"


"Pantai...! " Citra dan Putri menjawab bersamaan.


"Boleh juga. Sama siapa aja? " Citra menyikut Putri biar menjawab.


"Ehe, gini Han. Ini nih ceritanya si Bima kredit mobil, terus sebagai acara syukurannya, dia ngajak kita jalan. Cuman sama Citra doang. Mangkanya kite ngajak Lo. Mo ngibur Lo, biar ngelupain sedih Lo!"


"Sapa tahu disana nemu cowok kece, tajir, terus jadiin Lo bini. Asal jangan bini kedua aja!"


"Siputer, Lo kenapa si, ngomong kaga jelas dari tadi. Jahad bingit sih, Lo. Baru juga tunangannya bisa kredit mobil, gimana kalau punya mobil mewah, rumah mewah. Lo lupa ama kita kali!" Citra mendelik, Putri memeletkan lidahnya.


"Kalau gue kaya, punya rumah mewah, mobil mewah, uang bejibun, Lo bakalan gue jadiin pembokat gue!"


"Lo..!" Citra mengambil tepung dihadapannya, lalu menempelkannya pada pipi Putri. Tapi Putri lebih dulu berkelit.


"Weeek, gak kena!"


"Apaan sih kalian! Jorok banget. Itu tuh tepung mau dibikin kue, jangan dicomotin!" ujar Hana berang. Kedua gadis itupun berhenti bergurau.


"Sorry...! " sesal Citra. Sesaat terdiam ia melancarkan aksinya lagi.


"Ya ya, mau ya, Han. Kasihanilah gue, masa gue cuman bertiga sama mereka? Jadi obat nyamuk dong, gue!" rayu Citra menggoyang lengan Hana, berharap Hana mau ikut, secara Hana anak yang sulit diajak pergi sekedar jalan jalan.


"Kalau cuman ngilangin sedih sih, gue ada caranya sendiri. Tapi, okelah gue ikut. Don't worry, gue juga setia kawan, kok!"


"Yes!!" seru keduanya bebarengan lalu ber tos ria, sebab Hana setuju pergi bersama mereka. Hana tertawa, kedua temannya itu seperti mendapatkan sesuatu yang istimewa saja, padahal cuman karena ia setuju pergi bersama mereka.


Berbekal kue buatannya untuk dibuat cemilan di jalan, hari minggu pagi dengan raut ceria Hana berkemas. Tas di punggung untuk perlengkapan pribadinya, sudah ia cangklongkan. Beberapa menit lalu Putri mengirim pesan telah otw dijalan menuju rumahnya dan juga Citra.


"Bismillah, udah siap semuanya, tinggal capcus! " gumam Hana. Hana sedang menalikan sepatu sneakernya, tatkala terdengar bunyi klakson mobil.


Berempat mereka menuju perjalanan selama kurang lebih dua jam untuk sampai ke pantai. Jalan yang berkelok kelok, dengan view pepohonan hijau di kiri atau kanannya. Terganti dengan jalanan aspal yang agak becek karena sedikit berlumpur, mungkin tadi malam atau kemarin sore baru turun hujan.


Dalam perjalanan tak henti hentinya mereka bertukar cerita, bertukar cemilan dan tertawa tawa bahagia. Hana melupakan kesedihan yang terjadi karena kegagalan, untuk sementara tentunya. Hingga tak terasa mereka telah tiba.


Dengan pohon pohon pinus ataupun pohon kelapa yang tinggi menjulang, berjejer ditepi pantai, membuat udara ditepi pantai itu cukup sejuk pagi itu.


"Yuhuiii, dah sampai." Citra memutar mutar tubuh sambil merentangkan tangan dengan senangnya. Hana hanya tersenyum menanggapi. Ia edarkan pandangan ke segala penjuru arah, disebelah kiri mereka ada jalan menuju bukit kecil, banyak diantara para pelancong yang naik kesana.


"Tuh lihat, diatas bukit itu ada spot yang gak boleh kita lewatkan. Bisa buat foto foto atau nge-vlog. Kita langsung kesana atau main air dulu, nih?" Bima menjadi tour guide 3 cewek yang dibawanya.


"Yang, kita kesana aja, yuk! " ajak Putri pada tunangannya. Tak sabar sudah menarik tangan Bima.


"Tapi aku pengen main air." protes Hana sudah melepas sepatu dan menaikkan celananya.


"Yaudah, Lo Lo pada main air dulu, kita duluan kesana ya, ntar nyusul." tak menunggu jawaban Putri lari ke arah undakan dan Bima menyusulnya, bersama pengunjung lain mereka naik ke atas bukit.

__ADS_1


"Yah...kita ditinggal!" gerutu Citra.


"Biarlah, mereka kayaknya pengen berdua tanpa kita ganggu. Yuk, kita ke tepian sana yuk! " ajak Hana antusias dengan air yang bergelombang tenang tanpa henti itu. Cukup lama mereka berjalan menyusuri bibir pantai berpasir putih yang terletak tepat di sebelahnya. Banyak yang bisa dinikmati, birunya laut, sepoi angin yang menerpa tubuh hingga atasan mereka berkibar, hutan yang begitu hijau, pemandangan menakjubkan, dan membuat video Vlog atau selfie, tempat ini adalah spot yang sangat bagus dan masih anti mainstream.


Setelah puas menyusuri bibir pantai, mereka naik ke bukit kecil bermaksud menyusul pasangan Putri dan Bima. Terlihat View teluk dan pantai dari ketinggian akan menghipnotis keduanya. Hingga saat mereka tak menemukan pasangan Putri - Bima, mereka tak mempermasalahkannya. Seperti saat dipantai, mereka berselfi ria dan dan membuat video vlog untuk kenangan dan di save di sosial media masing masing.


"Aduhhh!" saat asyik ng-vlog, seorang anak terjatuh didepan mereka karena berlarian.


"Eh, Adek! Hati hati sayang!" Hana yang posisinya paling dekat dengan gadis kecil itu menghampiri, lalu berjongkok di depannya.


"Pasti sakit, ya? Kok sendirian, dimana orang tuamu?" anak itu meringis kesakitan sembari mendongak. Wajah putihnya memerah diterpa sinar matahari. Sesaat anak itu terdiam membuat Hana menatapnya intens.


Sepertinya aku tak asing sama anak ini, tapi siapa ya? Hana mengingat ingat wajah gadis itu. Tapi nihil.


Ia mengeluarkan selembar tisu basah dari tasnya, lalu membersihkan dengan pelan luka anak itu yang terus menatapnya.


"Kenapa, Dek? Sakit?"


"Kak Hana!" tangan Hana terhenti dari mengusap luka, ternyata memang ia pernah mengenal gadis itu. Tapi ia benar benar lupa.


Siapa dia?


" Adek kenal saya?"


"Iya, Kak Hana kan? Yang dulu pernah ketemu di kereta terus di rumah, Mmm siapa ya aku lupa! "


"Nama aku Sin...! "


"Kamu disini, Sin? Om 'kan udah bilang jangan lari lari!" penjelasan anak itu terpotong kedatangan seseorang, keduanya sontak mendongak. Manik mata tajam seorang cowok menatap Hana dan anak itu bergantian. Tatapan netra keduanya beradu sesaat. Cowok itu cepat membuang pandangan.


"Kamu, kenapa? Jatoh?" laki laki itu ikut berjongkok. Memeriksa lutut yang terlihat kotor dan sedikit tergores karena jatuh tadi.


"Om Dimas, liat aku ketemu lagi sama Kakak Cantik lagi. Betul kan Om aku akan ketemu lagi sama dia! " tak mengindahkan pertanyaan Om-nya, anak itu malah tersenyum menunjuk Hana, tak mengeluh sakit. Hana langsung berdiri sambil memutar otak, berusaha mengingat keduanya, tapi ia benar benar lupa. cowok itu mendongak sebentar, lagi lagi netra mereka bertemu tatap. Hana lalu menunduk dan menyimpan tisu, untuk nanti dibuangnya di tempat sampah.


Dimas, siapa ya? Aku pernah liat mereka dimana? Kenapa otakku nge-blank?


"Makasih, ya. Udah nolongin Adek aku."


"Ayo Sin, kita pergi ke Nenek. Biar Om obatin disana!" ajak cowok itu memotong ucapan Hana yang mau mengatakan ia tak melakukan apapun. Hana langsung merengut kesal, cowok itu memotong penjelasannya. Ia begitu acuh dan dingin dihadapannya tak memberinya kesempatan bicara. Setengah memaksa cowok itu menggendong tubuh Sin.


"Tapi, Om. Sin mau sama Kak Hana! " protesnya menggoyang goyangkan kaki. Berontak tak mau digendong Om-nya.


"Tapi kaki kamu harus segera diobati, sayang! Liat tuh, kotor terus baret baret gini." pengkuh cowok itu.


"Aku mau sama Kak Hana, Ooom! Hikksss..." anak itu melengkungkan bibir kebawah sambil terisak, masih terus menggoyang goyangkan kaki ingin turun.


"Adek, diobatin dulu sama Om-nya, ya! Nanti habis itu main sama Kakak. Kakak masih disini, kok!" Hana ikut membujuk agar gadis kecil itu mau diajak Om-nya.


"Gak mau, pokoknya aku mau sama Kakak juga." anak itu tak menyerah. Masih saja berontak.


"Baiklah, baiklah!" Dimas mengalah.


"Ehm, mbak Hana!" panggil Dimas setelah berdehem.


"I-iya!" Hana geragapan. Citra disampingnya sedang berbisik sambil masih melakukan rekaman video.


"Wooow. Hot Papa, Hana!" Citra merasa gemas. Rupanya ia tak dengar gadis kecil itu memanggilnya, Om.


"Ssst, berisik Lo. Om-nya itu! " bisik Hana pula. Citra masih terus mengarahkan kamera pada Cowok itu.


"Ooh! Om-nya ya, cucok nih. Siapa tahu jomlowan. Cucok sama jomlowati, hihihi! " Citra terkikik disamping telinga Hana. Tak tahan, Hana menyikut perut Citra.


Awwww...


"Mbak Hana tolong ikut saya sebentar, ya! Sintya maunya sama mbak!" pinta cowok itu, sedikit tersenyum. Citra mencubit Hana gemas. Hana mendesis karenanya.


"Mmm, tapi...!"


"Please, sebentar saja. Biar ponakan saya gak nangis lagi. " Hana menatap Sintya yang berurai air mata.


"Mau ya, Kak!" Sintya menatap penuh permohonan.

__ADS_1


"Ayo, Han. Kasihan anak itu, dia pengen sama kamu! " Modusmu Citra...


Gumam Hana membatin, anak ini memang gak bisa liat cowok ganteng dikit.


"Baiklah!" tak tega rasanya Hana menolak permintaan gadis kecil itu.


"Makasih, mari! " Dimas tersenyum lagi, walau kaku. Lalu ia melangkah menuju gazebo yang terlihat dikejauhan. Selama diperjalanan, Citra tak hentinya heboh, merasa gemas melihat cowok cool menggendong Sintya yang menghadap ke belakang sembari tersenyum. Mungkin takut ditinggal oleh Hana.


Ada beberapa orang di gazebo itu, terdiri dari dua orang wanita dan seorang anak laki laki.


"Aduh, Sintya kenapa?" seorang ibu diantaranya menghampiri Dimas dan Sintya. Hana dan Citra berdiri terpaku dibelakang Dimas.


"Sin jatuh tadi! Untung lukanya gak parah, bandel, sih! Disuruh tinggal malah main lari larian." sahut Dimas membuat Sintya bersungut cemberut menatap Om-nya. Dan berbinar bahagia saat memberitahu neneknya.


"Nenek! Ada Kak Hana! Aku ketemu sama kak Hana." seru Sintya saat ibu itu melihat untuk mengecek dengkulnya. Ibu itu mendongak, baru ngeh ada dua gadis dibelakang Dimas. Wanita itu mengerutkan kening. Cukup lama ia terdiam sembari menatap Hana yang tersenyum salah tingkah. Sepertinya ia sedang mengingat ingat.


"Kamu, yang temannya Nia itu, ya? Yang pernah ketemu di kereta terus di nikahannya juga?" Hana baru ingat sekarang, wanita itu Tante Namira. Temannya Tante Indah ibunya Nia.


"Iya, Tante. Tante Namira, kan?" keduanya berjabat tangan dan wanita itu tersenyum lebar.


"Alhamdulillah, kita ketemu lagi. Kamu masih ingat kita?" Hana mengangguk.


"Sedikit lupa sih, Tante. Saya juga baru ingat sekarang." Tante Namira memaklumi nya, kejadian itu sudah lebih dari 3 bulan lalu.


"Kamu pasti gak nyangka, Sintya itu masih sering ngomongin kamu, loh!" ucap wanita itu tanpa basa-basi dan tersenyum lebar.


"Masa sih, Tan? Itu kan' udah agak lama ya! 3 bulan kalau gak salah! "


"Betul, Han. Dia masih suka nanyain kamu. Tante gak bohong."


"Eh, ayo kita duduk sana dulu. Baru ngobrol." Hana dan Citra mengangguk.


"Ciee ciee, yang mana nih calon tantenya, Sin?" seorang wanita meledek, bertanya dengan nada menggoda, Sintya yang senyum.


"Kak Hana duduk sini!" ajak Sintya yang telah duduk berdampingan dengan Dimas. Sebenarnya Hana merasa tak enak hati, bersama keluarga Tante Namira.


"Kakak berdiri disini saja, ya!! Nanti kalau kaki kamu udah diobatin, Kakak mau pergi dulu, mau nyariin temen Kakak satunya lagi. Tadi dia misah." tolak Hana.


"Duduk dulu, Han. Itu banyak cemilan ayo dimakan!" Tante Namira menawarkan cemilan yang dibawanya.


"Oiya, kenalin ini adiknya Tante. Dan ini, mereka berdua anaknya."


" Halo, aku Neesa, Kak. Ini Yogi, adik aku. Salam kenal, ya."


"Assalamualaikum, saya Hana! Salam kenal juga."


"Citra." mereka bersalaman sebagai tanda telah saling berkenalan.


"Waalaikum salam. Panggil aku, Tante Nabila, ya! Dek Hana, Dek Citra. "


"Iya, Tante. Salam kenal!"


Hana duduk berdampingan dengan Sintya, telah selesai mengobati lukanya dengan obat merah lalu menutup luka dengan plaster, Dimas duduk disamping Sintya, jadi mereka mengapit gadis kecil itu. Sedang Citra masih standby dengan kameranya. Mengabadikan gambar untuk di-save.


"Jadi, yang mana nih. Calonnya Dimas, yang kerudung pink atau... "


"Diem Lo!" bentak Dimas terlihat melotot pada sepupunya yang ingin menggodanya. Bukannya berhenti, Neesa meneruskan ledekannya. Hana pura pura sibuk melihat luka Sintya. Walau lirih, tapi Hana masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Pasti yang kerudung pink. Ehemmm!" tebak Neesa sambil tertawatertawa melirik Hana.


Dimas menatap tajam sepupunya, tapi sudah tak menanggapi lagi. Lebih baik didiamkan, jika diladeni maka gadis itu akan semakin heboh menggodanya.


Setelah berbincang sembari ngemil cukup lama, Dimas dan keluarganya turun, lalu menyeberangi jembatan. Jembatan itu adalah satu satunya akses menuju pulau kecil didepan bibir pantai.


"Andai kesini sore hari terus berjalan disini, kita bisa melihat sunset dan sunrise yang indah dari sini." celetuk Hana, menatap hamparan air laut berwarna biru dibawah sana. Sengatan Panas sang surya penerang alam mulai terasa, Citra dan Hana duduk dikursi bawah pohon yang cukup rindang dengan angin sepoi sepoi menerpa wajah. Mengibarkan ujung jilbab mereka.


"Wuuih, segernya. Kalau gak malu gue pingin tidur disini, AC nya alami. Lebih seger lagi. " Hana merem sembari bersandar pada pohon. Sebetulnya ia sangat lelah, tapi orderan kue minggu minggu ini makin meningkat, hingga membuat Hana dan para pekerjanya bekerja ekstra, mengurangi intensitas istirahat mereka.


Dorrr!


Eeee, copot copot copot!

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim.


__ADS_2