HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 46


__ADS_3

"Dorrrr!"


"Eee, copot copot copot" Citra.


"Astaghfirullahalazim. Putri! " Hana dan Citra memekik bersamaan karena kaget.


Hahahaha....


Dari balik pohon yang mereka tempati untuk berteduh, sepasang makhluk tanpa rasa bersalah tertawa tawa, karena berhasil mengageti Hana dan Citra.


" Siputer, Lo...!" Citra membelalak dengan nafas memburu dan menyentuh dadanya. Hana terlihat melakukan hal yang sama.


"Dasar manusia lucknut ya, Lo berdua. Udah ninggalin kita, gatau jejaknya lagi. Takut gue sama Hana minta di traktirin apa?" sungut Citra mengibaskan celana yang kotor kena tanah kering.


"Sori, tadi gue lupa kalau ngajak lo berdua!"


"Apa?" keduanya menyahut bersamaan. Terkejut.


"Ya Tuhan, bisa bisanya Lo lupain kita. Untung aja kita gak ditinggalin pulang. Bisa berabe, pulang naik apa kita?"


"Sudah sudah, kalian pasti laper 'kan? Habis ini kita nyari makanan. Gue traktir. " lerai Bima agar mereka tak jadi sasaran amukan Citra. Dia bisa mengomel sepanjang jalanan mereka lalui.


Mereka meneruskan perjalanan, mengeksplor titik spot yang dirasa bagus untuk ber-swafoto. Turun ke pantai, kejar kejaran diantara deburan ombak yang terdengar seperti nyanyian syahdu, bermain pasir yang putih. Tak menghiraukan tubuh dan baju mereka yang kotor terkena pasir. Sampai puas dan merasa lelah.


"Kalian seperti anak kecil. " celutuk Bima pada ketiga gadis yang bersamanya.


"Biarin! Kapan lagi kita main seperti anak kecil seperti ini. Ya, nggak?" Putri menjawab dan diiyakan kedua temannya.


Matahari telah condong ke barat, hingga bayangan bendapun lebih panjang dari aslinya. Mereka meninggalkan lokasi pantai. Dan tiba dirumah menjelang maghrib.


"Lelah hayati!" Hana menghempas tubuh, telentang diatas kasur. Lalu menghirup udara kamar beraroma Natural Floral Jasmine dan mengeluarkannya lewat mulut dengan mata tertutup. Badan terasa lengket dan gerah.


"Alhamdulillah, sudah pulang. Capek, Han?" Hana menoleh. Sang ibu datang membawa secangkir wedang jahe plus madu yang aromanya menari-nari di indra penciuman.


"Iya, Bu. Hmm, tahu aja Ibu kalau aku butuh wedang jahe buat mengembalikan energi yang terkuras. " bangikt dan menerima wedang dari tangan ibunya.


"Makasih." tersenyum senang.


"Seneng?"


"Apanya, Bu?" pertanyaan sang ibu terdengar ambigu ditelinga Hana.


" Tadi, acara jalan jalannya?" jelasnya kemudian.


Hana mengangguk setelah meletakkan gelas dimeja. Isi cangkir sudah tinggal setengah gelas, beralih ke dalam perut.


" Seru banget, Bu. Berasa jadi remaja lagi, main kejar kejaran, main rumah rumahan dari pasir. Dan yang lainnya." Hana antusias bercerita, sang sang ibu mendengarkan dengan seksama. Gurat kelegaan terlihat dari bibirnya yang melengkung.

__ADS_1


"Yaudah, kalau udah hilang capek, mandi. Keburu maghrib juga, jangan tidur dulu. " Hana mengangguk dan meraih ponselnya. Sebelum pergi bu Mira menatap anak perempuannya. Sebetulnya, ia merasa iba. Sakit hatinya, sebagai seorang ibu saat memercayai seorang laki laki untuk menjadi Imam anaknya, pernikahan sudah diujung mata. Asa telah membubung tinggi untuk memulai kehidupan berumah tangga. Namun harus terhempas ditengah perjalanan.


Bu Mira tahu hari ini Randy telah mengucap janji suci di hadapan pak Naib Penghulu. Itulah sebabnya, bu Mira diam diam meminta Sahabat Hana untuk mengalihkan perhatian, walau untuk sementara. Dan secara kebetulan juga, Bima tunangan Putri baru meng-kredit mobil, hingga itu bisa menjadi alasan yang masuk akal dan Hana percaya.


Hana melihat lihat koleksi foto, dan video yang dikirim Citra ke ponselnya, ia menggeser satu persatu dan .


Saat melihat foto yang memperlihatkan Seorang gadis kecil cemberut saat rumah rumahannya berantakan karena ulah Citra, ia jadi teringat siang tadi.


Saat mereka sedang menikmati makan siang, makan dengan menu ikan bakar sambel lalapan, duduk lesehan santai di warung makan berempat, melihat ombak yang berkejaran dari kejauhan. Mereka bertemu lagi. Sintya bersama Dimas dan rombongannya juga tengah makan di tempat itu.


"Kak Hana, kok tiba-tiba ngilang sih?" Sintya mengerucutkan bibir, tadi ia memang tidak pamitan pada anak itu, ia hanya mengatakan pada Tante Namira, ingin mencari temannya yang memisahkan diri.


Setelah bertemu Putri dan Bima, ia sudah tak ingat lagi tentang anak itu. Hana mengira bahwa mereka sudah tak akan bertemu lagi, ternyata kenyataan berbicara lain. Bahkan setelah makan siang, anak itu menyeretnya kembali ke pantai dan bermain-main disana, dibawah terik mentari, bermain pasir, bermain rumah rumahan. Dan kedua teman Hana ikut ikutan.


Ah, andai aku punya saudara, kakak atau adik, pasti lebih menyenangkan. Hana jadi membayangkan sesuatu yang tak mungkin terjadi.


Anak itu bahkan merajuk tak mau pulang bersama Om dan Neneknya. Dan baru mau diajak pulang setelah Hana berjanji mau datang saat ia berulang tahun minggu depan.


"Kak Hana janji ya, pokoknya ha-rus da-tang!" hanya, agar demi Sintya, mau pulang Hana berjanji untuk datang, dan memberikan nomer ponselnya pada Tante Namira. Tapi menggunakan ponsel Dimas.


"Ya Alloh, belum mandi juga! " Hana tersentak, ibunya datang lagi dan didepan pintu wanita paruh baya itu berseru kencang, sembari geleng kepala.


"He-he-he, bentar Bu!" Hana terpaksa bangkit dengan malas, meletakkan hape, menyambar handuknya dan berjalan menuju kamar mandi dengan gontai.


Ah, entah ada apa dengan gadis kecil itu, begitu lengket dengan Hana, padahal baru dua kali mereka bertemu itupun secara tidak sengaja. Tapi yang cukup menggelikan, anak itu menarik bajunya, agar Hana menunduk. Lalu berbisik ditelinga Hana, " Kak Hana jangan ajak Kak Citra dan Kak Putri ya! Sin gak suka!"


"Ya gak papa, gak suka aja. Apa gak suka itu harus ada alasannya?" Hana spontan menoleh. Ada aja jawaban gadis kecil itu. Dapat kosakata dari mana sih, anak sekecil itu bilang begitu. Itu pasti kata kata yang sering ia denger dari Omnya yang cuek itu. Hana menduga duga, menggelengkan kepala tanda tak mengerti, sambil turun dari tangga.


Jangan suudzon sama orang yang baru kamu kenal, Hana. Sisi hati yang lain bicara. Bisa mungkin terjadi anak itu sering menonton yucub, atau apalah, lalu menirunya. Modernisasi sekarang memungkinkan anak anak mendapatkan informasi atau hal hal apapun dari gadget.


"Kenapa Han? kok gedek gedek?" ternyata Bu Mira memperhatikan tingkahnya dari belakang.


"Ah, enggak kok, Bu. Cuman, tadi ada anak kecil yang lucu di pantai. Jadi Hana terhibur banget."


"Hmm, gitu ya. Ibu juga kangen, berharap rumah ini bisa ramai dengan celoteh anak anak!" lontar ibu seperti menerawang tanpa sadar berucap.


" Mulai deh, ibu. Mulai mulai...." gerutu Hana berlalu masuk ke kamarmandi. Ia sangat tahu maksud ibunya.


****


"Alhamdulillah, kalian telah sah menjadi pasangan suami istri. Sayangi istrimu ya, Ran! Bersabarlah, semoga kelak Alloh membalas kebaikan kamu dengan yang lebih baik lagi." Bisik Bunda Hilma ditelinga Randy yang menunduk. Randy mengangguk lemah. Tak ada gurat kebahagiaan dari wajahnya, walau ia tersenyum, terlihat hambar.


"Makasih ya, Bang. Maafkan, kalau ke depannya aku akan sering merepotkanmu. Maaf juga, gara gara aku, Abang gak jadi menikah dengan mbak Hana." sesal Yuri melihat ekspresi Randy yang datar.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Gak perlu dibahas lagi, tak ada juga yang perlu disesali. Aku yang membuat keputusan ini." hibur Randy untuk sang istri.


"Oiya, kamu mau langsung mandi? Aku antar ke kamar mandi. Tapi maaf, kamu bisa mandi sendiri, kan?" Yuri mengangguk. Setelah Yuri menghapus make up nya, Randy mendorong kursi roda ke kamar mandi.

__ADS_1


"Aku ada diluar, kalau butuh bantuan, kamu teriak saja, ya!"


"Makasih, Bang!" ucapnya sembari tersenyum. Lalu Randy menutup pintunya.


Selama menunggu, Randy merebah diatas tempat tidurnya. Ia telah memboyong Yuri ke tempat tinggalnya.


*Hana, kamu sedang apa? Apa ada kemungkinan kita untuk bersatu lagi?


Hana...


Hana...


Hana...


Aku cinta kamu, hanya kamu*.


Randy terus menyebut nama itu sejumlah tarikan nafasnya. Hingga tak terasa ia .


Randy berada di sebuah bangunan yang indah dan terlihat mewah, namun asing bagi dirinya.


Tempat apa ini? Tempat sebagus ini kenapa tak ada orang. Randy menengok kekanan dan kekiri. Disebelah kanan bangunan, ia melihat taman yang ditumbuhi bunga bunga. Sedang saat menengok ke sebelah kiri, terdapat kolam yang terdapat air mancur di tengahnya.


Ia menengok ke sebelah kiri, dan seperti ada yang mengarahkan ia berjalan kearahnya. Ia tersenyum melihat ikan ikan berenang didalam kolam itu. Randy lalu duduk di kursi dekat kolam menghadap kearah taman.


Hana... gumamnya.


Randy melihat sekelebat bayangan seorang gadis, sedang memetik bunga mawar merah. Ia mengenali gadis itu sebagai Hana.


"Hana, tunggu aku. " teriaknya seperti tercekat di tenggorokan, saat gadis yang memetik bunga itu menjauh. Ia ingin mengejarnya.


"Hana..., tunggu... Jangan tinggalin aku...! " teriaknya lagi. Walau ia mengerahkan tenaganya dengan kuat, tapi gadis itu terus berjalan menjauh dan menjauh. Sama sekali tak menoleh padanya.


"Hana...! "


"Hana....! "


"Hanaaa! "


Mata Randy langsung terbuka saat seseorang mengguncang kakinya.


"Bang! Bang Randy mimpi?" seraut wajah yang terlihat pucat, duduk didekat kakinya, mengguncangnya pelan.


Oh, aku ketiduran rupanya. Astaghfirullah, apa aku mimpiin Hana barusan?


"Maaf, Ri. Abang ketiduran, kamu sudah selesai mandinya?" Yuri mengangguk. Randy bergerak bangkit, seperti yang bingung.


"Baiklah, aku juga mau mandi, gerah."

__ADS_1


Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan? Bang Randy, maaf! Beribu maaf, kamu pasti menyesal dengan gan keputusan ini, walaupun bibirmu bilang jangan disesali. Tapi aku yakin hatimu berkata lain.


__ADS_2