HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 50


__ADS_3

"Hana anaknya cantik, supel, pinter dan mandiri lagi. Terus apalagi ya?" Tante Namira mengetuk ketuk dagu, terlihat berpikir. Dimas geleng geleng kepala saat Mamahnya terus saja berceramah tentang Hana. Bermaksud merayu tuk menjodohkannya dengan gadis yang baru beberapa kali bertemu itu.


Memang sih, gadis itu manis. Sedap dipandang mata, apalagi kalau tersenyum, lesung di kedua pipinya menghipnotis siapapun yang melihatnya. Didetik pertama, kedua dan ketiga saat memandang, biasa saja. Namun di detik keempat dan seterusnya, membuat jantung bertalu lebih keras bagi Dimas. Tapi, masa lalunya yang cukup ruwet dengan seorang gadis yang dicintainya, membuatnya enggan untuk memulai menjalin hubungan dengan perempuan sampai saat ini. Ia menganggap semua perempuan sama saja. Egois dan tukang tipu.


"Keluarganya juga keluarga baik, religius..."


"Dan yang penting Sintya juga suka sama kak Hana...!" Sintya yang sedang mengerjakan PR sekolah menyahut.


"Hush, anak kecil jangan suka nguping. Nyahut aja." tegur Dimas setengah menghardik, Sintya mencebik lalu fokus lagi pada buku di depannya.


"Aku 'kan punya kuping!" Sintya tak mau kalah, dan memeletkan lidah.


"Heran ya, Mamah tuh kenal dia udah berapa lama sih? Kok kayak udah kenal lama aja. Padahal, kita tuh masih 4 kali ketemu, kalau gak salah. Jangan sok tau lah, Ma!" Tante Namira memukul lengan Dimas yang langsung mengaduh. Walaupun tangan ibunya kecil, tapi pukulannya kuat hingga lengannya terasa panas.


"Kurang ajar kamu, gak sopan sama orang tua. Bilang Mamah sok tahu lagi! Ya tahu lah, Mamah 'kan sering telponan sama Tante Indah. Dia tahu Hana, karena anak itu cukup dekat sama Nia, anaknya." sungut Tante Namira dengan kesal.


"Ehehe, iya deh. Maaf, ampun Baginda Ratu! Hamba salah, sekali lagi ampun." Dimas menangkupkan kedua tangan diatas kepala, lalu membungkukkan badan, berkali kali. Sintya terkikik melihatnya. Konsentrasi belajarnya terganggu.


"Hihihi, Om lucu banget. Minta ampun segala sampe nyembah nyembah."


"Biar Nyai Ratu senang, Sin. Ups..." Dimas senang sekali menggoda ibunya, walaupun ibu-nya akan melotot marah, namun itu tak akan berlangsung lama.


###


"Om, ajarin aku dong! "


"Gambar jackfruit itu yang mana? Yang A atau yang B?" tunjuk Sintya pada buku soal yang jawabanya membuat bingung.


"Kamu tahu nggak jackfruit itu apa?"


" Iya, tahu. Nangka, 'kan!"


"Kamu tahu nggak bentuknya nangka gimana?"


"Yelah, Om. Kalau aku tahu sih gak bakalan nanya Om!" gadis cilik itu kesal, bukannya langsung menjawab, Dimas malah terus bertanya.


"Masa dibuku kamu gak ada, kalau ada pertanyaannya, di buku itu pasti ada jawabannya!"


"Ish!" Sintya makin kesal, ia lalu membuka bukunya, membolak balik lembaran buku.


"Yang ini ya, Om?"


"Nah, 'kan. Ketemu."


"Aneh! " komentarnya.


"Apanya yang aneh Sin? Itu benar jackfruit, bahasa indonesianya nangka. Terus bentuknya memang seperti itu." jelas sang Nenek menyahut.


"Ya aneh aja Nek, kirain bentuknya hampir sama kayak semangka. 'Kan namanya juga hampir sama, semangka sama nangka. Ini malah kulitnya kayak duri. Kalau semangka 'kan halus kulitnya, kayak akyu." ucapnya dengan gaya manja dan dibuat buat.


"Ini, pasti gak enak kan, Nek?" Tante Namira dan Dimas terkekeh dengan kepolosan Sintya.


"Ish, kamu itu aleman. Banyak gaya. " Dimas menjulurkan tangan, mencubit hidung Sintya.


"Kayaknya kamu memang perlu dikenalin sama rasa buah nangka. Sama buah buahan yang lain. Jangan cuma jeruk, kelengkeng sama apel doang. Yakin deh, kalau udah tau rasanya pasti suka." sang nenek menimpali.


"Masa iya."


****


"Gimana, Dim? Nanti Mamah coba bantu deketin Hana?" beralih lagi pada bahasan tentang Hana.


"Tau, ah. Ngantuk aku, Mah." Tante Namira hanya bengong, merengut karena Dimas meninggalkannya begitu saja.


"Huh, selalu begitu." Tante Namira menghempaskan punggung ke sofa saat Dimas telah masuk ke kamarnya.


Awas aja, kalau sampai nanti Mamah denger kamu sampai sama orang orang dibilang belok. Sosis makan sosis.


###

__ADS_1


Hana mendorong troli belanjaan dan fokus memilih susu full cream coklat di rak display, saat seseorang yang ia sangat kenali dari suaranya bicara pada pramuniaga.


"Mbak, tempat susu buat orang dewasa dimana ya, tempatnya? Saya belum hafal." Hana langsung membelakangi sumber suara itu, menahan napas. Perlahan lalu mendorong trolinya menjauh. Berbelok dan bersembunyi dibalik rak pajangan.


"Oh, disebelah sini, mas." suara pramuniaga menjawab, terdengar lamat lamat. Setelah dirasa ia tak terlihat lagi oleh pemilik suara bariton yang ia hindari, ia pun bernafas lega. Namun malah bingung, kemana mau melangkah, apa ia langsung keluar saja, atau melanjutkan belanjanya. Ditengah kebingungan nya, ia terlonjak kaget bersamaan suara menyapanya.


"Hana...!" sia sia sudah ia menghindar, karena ternyata lelaki itu memergokinya. Sekarang ada dihadapannya,


"Ehmm, Ka-kak Randy disini. Se-sedang apa?" Hana gugup hingga tergagap, berusaha mengatur deru jantungnya.


Kenapa sih, Kak. Kalau dihadapanku kau selalu memasang wajah sendu. Melas sekali dirimu. Dan itu membuat aku luluh dan luruh.


"Mau beli susu, kamu ngindar ketemu aku ya, Han? Segitu bencinya kamu sama aku? Tak bolehkah kita berteman?" tatapan lelaki yang ternyata Randy begitu sendu, penuh damba kerinduan. Hana celingukan, tak berani menatap pria didepannya.


"Eng-enggak! Siapa yang ngehindar. Wong aku tadi emang sudah selesai belanjanya. Nih, troli aku penuh! " menunjuk troli dengan dagunya.


"Aku liat, Han. Denger suara aku aja kamu langsung ngehindar. Aku liat kamu kok dari tadi." Randy tersenyum kecut.


"Maaf kalau gitu, Kak. Saya hanya tak mau orang salah paham, terutama istri Kakak dan Bunda Hilma. Juga orang orang Panti lainnya jika aku tetap dekat dengan Kak Randy. Maafkan sekali lagi, saya buru buru, permisi! " Randy menahan troli yang didorong Hana, sambil menatapnya lekat.


"Kak, biarkan saya pergi!"


"Maaf, tapi aku hanya ingin ngobrol sebentar. Tak bolehkah? Please, Hana!" sorot netra memohon itu membuat hati Hana makin teriris. Sudut matanya mengembun. Pria yang hampir menikahinya itu memang bebal.


"Sudah kubilang, saya buru buru, Kak!" jawab Hana ketus dan agak keras.


"Please, Hana. Sebentar saja!" Randy memaksa, hingga Hana hilang kesabaran. Dengan langkah cepat, ia pergi dari tempat itu dengan langkah lebar, meninggalkan troli berisi belanjaannya.


"Han, Hana!" panggilan Randy sudah tak digubrisnya.


"Ya Tuhan, kenapa dengan aku ini! Hana pasti ilfil sama aku. Ampuni Aku Ya Alloh!" Randy hanya bisa menatap sepeda Hana yang melaju meninggalkan parkiran swalayan, bahkan belanjaannya pun ia tinggalkan begitu saja. Randy mengusap wajah kasar, lalu masuk lagi ke dalam toko, mengambil susu yang dia mau beli. Dan juga troli yang ditinggalkan Hana, lalu ikut mengantri didepan kasir.


"Lagi bertengkar sama istri ya, Mas. Ngambek istrinya?" tegur seorang perempuan muda yang tadi ada didekat saat Hana dan Randy bersitegang, berdiri dibelakang Randy mengantri.


Randy tak menjawab sapaan perempuan itu, ia hanya tersenyum dipaksakan.


"Hiikks.. hikkss... Kamu jahat, Kak. Kenapa tak kamu biarkan luka ini menutup dan sembuh, kenapa? Kenapa kamu selalu muncul dihadapanku tiba tiba." ucapnya bermonolog sambil terisak lirih.


"Luka yang kamu goreskan, sungguh dalam. Kenapa sesakit ini. Aku yang ingin melepasmu, malah aku yang terasa terhempas. Kenapa, belum juga luka itu bisa menutup, sampai saat ini. Hikkss..."


"Sekuat kuatnya aku, aku tetap perempuan yang punya sisi lemah. Bahkan aku tak tahu pada siapa aku harus bersandar. Ya Tuhan, kuatkan aku, hikks, hikks!" cukup lama Hana terisak, Ia tak peduli jika ada orang yang menganggapnya gila. hingga beban yang menghimpit rasa itu sedikit melonggar, sesak didada sedikit berkurang.


Ia menghapus jejak air mata dipipi dan wajahnya. Mukanya pasti memerah dan matanya pasti sudah sembap. Tinggal bagaimana caranya ia beralasan jika sang ibu bertanya, ada masalah apa dengan mata ini, kenapa sampai ia menangis.


Aku pasti jelek sekali sekarang, dan gimana beralasan sama Ibu yang pasti nya akan curiga.


"Oh, ya ampun! Aku kan juga ninggalin troli belanjaan. Gimana nih, balik gak ya?" Hana merasa bimbang.


*Apa aku nyari di swalayan lain aja, ya? Takutnya dia masih ada disana. Aku belum siap ketemu lagi sama dia.


Duh Gusti....


Hana terkejut, dibelakangnya muncul seorang pria yang gak asing juga baginya saat mau berbalik.


"Mas....Salman!"


"Hana, syukurlah!"


"Syukur? Ada apa emangnya?"


"Tadi aku pikir aku nemu gadis bo doh yang mau bunuh diri, ternyata kamu toh. " Salman tertawa, membuat Hana ikut tersenyum, lalu menunduk.


"Hei, apa dibawah kamu ada uang atau barang berharga lainnya yang jatuh, kok nunduk terus?" goda Salman memiringkan wajah, menyorot wajah Hana.


"Mmm, aku hanya...Eh, gak ada kok!" elak Hana memalingkan mukanya yang terlihat sembab.


"Hei, tunggu! Mata kamu bengkak. Jangan bilang kamu bener mau loncat ke sungai dari sini! " selidik Salman menyentuh pundak, membuat mata Hana membeliak.


"Eh, jahad banget sih, Mas." sungut Hana.

__ADS_1


"Habisnya!"


"Aku masih ingat dosa tau! Lagian rugi banget kalau bunuh diri. Selain bunuh diri termasuk dosa besar, aku juga masih ingin hidup lebih lama, sampai jadi tua. Lagipula, masalah sebesar apa yang bisa bikin aku sampai niat mau bunuh diri?" Rajuk Hana. Dengan seenaknya lelaki itu menghakimi dirinya.


Keduanya berdiri bersandar pada tiang penyangga jembatan. Saling diam beberapa saat, melihat mobil atau motor yang sesekali lewat. Udara terasa panas, walaupun dari tempat mereka berdiri terpayungi rimbun daun tak jauh dari mereka.


"Aku tahu dari Silvi, kamu tak jadi menikah sama cowok itu, ya! Siapa namanya, aku lupa? Aku turut prihatin!" Hana tak merespon, masih diam tak menyangkal pernyataan Salman. Walau dalam hati Salman berjingkrak senang, ia memasang muka ikut sedih.


"Makasih, atas atensinya, Mas!" katanya kemudian.


"Jangan sedih berlarut larut, cowok bukan cuman dia. "


"Masih banyak cowok lain yang pantas bersanding sama cewek cantik sepertimu. Semisal aku."


"Mas, gak usah ngegombal! Gak lucu tau."


"Han! Aku sungguh sungguh. Sebenarnya, sudah lama aku menaruh hati padamu. Masih maju mundur buat mengungkapkannya. Tapi, waktu aku udah siap bilang ke kamu, ternyata keduluan cowok itu."


Ya Tuhan, harusnya pernyataan cinta Mas Salman seperti oase ditengah gurun pasir yang gersang seperti dulu aku selalu memujanya dalam diam. Tapi, kenapa aku malah merasa muak, sekarang.


"Dulu, Kak Randy langsung bilang sama Ayah dan Ibu, serius mau ngelamar aku. Makanya prosesnya cepat." jelas Hana.


"Tapi, akhirnya jadi begini, kan? Dia ninggalin kamu, demi perempuan lain? "


"Mas Salman kalau gak tau ceritanya, gak usah menghakimi. Kak Randy tak seburuk itu sebenarnya. Hanya, keadaan yang memaksa dia harus memilih, satu diantara dua. Dan aku yang memilih mundur."


Ih, kenapa sih, bisa bisanya aku masih ngebela dan gak terima lelaki itu dijelek jelekkan? Ada apa, dengan aku?


"Maaf, Mas. Saya harus pergi. Ibuku pasti menungguku sekarang." Dalih Hana untuk menghindar dari Salman.


"Tunggu! " Cekalan tangan Salman menghentikan langkah Hana, ia menatap tangan itu.


"Maaf! " Salman langsung melepasnya.


Ia tahu Hana tak sembarang bisa dipegang laki laki yang bukan mahram.


"Pikirkan baik baik perkataanku, Hana. Aku menunggumu. Aku, berharap kita bisa bersama. Mengarungi samudra kehidupan cinta."


"Gak perlu kamu jawab sekarang. Yang penting kamu tahu isi hatiku, dan aku serius sama kamu."


"Baiklah, nanti aku pikirkan, mas. Sekarang izinkan aku pergi."


"Aku antar, ya! "


"Terimakasih, Mas. Tapi rasanya gak perlu. Aku bawa motor. Permisi, assalamu'alaikum. "


Dari kejauhan, seorang menatap mereka dibalik kacamata hitamnya. Bersandar di pintu mobil kesayangannya.


###


Bu Mira yang mendengar deru motor Hana memasuki halaman gegas keluar.


"Nduk, kok baru pulang?" tanpa basa basi Bu Mira menegur anaknya, setelah Hana mematikan mesin motor.


"Iya, Bu. Mendadak ada perlu sebentar." dalih Hana sembari membawa belanjaannya.


"Loh, ini belanjaan kamu?" tunjuk bu Mira dengan raut heran.


"Iya, 'kan tadi emang Hana mau belanja, kan."


"Tapi, yang didalam itu?" ibu menunjukkan sebuah kardus teronggok dibalik tembok.


" Memang, ini apa Bu? Ibu habis belanja juga." diletakkannya kardus disamping kardus yang ditunjuk Ibunya.


"Tadi Randy kesini, katanya belanjaan kamu ketinggalan di swalayan. Jadi dia bawain pulang."


"Kok bisa ketinggalan? Dan juga dia udah dari tadi, Loh?"


Dia lagi? Jadi dia nganter belanjaan yang di troli tadi?

__ADS_1


__ADS_2